Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) аdаlаh sejenis ikan laut
dаrі suku Scombridae. Sifat hidup Ikan Tongkol Tеrutаmа menjelajah dі perairan
dangkal dekat pesisir dі kawasan Indo-Pasifik Barat. Dalam perdagangan
internasional dikenal ѕеbаgаі kawakawa, little tuna, mackerel tuna, atau false
albacore.
Ikan Tongkol merupakan ikan tangkapan nelayan уаng penting
dі berbagai negara dі wilayah sebarannya. Tongkol como terbanyak ditangkap dі
Filipina, Malaysia, dan Pakistan; ѕеmеntаrа dі India ikan іnі menduduki posisi
уаng cukup penting. Walaupun sebenarnya bila di telisik lebih jauh Malaysia dan
Filipina komoditas tongkol nya berasal dari lautan Indonesia.
Ikan ini memiliki panjang cagak maksimal (fork length) 100
cm dengan berat 13.6 kg. Ukuran panjang cagak rata-rata saat dewasa adalah 60
cm. Bentuk badannya melengkung di tengah dan meruncing pada sisi depan dan
belakang. Pada bagian punggung terdapat 2 sirip yang memudahkan ikan ini dalam
berenang di laut. Oleh sebab itu, ikan ini juga dikenal sebagai perenang
tercepat di kelasnya. Terdapat juga sirip-sirip kecil (finlet) di bagian sirip
punggung dan sirip dubur.
Bagian tubuh atas berwarna biru tua dan bagian tubuh bawah
berwarna putih silver. Pada punggung terdapat 10-12 jari-jari sirip dan 10-13
jari-jari sirip halus. Pada bagian dubur terdapat 10-14 jari-jari sirip halus.
Ikan Tongkol, atau
biasa disebut Eastern Little Tuna masuk kedalam suku Scombridae.
Karakteristik
Ikan
tongkol mempunyai karakteristik badan bulat seperti cerutu dan padat. Terdapat
8 sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung kedua dan sirip dubur dan
pada ekor terdapat satu keel diantara 2 keel pada setiap sisi tubuh. Punggung
berwarna gelap dengan garis tidak teratur berwarna biru kehitaman. Sedangkan
perut berwarna cerah. Jenis yang paling umum tertangkap di Indonesia
adalah Euthynnus affinis.
Nama
lokal: Tongkol Komo, mangkok, Ambu-Ambu, Tongkok Kurik, Sembak.
Habitat
Ikan
tongkol termasuk ikan yang hidup pada perairan Laut epas namun dekat dengan
garis pantai. Ikan-ikan muda sering masuk ke dalam teluk atau pelabuhan.
Gerombolannya terbentuk bersama spesies lain, terdiri dari 100 sampai 5.000
ekor. Termasuk predator oportunistik dengan jenis makanan dari ikan kecil
(Clupeidae dan Engraulidae), Cumi-cumi, Crustacea sampai Zooplankton.
Alat Tangkap
Ikan
Tongkol biasa ditangkap dengan Huhate (Pole&Line). Untuk mempertahankan
ikan tetap dalam gerombolan disekitar perahu, nelayan melemparkan ikan Teri
hidup ke dalam air. Belakangan ini ikan Tongkol juga ditangkap dengan Pancing
Tonda yang diisi dengan umpan Bulu. Seperti Ikan Cakalang, armada Tonda yang
terkenal adalah Kedo-Kedo dan Bubu Cakalang. Ikan Tongkol bisa dijual dalam
bentuk pindang dan ikan kaleng. Jenis ini termasuk komoditas ekonomis penting
bagi nelayan skala kecil dan menengah. Ikan Tongkol bisa mencapai ukuran 100
cm, dan lebih sering tertangkap pada ukuran 40 – 60 cm.
Spesies di Indonesia
1. Auxis rochei rochei (Risso, 1810) Bullet Tuna
Komersial
tinggi, ukuran umum < 50cm;
Alat
Tangkap : Seines, Gill Net, Perangkap, Trawls dan Liftnets;
Habitat:
di Perairan Pantai dan mengelilingi pulau;
Makanan:
ikan-ikan kecil, Anchovies, Crustaceans (Kepiting dan Stomatopod Larvae) dan
Cumi-cumi;
Lokasi
: ditemukan di Selatan Barat Sumatera, Jawa, Bali dan Laut Timur Indonesia.
Kelimpahan sumberdaya
hayati di suatu perairan selalu berubah-ubah secara dinamis. Pada suatu kurun
waktu tertentu, diperlukan adanya kegiatan pendugaan kelimpahan stok, guna
menduga; maximum sustainable yield (MSY), dan upaya penangkapan optimum (f-optimum).
Pendugaan stok dapat dilakukan antara lain dengan; Metode Swept Area, atau
Metode Surplus Produksi. Hasil pendugaan ini digunakan untuk melakukan
manajemen perairan yang baik dan terpadu.
1.
Metode Surplus Produksi
Tujuan utama dari model ini adalah untuk menentukan Maximum Sustainable Yield
(MSY) selama ini, metode surplus produksi diterapkan pada tingkat stok, bukan individu.
Stok dianggap sebagai kumpulan besar dari biomasa. Pertumbuhan stok, dalam
konteks surplus produksi, mengacu pada laju perubahan biomasa stok, dan bukan
pada perubahan individu. keuntungan terbesar dari model surplus produksi adalah
hanya membutuhkan serangkaian data penangkapan dan upaya penangkapannya.
Data
ini dapat diperoleh dari beberapa perikanan komersial. Sparre (1989) menyebukan
bahwa tinjauan sudah dilakukan oleh Ricker (1975), Caddy (1980), Gulland (1983)
dan Pauly (1984).
Maximum Sustainable Yield (MSY) diduga dari data input berupa:
f(i) =
effort dari tahun ke-i. i = 1,2,3,4, … n.
C(i) =
catch (in weight) pada tahun i. i = 1,2, 3 … n.
C/f
(CPUE) dari seluruh kegiatan perikanan selama tahun i dapat diturunkan dari C(i) dan f(i)yang bersesuaian, dengan cara:
C / f = C(i) /
f(i)
dimana:
C(i) = catch pada tahun i;
F(i) = effort pada tahun i
.
