IKAN TONGKOL

Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) аdаlаh sejenis ikan laut dаrі suku Scombridae. Sifat hidup Ikan Tongkol Tеrutаmа menjelajah dі perairan dangkal dekat pesisir dі kawasan Indo-Pasifik Barat. Dalam perdagangan internasional dikenal ѕеbаgаі kawakawa, little tuna, mackerel tuna, atau false albacore.

Ikan Tongkol merupakan ikan tangkapan nelayan уаng penting dі berbagai negara dі wilayah sebarannya. Tongkol como terbanyak ditangkap dі Filipina, Malaysia, dan Pakistan; ѕеmеntаrа dі India ikan іnі menduduki posisi уаng cukup penting. Walaupun sebenarnya bila di telisik lebih jauh Malaysia dan Filipina komoditas tongkol nya berasal dari lautan Indonesia.

Ikan ini memiliki panjang cagak maksimal (fork length) 100 cm dengan berat 13.6 kg. Ukuran panjang cagak rata-rata saat dewasa adalah 60 cm. Bentuk badannya melengkung di tengah dan meruncing pada sisi depan dan belakang. Pada bagian punggung terdapat 2 sirip yang memudahkan ikan ini dalam berenang di laut. Oleh sebab itu, ikan ini juga dikenal sebagai perenang tercepat di kelasnya. Terdapat juga sirip-sirip kecil (finlet) di bagian sirip punggung dan sirip dubur.

Bagian tubuh atas berwarna biru tua dan bagian tubuh bawah berwarna putih silver. Pada punggung terdapat 10-12 jari-jari sirip dan 10-13 jari-jari sirip halus. Pada bagian dubur terdapat 10-14 jari-jari sirip halus.

Ikan Tongkol, atau biasa disebut Eastern Little Tuna masuk kedalam suku Scombridae.

Karakteristik


Ikan tongkol mempunyai karakteristik badan bulat seperti cerutu dan padat. Terdapat 8 sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung kedua dan sirip dubur dan pada ekor terdapat satu keel diantara 2 keel pada setiap sisi tubuh. Punggung berwarna gelap dengan garis tidak teratur berwarna biru kehitaman. Sedangkan perut berwarna cerah. Jenis yang paling umum tertangkap di Indonesia adalah Euthynnus affinis.

Nama lokal: Tongkol Komo, mangkok, Ambu-Ambu, Tongkok Kurik, Sembak.

Habitat


Ikan tongkol termasuk ikan yang hidup pada perairan Laut epas namun dekat dengan garis pantai. Ikan-ikan muda sering masuk ke dalam teluk atau pelabuhan. Gerombolannya terbentuk bersama spesies lain, terdiri dari 100 sampai 5.000 ekor. Termasuk predator oportunistik dengan jenis makanan dari ikan kecil (Clupeidae dan Engraulidae), Cumi-cumi, Crustacea sampai Zooplankton.

Alat Tangkap


Ikan Tongkol biasa ditangkap dengan Huhate (Pole&Line). Untuk mempertahankan ikan tetap dalam gerombolan disekitar perahu, nelayan melemparkan ikan Teri hidup ke dalam air. Belakangan ini ikan Tongkol juga ditangkap dengan Pancing Tonda yang diisi dengan umpan Bulu. Seperti Ikan Cakalang, armada Tonda yang terkenal adalah Kedo-Kedo dan Bubu Cakalang. Ikan Tongkol bisa dijual dalam bentuk pindang dan ikan kaleng. Jenis ini termasuk komoditas ekonomis penting bagi nelayan skala kecil dan menengah. Ikan Tongkol bisa mencapai ukuran 100 cm, dan lebih sering tertangkap pada ukuran 40 – 60 cm.

Spesies di Indonesia


1. Auxis rochei rochei (Risso, 1810) Bullet Tuna

Komersial tinggi, ukuran umum < 50cm;

Alat Tangkap : Seines, Gill Net, Perangkap, Trawls dan Liftnets;

Habitat: di Perairan Pantai dan mengelilingi pulau;

Makanan: ikan-ikan kecil, Anchovies, Crustaceans (Kepiting dan Stomatopod Larvae) dan Cumi-cumi;

Lokasi : ditemukan di Selatan Barat Sumatera, Jawa, Bali dan Laut Timur Indonesia.

2. Auxis thazard thazard (Lacepède, 1800) Frigate Tuna, Balaki

Komersial tinggi, ukuran umum 60 cm;

Alat tangkap : Seines, Gill Net, Perangkap, Trawls dan Liftnets;

Habitat : Epipelagic di perairan Neritic dan perairan Laut;

Makanan: ikan-ikan kecil dan Cumi- cumi, Planktonic Crustaceans (Megalops), dan Stomatopod Larvae;

Lokasi : ditemukan di Selatan Barat Sumatera, Jawa, Bali dan Laut Timur Indonesia.

3. Euthynnus affinis (Cantor, 1849) Kawakawa, Tongkol, Tongkol komo

Komersial tinggi, ukuran umum 60cm;

Alat tangkap : Hooks&Lines, Seines, Gill Net, Perangkap dan Trawls;

Habitat : di perairan terbuka berbatasan dengan garis pantai;

Makanan: memangsa ikan-ikan kecil, Clupeoids dan Atherinids, dan juga Cumi-cumi, Crustaceans dan Zooplankton;

Lokasi : ditemukan di Utara Sumatera, Selatan Barat Sumatera, Mentawai, Selat Jawa, Selatan Jawa dan Laut Timur Indonesia.

4. Sarda orientalis (Temminck & Schlegel, 1844) Striped bonito Minor

Komersial, ukuran umum 50 cm;

Alat tangkap : Seines, Gill Net dan Perangkap;

Habitat : jenis ikan Pantai, bergerombol dengan ikan Tuna kecil;

Makanan : Clupeoids, ikan, Cumi-cumi dan Decapod Crustaceans;

Lokasi : ditemukan di Laut Selatan Barat Sumatera sampai selat Bali.

CARA MELAKUKAN PENDUGAAN POTENSI SUMBERDAYA IKAN

Kelimpahan sumberdaya hayati di suatu perairan selalu berubah-ubah secara dinamis. Pada suatu kurun waktu tertentu, diperlukan adanya kegiatan pendugaan kelimpahan stok, guna menduga; maximum sustainable yield (MSY), dan upaya penangkapan optimum (f-optimum). Pendugaan stok dapat dilakukan antara lain dengan; Metode Swept Area, atau Metode Surplus Produksi. Hasil pendugaan ini digunakan untuk melakukan manajemen perairan yang baik dan terpadu.

