KLASIFIKASI ALAT PENANGKAPAN IKAN

Klasifikasi alat penangkap ikan adalah cara mengelompokkan alat penangkap ikan sesuai dengan tujuan dan peruntukkan pengklasifikasiannya. Klasifikasi alat penangkap ikan telah ditentukan dan disetujui baik secara internasional (ISSCFG─FAO) maupun nasional (KAPI─Indonesia).

Alat penangkapan ikan adalah segala macam alat yang di pergunakan dalam proses penangkapan ikan termasuk kapal, alat tangkap dan alat bantu penangkapan. Pemerintah Indonesia, dalam rangka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan secara optimal dan berkelanjutan, menetapkan Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. KEP.06/MEN/2010.

Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia yang menurut jenisnya terdiri dari 10 (sepuluh) kelompok yaitu:

  1. jaring lingkar (surrounding nets);
  2. pukat tarik (seine nets);
  3. pukat hela (trawls);
  4. penggaruk (dredges);
  5. jaring angkat (lift nets);
  6. alat yang dijatuhkan (falling gears);
  7. jaring insang (gillnets and entangling nets);
  8. perangkap (traps);
  9. pancing (hooks and lines);
  10. alat penjepit dan melukai (grappling and wounding).

I. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING LINGKAR (SURROUNDING NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan jaring lingkar adalah kelompok alat penangkapan ikan berupa jaring berbentuk empat persegi panjang yang terdiri dari sayap, badan, dilengkapi pelampung, pemberat, tali ris atas, tali ris bawah dengan atau tanpa tali kerut/pengerut dan salah satu bagiannya berfungsi sebagai kantong yang pengoperasiannya melingkari gerombolan ikan pelagis. (SNI 7277.3:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan jaring lingkar (Surrounding Nets): 01.0.0

1. Jaring lingkar bertali kerut (With purse lines/Purse seine), PS, 01.1.0:

  • Pukat cincin dengan satu kapal (One boat operated purse seines), PS1,01.1.1:
    • Pukat cincin pelagis kecil dengan satu kapal, PS1-K, 01.1.1.1
    • Pukat cincin pelagis besar dengan satu kapal, PS1-B, 01.1.1.2


Gambar Pukat cincin dengan satu kapal (One boat operated purse seines)

  • Pukat cincin dengan dua kapal (Two boat operated purse seines), PS2,01.1.2:
    • Pukat cincin grup pelagis kecil, PS2-K, 01.1.2.1
    • Pukat cincin grup pelagis besar, PS2-B, 01.1.2.2


Gambar Pukat cincin dengan dua kapal (Two boat operated purse seines)

2. Jaring lingkar tanpa tali kerut (Without purse lines/Lampara): LA, 01.2.0


Gambar Jaring lingkar tanpa tali kerut (Without purse lines/Lampara)

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan jaring lingkar dilakukan dengan cara melingkari gerombolan ikan yang menjadi sasaran tangkap untuk menghadang arah renang ikan sehingga terkurung di dalam lingkaran jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan sampai dengan kolom perairan yang mempunyai kedalaman yang cukup (kedalaman jaring ≤ 0,75 kedalaman perairan), umumnya untuk menangkap ikan pelagis.


II. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT TARIK (SEINE NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan pukat tarik adalah kelompok alat penangkapan ikan berkantong (cod-end) tanpa alat pembuka mulut jaring, pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan (schooling) ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian sayap dan tali selambar. (SNI 7277.6:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Pukat Tarik (Seine Nets), 02.0.0:

1. Pukat tarik pantai (Beach seines), SB, 02.1.0


Gambar Pukat tarik pantai

2. Pukat tarik berkapal (boat or vessel seines), SV, 02.2.0:

– Dogol (Danish seines), SDN, 02.2.1


Gambar Dogol (Danish seines)

– Scottish seines, SSC 02.2.2


Gambar Scottish seines

– Pair Seines, SPR, 02.2.3


Gambar Pair seines

– Payang, SV-PYG, 02.2.0.1


Gambar Payang

– Cantrang, SV-CTG, 02.2.0.2


Gambar Cantrang

– Lampara dasar: SV-LDS, 02.2.0.3


Gambar Lampara Dasar

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan pukat tarik dilakukan dengan cara melingkari gerombolan ikan pelagis atau ikan demersal dengan menggunakan kapal atau tanpa kapal. Pukat ditarik kearah kapal yang sedang berhenti atau berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui tali selambar di kedua bagian sayapnya. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pukat tarik yang digunakan.

Pukat tarik pantai dioperasikan di daerah pantai untuk menangkap ikan pelagis dan demersal yang hidup di daerah pantai. Dogol dan lampara dasar dioperasikan pada dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal. Payang dioperasikan di kolom perairan umumnya menangkap ikan pelagis.


III. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) adalah kelompok alat penangkapan ikan terbuat dari jaring berkantong yang dilengkapi dengan atau tanpa alat pembuka mulut jaring dan pengoperasiannya dengan cara dihela di sisi atau di belakang kapal yang sedang melaju (SNI 7277.5:2008). Alat pembuka mulut jaring dapat terbuat dari bahan besi, kayu atau lainnya.

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan pukat hela, 03.0.0:

1. Pukat hela dasar (Bottom Trawls), TB, 03.1.0:

– Pukat hela dasar berpalang (Beam trawl), TBB, 03.1.1


Gambar Pukat hela dasar berpalang

– Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls), OTB, 03.1.2


Gambar Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls)

– Pukat hela dasar dua kapal (pair trawls), PTB, 03.1.3


Gambar Pukat hela dasar dua kapal (pair trawls)

– Nephrops trawl (Nephrops trawl), TBN, 03.1.4


Gambar Nephrops trawl (Nephrops trawls)

– Pukat hela dasar udang  (Shrimp trawls), TBS, 03.1.5 Pukat udang, TBS-PU, 03.1.5.1

2. Pukat hela pertengahan (Midwater trawls), TM, 03.2.0:

– Pukat hela pertengahan berpapan (Otter trawls), OTM, 03.2.1 Pukat ikan, OTM-PI, 03.2.1.1


Gambar Pukat ikan udang

– Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair trawls), PTM, 03.2.2


Gambar Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair trawls)

– Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls), TMS 03.2.3


Gambar Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls)

3. Pukat hela kembar berpapan (Otter twin trawls), OTT, 03.3.0


Gambar Pukat hela kembar berpapan (Otter twin trawls)

4. Pukat dorong, TX-PD, 03.9.0.1


Gambar Pukat dorong

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dilakukan dengan cara menghela pukat di sisi atau di belakang kapal yang sedang melaju. Pengoperasiannya dilakukan pada kolom maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal termasuk udang dan crustacea lainnya tergantung jenis pukat hela yang digunakan. Pukat hela dasar dioperasikan di dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan demersal, udang dan crustacea lainnya. Pukat hela pertengahan dioperasikan di kolom perairan, umumnya menangkap ikan pelagis.


IV. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PENGGARUK (DREDGES)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan Penggaruk (dredges) adalah kelompok alat penangkapan ikan berbingkai kayu atau besi yang bergerigi atau bergancu di bagian bawahnya, dilengkapi atau tanpa jaring/bahan lainnya, dioperasikan dengan cara menggaruk di dasar perairan dengan atau tanpa perahu untuk menangkap kekerangan dan biota menetap (SNI 7277.2:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Penggaruk (Dredges), 04.0.0:

1. Penggaruk berkapal (Boat dredges), DRB, 04.1.0


Gambar Penggaruk berkapal

2. Penggaruk tanpa kapal (Hand dredges), DRH, 04.2.0


Gambar Penggaruk tanpa kapal

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan penggaruk dilakukan dengan cara menarik ataupun menghela garuk dengan atau tanpa kapal. Pengoperasiannya dilakukan pada dasar perairan umumnya untuk menangkap kekerangan, teripang, dan biota menetap lainnya.


V. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING ANGKAT (LIFT NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan jaring angkat adalah kelompok alat penangkapan ikan terbuat dari bahan jaring berbentuk segi empat dilengkapi bingkai bambu atau bahan lainnya sebagai rangka, yang dioperasikan dengan cara dibenamkan pada kolom perairan saat setting dan diangkat ke permukaan saat hauling yang dilengkapi dengan atau tanpa lampu pengumpul ikan, untuk menangkap ikan pelagis (SNI 7277.9:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan jaring angkat (Lift nets), 05.0.0:

1. Anco (Portable lift nets), LNP, 05.1.0


Gambar Anco (Portable lift nets)

2. Jaring angkat berperahu (Boat-operated lift nets), LNB, 05.2.0:

– Bagan berperahu, LNB-BP, 05.2.0.1


Gambar Bagan berperahu

  • Bouke ami, LNB-BA, 05.2.0.2


Gambar Bouke ami

3. Bagan tancap (Shore-operated stationary lift nets), LNS, 05.3.0


Gambar Bagan tancap (Shore-operated stationary lift nets)

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan jaring angkat dilakukan dengan cara dibenamkan pada kolom perairan saat setting dan diangkat ke permukaan saat hauling. Pengoperasiannya dapat menggunakan alat bantu pengumpul ikan berupa lampu. Anco dan bagan tancap dioperasikan di daerah pantai sedangkan jaring angkat lainnya dioperasikan di perairan yang lebih jauh dari pantai.


VI. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN YANG DIJATUHKAN ATAU DITEBARKAN (FALLING GEAR)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terbuat dari jaring, besi, kayu, dan/atau bambu yang cara pengoperasiannya dijatuhkan/ditebarkan untuk mengurung ikan pada sasaran yang terlihat maupun tidak terlihat (SNI 7277.12:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan (Falling gear), 06.0.0:

1. Jala jatuh berkapal (Cast nets), FCN, 06.1.0


Gambar Jala jatuh berkapal (Cast nets)

2. Jala tebar (Falling gear not specified), FG, 06.9.0


Gambar Jala tebar (Falling gear not specified)

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan dilakukan dengan cara menjatuhkan/menebarkan pada suatu perairan dimana target sasaran tangkapan berada. Pada jala jatuh berkapal pengoperasian dilanjutkan dengan menarik tali kerut pada bagian bawah jala, sedangkan pada jala tebar bagian bawah jala akan menguncup dengan sendirinya karena pengaruh pemberat rantai. Jala tebar dioperasikan di sekitar pantai yang dangkal untuk menangkap ikan-ikan kecil, sedangkan jala jatuh berkapal dioperasikan di perairan yang lebih jauh dari pantai dengan atau tanpa alat bantu penangkapan berupa lampu umumnya menangkap ikan pelagis bergerombol dan cumi-cumi.


VII. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING INSANG (GILLNETS AND ENTANGLING NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan jaring insang adalah kelompok jaring yang berbentuk empat persegi panjang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah untuk menghadang ikan sehingga ikan tertangkap dengan cara terjerat dan/atau terpuntal dioperasikan di permukaan, pertengahan dan dasar secara menetap, hanyut dan melingkar dengan tujaun menangkap ikan pelagis dan demersal (SNI 7277.8:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Jaring Insang, (Gillnets and entangling nets), 07.0.0:

1. Jaring insang tetap (Set gillnets (anchored)), GNS, 07.1.0 Jaring Liong bun, GNS-LB, 07.1.0.1


Gambar Jaring liong bun

2. Jaring insang hanyut (Driftnets), GND, 07.2.0 Jaring gillnet oseanik, GND-OC, 07.2.0.1


Gambar Jaring gillnet oseanik

3. Jaring insang lingkar (Encircling gillnets), GNC, 07.3.0


Gambar Jaring Insang lingkar (Encircling gillnets)

4. Jaring insang berpancang (Fixed gillnets (on stakes)), GNI, 07.4.0


Gambar Jaring insang berpancang (Fixed gillnets (on stakes))

5. Jaring insang berlapis (Trammel nets), GTR, 07.5.0 Jaring klitik, GTR-JK, 07.5.0.1


Gambar Jaring insang berlapis (Trammel nets)

6. Combined gillnets-trammel nets, GTN, 07.6.0


Gambar Combined gillnets-trammel nets

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian jaring insang dilakukan dengan cara menghadang arah renang gerombolan ikan pelagis atau demersal yang menjadi sasaran tangkap sehingga terjerat pada jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, pertengahan maupun pada dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis jaring insang. Jaring insang dioperasikan secara menetap, dihanyutkan, melingkar maupun terpancang pada permukaan, pertengahan maupun dasar perairan. Jaring insang ada yang satu lapis maupun berlapis. Jaring insang berlapis umumnya dioperasikan pada dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal.


VIII. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PERANGKAP (TRAPS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan perangkap adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terbuat dari jaring, dan/atau besi, kayu, bambu, berbentuk silinder, trapesium dan bentuk lainnya dioperasikan secara pasif pada dasar atau permukaan perairan, dilengkapi atau tanpa umpan (SNI 7277.10:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Perangkap (Traps), 08.0.0:

1. Stationary uncovered pound nets, FPN, 08.1.0
Set net , FPN-SN, 08.1.0.1


Gambar Set nets

2. Bubu (Pots), FPO, 08.2.0


Gambar Bubu (Pots)

3. Bubu bersayap (Fyke nets), FYK, 08.3.0


Gambar Bubu bersayap (Fyke nets)

4. Stow nets, FSN, 08.4.0:

– Pukat labuh (Long bag set net), FSN-PL, 08.4.0.1


Gambar Pukat labuh (Long bag set net)

– Togo, FSN-TG, 08.4.0.2


Gambar Togo

– Ambai, FSN-AB, 08.4.0.3


Gambar Ambai

– Jermal, FSN-JM, 08.4.0.4


Gambar Jermal

– Pengerih, FSN-PG, 08.4.0.5


Gambar Pengerih

5. Barriers, fences, weirs, FWR, 08.5.0 Sero, FWR-SR, 08.5.0.1


Gambar Sero

6. Perangkap Ikan Peloncat (Aerial traps), FWR, 08.6.0


Gambar Perangkap Ikan Peloncat (Aerial traps)

7. Muro ami, FIX-MA, 08.9.0.1


Gambar Muro ami

8. Seser, FIX-SS, 08.9.0.2


Gambar Seser

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan perangkap dilakukan secara pasif berdasarkan tingkah laku ikan, ditempatkan pada suatu perairan dengan atau tanpa umpan sehingga ikan terperangkap atau terjebak masuk dan tidak dapat keluar dari perangkap. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan maupun dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis perangkap. Bubu bersayap, togo, ambai, jermal, pengerih dan sero dioperasikan di daerah pantai untuk menangkap ikan yang beruaya dengan mamanfaatkan pasang surut perairan.

Set net dioperasikan di wilayah pantai secara menetap untuk menangkap ikan pelagis maupun demersal yang beruaya secara regular atau musiman. Pukat labuh dioperasikan di wilayah pantai dengan memanfaatkan arus perairan, umumnya untuk menangkap ikan ukuran kecil di daerah pasang surut. Bubu dioperasikan di dasar perairan umumnya untuk menangkap ikan demersal dan ikan karang. Alat penangkapan ikan peloncat dioperasikan pada permukaan air mengikuti tingkah laku ikan yang meloncat apabila merasa terhalang.


IX. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PANCING (HOOKS AND LINES)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan pancing adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terdiri dari tali dan mata pancing dan atau sejenisnya (SNI 7277.4:2008). Dilengkapi dengan umpan alami, umpan buatan atau tanpa umpan.