Effort yang digunakan adalah effort yang berasal dari kapal standar pertahun.
Oleh karena kapal terdiri atas berbagai jenis dan ukuran, maka effort dari
masing-masing kategori ukuran kapal harus dikonversikan ke dalam satu unit
standar sebelum dihitung sebagai effort total.
Trend
CPUE memperlihatkan suatu trend penurunan, untuk setiap kenaikan effort. Hal
ini berarti terdapat keadaan semakin kecilnya bagian per kapal dengan semakin
banyaknya kapal. Keadaan ini didasarkan pada anggapan bahwa biomasa stok adalah
terbatas yang dibagi untuk kapal yang melakukan kegiatan perikanan, terdapat
dua model yang mengekspresikan CPUE, yaitu:
Model Schaefer (1954) yang
linier,
Model Fox (1970) yang
logaritmik.
Sparre
(1989) berpendapat bahwa tidak dapat dibuktikan salah satu dari kedua model
tersebut adalah lebih baik daripada model yang lain.
Persamaan Matematik Model Schaefer
Persamaan Matematik Model Fox
dimana
q = koefisien kemampuan tangkap
B = biomasa
a,c = intersep
b,d = slope atau gradient
Perbedaan
antara kedua model (Sparre, 1989) :
Pada model Schaefer : adanya
tingkat effort yang memberikan nilai nihil bagi stok, pada f = – a/b.
Pada model Fox : adanya
beberapa populasi yang berhasil hidup, bagaimanapun tingginya tingkat
eksploitasi atas stok.
Kedua
model sebenarnya sama baiknya. Namun model Schaefer lebih sederhana karena
menggunakan pendekatan linier, bahwa CPUE hanya tergantung pada f. Effort (f)
dalam konteks ini didefinisikan sebagai satu unit standar alat penangkap ikan
yang melakukan kegiatan penangkapan terhadap stok pada daerah yang tengah
diobservasi.
Model matematika Schaefer didefinisikan sebagai:
Slope b harus negatif apabila
C/f menurun dengan meningkatnya f.
Intersep a adalah nilai C/f
yang didapat oleh kapal pertama segera setelah menangkap ikan stok yang
pertama. Oleh karena itu, intersep harus (+).
Dengan demikian, -a/b menjadi
positif, dan C/f = 0 pada saat f = a/b.
Tidak ada nilai C/f yang
negatif, maka model hanya dapat diterapkan pada harga f =< -a/b.
2.
Tingkat pengusahaan
Menurut Dwiponggo yang diacu dalam Widiawati (2000) pembagian tingkat
pengusahaan sumberdaya perikanan tangkap dibagi menjadi empat tahapan, yaitu:
Pengusahaan yang rendah dengan
hasil tangkapan sebagian kecil dari potensinya;
Pengusahaan sedang dengan hasil
tangkapan merupakan sebagian yang nyata dari potensi dan penambahan upaya
penangkapan (effort) masih memungkinkan;
Pengusahaan tinggi dengan hasil
tangkapan sudah mencapai besar potensinya dan penambahan upaya penangkapan
(effort) tidak akan menambah hasil tangkapan;
Pengusahaan yang berlebihan
(over fishing) dengan terjadi pengurangan
stok ikan karena penangkapan sehingga hasil tangkapan per satuan upaya
penangkapan (CPUE) akan jauh berkurang.
3.
RAPFISH Rapfish (Rapidly Appraissal for Fisheries) adalah teknik
terbaru yang dikembangkan oleh University of British Columbia Canada, yang
merupakan analisis untuk mengevaluasi keberlanjutan (sustainability) dari
perikanan secara multidisipliner.
Rapfish
didasarkan pada teknik ordinasi (menempatkan sesuatu pada urutan atribut yang
terukur) dengan menggunakan Multi-Dimensional Scaling (MDS). Pemilihan MDS
dalam analisis Rapfish, dilakukan mengingat metode multivariate analysis yang
lain seperti factor analysis dan Multi-Attribute Utility Theory (MAUT) terbukti
tidak menghasilkan hasil yang stabil. MDS itu sendiri pada dasarnya adalah
teknik statistik yang mencoba melakukan transformasi multi dimensi ke dalam
dimensi yang lebih rendah.
Dimensi
dalam Rapfish menyangkut aspek keberlanjutan dari ekologi, ekonomi,
teknologi, sosial dan etik. Setiap dimensi memiliki atribut atau indikator yang
terkait dengan keberlanjutan (sustainability) sebagaimana yang diisyaratkan
dalam FAO Code of Conduct for Responsible Fisheries.
Menurut
Pitcher and Preikshot (2001) analisis Rapfish dimulai dengan mereview atribut
dan mendefinisikan perikanan yang akan dianalisis (misalnya vessel-base,
area-base, atau berdasarkan periode waktu), kemudian dilanjutkan dengan
skoring, yang didasarkan pada ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Rapfish.
Setelah itu dilakukan MDS untuk menentukan posisi relatif dari perikanan
terhadap ordinasi baik (good) dan buruk (bad). Selanjutnya analisis Monte Carlo
dan Leverage dilakukan untuk menentukan aspek ketidak-pastian dan anomali dari
atribut yang dianalisis.
Menurut
Hartono, et.al (2005) hasil dari kegiatan pengembangan metode RAPFISH untuk
mengkaji indikator kinerja pembangunan sektor perikanan tangkap sebagaimana
diuraikan di atas kemudian dirangkum dalam suatu bentuk pedoman penentuan
indikator kinerja pembangunan subsektor perikanan tangkap. Penyusunan pedoman
ini diolah dari hasil berbagai riset yang mengacu pada konsep sustainable
development diantaranya metode RAPFISH. Penyusunan pedoman ini lebih bertujuan
sebagai sarana sosialisasi metode analisis multivarites berbasis
multidimensional scaling (MDS), terutama yang diaplikasikan dalam metode
RAPFISH.
Rajungan adalah
nama sekelompok kepiting dari beberapa marga anggota suku Portunidae.
Jenis-jenis kepiting ini dapat berenang dan sepenuhnya hidup di laut.