1. Metode Surplus Produksi
Tujuan utama dari model ini adalah untuk menentukan Maximum Sustainable Yield (MSY) selama ini, metode surplus produksi diterapkan pada tingkat stok, bukan individu. Stok dianggap sebagai kumpulan besar dari biomasa. Pertumbuhan stok, dalam konteks surplus produksi, mengacu pada laju perubahan biomasa stok, dan bukan pada perubahan individu. keuntungan terbesar dari model surplus produksi adalah hanya membutuhkan serangkaian data penangkapan dan upaya penangkapannya.

Data ini dapat diperoleh dari beberapa perikanan komersial. Sparre (1989) menyebukan bahwa tinjauan sudah dilakukan oleh Ricker (1975), Caddy (1980), Gulland (1983) dan Pauly (1984).

Maximum Sustainable Yield (MSY) diduga dari data input berupa:

  1. f(i) = effort dari tahun ke-i. i = 1,2,3,4, … n.
  2. C(i) = catch (in weight) pada tahun i. i = 1,2, 3 … n.

C/f (CPUE) dari seluruh kegiatan perikanan selama tahun i dapat diturunkan dari C(i) dan f(i)yang bersesuaian, dengan cara:

C / f = C(i) / f(i)

dimana:
C(i)catch pada tahun i;
F(i)effort pada tahun i
.
Effort yang digunakan adalah effort yang berasal dari kapal standar pertahun. Oleh karena kapal terdiri atas berbagai jenis dan ukuran, maka effort dari masing-masing kategori ukuran kapal harus dikonversikan ke dalam satu unit standar sebelum dihitung sebagai effort total.

Trend CPUE memperlihatkan suatu trend penurunan, untuk setiap kenaikan effort. Hal ini berarti terdapat keadaan semakin kecilnya bagian per kapal dengan semakin banyaknya kapal. Keadaan ini didasarkan pada anggapan bahwa biomasa stok adalah terbatas yang dibagi untuk kapal yang melakukan kegiatan perikanan, terdapat dua model yang mengekspresikan CPUE, yaitu:

  1. Model Schaefer (1954) yang linier,
  2. Model Fox (1970) yang logaritmik.

Sparre (1989) berpendapat bahwa tidak dapat dibuktikan salah satu dari kedua model tersebut adalah lebih baik daripada model yang lain.

Persamaan Matematik Model Schaefer

Persamaan Matematik Model Fox

dimana
q = koefisien kemampuan tangkap
B = biomasa
a,c = intersep
b,d = slope atau gradient

Perbedaan antara kedua model (Sparre, 1989) :

  1. Pada model Schaefer : adanya tingkat effort yang memberikan nilai nihil bagi stok, pada f = – a/b.
  2. Pada model Fox : adanya beberapa populasi yang berhasil hidup, bagaimanapun tingginya tingkat eksploitasi atas stok.

Kedua model sebenarnya sama baiknya. Namun model Schaefer lebih sederhana karena menggunakan pendekatan linier, bahwa CPUE hanya tergantung pada f. Effort (f) dalam konteks ini didefinisikan sebagai satu unit standar alat penangkap ikan yang melakukan kegiatan penangkapan terhadap stok pada daerah yang tengah diobservasi.

Model matematika Schaefer didefinisikan sebagai:

  1. Slope b harus negatif apabila C/f menurun dengan meningkatnya f.
  2. Intersep a adalah nilai C/f yang didapat oleh kapal pertama segera setelah menangkap ikan stok yang pertama. Oleh karena itu, intersep harus (+).
  3. Dengan demikian, -a/b menjadi positif, dan C/f = 0 pada saat f = a/b.
  4. Tidak ada nilai C/f yang negatif, maka model hanya dapat diterapkan pada harga f =< -a/b.

2. Tingkat pengusahaan
Menurut Dwiponggo yang diacu dalam Widiawati (2000) pembagian tingkat pengusahaan sumberdaya perikanan tangkap dibagi menjadi empat tahapan, yaitu:

  1. Pengusahaan yang rendah dengan hasil tangkapan sebagian kecil dari potensinya;
  2. Pengusahaan sedang dengan hasil tangkapan merupakan sebagian yang nyata dari potensi dan penambahan upaya penangkapan (effort) masih memungkinkan;
  3. Pengusahaan tinggi dengan hasil tangkapan sudah mencapai besar potensinya dan penambahan upaya penangkapan (effort) tidak akan menambah hasil tangkapan;
  4. Pengusahaan yang berlebihan (over fishing) dengan terjadi pengurangan
    stok ikan karena penangkapan sehingga hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan (CPUE) akan jauh berkurang.

3. RAPFISH
Rapfish (Rapidly Appraissal for Fisheries) adalah teknik terbaru yang dikembangkan oleh University of British Columbia Canada, yang merupakan analisis untuk mengevaluasi keberlanjutan (sustainability) dari perikanan secara multidisipliner.

Rapfish didasarkan pada teknik ordinasi (menempatkan sesuatu pada urutan atribut yang terukur) dengan menggunakan Multi-Dimensional Scaling (MDS). Pemilihan MDS dalam analisis Rapfish, dilakukan mengingat metode multivariate analysis yang lain seperti factor analysis dan Multi-Attribute Utility Theory (MAUT) terbukti tidak menghasilkan hasil yang stabil. MDS itu sendiri pada dasarnya adalah teknik statistik yang mencoba melakukan transformasi multi dimensi ke dalam dimensi yang lebih rendah.

Dimensi dalam Rapfish menyangkut aspek keberlanjutan dari ekologi, ekonomi, teknologi, sosial dan etik. Setiap dimensi memiliki atribut atau indikator yang terkait dengan keberlanjutan (sustainability) sebagaimana yang diisyaratkan dalam FAO Code of Conduct for Responsible Fisheries.

Menurut Pitcher and Preikshot (2001) analisis Rapfish dimulai dengan mereview atribut dan mendefinisikan perikanan yang akan dianalisis (misalnya vessel-base, area-base, atau berdasarkan periode waktu), kemudian dilanjutkan dengan skoring, yang didasarkan pada ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Rapfish. Setelah itu dilakukan MDS untuk menentukan posisi relatif dari perikanan terhadap ordinasi baik (good) dan buruk (bad). Selanjutnya analisis Monte Carlo dan Leverage dilakukan untuk menentukan aspek ketidak-pastian dan anomali dari atribut yang dianalisis.