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Pancing (Hooks and Lines), 09.0.0:

1. Handlines and pole-lines/hand operated, LHP, 09.1.0:

– Pancing ulur, LHP-PU, 09.1.0.1


Gambar Pancing ulur

– Pancing berjoran, LHP-PJ, 09.1.0.2


Gambar Pancing berjoran

– Huhate, LHP-PH, 09.1.0.3


Gambar Huhate

– Squid angling , LHP-SA, 09.1.0.4


Gambar Squid angling

2. Handlines and pole-lines/mechanized, LHM, 09.2.0:

– Squid jigging; LHM-PC, 09.2.0.1


Gambar Squid jigging

– Huhate mekanis, LHM-HM, 09.2.0.2


Gambar Huhate mekanis

3. Rawai dasar (Set long lines), LLS, 09.3.0


Gambar Rawai dasar (Set long lines)

4. Rawai hanyut (Drifting long lines), LLD, 09.4.0:

– Rawai tuna, LLD-RT, 09.4.0.1


Gambar Rawai tuna

– Rawai cucut, LLD-RC, 09.4.0.2


Gambar Rawai cucut

5. Tonda (Trolling lines), LTL, 09.6.0


Gambar Tonda (Trolling lines)

6. Pancing layang-layang, LX-LY, 09.9.0.1


Gambar Pancing layang-layang

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan pancing dilakukan dengan cara menurunkan tali dan mata pancing dan atau sejenisnya, menggunakan atau tanpa joran yang dilengkapi dengan umpan alami, umpan buatan atau tanpa umpan. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pancing.

Huhate dioperasikan di permukaan perairan umumnya menangkap gerombolan ikan pelagis perenang cepat (tongkol dan cakalang). Tonda dan pancing layang-layang dioperasikan di permukaan perairan dengan cara ditarik secara horizontal dengan menggunakan kapal umumnya menangkap ikan pelagis.

Squid jigging dioperasikan pada kolom perairan umumnya untuk menangkap cumi-cumi. Rawai hanyut (termasuk rawai tuna dan rawai cucut) dioperasikan di kolom perairan sampai dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis dan demersal. Pancing ulur, pancing berjoran dan rawai dasar dioperasikan di kolom perairan sampai dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis dan demersal.


X. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PENJEPIT DAN MELUKAI (GRAPPLING AND WOUNDING)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan penjepit dan melukai adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terbuat dari batang kayu, besi atau bahan lainnya yang mempunyai satu atau lebih bagian runcing/tajam, yang pengoperasiannya dengan cara mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan/atau membunuh sasaran tangkap (SNI 7277.11:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Penjepit dan Melukai (Grappling and Wounding), 10.0.0:

1. Tombak (Harpoons), HAR, 10.1.0


Gambar Tombak (Harpoons)

2. Ladung, HAR-LD, 10.0.0.1


Gambar Ladung

3. Panah, HAR-PN, 10.0.0.2


Gambar Panah

Tata Cara Pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan penjepit dan melukai dilakukan dengan cara mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan/atau membunuh sasaran tangkap. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis alatnya. Ladung dioperasikan di daerah pantai untuk menombak ikan-ikan pantai. Tombak dioperasikan di daerah pantai untuk menombak ikan-ikan pantai, dapat pula dioperasiakan di laut lepas (harpoon) umumnya menangkap mamalia besar. Panah dioperasikan pada wilayah berkarang umumnya untuk menangkap ikan yang hidup di karang.

TERUMBU KARANG

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia.

Terumbu karang dibedakan antara binatang karang (reef coral) sebagai individu organisme atau komponen komunitas dengan terumbu karang (coral reef) sebagai suatu ekosistem, termasuk didalamnya organisme-organisme karang. individu karang yang disebut polip merupakan binatang sederhana berbentuk tabung dengan mulut berada diatas yang juga berfungsi sebagai anus. Di sekitar mulut terdapat tentakel yang berfungsi sebagai penangkap makanan. Jaringan tubuh karang terdiri dari ektoderm, mesoglea, dan endoderm. Ektoderm merupakan jaringan terluar yang mempunyai cilia, kantung lendir (mucus) dan sejumlah nematokis (nematocyst). Mesoglea adalah jaringan yang terletak antara ektoderm dan endoderm, bentuknya seperti agar-agar (jelly). Endoderm merupakan jaringan yang paling dalam dan sebagian besar berisi zooxanthellae (Nybakken, 1992; Suharsono, 1996).

Gambar Anatomi Polip Karang (Nybakken, 1992)

Karang mempunyai sistem syaraf, jaringan otot dan reproduksi yang telah berkembang dan berfungsi secara baik.

  • Jaringan syaraf tersebar baik di ektoderma maupun di endoderma serta mesoglea yang dikoordinasi oleh sel junction yaitu sel khusus yang bertanggung jawab memberikan respon baik terhadap mekanis maupun kimiawi serta cahaya (Suharsono, 1996).
  • Jaringan otot terdapat diantara jaringan mesoglea yang bertanggung jawab atas gerakan polip untuk mengembang atau mengkerut sebagai respon perintah jaringan syaraf (Suharsono, 1996).
  • Jaringan mesentrial filamen berfungsi sebagai otot pencerna yang berisi sel mucus yang berisi enzim untuk mencerna makanan. Lapisan luar dari jaringan mesentri filamen dilengkapi sel cilia yang halus (Suharsono, 1996).

Berdasarkan perkembangannya, karang dibagi menjadi dua kelompok yaitu hermatypic coraldan ahermatypic coral.

1. Hermatypic coral adalah binatang karang yang dapat membentuk bangunan karang dari kalsium karbonat. Binatang karang ini bersimbiosis dengan sejenis alga (zooxanthellae) yang hidup di jaringan (endoderm) polip karang dan melakukan fotosintesis. Hasil samping dari aktivitas fotosintesis tersebut adalah endapan kapur, kalsium karbonat yang struktur dan bentuk bangunannya khas. Ciri ini yang digunakan untuk menentukan spesies binatang karang (Supriharyono, 2000).

Gambar Hermatypic coral

2. Ahermatypic coral adalah binatang karang yang tidak dapat membentuk bangunan karang.

Gambar Ahermatypic coral

Suatu jenis karang dari genus yang sama dapat mempunyai bentuk pertumbuhan (life form) yang berbeda pada suatu lokasi pertumbuhan. Bentuk- bentuk pertumbuhan karang dipengaruhi oleh beberapa faktor alam, terutama oleh intensitas cahaya dan tekanan gelombang.

Beberapa bentuk pertumbuhan karang antara lain:

1. Bentuk bercabang (branching), yang memiliki cabang lebih panjang dari pada diameternya. Banyak terdapat di sepanjang tepi terumbu dan bagian atas lereng, terutama yang terlindung atau setengah terbuka, memberikan tempat perlindungan bagi ikan dan invertebrata tertentu.

Gambar Terumbu Karang Bentuk bercabang

2. Bentuk padat (massive), yang berbentuk seperti bola dengan ukuran bervariasi, permukaannya halus dan padat. Biasanya ditemukan di sepanjang tepi terumbu karang dan bagian atas lereng terumbu dewasa yang belum terganggu atau rusak. Tinggi dan lebarnya dapat mencapai beberapa meter, memberikan perlindungan yang sangat baik serta berperan sebagai daerah pencarian makan (feeding ground) bagi ikan dan hewan lain.

Gambar Terumbu Karang Bentuk Padat

3. Bentuk kerak (encrusting), yang tumbuh menyerupai dasar terumbu dengan permukaan yang kasar dan keras serta berlubang kecil-kecil. Banyak terdapat pada lokasi yang terbuka dan berbatu-batu, terutama mendominasi sepanjang tepi lereng terumbu.

Gambar Terumbu Karang Bentuk Kerak

4. Bentuk meja (tabulate), yang menyerupai meja dengan permukaan yang lebar dan datar. Karang ini ditopang dengan batang yang berpusat atau bertumpu pada satu sisi membentuk sudut atau datar.

Gambar Terumbu Karang Bentuk Meja

5. Bentuk daun (foliaceous), yang tumbuh dalam bentuk lembaran-lembaran yang menonjol pada dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan atau melingkar. Terutama terdapat pada lereng terumbu dan daerah-daerah yang terlindung, memberikan perlindungan bagi ikan dan hewan lain.