Beberapa
jenis rajungan yang biasa didapati dan dijual di Indonesia antara lain :
Portunus pelagicus, rajungan
biasa
Portunus
sanguinolentus, rajungan bintang
Charybdis feriatus,
rajungan karang
Podophthalmus vigil,
rajungan angina
Karakteristik
Rajungan memiliki
kulit luar (cangkang) keras. Lebarnya bisa mencapai 2x panjang. Pada ujung depan
kulit luar terdapat 9 buah duri (anterolateral tooth), duri terakhir lebih
besar dan panjang. Kaki belakang terakhir pipih dan bulat. Semua kaki berbulu,
kecuali kaki pertama.
Habitat
Rajungan atau Swimming
Crabs termasuk jenis organisme bentik dan semipelagik dengan tingkah laku yang
sangat beragam. Makanan utamanya adalah Detritus dengan tingkah laku filter
feeder.
Alat Tangkap
Jenis yang komersial
di Indonesia termasuk Portunus pelagicus, P. sanguinolentus dan P.
trituberculatus. Alat tangkap yang biasa dipakai adalah Bagan yang dilengkapi
dengan umpan, jermal, Bubu dan jaring
Klasifikasi
alat penangkap ikan adalah cara
mengelompokkan alat penangkap ikan sesuai dengan tujuan dan peruntukkan
pengklasifikasiannya. Klasifikasi alat penangkap ikan telah ditentukan dan
disetujui baik secara internasional (ISSCFG─FAO) maupun nasional
(KAPI─Indonesia).
Alat penangkapan ikan adalah segala macam alat yang di
pergunakan dalam proses penangkapan ikan termasuk kapal, alat tangkap dan alat
bantu penangkapan. Pemerintah Indonesia, dalam rangka pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya ikan secara optimal dan berkelanjutan, menetapkan Alat
Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia No. KEP.06/MEN/2010.
Alat
Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia
yang menurut jenisnya terdiri dari 10 (sepuluh) kelompok yaitu:
jaring lingkar (surrounding
nets);
pukat tarik (seine nets);
pukat hela (trawls);
penggaruk (dredges);
jaring angkat (lift nets);
alat yang dijatuhkan (falling
gears);
jaring insang (gillnets and
entangling nets);
perangkap (traps);
pancing (hooks and lines);
alat penjepit dan melukai (grappling
and wounding).
I. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING LINGKAR (SURROUNDING
NETS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan jaring lingkar adalah kelompok alat penangkapan
ikan berupa jaring berbentuk empat persegi panjang yang terdiri dari sayap,
badan, dilengkapi pelampung, pemberat, tali ris atas, tali ris bawah dengan
atau tanpa tali kerut/pengerut dan salah satu bagiannya berfungsi sebagai
kantong yang pengoperasiannya melingkari gerombolan ikan pelagis. (SNI
7277.3:2008)
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan jaring lingkar (Surrounding Nets): 01.0.0
Pukat cincin dengan
satu kapal (One boat operated purse seines), PS1,01.1.1:
Pukat cincin pelagis kecil dengan satu kapal,
PS1-K, 01.1.1.1
Pukat cincin pelagis besar dengan satu kapal,
PS1-B, 01.1.1.2
Gambar Pukat cincin dengan satu kapal (One
boat operated purse seines)
Pukat cincin dengan
dua kapal (Two boat operated purse seines), PS2,01.1.2:
Pukat cincin grup pelagis kecil, PS2-K,
01.1.2.1
Pukat cincin grup pelagis besar, PS2-B,
01.1.2.2
Gambar Pukat cincin dengan dua kapal (Two
boat operated purse seines)
2. Jaring lingkar tanpa tali kerut (Without purse
lines/Lampara): LA, 01.2.0
Gambar Jaring lingkar tanpa tali kerut (Without
purse lines/Lampara)
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan jaring lingkar dilakukan dengan cara melingkari
gerombolan ikan yang menjadi sasaran tangkap untuk menghadang arah renang ikan
sehingga terkurung di dalam lingkaran jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada
permukaan sampai dengan kolom perairan yang mempunyai kedalaman yang cukup
(kedalaman jaring ≤ 0,75 kedalaman perairan), umumnya untuk menangkap ikan
pelagis.
II. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT TARIK (SEINE
NETS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan pukat tarik adalah kelompok alat penangkapan ikan
berkantong (cod-end) tanpa alat pembuka mulut jaring, pengoperasiannya
dengan cara melingkari gerombolan (schooling) ikan dan menariknya ke kapal yang
sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian
sayap dan tali selambar. (SNI 7277.6:2008)
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Pukat Tarik (Seine Nets), 02.0.0:
1. Pukat tarik pantai (Beach seines), SB, 02.1.0
Gambar Pukat tarik pantai
2. Pukat tarik berkapal (boat or vessel seines), SV, 02.2.0:
– Dogol (Danish seines), SDN, 02.2.1
Gambar Dogol (Danish seines)
– Scottish seines, SSC 02.2.2
Gambar Scottish seines
– Pair Seines, SPR, 02.2.3
Gambar Pair seines
– Payang, SV-PYG, 02.2.0.1
Gambar Payang
– Cantrang, SV-CTG, 02.2.0.2
Gambar Cantrang
– Lampara dasar: SV-LDS, 02.2.0.3
Gambar Lampara Dasar
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan pukat tarik dilakukan dengan cara melingkari gerombolan
ikan pelagis atau ikan demersal dengan menggunakan kapal atau tanpa kapal.
Pukat ditarik kearah kapal yang sedang berhenti atau berlabuh jangkar atau ke
darat/pantai melalui tali selambar di kedua bagian sayapnya. Pengoperasiannya
dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan umumnya untuk menangkap
ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pukat tarik yang digunakan.
Pukat
tarik pantai dioperasikan di daerah pantai untuk menangkap ikan pelagis dan
demersal yang hidup di daerah pantai. Dogol dan lampara dasar dioperasikan pada
dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal. Payang dioperasikan di kolom
perairan umumnya menangkap ikan pelagis.
III. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) adalah kelompok alat
penangkapan ikan terbuat dari jaring berkantong yang dilengkapi dengan atau
tanpa alat pembuka mulut jaring dan pengoperasiannya dengan cara dihela di sisi
atau di belakang kapal yang sedang melaju (SNI 7277.5:2008). Alat pembuka mulut
jaring dapat terbuat dari bahan besi, kayu atau lainnya.
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan pukat hela, 03.0.0:
1. Pukat hela dasar (Bottom Trawls), TB, 03.1.0:
– Pukat hela dasar berpalang (Beam trawl), TBB, 03.1.1
Gambar Pukat hela dasar berpalang
– Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls), OTB, 03.1.2
Gambar Pukat hela dasar berpapan (Otter
trawls)
– Pukat hela dasar dua kapal (pair trawls), PTB, 03.1.3
Gambar Pukat hela dasar dua kapal (pair
trawls)
– Nephrops trawl (Nephrops trawl), TBN, 03.1.4
Gambar Nephrops trawl (Nephrops trawls)
– Pukat hela dasar udang (Shrimp trawls), TBS, 03.1.5 Pukat udang,
TBS-PU, 03.1.5.1
2. Pukat hela pertengahan (Midwater trawls), TM, 03.2.0:
– Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair trawls), PTM, 03.2.2
Gambar Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair
trawls)
– Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls), TMS 03.2.3
Gambar Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls)
3. Pukat hela kembar berpapan (Otter twin trawls), OTT, 03.3.0
Gambar Pukat hela kembar berpapan (Otter
twin trawls)
4. Pukat dorong, TX-PD, 03.9.0.1
Gambar Pukat dorong
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dilakukan dengan cara menghela pukat
di sisi atau di belakang kapal yang sedang melaju. Pengoperasiannya dilakukan
pada kolom maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun
ikan demersal termasuk udang dan crustacea lainnya tergantung jenis pukat hela
yang digunakan. Pukat hela dasar dioperasikan di dasar perairan, umumnya untuk
menangkap ikan demersal, udang dan crustacea lainnya. Pukat hela pertengahan
dioperasikan di kolom perairan, umumnya menangkap ikan pelagis.
IV. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PENGGARUK (DREDGES)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan Penggaruk (dredges) adalah kelompok alat
penangkapan ikan berbingkai kayu atau besi yang bergerigi atau bergancu di
bagian bawahnya, dilengkapi atau tanpa jaring/bahan lainnya, dioperasikan
dengan cara menggaruk di dasar perairan dengan atau tanpa perahu untuk
menangkap kekerangan dan biota menetap (SNI 7277.2:2008).
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Penggaruk (Dredges), 04.0.0:
1. Penggaruk berkapal (Boat dredges), DRB, 04.1.0
Gambar Penggaruk berkapal
2. Penggaruk tanpa kapal (Hand dredges), DRH, 04.2.0
Gambar Penggaruk tanpa kapal
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan penggaruk dilakukan dengan cara menarik ataupun menghela
garuk dengan atau tanpa kapal. Pengoperasiannya dilakukan pada dasar perairan
umumnya untuk menangkap kekerangan, teripang, dan biota menetap lainnya.
V. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING ANGKAT (LIFT
NETS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan jaring angkat adalah kelompok alat penangkapan ikan
terbuat dari bahan jaring berbentuk segi empat dilengkapi bingkai bambu atau
bahan lainnya sebagai rangka, yang dioperasikan dengan cara dibenamkan pada
kolom perairan saat setting dan diangkat ke permukaan saat hauling yang
dilengkapi dengan atau tanpa lampu pengumpul ikan, untuk menangkap ikan pelagis
(SNI 7277.9:2008).
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan jaring angkat (Lift nets), 05.0.0:
Gambar Bagan tancap (Shore-operated
stationary lift nets)
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan jaring angkat dilakukan dengan cara dibenamkan pada kolom
perairan saat setting dan diangkat ke permukaan saat hauling. Pengoperasiannya
dapat menggunakan alat bantu pengumpul ikan berupa lampu. Anco dan bagan tancap
dioperasikan di daerah pantai sedangkan jaring angkat lainnya dioperasikan di
perairan yang lebih jauh dari pantai.
VI. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN YANG DIJATUHKAN ATAU
DITEBARKAN (FALLING GEAR)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan adalah kelompok
alat penangkapan ikan yang terbuat dari jaring, besi, kayu, dan/atau bambu yang
cara pengoperasiannya dijatuhkan/ditebarkan untuk mengurung ikan pada sasaran
yang terlihat maupun tidak terlihat (SNI 7277.12:2008).
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan (Falling gear), 06.0.0:
1. Jala jatuh berkapal (Cast nets), FCN, 06.1.0
Gambar Jala jatuh berkapal (Cast nets)
2. Jala tebar (Falling gear not specified), FG, 06.9.0
Gambar Jala tebar (Falling gear not
specified)
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan dilakukan dengan cara
menjatuhkan/menebarkan pada suatu perairan dimana target sasaran tangkapan
berada. Pada jala jatuh berkapal pengoperasian dilanjutkan dengan menarik tali
kerut pada bagian bawah jala, sedangkan pada jala tebar bagian bawah jala akan
menguncup dengan sendirinya karena pengaruh pemberat rantai. Jala tebar
dioperasikan di sekitar pantai yang dangkal untuk menangkap ikan-ikan kecil,
sedangkan jala jatuh berkapal dioperasikan di perairan yang lebih jauh dari
pantai dengan atau tanpa alat bantu penangkapan berupa lampu umumnya menangkap
ikan pelagis bergerombol dan cumi-cumi.
VII. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING INSANG
(GILLNETS AND ENTANGLING NETS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan jaring insang adalah kelompok jaring yang berbentuk
empat persegi panjang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan
tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah untuk menghadang ikan sehingga ikan
tertangkap dengan cara terjerat dan/atau terpuntal dioperasikan di permukaan,
pertengahan dan dasar secara menetap, hanyut dan melingkar dengan tujaun
menangkap ikan pelagis dan demersal (SNI 7277.8:2008)
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Jaring Insang, (Gillnets and entangling nets), 07.0.0:
Pengoperasian
jaring insang dilakukan dengan cara menghadang arah renang gerombolan ikan
pelagis atau demersal yang menjadi sasaran tangkap sehingga terjerat pada
jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, pertengahan maupun pada
dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal
tergantung jenis jaring insang. Jaring insang dioperasikan secara menetap,
dihanyutkan, melingkar maupun terpancang pada permukaan, pertengahan maupun
dasar perairan. Jaring insang ada yang satu lapis maupun berlapis. Jaring
insang berlapis umumnya dioperasikan pada dasar perairan umumnya menangkap ikan
demersal.