Menurut Hartono, et.al (2005) hasil dari kegiatan pengembangan metode RAPFISH untuk mengkaji indikator kinerja pembangunan sektor perikanan tangkap sebagaimana diuraikan di atas kemudian dirangkum dalam suatu bentuk pedoman penentuan indikator kinerja pembangunan subsektor perikanan tangkap. Penyusunan pedoman ini diolah dari hasil berbagai riset yang mengacu pada konsep sustainable development diantaranya metode RAPFISH. Penyusunan pedoman ini lebih bertujuan sebagai sarana sosialisasi metode analisis multivarites berbasis multidimensional scaling (MDS), terutama yang diaplikasikan dalam metode RAPFISH.

RAJUNGAN

Rajungan adalah nama sekelompok kepiting dari beberapa marga anggota suku Portunidae. Jenis-jenis kepiting ini dapat berenang dan sepenuhnya hidup di laut.

Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Subfilum: Crustacea
Kelas: Malacostraca
Ordo: Decapoda
Infraordo: Brachyura
Superfamili: Portunoidea
Famili: Portunidae
Rafinesque, 1815 [1]

Beberapa jenis rajungan yang biasa didapati dan dijual di Indonesia antara lain :

  • Portunus pelagicus, rajungan biasa
  • Portunus sanguinolentus, rajungan bintang
  • Charybdis feriatus, rajungan karang
  • Podophthalmus vigil, rajungan angina

Karakteristik

Rajungan memiliki kulit luar (cangkang) keras. Lebarnya bisa mencapai 2x panjang. Pada ujung depan kulit luar terdapat 9 buah duri (anterolateral tooth), duri terakhir lebih besar dan panjang. Kaki belakang terakhir pipih dan bulat. Semua kaki berbulu, kecuali kaki pertama.

Habitat

Rajungan atau Swimming Crabs termasuk jenis organisme bentik dan semipelagik dengan tingkah laku yang sangat beragam. Makanan utamanya adalah Detritus dengan tingkah laku filter feeder.

Alat Tangkap

Jenis yang komersial di Indonesia termasuk Portunus pelagicus, P. sanguinolentus dan P. trituberculatus. Alat tangkap yang biasa dipakai adalah Bagan yang dilengkapi dengan umpan, jermal, Bubu dan jaring

KLASIFIKASI ALAT PENANGKAPAN IKAN

Klasifikasi alat penangkap ikan adalah cara mengelompokkan alat penangkap ikan sesuai dengan tujuan dan peruntukkan pengklasifikasiannya. Klasifikasi alat penangkap ikan telah ditentukan dan disetujui baik secara internasional (ISSCFG─FAO) maupun nasional (KAPI─Indonesia).

Alat penangkapan ikan adalah segala macam alat yang di pergunakan dalam proses penangkapan ikan termasuk kapal, alat tangkap dan alat bantu penangkapan. Pemerintah Indonesia, dalam rangka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan secara optimal dan berkelanjutan, menetapkan Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. KEP.06/MEN/2010.

Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia yang menurut jenisnya terdiri dari 10 (sepuluh) kelompok yaitu:

  1. jaring lingkar (surrounding nets);
  2. pukat tarik (seine nets);
  3. pukat hela (trawls);
  4. penggaruk (dredges);
  5. jaring angkat (lift nets);
  6. alat yang dijatuhkan (falling gears);
  7. jaring insang (gillnets and entangling nets);
  8. perangkap (traps);
  9. pancing (hooks and lines);
  10. alat penjepit dan melukai (grappling and wounding).

I. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING LINGKAR (SURROUNDING NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan jaring lingkar adalah kelompok alat penangkapan ikan berupa jaring berbentuk empat persegi panjang yang terdiri dari sayap, badan, dilengkapi pelampung, pemberat, tali ris atas, tali ris bawah dengan atau tanpa tali kerut/pengerut dan salah satu bagiannya berfungsi sebagai kantong yang pengoperasiannya melingkari gerombolan ikan pelagis. (SNI 7277.3:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan jaring lingkar (Surrounding Nets): 01.0.0

1. Jaring lingkar bertali kerut (With purse lines/Purse seine), PS, 01.1.0:

  • Pukat cincin dengan satu kapal (One boat operated purse seines), PS1,01.1.1:
    • Pukat cincin pelagis kecil dengan satu kapal, PS1-K, 01.1.1.1
    • Pukat cincin pelagis besar dengan satu kapal, PS1-B, 01.1.1.2


Gambar Pukat cincin dengan satu kapal (One boat operated purse seines)

  • Pukat cincin dengan dua kapal (Two boat operated purse seines), PS2,01.1.2:
    • Pukat cincin grup pelagis kecil, PS2-K, 01.1.2.1
    • Pukat cincin grup pelagis besar, PS2-B, 01.1.2.2


Gambar Pukat cincin dengan dua kapal (Two boat operated purse seines)

2. Jaring lingkar tanpa tali kerut (Without purse lines/Lampara): LA, 01.2.0


Gambar Jaring lingkar tanpa tali kerut (Without purse lines/Lampara)

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan jaring lingkar dilakukan dengan cara melingkari gerombolan ikan yang menjadi sasaran tangkap untuk menghadang arah renang ikan sehingga terkurung di dalam lingkaran jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan sampai dengan kolom perairan yang mempunyai kedalaman yang cukup (kedalaman jaring ≤ 0,75 kedalaman perairan), umumnya untuk menangkap ikan pelagis.


II. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT TARIK (SEINE NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan pukat tarik adalah kelompok alat penangkapan ikan berkantong (cod-end) tanpa alat pembuka mulut jaring, pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan (schooling) ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian sayap dan tali selambar. (SNI 7277.6:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Pukat Tarik (Seine Nets), 02.0.0:

1. Pukat tarik pantai (Beach seines), SB, 02.1.0


Gambar Pukat tarik pantai

2. Pukat tarik berkapal (boat or vessel seines), SV, 02.2.0:

– Dogol (Danish seines), SDN, 02.2.1


Gambar Dogol (Danish seines)

– Scottish seines, SSC 02.2.2


Gambar Scottish seines

– Pair Seines, SPR, 02.2.3


Gambar Pair seines

– Payang, SV-PYG, 02.2.0.1


Gambar Payang

– Cantrang, SV-CTG, 02.2.0.2


Gambar Cantrang

– Lampara dasar: SV-LDS, 02.2.0.3


Gambar Lampara Dasar

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan pukat tarik dilakukan dengan cara melingkari gerombolan ikan pelagis atau ikan demersal dengan menggunakan kapal atau tanpa kapal. Pukat ditarik kearah kapal yang sedang berhenti atau berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui tali selambar di kedua bagian sayapnya. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pukat tarik yang digunakan.