Gambar Terumbu Karang Bentuk Daun

6. Bentuk jamur (mushroom), yang berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki banyak tonjolan seperti punggung bukit beralur dari tepi hingga pusat mulut.

Gambar Terumbu Karang Bentuk Jamur

Ekologi Terumbu Karang

Terumbu karang tersebar pada laut dangkal, di laut tropis hingga subtropis yaitu di antara lintang 35 LU sampai 32 LS mengelilingi bumi. Pertumbuhan karang pembentuk terumbu tergantung pada kondisi lingkungannya yang selalu berubah. Faktor-faktor fisik dan kimiawi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan karang antara lain cahaya matahari, suhu, salinitas, arus dan sedimentasi. Faktor biologis yang berperan berupa predator atau pemangsa (Supriharyono, 2000).

Cahaya memegang peranan penting sebagai sumber energi bagi kelangsungan proses fotosintesis. Cahaya dibutuhkan zooxanthellae untuk berfotosintesis dalam jaringan karang. Tanpa cahaya yang cukup laju fotosintesis akan berkurang dan bersaman dengan itu kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat dan membentuk terumbu akan berkurang pula (Nybakken, 1998).

Menurut Supriharyono (2000), suhu yang baik untuk pertumbuhan karang berkisar antara 25 derajat C sampai 29 derajat C. Batas minimum suhu berkisar antara 16 derajat sampai 17 derajat C dan batas maksimum sekitar 36 derajat C.

Perkembangan terumbu yang paling optimal terjadi pada perairan yang suhu rata- rata tahunannya 23 derajat C sampai 25 derajat C. (Nybakken 1992)

Salinitas merupakan faktor pembatas kehidupan binatang karang karena binatang karang pembentuk terumbu (hermatypic coral) adalah organisme laut sejati. Daya tahan setiap jenis karang berbeda-beda tergantung kondisi perairan laut setempat. Binatang karang dapat hidup pada kisaran salinitas 17,5-52,5 ‰ (Supriharyono, 2000).

Terumbu karang hidup subur pada kisaran salinitas 34 sampai 36‰ (Supriharyono, 2000).

Sedimentasi mengakibatkan pertumbuhan karang terganggu karena menurunnya ketersediaan cahaya, abrasi dan meningkatnya pengeluaran energi selama penolakan terhadap sedimen. Gangguan penetrasi cahaya akibat kekeruhan yang tinggi yaitu terbatasnya fotosintesis zooxanthellae dan secara tidak langsung membatasi pertumbuhan karang. Energi yang digunakan untuk pertumbuhan dan reproduksi berkurang karena dipindahkan untuk aktivitas-aktivitas penolakan terhadap sedimen sehingga polip karang tidak dapat menangkap plankton secara efektif (Connel dan Hawker 1992).

Arus dibutuhkan untuk mendatangkan makanan berupa plankton, disamping itu arus dapat membersihkan karang dari sedimen yang menutupi karang. Pertumbuhan karang pada daerah berarus lebih baik dibandingkan dengan perairan yang tenang (Nontji, 1987).

Kompleksnya tipe habitat yang ada di terumbu karang berhubungan dengan ketersediaan relung makanan dan ruang sebagai sumberdaya bagi karang dan hewan penghuni. Tiap-tiap tipe habitat mempunyai karakteristik sendiri untuk menunjang distribusi dan kelimpahan biota karang. terumbu karang tidak hanya terdiri dari binatang karang saja, tetapi juga daerah berpasir, berbagai teluk dan celah, daerah alga, dan juga perairan yang dangkal dan dalam, serta zona-zona yang berbeda (Nybakken, 1992).

Penggolongan komponen morfologis dan dasar penyusun ekosistem terumbu karang dan kode yang digunakan menurut Bradbury dan Young (1981) dalam Dartnall dan Jones (1986). Daftar penggolongan komponen morfologis dasar penyusun terumbu karang dan pengkodeannya adalah sebagai berikut :

Karang Batu

  • Dead Coral (Karang mati), kode : DC
  • Dead Coral Algae (Karang dengan penutupan alga), kode : DCA
  • Acropora branching, kode : ACB
  • Acropora encrusting, kode : ACE
  • Acropora submassive, kode : ACS
  • Acropora tabulate, kode : ACT
  • Non Acropora branching, kode : CB
  • Non Acropora encrusting, kode : CE
  • Non Acropora foliose, kode : CF
  • Non Acropora massive, kode : CM
  • Non Acropora sub massive, kode : CS
  • Non Acropora mushroom, kode : CMR
  • Non Acropora millepora, kode : CME
  • Non Acropora heliopora, kode : CHL

Fauna Lain

  • Soft coral, kode : SC
  • Sponges, kode : SP
  • Zoanthids, kode : ZO
  • Lain-lain (Acidian, Anemones, Gorgonians, Kimah), kode : OT

Algae

  • Algae assemblage, kode : AA
  • Corraline algae, kode : CA
  • Halimeda, kode : HA
  • Turf algae, kode : TA

Abiotik

  • Sands (pasir), kode : S
  • Rubble (pecahan karang), kode : R
  • Silt (lumpur), kode : SI
  • Water (air), kode : WA

FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI TANGKAPAN IKAN LAUT

Topografi Laut
Produktivitas perikanan tangkap sebagian besar masih ditentukan oleh topografi aut, termasuk interaksinya dengan arus laut dan tingkat pencahayaan sinar matahari pada kedalaman tertentu. Topografi laut dibentuk dengan berbagai jenis pantai, delta sungai, landasan benua, terumbu karang dan ciri khas laut dalam seperti palung dan punggung laut

Arus Laut
Arus laut adalah pergerakan air laut yang terarah dan kontinu. Arus laut adalah aliran air yang bergerak karena gaya yang bekerja pada air seperti rotasi bumi, angin, perbedaan temperatur, perbedaan kadar garam dan gravitasi bulan.

Biomassa
Di lautan, rantai makanan umumnya mengikuti pola:
Fitoplankton → zooplankton → zooplankton predator → hewan penyaring → ikan predator
Fitoplankton adalah produsen utama dalam rantai makanan yang mengubah karbon menjadi biomassa dengan bantuan sinar matahari.

Perairan dekat pantai

  • Estuari, adalah badan air dekat di mana satu atau lebih sungai terhubung dengan laut melalui estuari
  • Laguna, adalah badan air asin atau air payau yang relatif dangkal, terpisah dari laut yang dalam oleh karakteristik geologi seperti gosong pasir, terumbu karang dan sebagainya
  • Zona pasang surut, adalah bagian dari laut yang terpapar udara ketika air surut dan tenggelam ketika pasang tinggi
  • Zona litoral, adalah bagian dari laut yang terdekat dengan garis pantai
  • Zona neritik, adalah bagian dari laut yang melebar dari zona litoral ke landasan benua

Terumbu karang
Terumbu karang adalah struktur aragonite yang diproduksi oleh organisme hidup, berada di perairan tropis dangkal dengan sedikit nutrisi di dalam air.

IKAN KARANG/TERUMBU KARANG

Ikan Karang atau Ikan terumbu karang adalah iklan yang tinggal di dalam atau berdekatan dengan terumbu karang. Terumbu karang membentuk ekosistem kompleks dengan keragaman hayati. Dari beberapa diantaranya, ikan-ikan tersebut berwarna dan dapat dilihat. Ratusan spesies dapat ada di tempat kecil dari sebuah karang sehat, beberapa diantaranya bersembunyi atau bahkan berkamuflase. Ikan karang mengembangkan beberapa spesialisasi adaptasi untuk bertahan hidup di karang.