VIII. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PERANGKAP (TRAPS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan perangkap adalah kelompok alat penangkapan ikan
yang terbuat dari jaring, dan/atau besi, kayu, bambu, berbentuk silinder,
trapesium dan bentuk lainnya dioperasikan secara pasif pada dasar atau
permukaan perairan, dilengkapi atau tanpa umpan (SNI 7277.10:2008).
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Perangkap (Traps), 08.0.0:
1. Stationary uncovered pound nets, FPN, 08.1.0 Set net , FPN-SN, 08.1.0.1
GambarSet nets
2. Bubu (Pots), FPO, 08.2.0
Gambar Bubu (Pots)
3. Bubu bersayap (Fyke nets), FYK, 08.3.0
Gambar Bubu bersayap (Fyke nets)
4. Stow nets, FSN, 08.4.0:
– Pukat labuh (Long bag set net), FSN-PL, 08.4.0.1
6. Perangkap Ikan Peloncat (Aerial traps), FWR, 08.6.0
Gambar Perangkap Ikan Peloncat (Aerial traps)
7. Muro ami, FIX-MA, 08.9.0.1
Gambar Muro ami
8. Seser, FIX-SS, 08.9.0.2
Gambar Seser
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan perangkap dilakukan secara pasif berdasarkan tingkah laku
ikan, ditempatkan pada suatu perairan dengan atau tanpa umpan sehingga ikan
terperangkap atau terjebak masuk dan tidak dapat keluar dari perangkap.
Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan maupun dasar perairan umumnya
menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis perangkap. Bubu
bersayap, togo, ambai, jermal, pengerih dan sero dioperasikan di daerah pantai
untuk menangkap ikan yang beruaya dengan mamanfaatkan pasang surut perairan.
Set
net dioperasikan di wilayah pantai secara menetap untuk menangkap ikan pelagis
maupun demersal yang beruaya secara regular atau musiman. Pukat labuh
dioperasikan di wilayah pantai dengan memanfaatkan arus perairan, umumnya untuk
menangkap ikan ukuran kecil di daerah pasang surut. Bubu dioperasikan di dasar
perairan umumnya untuk menangkap ikan demersal dan ikan karang. Alat
penangkapan ikan peloncat dioperasikan pada permukaan air mengikuti tingkah
laku ikan yang meloncat apabila merasa terhalang.
IX. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PANCING (HOOKS AND
LINES)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan pancing adalah kelompok alat penangkapan ikan yang
terdiri dari tali dan mata pancing dan atau sejenisnya (SNI 7277.4:2008).
Dilengkapi dengan umpan alami, umpan buatan atau tanpa umpan.
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Pancing (Hooks and Lines), 09.0.0:
1. Handlines and pole-lines/hand operated, LHP, 09.1.0:
– Pancing ulur, LHP-PU, 09.1.0.1
Gambar Pancing ulur
– Pancing berjoran, LHP-PJ, 09.1.0.2
Gambar Pancing berjoran
– Huhate, LHP-PH, 09.1.0.3
Gambar Huhate
– Squid angling , LHP-SA, 09.1.0.4
Gambar Squid angling
2. Handlines and pole-lines/mechanized, LHM, 09.2.0:
– Squid jigging; LHM-PC, 09.2.0.1
Gambar Squid jigging
– Huhate mekanis, LHM-HM, 09.2.0.2
Gambar Huhate mekanis
3. Rawai dasar (Set long lines), LLS, 09.3.0
Gambar Rawai dasar (Set long lines)
4. Rawai hanyut (Drifting long lines), LLD, 09.4.0:
– Rawai tuna, LLD-RT, 09.4.0.1
Gambar Rawai tuna
– Rawai cucut, LLD-RC, 09.4.0.2
Gambar Rawai cucut
5. Tonda (Trolling lines), LTL, 09.6.0
Gambar Tonda (Trolling lines)
6. Pancing layang-layang, LX-LY, 09.9.0.1
Gambar Pancing layang-layang
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan pancing dilakukan dengan cara menurunkan tali dan mata
pancing dan atau sejenisnya, menggunakan atau tanpa joran yang dilengkapi
dengan umpan alami, umpan buatan atau tanpa umpan. Pengoperasiannya dilakukan
pada permukaan, kolom maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan
pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pancing.
Huhate
dioperasikan di permukaan perairan umumnya menangkap gerombolan ikan pelagis
perenang cepat (tongkol dan cakalang). Tonda dan pancing layang-layang
dioperasikan di permukaan perairan dengan cara ditarik secara horizontal dengan
menggunakan kapal umumnya menangkap ikan pelagis.
Squid
jigging dioperasikan pada kolom perairan umumnya untuk menangkap cumi-cumi.
Rawai hanyut (termasuk rawai tuna dan rawai cucut) dioperasikan di kolom
perairan sampai dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis dan demersal.
Pancing ulur, pancing berjoran dan rawai dasar dioperasikan di kolom perairan
sampai dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis dan demersal.
X. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PENJEPIT DAN MELUKAI
(GRAPPLING AND WOUNDING)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan penjepit dan melukai adalah kelompok alat
penangkapan ikan yang terbuat dari batang kayu, besi atau bahan lainnya yang
mempunyai satu atau lebih bagian runcing/tajam, yang pengoperasiannya dengan
cara mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan/atau membunuh sasaran tangkap
(SNI 7277.11:2008)
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Penjepit dan Melukai (Grappling and Wounding), 10.0.0:
1. Tombak (Harpoons), HAR, 10.1.0
Gambar Tombak (Harpoons)
2. Ladung, HAR-LD, 10.0.0.1
Gambar Ladung
3. Panah, HAR-PN, 10.0.0.2
Gambar Panah
Tata Cara Pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan penjepit dan melukai dilakukan dengan cara mencengkeram,
mengait/menjepit, melukai dan/atau membunuh sasaran tangkap. Pengoperasiannya
dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan umumnya untuk menangkap
ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis alatnya. Ladung dioperasikan
di daerah pantai untuk menombak ikan-ikan pantai. Tombak dioperasikan di daerah
pantai untuk menombak ikan-ikan pantai, dapat pula dioperasiakan di laut lepas
(harpoon) umumnya menangkap mamalia besar. Panah dioperasikan pada wilayah
berkarang umumnya untuk menangkap ikan yang hidup di karang.