Pukat tarik pantai dioperasikan di daerah pantai untuk menangkap ikan pelagis dan demersal yang hidup di daerah pantai. Dogol dan lampara dasar dioperasikan pada dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal. Payang dioperasikan di kolom perairan umumnya menangkap ikan pelagis.


III. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) adalah kelompok alat penangkapan ikan terbuat dari jaring berkantong yang dilengkapi dengan atau tanpa alat pembuka mulut jaring dan pengoperasiannya dengan cara dihela di sisi atau di belakang kapal yang sedang melaju (SNI 7277.5:2008). Alat pembuka mulut jaring dapat terbuat dari bahan besi, kayu atau lainnya.

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan pukat hela, 03.0.0:

1. Pukat hela dasar (Bottom Trawls), TB, 03.1.0:

– Pukat hela dasar berpalang (Beam trawl), TBB, 03.1.1


Gambar Pukat hela dasar berpalang

– Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls), OTB, 03.1.2


Gambar Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls)

– Pukat hela dasar dua kapal (pair trawls), PTB, 03.1.3


Gambar Pukat hela dasar dua kapal (pair trawls)

– Nephrops trawl (Nephrops trawl), TBN, 03.1.4


Gambar Nephrops trawl (Nephrops trawls)

– Pukat hela dasar udang  (Shrimp trawls), TBS, 03.1.5 Pukat udang, TBS-PU, 03.1.5.1

2. Pukat hela pertengahan (Midwater trawls), TM, 03.2.0:

– Pukat hela pertengahan berpapan (Otter trawls), OTM, 03.2.1 Pukat ikan, OTM-PI, 03.2.1.1


Gambar Pukat ikan udang

– Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair trawls), PTM, 03.2.2


Gambar Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair trawls)

– Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls), TMS 03.2.3


Gambar Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls)

3. Pukat hela kembar berpapan (Otter twin trawls), OTT, 03.3.0


Gambar Pukat hela kembar berpapan (Otter twin trawls)

4. Pukat dorong, TX-PD, 03.9.0.1


Gambar Pukat dorong

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dilakukan dengan cara menghela pukat di sisi atau di belakang kapal yang sedang melaju. Pengoperasiannya dilakukan pada kolom maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal termasuk udang dan crustacea lainnya tergantung jenis pukat hela yang digunakan. Pukat hela dasar dioperasikan di dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan demersal, udang dan crustacea lainnya. Pukat hela pertengahan dioperasikan di kolom perairan, umumnya menangkap ikan pelagis.


IV. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PENGGARUK (DREDGES)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan Penggaruk (dredges) adalah kelompok alat penangkapan ikan berbingkai kayu atau besi yang bergerigi atau bergancu di bagian bawahnya, dilengkapi atau tanpa jaring/bahan lainnya, dioperasikan dengan cara menggaruk di dasar perairan dengan atau tanpa perahu untuk menangkap kekerangan dan biota menetap (SNI 7277.2:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Penggaruk (Dredges), 04.0.0:

1. Penggaruk berkapal (Boat dredges), DRB, 04.1.0


Gambar Penggaruk berkapal

2. Penggaruk tanpa kapal (Hand dredges), DRH, 04.2.0


Gambar Penggaruk tanpa kapal

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan penggaruk dilakukan dengan cara menarik ataupun menghela garuk dengan atau tanpa kapal. Pengoperasiannya dilakukan pada dasar perairan umumnya untuk menangkap kekerangan, teripang, dan biota menetap lainnya.


V. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING ANGKAT (LIFT NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan jaring angkat adalah kelompok alat penangkapan ikan terbuat dari bahan jaring berbentuk segi empat dilengkapi bingkai bambu atau bahan lainnya sebagai rangka, yang dioperasikan dengan cara dibenamkan pada kolom perairan saat setting dan diangkat ke permukaan saat hauling yang dilengkapi dengan atau tanpa lampu pengumpul ikan, untuk menangkap ikan pelagis (SNI 7277.9:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan jaring angkat (Lift nets), 05.0.0:

1. Anco (Portable lift nets), LNP, 05.1.0


Gambar Anco (Portable lift nets)

2. Jaring angkat berperahu (Boat-operated lift nets), LNB, 05.2.0:

– Bagan berperahu, LNB-BP, 05.2.0.1


Gambar Bagan berperahu

  • Bouke ami, LNB-BA, 05.2.0.2


Gambar Bouke ami

3. Bagan tancap (Shore-operated stationary lift nets), LNS, 05.3.0


Gambar Bagan tancap (Shore-operated stationary lift nets)

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan jaring angkat dilakukan dengan cara dibenamkan pada kolom perairan saat setting dan diangkat ke permukaan saat hauling. Pengoperasiannya dapat menggunakan alat bantu pengumpul ikan berupa lampu. Anco dan bagan tancap dioperasikan di daerah pantai sedangkan jaring angkat lainnya dioperasikan di perairan yang lebih jauh dari pantai.


VI. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN YANG DIJATUHKAN ATAU DITEBARKAN (FALLING GEAR)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terbuat dari jaring, besi, kayu, dan/atau bambu yang cara pengoperasiannya dijatuhkan/ditebarkan untuk mengurung ikan pada sasaran yang terlihat maupun tidak terlihat (SNI 7277.12:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan (Falling gear), 06.0.0:

1. Jala jatuh berkapal (Cast nets), FCN, 06.1.0


Gambar Jala jatuh berkapal (Cast nets)

2. Jala tebar (Falling gear not specified), FG, 06.9.0


Gambar Jala tebar (Falling gear not specified)

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan dilakukan dengan cara menjatuhkan/menebarkan pada suatu perairan dimana target sasaran tangkapan berada. Pada jala jatuh berkapal pengoperasian dilanjutkan dengan menarik tali kerut pada bagian bawah jala, sedangkan pada jala tebar bagian bawah jala akan menguncup dengan sendirinya karena pengaruh pemberat rantai. Jala tebar dioperasikan di sekitar pantai yang dangkal untuk menangkap ikan-ikan kecil, sedangkan jala jatuh berkapal dioperasikan di perairan yang lebih jauh dari pantai dengan atau tanpa alat bantu penangkapan berupa lampu umumnya menangkap ikan pelagis bergerombol dan cumi-cumi.