Ikan karang adalah ikan yang hidup dari masa juvenil hingga dewasa di terumbu karang. Menurut Nybakken (1992), ikan karang merupakan organisme yang jumlahnya terbanyak dan juga merupakan organisme besar yang mencolok yang dapat ditemui di terumbu karang. Hutomo (1986) menyatakan bahwa keragaman komposisi taksa komunitas ikan karang dari suatu terumbu karang ke terumbu karang lainnya sangat besar, tetapi komunitas ikan karang mempunyai kesamaan bentuk sehingga memungkinkan hasil suatu penelitian mempunyai tingkat generalisasi yang luas bagi sistem sirkum tropis.

Dalam ekosistem terumbu karang secara nyata komunitas ikan karang dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok ikan yang kadang-kadang terdapat pada terumbu karang dan ikan yang tergantung pada terumbu karang sebagai tempat mencari makan, tempat hidup atau kedua-duanya (Sopandi, 2000). Untuk mempertahankan kelestariannya, ikan karang bereproduksi secara generatif melalui proses pemijahan.

Berdasarkan kebiasaannya, dalam ekosistem terumbu karang, terdapat empat kelompok ikan yang melakukan pemijahan, yaitu:

  1. Kelompok ikan pemijah yang bermigrasi (migratory spawners), contohnya: Serranidae, Scaridae, dan Labridae.
  2. Kelompok ikan yang tinggal dan memijah berpasangan (pair spawnwers), contohnya: Chaetodontidae, Pomacanthidae, Scorpaenidae.
  3. Kelompok ikan yang membuat sarang untuk menjaga telurnya (nest builders), contohnya: Pomacentridae, Balistidae, Gobiidae.
  4. Kelompok ikan yang melindungi telur-telurnya di dalam mulut (brooders), contohnya: Apogonidae.

Berdasarkan makanannya, ikan karang diklasifikasikan dalam 6 kelompok, yaitu: kelompok ikan pemakan segala (omnivores), kelompok ikan pemakan detritus (detritivores), kelompok ikan pemakan tumbuhan (herbivores), kelompok ikan pemakan zooplankton (zooplanktivores), kelompok ikan pemakan moluska (molluscivores) dan kelompok ikan karnivora (carnivores) (Wootton, 1992).

Pengelompokan Ikan Karang

English et all. (1997) mengelompokkan jenis ikan karang ke dalam tiga kelompok utama, yaitu:

  • Ikan-ikan target, yaitu ikan ekonomis penting dan biasa ditangkap untuk konsumsi. Biasanya kelompok ikan-ikan target menjadikan terumbu karang sebagai tempat pemijahan dan sarang/daerah asuhan. Ikan-ikan target diwakili oleh famili Serranidae (ikan kerapu), Lutjanidae (ikan kakap), Lethrinidae (ikan lencam), Nemipteridae (ikan kurisi), Caesionidae (ikan ekor kuning), Siganidae (ikan baronang), Haemulidae (ikan bibir tebal), Scaridae (ikan kakak tua) dan Acanthuridae (ikan pakol);
  • Ikan-ikan indikator, yaitu jenis ikan karang yang khas mendiami daerah terumbu karang dan menjadi indikator kesuburan ekosistem daerah tersebut. Ikan-ikan indikator diwakili oleh famili Chaetodontidae (ikan kepe-kepe);
  • Ikan-ikan major, merupakan jenis ikan berukuran kecil, umumnya 5 sampai 25 cm, dengan karakteristik pewarnaan yang beragam sehingga dikenal sebagai ikan hias. Kelompok ikan-ikan major umumnya ditemukan melimpah, baik dalam jumlah individu maupun jenisnya, serta cenderung bersifat teritorial. Kelompok ikan-ikan major sepanjang hidupnya berada di terumbu karang, diwakili oleh famili Pomacentridae (ikan betok laut), Apogonidae (ikan serinding), Labridae (ikan sapu-sapu), dan Blenniidae (ikan peniru).

Lowe and McConel (1987) mengelompokkan komunitas ikan karang ke dalam dua kelompok yaitu :

  1. Kelompok ikan yang terkadang terdapat pada terumbu karang seperti ikan dari famili Scombridae dan Myctophidae
  2. Kelompok ikan yang tergantung pada terumbu karang sebagai tempat mencari makan, tempat hidup atau kedua-duanya.

Berdasarkan penyebaran hariannya, ikan-ikan karang dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu ikan yang aktif pada siang hari (diurnal) dan ikan yang aktif pada malam hari (nokturnal). Menurut Lowe dan McConel (1987) sebagian besar ikan karang bersifat diurnal serta ikan yang bersifat nokturnal biasanya merupakan ikan karnivora.

Menurut Randall et all. (1990), ikan-ikan diurnal umumnya ikan herbivora yang berwarna cerah yang pada malam hari bersembunyi di celah-celah batu atau gua-gua kecil dekat permukaan karang serta ada yang membenamkan diri dalam pasir.

Beberapa deskripsi famili ikan karang menurut Randall et all. (1990) yaitu:

  1. Acanthuridae: dikenal sebagai surgeonfish, memakan alga dasar dan memiliki saluran pencernaan yang panjang; makanan utamanya adalah zooplankton atau detritus. Surgeonfishes mampu memotong ikan-ikan lain dengan duri tajam yang berada pada sirip ekornya.
  2. Balistidae: golongan triggerfish, karnivora yang hidup soliter pada siang hari, memakan berbagai jenis invertebrata termasuk moluska yang bercangkang keras dan echinodermata; beberapa jenis juga memakan alga atau zooplankton.
  3. Blennidae: biasanya hidup pada lubang-lubang kecil di terumbu, sebagian besar spesies penggali dasar yang memakan campuran alga dan invertebrata; sebagian pemakan plankton, dan sebagian spesialis makan pada kulit atau sirip dari ikan-ikan besar, dengan meniru sebagai pembersih.
  4. Caesonidae: dikenal sebagai ekor kuning, pada siang hari sering ditemukan pada gerombolan yang sedang makan zooplankton pada pertengahan perairan diatas terumbu, sepanjang hamparan tubir dan puncak dalam gobah. Meskipun merupakan perenang aktif, mereka sering diam untuk menangkap zooplankton dan biasanya berlindung di terumbu pada malam hari.
  5. Centriscidae: berenang dalam posisi tegak lurus dengan moncong kebawah; memakan zooplankton yang kecil.
  6. Chaetodontidae: disebut juga ikan butterfly, umumnya memiliki warna yang cemerlang, memakan tentakel atau polip karang, invertebrata kecil, telur-telur ikan lainnya, dan alga berfilamen, beberapa spesies juga pemakan plankton.
  7. Ephippidae: bentuk tubuh yang pipih, gepeng, mulutnya kecil, umumnya omnivora, memakan alga dan invertebrata kecil.
  8. Gobiidae: umumnya terdapat di perairan dangkal dan disekitar terumbu karang. Kebanyakan karnivora penggali dasar yang memakan invertebrata dasar yang kecil, sebagian juga merupakan pemakan plankton. Beberapa spesies memiliki hubungan simbiosis dengan invertebrata lain (misalnya : udang) dan sebagian dikenal memindahkan ectoparasit dari ikan-ikan lain.
  9. Labridae: dikenal dengan wrasses, merupakan ikan ekonomis penting, memiliki bentuk, ukuran dan warna yang sangat berbeda. Kebanyakan spesies penggali pasir, karnivora bagi invertebrata dasar; sebagian juga merupakan pemakan plankton dan beberapa spesies kecil memindahkan ectoparasit dari ikan-ikan lain yang lebih besar.
  10. Mullidae: dikenal dengan goatfish, memiliki sepasang sungut di dagunya, yang mengandung organ sensor kimia dan digunakan untuk memeriksa keberadaan invertebrata dasar atau ikan-ikan kecil pada pasir atau lubang di terumbu, banyak yang memiliki warna yang cemerlang.
  11. Nemipteridae: dikenal sebagai threadfin breams atau whiptail breams, ikan karnivora yang umumnya memakan ikan dasar kecil, sotong-sotongan, udang- udangan atau cacing; beberapa spesies adalah pemakan plankton
  12. Pomacentridae: dikenal dengan damselfishes, memiliki bermacam warna yang berbeda secara individu dan lokal bagi spesies yang sama. Beberapa spesies merupakan ikan herbivora, omnivora atau pemakan plankton. Damselfish meletakkan telur-telurnya di dasar yang dijaga oleh ikan jantan. Termasuk didalam kelompok ini ikan-ikan anemon (Amphiprioninae) yang hidup berasosiasi dengan anemon laut.
  13. Scaridae: dikenal sebagai parrotfish, herbivora, biasanya mendapatkan alga dari substrat karang yang mati. Mengunyah batu karang beserta alga serta membentuk pasir karang, hal ini membuat parrotfish menjadi salah satu produsen pasir penting dalam ekosistem  terumbu karang. Scaridae merupakan ikan ekonomis penting.
  14. Serranidae: dikenal dengan sea bass, kerapu, predator penggali dasar, ikan komersial, memakan udang-udangan dan ikan. Subfamilinya adalah Anthiinae, Epinephelinae dan Serranidae.
  15. Sygnathidae: dikenal sebagai kuda laut atau pipefish. Beberapa memiliki warna yang indah. Umumnya terbatas di perairan dangkal. Memakan invertebrata dengan menghisap pada moncong pipanya. Jantannya memiliki kantong eram sebagai tempat penyimpanan telur dan diinkubasikan.
  16. Zanclidae: memiliki bentuk seperti Acanthuridae dengan mulut yang tabular tanpa duri di bagian ekor. Memakan spons juga invertebrata dasar.
    Menurut Sale (1991), kelompok ikan karang yang berasosiasi paling erat dengan lingkungan terumbu karang menjadi tiga golongan utama yaitu :
    1. Labroid: Labridae (wrasses), Scaridae (parrot fish), dan Pomacentridae (damselfishes)
    1. Acanthuroid: Achanturidae (surgeonfishes), siganidae (rabbitfishes), dan Zanclidae (Moorish idols)
    1. Chaetodontoid: Chaetodontidae (butterflyfishes) dan Pomachantidae (angelfishes).