Topografi Laut
Produktivitas perikanan tangkap sebagian besar masih ditentukan oleh topografi
aut, termasuk interaksinya dengan arus laut dan tingkat pencahayaan sinar
matahari pada kedalaman tertentu. Topografi laut dibentuk dengan berbagai jenis
pantai, delta sungai, landasan benua, terumbu karang dan ciri khas laut dalam
seperti palung dan punggung laut
Arus Laut
Arus laut adalah pergerakan air laut yang terarah dan kontinu. Arus laut adalah
aliran air yang bergerak karena gaya yang bekerja pada air seperti rotasi bumi,
angin, perbedaan temperatur, perbedaan kadar garam dan gravitasi bulan.
Biomassa
Di lautan, rantai makanan umumnya mengikuti pola:
Fitoplankton → zooplankton → zooplankton predator → hewan penyaring → ikan
predator
Fitoplankton adalah produsen utama dalam rantai makanan yang mengubah karbon
menjadi biomassa dengan bantuan sinar matahari.
Perairan dekat pantai
Estuari, adalah badan
air dekat di mana satu atau lebih sungai terhubung dengan laut melalui estuari
Laguna, adalah badan
air asin atau air payau yang relatif dangkal, terpisah dari laut yang dalam
oleh karakteristik geologi seperti gosong pasir, terumbu karang dan sebagainya
Zona pasang surut,
adalah bagian dari laut yang terpapar udara ketika air surut dan tenggelam
ketika pasang tinggi
Zona litoral, adalah
bagian dari laut yang terdekat dengan garis pantai
Zona neritik, adalah
bagian dari laut yang melebar dari zona litoral ke landasan benua
Terumbu karang
Terumbu karang adalah struktur aragonite yang diproduksi oleh
organisme hidup, berada di perairan tropis dangkal dengan sedikit nutrisi di
dalam air.
Di Indonesia khususnya
dibidang perikanan tangkap banyak sekali jenis alat tangkap yang digunakan oleh
nelayan, namun banyak sekali alat tangkap yang bersifat merusak atau destruktif
seperti payang dan trawl yang menangkap ikan didasar perairan dengan menyapu
dasar sehingga terumbu karang yang berada didasar perairan akan rusak.
Oleh karenanya perlu
alat tangkap ramah lingkungan yang selain selektif juga efektif dan bisa
mempertahankan sumberdaya ikan agar habitatnya tidak rusak. Jenis-jenis alat
tangkap ramah lingkungan tersebut diantaranya seperti pancing, dan alat
pengumpul ikan seperti keramba apung yang menggunakan lampu dan umpan alami.
Departemen Kelautan dan Perikanan (2006), dengan mengacu pada FAO pada
tahun 1995, mengeluarkan suatu tata cara bagi kegiatan penangkapan ikan yang
bertanggung jawab (CCRF). CCRF menetapkan ada sembilan kriteria yang digunakan
pada teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan, yaitu :
1. Alat tangkap harus memiliki selektivitas
yang tinggi
Pengertian
selektivitas yang tinggi adalah alat tangkap tersebut diupayakan hanya dapat
menangkap ikan/organisme lain yang menjadi sasaran penangkapan saja, dimana ada
dua macam selektivitas yang menjadi sub kriteria, yaitu selektivitas ukuran dan
selektivitas jenis. Pada sub kriteria ini terdiri dari (yang paling rendah
hingga yang paling tinggi):
Alat menangkap lebih
dari tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh;
Alat menangkap paling
banyak tiga spesies dengan ukuran berbeda jauh;
Alat menangkap kurang
dari tiga spesies dengan ukuran yang kurang lebih sama; dan
Alat menangkap satu
spesies saja dengan ukuran yang kurang lebih sama.
2. Alat tangkap yang digunakan tidak merusak
habitat, tempat tinggal dan berkembang biak ikan dan organisme lainnya
Kriteria kedua yang
diberikan oleh lembaga pangan dan pertanian dunia (FAO) PBB ini artinya bahwa
alat tangkap ikan yang digunakan tidak merusak lingkungan (destructive
fishing) akan tetapi harus tergolong pada constructive fishing.
Dampak
penangkapan ikan yang merusak lingkungan terdiri dari kerusakan sumberdaya
ikan, habitat ikan, dan dasar perairannya. Pembobotan yang digunakan dalam
kriteria ini yang ditetapkan berdasarkan luas dan tingkat kerusakan yang
ditimbulkan alat penangkapan.
Adapun
skoring dan pembobotan pada kriteria tersebut adalah sebagai berikut (dari
rendah hingga yang tinggi):
Menyebabkan kerusakan
habitat pada wilayah yang luas;
Menyebabkan kerusakan
habitat pada wilayah yang sempit;
Menyebabkan sebagaian
habiat pada wilayah yang sempit; dan
Aman bagi habitat
(tidak merusak habitat).
3. Tidak membahayakan nelayan (penangkap ikan)
Keselamatan manusia
menjadi syarat penangkapan ikan, hal ini karena bagaimanapun manusia merupakan
bagian yang penting bagi keberlangsungan perikanan yang produktif.
Pembobotan
resiko diterapkan berdasarkan pada tingkat bahaya dan dampak yang mungkin
dialami oleh nelayan (dari rendah – tinggi):
Alat tangkap dan cara
penggunaannya dapat berakibat kematian pada nelayan;
Alat tangkap dan cara
penggunaannya dapat berakibat cacat menetap (permanen) pada nelayan;
Alat tangkap dan cara
penggunaannya dapat berakibat gangguan kesehatan yang sifatnya sementara; dan
Alat tangkap aman bagi
nelayan.