VII. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING INSANG (GILLNETS AND ENTANGLING NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan jaring insang adalah kelompok jaring yang berbentuk empat persegi panjang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah untuk menghadang ikan sehingga ikan tertangkap dengan cara terjerat dan/atau terpuntal dioperasikan di permukaan, pertengahan dan dasar secara menetap, hanyut dan melingkar dengan tujaun menangkap ikan pelagis dan demersal (SNI 7277.8:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Jaring Insang, (Gillnets and entangling nets), 07.0.0:

1. Jaring insang tetap (Set gillnets (anchored)), GNS, 07.1.0 Jaring Liong bun, GNS-LB, 07.1.0.1


Gambar Jaring liong bun

2. Jaring insang hanyut (Driftnets), GND, 07.2.0 Jaring gillnet oseanik, GND-OC, 07.2.0.1


Gambar Jaring gillnet oseanik

3. Jaring insang lingkar (Encircling gillnets), GNC, 07.3.0


Gambar Jaring Insang lingkar (Encircling gillnets)

4. Jaring insang berpancang (Fixed gillnets (on stakes)), GNI, 07.4.0


Gambar Jaring insang berpancang (Fixed gillnets (on stakes))

5. Jaring insang berlapis (Trammel nets), GTR, 07.5.0 Jaring klitik, GTR-JK, 07.5.0.1


Gambar Jaring insang berlapis (Trammel nets)

6. Combined gillnets-trammel nets, GTN, 07.6.0


Gambar Combined gillnets-trammel nets

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian jaring insang dilakukan dengan cara menghadang arah renang gerombolan ikan pelagis atau demersal yang menjadi sasaran tangkap sehingga terjerat pada jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, pertengahan maupun pada dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis jaring insang. Jaring insang dioperasikan secara menetap, dihanyutkan, melingkar maupun terpancang pada permukaan, pertengahan maupun dasar perairan. Jaring insang ada yang satu lapis maupun berlapis. Jaring insang berlapis umumnya dioperasikan pada dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal.


VIII. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PERANGKAP (TRAPS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan perangkap adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terbuat dari jaring, dan/atau besi, kayu, bambu, berbentuk silinder, trapesium dan bentuk lainnya dioperasikan secara pasif pada dasar atau permukaan perairan, dilengkapi atau tanpa umpan (SNI 7277.10:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Perangkap (Traps), 08.0.0:

1. Stationary uncovered pound nets, FPN, 08.1.0
Set net , FPN-SN, 08.1.0.1


Gambar Set nets

2. Bubu (Pots), FPO, 08.2.0


Gambar Bubu (Pots)

3. Bubu bersayap (Fyke nets), FYK, 08.3.0


Gambar Bubu bersayap (Fyke nets)

4. Stow nets, FSN, 08.4.0:

– Pukat labuh (Long bag set net), FSN-PL, 08.4.0.1


Gambar Pukat labuh (Long bag set net)

– Togo, FSN-TG, 08.4.0.2


Gambar Togo

– Ambai, FSN-AB, 08.4.0.3


Gambar Ambai

– Jermal, FSN-JM, 08.4.0.4


Gambar Jermal

– Pengerih, FSN-PG, 08.4.0.5


Gambar Pengerih

5. Barriers, fences, weirs, FWR, 08.5.0 Sero, FWR-SR, 08.5.0.1


Gambar Sero

6. Perangkap Ikan Peloncat (Aerial traps), FWR, 08.6.0


Gambar Perangkap Ikan Peloncat (Aerial traps)

7. Muro ami, FIX-MA, 08.9.0.1


Gambar Muro ami

8. Seser, FIX-SS, 08.9.0.2


Gambar Seser

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan perangkap dilakukan secara pasif berdasarkan tingkah laku ikan, ditempatkan pada suatu perairan dengan atau tanpa umpan sehingga ikan terperangkap atau terjebak masuk dan tidak dapat keluar dari perangkap. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan maupun dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis perangkap. Bubu bersayap, togo, ambai, jermal, pengerih dan sero dioperasikan di daerah pantai untuk menangkap ikan yang beruaya dengan mamanfaatkan pasang surut perairan.

Set net dioperasikan di wilayah pantai secara menetap untuk menangkap ikan pelagis maupun demersal yang beruaya secara regular atau musiman. Pukat labuh dioperasikan di wilayah pantai dengan memanfaatkan arus perairan, umumnya untuk menangkap ikan ukuran kecil di daerah pasang surut. Bubu dioperasikan di dasar perairan umumnya untuk menangkap ikan demersal dan ikan karang. Alat penangkapan ikan peloncat dioperasikan pada permukaan air mengikuti tingkah laku ikan yang meloncat apabila merasa terhalang.


IX. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PANCING (HOOKS AND LINES)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan pancing adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terdiri dari tali dan mata pancing dan atau sejenisnya (SNI 7277.4:2008). Dilengkapi dengan umpan alami, umpan buatan atau tanpa umpan.

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Pancing (Hooks and Lines), 09.0.0:

1. Handlines and pole-lines/hand operated, LHP, 09.1.0:

– Pancing ulur, LHP-PU, 09.1.0.1


Gambar Pancing ulur

– Pancing berjoran, LHP-PJ, 09.1.0.2


Gambar Pancing berjoran

– Huhate, LHP-PH, 09.1.0.3


Gambar Huhate

– Squid angling , LHP-SA, 09.1.0.4


Gambar Squid angling

2. Handlines and pole-lines/mechanized, LHM, 09.2.0:

– Squid jigging; LHM-PC, 09.2.0.1


Gambar Squid jigging

– Huhate mekanis, LHM-HM, 09.2.0.2


Gambar Huhate mekanis

3. Rawai dasar (Set long lines), LLS, 09.3.0


Gambar Rawai dasar (Set long lines)

4. Rawai hanyut (Drifting long lines), LLD, 09.4.0:

– Rawai tuna, LLD-RT, 09.4.0.1


Gambar Rawai tuna

– Rawai cucut, LLD-RC, 09.4.0.2


Gambar Rawai cucut

5. Tonda (Trolling lines), LTL, 09.6.0


Gambar Tonda (Trolling lines)

6. Pancing layang-layang, LX-LY, 09.9.0.1


Gambar Pancing layang-layang

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan pancing dilakukan dengan cara menurunkan tali dan mata pancing dan atau sejenisnya, menggunakan atau tanpa joran yang dilengkapi dengan umpan alami, umpan buatan atau tanpa umpan. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pancing.