Ekologi Ikan Karang

Tiap kelompok ikan masing-masing mempunyai habitat yang berbeda, tetapi banyak spesies yang terdapat pada lebih dari satu habitat. Umumnya tiap spesies mempunyai kesukaan (preferensi) terhadap habitat tertentu (Aktani, 1990).

Wooton (1992) menyatakan bahwa ikan hanya dapat bertahan hidup dalam kisaran kondisi lingkungan tertentu. Kondisi lingkungan tersebut secara umum meliputi suhu, kandungan oksigen, salinitas, dan pergerakan air. Suhu mengendalikan reaksi-reaksi kimiawi yang berlangsung di perairan. Suhu juga berpengaruh terhadap aktivitas reproduksi, pertumbuhan, dan aktivitas makan. Oksigen yang disuplai melalui proses respirasi akan membatasi laju metabolisme aerobik.

Dalam suatu ekosistem terumbu karang terdapat kelimpahan, keanekaragaman ikan-ikan terumbu yang menyusun suatu kegiatan pemangsaan, persaingan dan interaksi. Wootton (1992) juga menyatakan bahwa keterbatasan sumberdaya makanan, tempat tinggal, dan tempat berlindung mengakibatkan terjadinya mekanisme evolusi. Mekanisme evolusi mengurangi persaingan antar spesies, spesies dengan kebutuhan makanan yang sama tidak akan bersaing karena memiliki tempat yang berbeda ini disebut dengan seleksi habitat, kemudian seleksi sumberdaya contohnya ikan karnivora yang menunjukkan pembagian makanan, dan juga pembagian waktu yaitu aktifitas makan pada malam hari atau siang hari.

Menurut Syakur (2000), beberapa karnivora bersifat diurnal, aktivitas makannya berlangsung pada siang hari dan beristirahat pada malam hari, kelompok yang lain adalah kelompok nokturnal, aktivitas makannya berlangsung pada malam hari.
Keanekaragaman warna ikan-ikan karang berfungsi sebagai kamuflase, pemberitahuan, dan jebakan. Latar belakang substrat karang dapat dijadikan kamuflase bagi ikan-ikan karang untuk menghindar dari pemangsanya dan sebagai jebakan untuk mencari mangsa.

Warna ikan-ikan karang yang cerah mengisyaratkan bahwa ikan tersebut beracun (Nybakken, 1988).

Interaksi mutualistik antar spesies mempengaruhi distribusi dan kelimpahan ikan karang. interaksi ini dapat terlihat dari beberapa ikan karang yang berfungsi sebagai pembersih, contohnya Labroides dimidiatus, memakan ektoparasit yang terdapat di permukaan tubuh dan insang ikan-ikan lain. Interaksi mutualistik yang lain terjadi antara ikan dan invertebrata contohnya, Amphiprion spp yang berasosiasi dengan anemon laut. Ikan memperoleh perlindungan dari pemangsanya karena adanya nematocyst yang terdapat pada tentakel anemon (Wotton, 1992).

Hampir seluruh ikan-ikan karang melalui fase pelagic di awal daur hidupnya. Setelah satu bulan atau lebih juvenil-juvenil mencapai ukuran tertentu, juvenil-juvenil akan tinggal di daerah terumbu karang. Apabila ruang di terumbu karang terbatas, maka kematian dan migrasi ikan-ikan karang akan memberikan peluang hidup bagi juvenil. Kapan dan dimana ruang tersebut akan tersedia tidak dapat diperkirakan. Konsekuensi dari mekanisme tersebut adalah perubahan komposisi spesies dan kelimpahan relatif pada waktu tertentu karena recruitment (Wotton, 1992).

Fisiografis dasar perairan adalah faktor utama yang menentukan distribusi dan kelimpahan ikan-ikan karang. Keberadaan ikan-ikan karang sangat dipengaruhi oleh kesehatan terumbu karang, biasanya ditunjukkan oleh persentase tutupan karang hidup (life coverage) (Aktani, 1990). Distribusi ruang (spatial distribution) berbagai spesies, bervariasi menurut kondisi alami dasar perairan (Aktani, 1990).

ALAT PENANGKAPAN IKAN RAMAH LINGKUNGAN

Di Indonesia khususnya dibidang perikanan tangkap banyak sekali jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan, namun banyak sekali alat tangkap yang bersifat merusak atau destruktif seperti payang dan trawl yang menangkap ikan didasar perairan dengan menyapu dasar sehingga terumbu karang yang berada didasar perairan akan rusak.

Oleh karenanya perlu alat tangkap ramah lingkungan yang selain selektif juga efektif dan bisa mempertahankan sumberdaya ikan agar habitatnya tidak rusak. Jenis-jenis alat tangkap ramah lingkungan tersebut diantaranya seperti pancing, dan alat pengumpul ikan seperti keramba apung yang menggunakan lampu dan umpan alami.

Departemen Kelautan dan Perikanan (2006), dengan mengacu pada FAO pada tahun 1995, mengeluarkan suatu tata cara bagi kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab (CCRF). CCRF menetapkan ada sembilan kriteria yang digunakan pada teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan, yaitu :

1. Alat tangkap harus memiliki selektivitas yang tinggi

Pengertian selektivitas yang tinggi adalah alat tangkap tersebut diupayakan hanya dapat menangkap ikan/organisme lain yang menjadi sasaran penangkapan saja, dimana ada dua macam selektivitas yang menjadi sub kriteria, yaitu selektivitas ukuran dan selektivitas jenis. Pada sub kriteria ini terdiri dari (yang paling rendah hingga yang paling tinggi):

  • Alat menangkap lebih dari tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh;
  • Alat menangkap paling banyak tiga spesies dengan ukuran berbeda jauh;
  • Alat menangkap kurang dari tiga spesies dengan ukuran yang kurang lebih sama; dan
  • Alat menangkap satu spesies saja dengan ukuran yang kurang lebih sama.