4. Menghasilkan ikan yang bermutu baik
Jumlah ikan yang
banyak tidak banyak berarti bila ikan-ikan tersebut dalam kondisi buruk. Dalam
menentukan tingkat kualitas ikan digunakan kondisi hasil tangkapan secara
morfologis (bentuknya).
Pembobotan
(dari rendah hingga tinggi) adalah sebagai berikut:
Ikan mati dan busuk;
Ikan mati, segar, dan
cacat fisik;
Ikan mati dan segar;
dan
Ikan hidup
5. Produk tidak membahayakan kesehatan
konsumen
Ikan yang ditangkap
dengan peledakan bom pupuk kimia atau racun sianida kemungkinan tercemar oleh
racun. Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan tingkat bahaya yang
mungkin dialami konsumen yang harus menjadi pertimbangan adalah (dari rendah
hingga tinggi):
Berpeluang besar
menyebabkan kematian konsumen;
Berpeluang menyebabkan
gangguan kesehatan konsumen;
Berpeluang sangat
kecil bagi gangguan kesehatan konsumen; dan
Aman bagi konsumen
6. Hasil tangkapan yang terbuang minimum
Alat tangkap yang
tidak selektif dapat menangkap ikan/organisme yang bukan sasaran penangkapan
(non-target). Dengan alat yang tidak selektif, hasil tangkapan yang terbuang
akan meningkat, karena banyaknya jenis non-target yang turut tertangkap. Hasil
tangkapan nontarget, ada yang bisa dimanfaatkan dan ada yang tidak.
Pembobotan
kriteria ini ditetapkan berdasarkan pada hal berikut (dari rendah hingga
tinggi):
Hasil
tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis (spesies) yang tidak
laku dijual di pasar;
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis dan ada yang
laku dijual di pasar;
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan laku dijual
di pasar; dan
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan berharga tinggi
di pasar;.
7. Alat tangkap yang digunakan harus
memberikan dampak minimum terhadap keanekaan sumberdaya hayati (biodiversity)
Persyaratan alat
tangkap ikan yang ramah lingkungan adalah meminimalisasi dampak terhadap
keanekaragaman sumberdaya hayati periaran sebagai akibat penangkapannya.
Adapun
pembobotan kriteria ini ditetapkan dari rendah hingga tinggi :
Alat tangkap dan
operasinya menyebabkan kematian semua mahluk hidup dan merusak habitat;
Alat tangkap dan
operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies dan merusak habitat;
Alat tangkap dan
operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies tetapi tidak merusak habitat;
dan
Aman bagi keanekaan
sumberdaya hayati.
8. Tidak menangkap jenis yang dilindungi
undang-undang atau terancam punah
Tingkat bahaya alat
tangkap terhadap spesies yang dilindungi undang-undang ditetapkan berdasarkan
kenyataan bahwa:
Ikan yang dilindungi
sering tertangkap alat;
Ikan yang dilindungi
beberapa kali tertangkap alat;
Ikan yang dilindungi
.pernah. tertangkap; dan
Ikan yang dilindungi
tidak pernah tertangkap
9. Diterima secara sosial
Penerimaan masyarakat
terhadap suatu alat tangkap, akan sangat tergantung pada kondisi sosial,
ekonomi, dan budaya di suatu tempat. Suatu alat diterima secara sosial oleh
masyarakat bila:
biaya investasi murah,
menguntungkan secara ekonomi,
tidak bertentangan dengan
budaya setempat,
tidak bertentangan dengan peraturan
yang ada.
Pembobotan
criteria ditetapkan dengan menilai kenyataan di lapangan bahwa (dari yang
rendah hingga yang tinggi):
Alat tangkap memenuhi
satu dari empat butir persyaratan di atas;
Alat tangkap memenuhi
dua dari empat butir persyaratan di atas;
Alat tangkap memenuhi
tiga dari empat butir persyaratan di atas; dan
Alat tangkap memenuhi
semua persyaratan di atas.
Bila
ke sembilan kriteria ini dilaksanakan secara konsisten oleh semua pihak yang
terlibat dalam kegiatan perikanan, dapat dikatakan ikan dan produk perikanan
akan tersedia secara berkelanjutan. Hal yang penting diingat adalah bahwa
generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kita
tidak mengurangi ketersediaan ikan bagi generasi yang akan datang dengan
pemanfaatan sumberdaya ikan yang ceroboh dan berlebihan.
Perilaku yang bertanggungjawab ini akan memberikan sumbangan
yang penting bagi ketahanan pangan, dan peluang pendapatan yang berkelanjutan.
Adapun
pengembangan perikanan yang berkelanjutan bertujuan untuk mengetahui tingkat
bahaya alat tangkap ikan yang digunakan terhadap kelestarian sumberdaya ikan
yang ada. Menurut Monintja (2000), kriteria alat tangkap berkelanjutan
mempunyai enam kriteria yang digunakan yaitu :
menerapkan teknologi
penangkapan ikan ramah lingkungan ;
jumlah hasil tangkapan tidak
melebihi jumlah tangkapan yang diperbolehkan (TAC) ;
produk mempunyai pasar
yang baik ;
investasi yang digunakan rendah
;
penggunaan bahan bakar rendah ;
dan
secara hukum alat tangkap
tersebut legal.
Hasil Tangkapan per Satuan Upaya
Produktivitas atau
laju tangkap merupakan salah indikasi kecenderungan dan kenaikan usaha
perikanan. Laju tangkap merupakan perbandingan anatara hasil tangkapan yang
didaratkan (landings) dan upaya penangkapan sebuah kapal pada suatu fishing
base tertentu.
Nilai
hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan disebut juga dengan CPUE (Catch
per Unit Effort). Upaya penangkapan dapat berupa hari operasi atau bulan
operasi, banyaknya trip penangkapan atau jumlah armada yang melakukan operasi
penangkapan. Dalam penelitian ini upaya penangkapan yang digunakan adalah
jumlah unit penangkapan bukan trip penangkapan.
Dikarenakan
setiap alat tangkap tidak hanya menangkap satu jenis ikan saja, apalagi
ikan-ikan pelagis dapat ditangkap dengan beberapa jenis alat tangkap. Oleh
karena itu, harus dilakukan standarisasi alat tangkap dengan menentukan Indeks
kuasa penangkapan ikan (FPI = Fishing Power Indeks).