Huhate dioperasikan di permukaan perairan umumnya menangkap gerombolan ikan pelagis perenang cepat (tongkol dan cakalang). Tonda dan pancing layang-layang dioperasikan di permukaan perairan dengan cara ditarik secara horizontal dengan menggunakan kapal umumnya menangkap ikan pelagis.

Squid jigging dioperasikan pada kolom perairan umumnya untuk menangkap cumi-cumi. Rawai hanyut (termasuk rawai tuna dan rawai cucut) dioperasikan di kolom perairan sampai dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis dan demersal. Pancing ulur, pancing berjoran dan rawai dasar dioperasikan di kolom perairan sampai dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis dan demersal.


X. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PENJEPIT DAN MELUKAI (GRAPPLING AND WOUNDING)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan penjepit dan melukai adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terbuat dari batang kayu, besi atau bahan lainnya yang mempunyai satu atau lebih bagian runcing/tajam, yang pengoperasiannya dengan cara mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan/atau membunuh sasaran tangkap (SNI 7277.11:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Penjepit dan Melukai (Grappling and Wounding), 10.0.0:

1. Tombak (Harpoons), HAR, 10.1.0


Gambar Tombak (Harpoons)

2. Ladung, HAR-LD, 10.0.0.1


Gambar Ladung

3. Panah, HAR-PN, 10.0.0.2


Gambar Panah

Tata Cara Pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan penjepit dan melukai dilakukan dengan cara mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan/atau membunuh sasaran tangkap. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis alatnya. Ladung dioperasikan di daerah pantai untuk menombak ikan-ikan pantai. Tombak dioperasikan di daerah pantai untuk menombak ikan-ikan pantai, dapat pula dioperasiakan di laut lepas (harpoon) umumnya menangkap mamalia besar. Panah dioperasikan pada wilayah berkarang umumnya untuk menangkap ikan yang hidup di karang.

FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI TANGKAPAN IKAN LAUT

Topografi Laut
Produktivitas perikanan tangkap sebagian besar masih ditentukan oleh topografi aut, termasuk interaksinya dengan arus laut dan tingkat pencahayaan sinar matahari pada kedalaman tertentu. Topografi laut dibentuk dengan berbagai jenis pantai, delta sungai, landasan benua, terumbu karang dan ciri khas laut dalam seperti palung dan punggung laut

Arus Laut
Arus laut adalah pergerakan air laut yang terarah dan kontinu. Arus laut adalah aliran air yang bergerak karena gaya yang bekerja pada air seperti rotasi bumi, angin, perbedaan temperatur, perbedaan kadar garam dan gravitasi bulan.

Biomassa
Di lautan, rantai makanan umumnya mengikuti pola:
Fitoplankton → zooplankton → zooplankton predator → hewan penyaring → ikan predator
Fitoplankton adalah produsen utama dalam rantai makanan yang mengubah karbon menjadi biomassa dengan bantuan sinar matahari.

Perairan dekat pantai

  • Estuari, adalah badan air dekat di mana satu atau lebih sungai terhubung dengan laut melalui estuari
  • Laguna, adalah badan air asin atau air payau yang relatif dangkal, terpisah dari laut yang dalam oleh karakteristik geologi seperti gosong pasir, terumbu karang dan sebagainya
  • Zona pasang surut, adalah bagian dari laut yang terpapar udara ketika air surut dan tenggelam ketika pasang tinggi
  • Zona litoral, adalah bagian dari laut yang terdekat dengan garis pantai
  • Zona neritik, adalah bagian dari laut yang melebar dari zona litoral ke landasan benua

Terumbu karang
Terumbu karang adalah struktur aragonite yang diproduksi oleh organisme hidup, berada di perairan tropis dangkal dengan sedikit nutrisi di dalam air.

ALAT PENANGKAPAN IKAN RAMAH LINGKUNGAN

Di Indonesia khususnya dibidang perikanan tangkap banyak sekali jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan, namun banyak sekali alat tangkap yang bersifat merusak atau destruktif seperti payang dan trawl yang menangkap ikan didasar perairan dengan menyapu dasar sehingga terumbu karang yang berada didasar perairan akan rusak.

Oleh karenanya perlu alat tangkap ramah lingkungan yang selain selektif juga efektif dan bisa mempertahankan sumberdaya ikan agar habitatnya tidak rusak. Jenis-jenis alat tangkap ramah lingkungan tersebut diantaranya seperti pancing, dan alat pengumpul ikan seperti keramba apung yang menggunakan lampu dan umpan alami.

Departemen Kelautan dan Perikanan (2006), dengan mengacu pada FAO pada tahun 1995, mengeluarkan suatu tata cara bagi kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab (CCRF). CCRF menetapkan ada sembilan kriteria yang digunakan pada teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan, yaitu :

1. Alat tangkap harus memiliki selektivitas yang tinggi

Pengertian selektivitas yang tinggi adalah alat tangkap tersebut diupayakan hanya dapat menangkap ikan/organisme lain yang menjadi sasaran penangkapan saja, dimana ada dua macam selektivitas yang menjadi sub kriteria, yaitu selektivitas ukuran dan selektivitas jenis. Pada sub kriteria ini terdiri dari (yang paling rendah hingga yang paling tinggi):

  • Alat menangkap lebih dari tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh;
  • Alat menangkap paling banyak tiga spesies dengan ukuran berbeda jauh;
  • Alat menangkap kurang dari tiga spesies dengan ukuran yang kurang lebih sama; dan
  • Alat menangkap satu spesies saja dengan ukuran yang kurang lebih sama.

2. Alat tangkap yang digunakan tidak merusak habitat, tempat tinggal dan berkembang biak ikan dan organisme lainnya

Kriteria kedua yang diberikan oleh lembaga pangan dan pertanian dunia (FAO) PBB ini artinya bahwa alat tangkap ikan yang digunakan tidak merusak lingkungan (destructive fishing) akan tetapi harus tergolong pada constructive fishing.