2. Alat tangkap yang digunakan tidak merusak habitat, tempat tinggal dan berkembang biak ikan dan organisme lainnya

Kriteria kedua yang diberikan oleh lembaga pangan dan pertanian dunia (FAO) PBB ini artinya bahwa alat tangkap ikan yang digunakan tidak merusak lingkungan (destructive fishing) akan tetapi harus tergolong pada constructive fishing.

Dampak penangkapan ikan yang merusak lingkungan terdiri dari kerusakan sumberdaya ikan, habitat ikan, dan dasar perairannya. Pembobotan yang digunakan dalam kriteria ini yang ditetapkan berdasarkan luas dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan alat penangkapan.

Adapun skoring dan pembobotan pada kriteria tersebut adalah sebagai berikut (dari rendah hingga yang tinggi):

  • Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang luas;
  • Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang sempit;
  • Menyebabkan sebagaian habiat pada wilayah yang sempit; dan
  • Aman bagi habitat (tidak merusak habitat).

3. Tidak membahayakan nelayan (penangkap ikan)

Keselamatan manusia menjadi syarat penangkapan ikan, hal ini karena bagaimanapun manusia merupakan bagian yang penting bagi keberlangsungan perikanan yang produktif.

Pembobotan resiko diterapkan berdasarkan pada tingkat bahaya dan dampak yang mungkin dialami oleh nelayan (dari rendah – tinggi):

  • Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat kematian pada nelayan;
  • Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat cacat menetap (permanen) pada nelayan;
  • Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat gangguan kesehatan yang sifatnya sementara; dan
  • Alat tangkap aman bagi nelayan.

4. Menghasilkan ikan yang bermutu baik

Jumlah ikan yang banyak tidak banyak berarti bila ikan-ikan tersebut dalam kondisi buruk. Dalam menentukan tingkat kualitas ikan digunakan kondisi hasil tangkapan secara morfologis (bentuknya).

Pembobotan (dari rendah hingga tinggi) adalah sebagai berikut:

  • Ikan mati dan busuk;
  • Ikan mati, segar, dan cacat fisik;
  • Ikan mati dan segar; dan
  • Ikan hidup

5. Produk tidak membahayakan kesehatan konsumen

Ikan yang ditangkap dengan peledakan bom pupuk kimia atau racun sianida kemungkinan tercemar oleh racun. Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan tingkat bahaya yang mungkin dialami konsumen yang harus menjadi pertimbangan adalah (dari rendah hingga tinggi):

  • Berpeluang besar menyebabkan kematian konsumen;
  • Berpeluang menyebabkan gangguan kesehatan konsumen;
  • Berpeluang sangat kecil bagi gangguan kesehatan konsumen; dan
  • Aman bagi konsumen

6. Hasil tangkapan yang terbuang minimum

Alat tangkap yang tidak selektif dapat menangkap ikan/organisme yang bukan sasaran penangkapan (non-target). Dengan alat yang tidak selektif, hasil tangkapan yang terbuang akan meningkat, karena banyaknya jenis non-target yang turut tertangkap. Hasil tangkapan nontarget, ada yang bisa dimanfaatkan dan ada yang tidak.

Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan pada hal berikut (dari rendah hingga tinggi):

Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis (spesies) yang tidak laku dijual di pasar;
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis dan ada yang laku dijual di pasar;
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan laku dijual di pasar; dan
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan berharga tinggi di pasar;.

7. Alat tangkap yang digunakan harus memberikan dampak minimum terhadap keanekaan sumberdaya hayati (biodiversity)

Persyaratan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan adalah meminimalisasi dampak terhadap keanekaragaman sumberdaya hayati periaran sebagai akibat penangkapannya.

Adapun pembobotan kriteria ini ditetapkan dari rendah hingga tinggi :

  • Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian semua mahluk hidup dan merusak habitat;
  • Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies dan merusak habitat;
  • Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies tetapi tidak merusak habitat; dan
  • Aman bagi keanekaan sumberdaya hayati.

8. Tidak menangkap jenis yang dilindungi undang-undang atau terancam punah

Tingkat bahaya alat tangkap terhadap spesies yang dilindungi undang-undang ditetapkan berdasarkan kenyataan bahwa:

  • Ikan yang dilindungi sering tertangkap alat;
  • Ikan yang dilindungi beberapa kali tertangkap alat;
  • Ikan yang dilindungi .pernah. tertangkap; dan
  • Ikan yang dilindungi tidak pernah tertangkap

9. Diterima secara sosial

Penerimaan masyarakat terhadap suatu alat tangkap, akan sangat tergantung pada kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di suatu tempat. Suatu alat diterima secara sosial oleh masyarakat bila:

  1. biaya investasi murah,
  2. menguntungkan secara ekonomi,
  3. tidak bertentangan dengan budaya setempat,
  4. tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.

Pembobotan criteria ditetapkan dengan menilai kenyataan di lapangan bahwa (dari yang rendah hingga yang tinggi):

  • Alat tangkap memenuhi satu dari empat butir persyaratan di atas;
  • Alat tangkap memenuhi dua dari empat butir persyaratan di atas;
  • Alat tangkap memenuhi tiga dari empat butir persyaratan di atas; dan
  • Alat tangkap memenuhi semua persyaratan di atas.

Bila ke sembilan kriteria ini dilaksanakan secara konsisten oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan perikanan, dapat dikatakan ikan dan produk perikanan akan tersedia secara berkelanjutan. Hal yang penting diingat adalah bahwa generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kita tidak mengurangi ketersediaan ikan bagi generasi yang akan datang dengan pemanfaatan sumberdaya ikan yang ceroboh dan berlebihan.

Perilaku yang bertanggungjawab ini akan memberikan sumbangan yang penting bagi ketahanan pangan, dan peluang pendapatan yang berkelanjutan.

Adapun pengembangan perikanan yang berkelanjutan bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya alat tangkap ikan yang digunakan terhadap kelestarian sumberdaya ikan yang ada. Menurut Monintja (2000), kriteria alat tangkap berkelanjutan mempunyai enam kriteria yang digunakan yaitu :

  1. menerapkan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan ;
  2. jumlah hasil tangkapan tidak melebihi jumlah tangkapan yang diperbolehkan (TAC) ;
  3. produk mempunyai pasar yang baik ;
  4. investasi yang digunakan rendah ;
  5. penggunaan bahan bakar rendah ; dan
  6. secara hukum alat tangkap tersebut legal.

Hasil Tangkapan per Satuan Upaya

Produktivitas atau laju tangkap merupakan salah indikasi kecenderungan dan kenaikan usaha perikanan. Laju tangkap merupakan perbandingan anatara hasil tangkapan yang didaratkan (landings) dan upaya penangkapan sebuah kapal pada suatu fishing base tertentu.

Nilai hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan disebut juga dengan CPUE (Catch per Unit Effort). Upaya penangkapan dapat berupa hari operasi atau bulan operasi, banyaknya trip penangkapan atau jumlah armada yang melakukan operasi penangkapan. Dalam penelitian ini upaya penangkapan yang digunakan adalah jumlah unit penangkapan bukan trip penangkapan.

Dikarenakan setiap alat tangkap tidak hanya menangkap satu jenis ikan saja, apalagi ikan-ikan pelagis dapat ditangkap dengan beberapa jenis alat tangkap. Oleh karena itu, harus dilakukan standarisasi alat tangkap dengan menentukan Indeks kuasa penangkapan ikan (FPI = Fishing Power Indeks).

Standarisasi alat tangkap tersebut akan menentukan upaya penangkapan untuk menangkap spesies tertentu dengan alat tangkapa standar tertentu pula.

IKAN MOLA MOLA

Mola-mola atau yang lebih populer dengan nama “Sun Fish” (Ikan Matahari) adalah ikan langka tropis dan subtropis yang menjadi perburuan bagi Diver/Penyelam dan fotografer Under Water diseluruh dunia. Ikan Mola-mola dewasa dapat mencapai panjang 1 meter dengan berat 1-2 ton. Uniknya, ikan Mola-mola hampir tidak memiliki sirip ekor, namun memiliki clavus, yang merupakan sambungan sirip pungung dan sirip perut. Beruntungnya Indonesia menjadi salah satu tempat persinggahan, Mola-mola dapat dijumpai sepanjang bulan Juli-September di Lembongan, Bali.