Standarisasi alat tangkap tersebut akan menentukan upaya penangkapan untuk menangkap spesies tertentu dengan alat tangkapa standar tertentu pula.
Mola-mola atau yang lebih populer dengan nama “Sun Fish” (Ikan Matahari)
adalah ikan langka tropis dan subtropis yang menjadi perburuan bagi
Diver/Penyelam dan fotografer Under Water diseluruh dunia. Ikan Mola-mola
dewasa dapat mencapai panjang 1 meter dengan berat 1-2 ton. Uniknya, ikan
Mola-mola hampir tidak memiliki sirip ekor, namun memiliki clavus, yang
merupakan sambungan sirip pungung dan sirip perut. Beruntungnya Indonesia
menjadi salah satu tempat persinggahan, Mola-mola dapat dijumpai sepanjang
bulan Juli-September di Lembongan, Bali.
Berikut
ini fakta unik dari ikan mola-mola atau ikan matahari:
1. Ikan ini hobi berjemur
Bahwa ikan mola-mola mempunyai hobi yang unik
yaitu berjemur ke permukaan laut, itulah sebabnya ia dijuluki dengan nama
Sunfish. Ia sangat sering memunculkan dirinya untuk berjemur di pantai Penida,
Bali.
2. Bentuk tubuhnya aneh
Pada umumnya semua jenis ikan selalu mempunyai
sirip ekor. Berbeda dengan mola-mola ia nyaris gak punya sirip ekor. Dan
biasanya sirip (sayap) ikan lain terletak di samping kira dan kanan, sedangkan
mola mola siripnya berada vertikal diatas dan dibawah (punggung dan perut) yang
disebut calvus.
Akibat bentuk siripnya yang aneh ditambah tubuhnya yang bulat dan gemuk membuat
Ikan mola mola sangat lambat untuk berenang dan untuk melawan arus ombak pun ia
tidak bisa, memilih pasrah mengikuti arus air yang membawanya.
3. Sunfish, Ikan mola mola yang
terancam punah
Karena keadaan bentuk tubuhnya yang aneh,
membuat ikan mola mola terancam punah, ia sering menjadi korban kecelakaan
dalam lalu lintas perairan laut seperti tersangkut di baling-baling kapal
perahu dan sering menjadi korban tabrakan dari kapal-kapal besar yang sedang
melaju ke arahnya. Begitu lamban gerakannya membuat ia tak dapat menghindar
dari kecepatan kapal tersebut. Selain itu sampah-sampah laut juga menjadi salah
satu penyebab kematiannya. Ia sering tersedak akibat menelan sampah plastik
yang disangkanya adalah ubur-ubur. Belum lagi ia terdampar di tepi pantai
akibat terseret ombak dan mati sendiri akibat dehidrasi. Tapi penyebab
kematiannya paling tinggi adalah akibat perburuan illegal seperti yang
dilakukan oleh para nelayan jahat di jepang. Mereka memang sengaja ditangkap
untuk dijual dagingnya ke restoran.
Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah ikan pelagis yang
merupakan perenang cepat (good swimmer) dan mempunyai sifat rakus (varancious).
Ikan ini melakukan migrasi jarak jauh dan hidup bergerombol dalam ukuran besar.
Bentuk tubuhnya digolongkan dalam bentuk torpedo, yaitu badan fusiform, bagian
kepala sangat tebal, ramping dan kuat kearah ekor dan sedikit pipih pada bagian
samping. Penangkapan ikan cakalang dapat dilakukan dengan pole and line, hand and
line dantonda (Ayodya,1981).
Ikan
cakalang mencari makan berdasarkan pada penglihatannya. Pernah ada cakalang
terbesar yang ditemukan yang mempunyai panjang badan mencapai 1 meter dan berat
badan lebih dari 18 Kg. Cakalang yang banyak tertangkap biasanya berukuran
panjang sekitar 50 cm. Makanan cakalang berupa krustasea, cephalopoda, dan
moluska. Ikan cakalang merupakan mangsa yang begitu penting untuk ikan-ikan
besar dizona pelagik. Ikan cakalang juga dikenal sebagai SkripJack tuna.
Klasifikasi Ikan Cakalang
Kingdom
: Animalia
Phylum
: Chordata
Kelas
: Pisces
Ordo
: Perciformes
Sub Ordo
: Scombroidea
Famili
: Scombroidae
Sub Famili
: Thunninae
Genus
: Katsuwonus
Species
: Katsuwonus pelamis
Morfologi Ikan Cakalang
Bentuk tubuh seperti
terpedo
Mempunyai gill rakers
(tapis insang) sekitar 53-63 buah
Mempunyai dua sirip
punggung yang terpisah
Sirip pertama terdapat 14-16 jari-jari
Pada sirip kedua terdapat 7-9 finlet
Sirip dada pendek
Terdapat dua flops
diantara sirip perut
Memepunyai sirip anal
yang diikuti dengan 7-8 finlet
Badan tidak bersisik
kecuali pada bagian barut badan (corselets)
Bagian punggung
terdapat warna biru kehitaman dan perut berwarna keperakan dan terdapat
garis-garis yang berwarna hitam pada bagian samping badan 4-6 buah garis
Habitat Ikan Cakalang
Suhu
yang ideal untuk ikan cakalang adalah 26°C – 32°C dan salinitas 33%. Ikan
cakalang menyebar luas diseluruh perairan sub tropis dan tropis, Anatara lain
lautan hindia, atlantik dan pasifik kecuali lautan mediterania. Ikan cakalang
sangat menyukai daerah dimana terjadinya pertemua antara arus /air
(convergence) yang pada umumnya terdapat pulau-pulau.
Ikan
cakalang juga terdapat di perairan yang dimana terjadinya pertemuan antara masa
air panas dan dingin, penaikan tekanan air dan parameter hidrografi yang
terdapat pencampuran yang tidak tetap. Pada siang hari biasanya ikan cakalang
berada dikedalaman 260 meter dan pada malam hari ikan cakalang biasanya akan
muncul kepermukaan.