Dampak penangkapan ikan yang merusak lingkungan terdiri dari kerusakan sumberdaya ikan, habitat ikan, dan dasar perairannya. Pembobotan yang digunakan dalam kriteria ini yang ditetapkan berdasarkan luas dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan alat penangkapan.

Adapun skoring dan pembobotan pada kriteria tersebut adalah sebagai berikut (dari rendah hingga yang tinggi):

  • Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang luas;
  • Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang sempit;
  • Menyebabkan sebagaian habiat pada wilayah yang sempit; dan
  • Aman bagi habitat (tidak merusak habitat).

3. Tidak membahayakan nelayan (penangkap ikan)

Keselamatan manusia menjadi syarat penangkapan ikan, hal ini karena bagaimanapun manusia merupakan bagian yang penting bagi keberlangsungan perikanan yang produktif.

Pembobotan resiko diterapkan berdasarkan pada tingkat bahaya dan dampak yang mungkin dialami oleh nelayan (dari rendah – tinggi):

  • Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat kematian pada nelayan;
  • Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat cacat menetap (permanen) pada nelayan;
  • Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat gangguan kesehatan yang sifatnya sementara; dan
  • Alat tangkap aman bagi nelayan.

4. Menghasilkan ikan yang bermutu baik

Jumlah ikan yang banyak tidak banyak berarti bila ikan-ikan tersebut dalam kondisi buruk. Dalam menentukan tingkat kualitas ikan digunakan kondisi hasil tangkapan secara morfologis (bentuknya).

Pembobotan (dari rendah hingga tinggi) adalah sebagai berikut:

  • Ikan mati dan busuk;
  • Ikan mati, segar, dan cacat fisik;
  • Ikan mati dan segar; dan
  • Ikan hidup

5. Produk tidak membahayakan kesehatan konsumen

Ikan yang ditangkap dengan peledakan bom pupuk kimia atau racun sianida kemungkinan tercemar oleh racun. Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan tingkat bahaya yang mungkin dialami konsumen yang harus menjadi pertimbangan adalah (dari rendah hingga tinggi):

  • Berpeluang besar menyebabkan kematian konsumen;
  • Berpeluang menyebabkan gangguan kesehatan konsumen;
  • Berpeluang sangat kecil bagi gangguan kesehatan konsumen; dan
  • Aman bagi konsumen

6. Hasil tangkapan yang terbuang minimum

Alat tangkap yang tidak selektif dapat menangkap ikan/organisme yang bukan sasaran penangkapan (non-target). Dengan alat yang tidak selektif, hasil tangkapan yang terbuang akan meningkat, karena banyaknya jenis non-target yang turut tertangkap. Hasil tangkapan nontarget, ada yang bisa dimanfaatkan dan ada yang tidak.

Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan pada hal berikut (dari rendah hingga tinggi):

Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis (spesies) yang tidak laku dijual di pasar;
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis dan ada yang laku dijual di pasar;
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan laku dijual di pasar; dan
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan berharga tinggi di pasar;.

7. Alat tangkap yang digunakan harus memberikan dampak minimum terhadap keanekaan sumberdaya hayati (biodiversity)

Persyaratan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan adalah meminimalisasi dampak terhadap keanekaragaman sumberdaya hayati periaran sebagai akibat penangkapannya.

Adapun pembobotan kriteria ini ditetapkan dari rendah hingga tinggi :

  • Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian semua mahluk hidup dan merusak habitat;
  • Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies dan merusak habitat;
  • Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies tetapi tidak merusak habitat; dan
  • Aman bagi keanekaan sumberdaya hayati.

8. Tidak menangkap jenis yang dilindungi undang-undang atau terancam punah

Tingkat bahaya alat tangkap terhadap spesies yang dilindungi undang-undang ditetapkan berdasarkan kenyataan bahwa:

  • Ikan yang dilindungi sering tertangkap alat;
  • Ikan yang dilindungi beberapa kali tertangkap alat;
  • Ikan yang dilindungi .pernah. tertangkap; dan
  • Ikan yang dilindungi tidak pernah tertangkap

9. Diterima secara sosial

Penerimaan masyarakat terhadap suatu alat tangkap, akan sangat tergantung pada kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di suatu tempat. Suatu alat diterima secara sosial oleh masyarakat bila:

  1. biaya investasi murah,
  2. menguntungkan secara ekonomi,
  3. tidak bertentangan dengan budaya setempat,
  4. tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.

Pembobotan criteria ditetapkan dengan menilai kenyataan di lapangan bahwa (dari yang rendah hingga yang tinggi):

  • Alat tangkap memenuhi satu dari empat butir persyaratan di atas;
  • Alat tangkap memenuhi dua dari empat butir persyaratan di atas;
  • Alat tangkap memenuhi tiga dari empat butir persyaratan di atas; dan
  • Alat tangkap memenuhi semua persyaratan di atas.

Bila ke sembilan kriteria ini dilaksanakan secara konsisten oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan perikanan, dapat dikatakan ikan dan produk perikanan akan tersedia secara berkelanjutan. Hal yang penting diingat adalah bahwa generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kita tidak mengurangi ketersediaan ikan bagi generasi yang akan datang dengan pemanfaatan sumberdaya ikan yang ceroboh dan berlebihan.

Perilaku yang bertanggungjawab ini akan memberikan sumbangan yang penting bagi ketahanan pangan, dan peluang pendapatan yang berkelanjutan.

Adapun pengembangan perikanan yang berkelanjutan bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya alat tangkap ikan yang digunakan terhadap kelestarian sumberdaya ikan yang ada. Menurut Monintja (2000), kriteria alat tangkap berkelanjutan mempunyai enam kriteria yang digunakan yaitu :

  1. menerapkan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan ;
  2. jumlah hasil tangkapan tidak melebihi jumlah tangkapan yang diperbolehkan (TAC) ;
  3. produk mempunyai pasar yang baik ;
  4. investasi yang digunakan rendah ;
  5. penggunaan bahan bakar rendah ; dan
  6. secara hukum alat tangkap tersebut legal.

Hasil Tangkapan per Satuan Upaya

Produktivitas atau laju tangkap merupakan salah indikasi kecenderungan dan kenaikan usaha perikanan. Laju tangkap merupakan perbandingan anatara hasil tangkapan yang didaratkan (landings) dan upaya penangkapan sebuah kapal pada suatu fishing base tertentu.

Nilai hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan disebut juga dengan CPUE (Catch per Unit Effort). Upaya penangkapan dapat berupa hari operasi atau bulan operasi, banyaknya trip penangkapan atau jumlah armada yang melakukan operasi penangkapan. Dalam penelitian ini upaya penangkapan yang digunakan adalah jumlah unit penangkapan bukan trip penangkapan.

Dikarenakan setiap alat tangkap tidak hanya menangkap satu jenis ikan saja, apalagi ikan-ikan pelagis dapat ditangkap dengan beberapa jenis alat tangkap. Oleh karena itu, harus dilakukan standarisasi alat tangkap dengan menentukan Indeks kuasa penangkapan ikan (FPI = Fishing Power Indeks).

Standarisasi alat tangkap tersebut akan menentukan upaya penangkapan untuk menangkap spesies tertentu dengan alat tangkapa standar tertentu pula.

IKAN MOLA MOLA

Mola-mola atau yang lebih populer dengan nama “Sun Fish” (Ikan Matahari) adalah ikan langka tropis dan subtropis yang menjadi perburuan bagi Diver/Penyelam dan fotografer Under Water diseluruh dunia. Ikan Mola-mola dewasa dapat mencapai panjang 1 meter dengan berat 1-2 ton. Uniknya, ikan Mola-mola hampir tidak memiliki sirip ekor, namun memiliki clavus, yang merupakan sambungan sirip pungung dan sirip perut. Beruntungnya Indonesia menjadi salah satu tempat persinggahan, Mola-mola dapat dijumpai sepanjang bulan Juli-September di Lembongan, Bali.

Berikut ini fakta unik dari ikan mola-mola atau ikan matahari:

1. Ikan ini hobi berjemur

Bahwa ikan mola-mola mempunyai hobi yang unik yaitu berjemur ke permukaan laut, itulah sebabnya ia dijuluki dengan nama Sunfish. Ia sangat sering memunculkan dirinya untuk berjemur di pantai Penida, Bali.

2. Bentuk tubuhnya aneh

Pada umumnya semua jenis ikan selalu mempunyai sirip ekor. Berbeda dengan mola-mola ia nyaris gak punya sirip ekor. Dan biasanya sirip (sayap) ikan lain terletak di samping kira dan kanan, sedangkan mola mola siripnya berada vertikal diatas dan dibawah (punggung dan perut) yang disebut calvus.
Akibat bentuk siripnya yang aneh ditambah tubuhnya yang bulat dan gemuk membuat Ikan mola mola sangat lambat untuk berenang dan untuk melawan arus ombak pun ia tidak bisa, memilih pasrah mengikuti arus air yang membawanya.

3. Sunfish, Ikan mola mola yang terancam punah

Karena keadaan bentuk tubuhnya yang aneh, membuat ikan mola mola terancam punah, ia sering menjadi korban kecelakaan dalam lalu lintas perairan laut seperti tersangkut di baling-baling kapal perahu dan sering menjadi korban tabrakan dari kapal-kapal besar yang sedang melaju ke arahnya. Begitu lamban gerakannya membuat ia tak dapat menghindar dari kecepatan kapal tersebut. Selain itu sampah-sampah laut juga menjadi salah satu penyebab kematiannya. Ia sering tersedak akibat menelan sampah plastik yang disangkanya adalah ubur-ubur. Belum lagi ia terdampar di tepi pantai akibat terseret ombak dan mati sendiri akibat dehidrasi. Tapi penyebab kematiannya paling tinggi adalah akibat perburuan illegal seperti yang dilakukan oleh para nelayan jahat di jepang. Mereka memang sengaja ditangkap untuk dijual dagingnya ke restoran.

IKAN CAKALANG

Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah ikan pelagis yang merupakan perenang cepat (good swimmer) dan mempunyai sifat rakus (varancious). Ikan ini melakukan migrasi jarak jauh dan hidup bergerombol dalam ukuran besar. Bentuk tubuhnya digolongkan dalam bentuk torpedo, yaitu badan fusiform, bagian kepala sangat tebal, ramping dan kuat kearah ekor dan sedikit pipih pada bagian samping. Penangkapan ikan cakalang dapat dilakukan dengan pole and line, hand and line dantonda (Ayodya,1981).

Ikan cakalang mencari makan berdasarkan pada penglihatannya. Pernah ada cakalang terbesar yang ditemukan yang mempunyai panjang badan mencapai 1 meter dan berat badan lebih dari 18 Kg. Cakalang yang banyak tertangkap biasanya berukuran panjang sekitar 50 cm. Makanan cakalang berupa krustasea, cephalopoda, dan moluska. Ikan cakalang merupakan mangsa yang begitu penting untuk ikan-ikan besar dizona pelagik. Ikan cakalang juga dikenal sebagai SkripJack tuna.

Klasifikasi Ikan Cakalang

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Perciformes
Sub Ordo : Scombroidea
Famili : Scombroidae
Sub Famili : Thunninae
Genus : Katsuwonus
Species : Katsuwonus pelamis

Morfologi Ikan Cakalang

  • Bentuk tubuh seperti terpedo
  • Mempunyai gill rakers (tapis insang) sekitar 53-63 buah
  • Mempunyai dua sirip punggung yang terpisah
    • Sirip pertama terdapat 14-16 jari-jari
    • Pada sirip kedua terdapat 7-9 finlet
  • Sirip dada pendek
  • Terdapat dua flops diantara sirip perut
  • Memepunyai sirip anal yang diikuti dengan 7-8 finlet
  • Badan tidak bersisik kecuali pada bagian barut badan (corselets)
  • Bagian punggung terdapat warna biru kehitaman dan perut berwarna keperakan dan terdapat garis-garis yang berwarna hitam pada bagian samping badan 4-6 buah garis

Habitat Ikan Cakalang

Suhu yang ideal untuk ikan cakalang adalah 26°C – 32°C dan salinitas 33%. Ikan cakalang menyebar luas diseluruh perairan sub tropis dan tropis, Anatara lain lautan hindia, atlantik dan pasifik kecuali lautan mediterania. Ikan cakalang sangat menyukai daerah dimana terjadinya pertemua antara arus /air (convergence) yang pada umumnya terdapat pulau-pulau.

Ikan cakalang juga terdapat di perairan yang dimana terjadinya pertemuan antara masa air panas dan dingin, penaikan tekanan air dan parameter hidrografi yang terdapat pencampuran yang tidak tetap. Pada siang hari biasanya ikan cakalang berada dikedalaman 260 meter dan pada malam hari ikan cakalang biasanya akan muncul kepermukaan.