Berikut ini fakta unik dari ikan mola-mola atau ikan matahari:

1. Ikan ini hobi berjemur

Bahwa ikan mola-mola mempunyai hobi yang unik yaitu berjemur ke permukaan laut, itulah sebabnya ia dijuluki dengan nama Sunfish. Ia sangat sering memunculkan dirinya untuk berjemur di pantai Penida, Bali.

2. Bentuk tubuhnya aneh

Pada umumnya semua jenis ikan selalu mempunyai sirip ekor. Berbeda dengan mola-mola ia nyaris gak punya sirip ekor. Dan biasanya sirip (sayap) ikan lain terletak di samping kira dan kanan, sedangkan mola mola siripnya berada vertikal diatas dan dibawah (punggung dan perut) yang disebut calvus.
Akibat bentuk siripnya yang aneh ditambah tubuhnya yang bulat dan gemuk membuat Ikan mola mola sangat lambat untuk berenang dan untuk melawan arus ombak pun ia tidak bisa, memilih pasrah mengikuti arus air yang membawanya.

3. Sunfish, Ikan mola mola yang terancam punah

Karena keadaan bentuk tubuhnya yang aneh, membuat ikan mola mola terancam punah, ia sering menjadi korban kecelakaan dalam lalu lintas perairan laut seperti tersangkut di baling-baling kapal perahu dan sering menjadi korban tabrakan dari kapal-kapal besar yang sedang melaju ke arahnya. Begitu lamban gerakannya membuat ia tak dapat menghindar dari kecepatan kapal tersebut. Selain itu sampah-sampah laut juga menjadi salah satu penyebab kematiannya. Ia sering tersedak akibat menelan sampah plastik yang disangkanya adalah ubur-ubur. Belum lagi ia terdampar di tepi pantai akibat terseret ombak dan mati sendiri akibat dehidrasi. Tapi penyebab kematiannya paling tinggi adalah akibat perburuan illegal seperti yang dilakukan oleh para nelayan jahat di jepang. Mereka memang sengaja ditangkap untuk dijual dagingnya ke restoran.

IKAN CAKALANG

Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) adalah ikan pelagis yang merupakan perenang cepat (good swimmer) dan mempunyai sifat rakus (varancious). Ikan ini melakukan migrasi jarak jauh dan hidup bergerombol dalam ukuran besar. Bentuk tubuhnya digolongkan dalam bentuk torpedo, yaitu badan fusiform, bagian kepala sangat tebal, ramping dan kuat kearah ekor dan sedikit pipih pada bagian samping. Penangkapan ikan cakalang dapat dilakukan dengan pole and line, hand and line dantonda (Ayodya,1981).

Ikan cakalang mencari makan berdasarkan pada penglihatannya. Pernah ada cakalang terbesar yang ditemukan yang mempunyai panjang badan mencapai 1 meter dan berat badan lebih dari 18 Kg. Cakalang yang banyak tertangkap biasanya berukuran panjang sekitar 50 cm. Makanan cakalang berupa krustasea, cephalopoda, dan moluska. Ikan cakalang merupakan mangsa yang begitu penting untuk ikan-ikan besar dizona pelagik. Ikan cakalang juga dikenal sebagai SkripJack tuna.

Klasifikasi Ikan Cakalang

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Perciformes
Sub Ordo : Scombroidea
Famili : Scombroidae
Sub Famili : Thunninae
Genus : Katsuwonus
Species : Katsuwonus pelamis

Morfologi Ikan Cakalang

  • Bentuk tubuh seperti terpedo
  • Mempunyai gill rakers (tapis insang) sekitar 53-63 buah
  • Mempunyai dua sirip punggung yang terpisah
    • Sirip pertama terdapat 14-16 jari-jari
    • Pada sirip kedua terdapat 7-9 finlet
  • Sirip dada pendek
  • Terdapat dua flops diantara sirip perut
  • Memepunyai sirip anal yang diikuti dengan 7-8 finlet
  • Badan tidak bersisik kecuali pada bagian barut badan (corselets)
  • Bagian punggung terdapat warna biru kehitaman dan perut berwarna keperakan dan terdapat garis-garis yang berwarna hitam pada bagian samping badan 4-6 buah garis

Habitat Ikan Cakalang

Suhu yang ideal untuk ikan cakalang adalah 26°C – 32°C dan salinitas 33%. Ikan cakalang menyebar luas diseluruh perairan sub tropis dan tropis, Anatara lain lautan hindia, atlantik dan pasifik kecuali lautan mediterania. Ikan cakalang sangat menyukai daerah dimana terjadinya pertemua antara arus /air (convergence) yang pada umumnya terdapat pulau-pulau.

Ikan cakalang juga terdapat di perairan yang dimana terjadinya pertemuan antara masa air panas dan dingin, penaikan tekanan air dan parameter hidrografi yang terdapat pencampuran yang tidak tetap. Pada siang hari biasanya ikan cakalang berada dikedalaman 260 meter dan pada malam hari ikan cakalang biasanya akan muncul kepermukaan.

PENYU

Penyu adalah kura-kura laut yang ditemukan di semua samudra di dunia. Menurut data para ilmuwan, penyu sudah ada sejak akhir zaman Jura (145 – 208 juta tahun yang lalu) atau seusia dengan dinosaurus. Pada masa itu Archelon, yang berukuran panjang badan enam meter, dan Cimochelys telah berenang di laut purba seperti penyu masa kini.

Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 – 73 hari.

Hidup di Laut

Penyu Perbedaan penyu dan kura-kura hanya terletak pada kakinya. Kakai penyu dan kura-kura berbeda karena mereka berbeda habitatnya. Kura-kura hidup di darat, sedangkan penyu hidup di laut. Penyu ada tujuh jenis, yakni penyu tempayan, penyu hijau, penyu belimbing, penyu sisik, penyu lekang, penyu pipih, dan penyu camp’s ridley. Semua penyu bisa ditemukan di perairan Indonesia, kecuali penyu camp’s ridley.

Betina Naik ke Darat

Penyu  yang naik ke darat hanya penyu betina, sedangkan penyu jantan tidak pernah naik ke darat. Di darat, penyu betina akan bertelur dan menyimpannya di dalam pasir. Setelah itu, penyu betina akan kembali ke laut dan membiarkan telurnya hingga menetas.

Jenis-jenis Penyu

Di dunia saat ini hanya ada tujuh jenis penyu yang masih bertahan, yaitu:

  • Penyu  hijau (Chelonia mydas)
  • Penyu  sisik (Eretmochelys imbricata)
  • Penyu Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi)
  • Penyu lekang (Lepidochelys olivacea)
  • Penyu belimbing (Dermochelys coriacea)
  • Penyu pipih (Natator depressus)
  • Penyu tempayan (Caretta caretta)

Dari ketujuh jenis ini, hanya penyu Kemp’s ridley yang tidak pernah tercatat ditemukan di perairan Indonesia.

Dari jenis-jenis tersebut, penyu belimbing adalah yang terbesar dengan ukuran panjang badan mencapai 2,75 meter dan bobot 600 – 900 kilogram. Penyu lekang adalah yang terkecil, dengan bobot sekitar 50 kilogram. Namun demikin, jenis yang paling sering ditemukan adalah penyu hijau.

Penyu, terutama penyu hijau, adalah hewan pemakan tumbuhan yang sesekali memangsa beberapa hewan kecil.

Terancam

Dari semua telur itu, hanya beberapa saja yang akan menetas. Kenapa? Karena selama berada di dalam pasir, telur-telur itu sudah terancam oleh manusia, biawak, dan reptil lainnya. Bahkan, dari semua penyu yang menetas, hanya 1-3 penyu yang berhasil hidup sampai dewasa.

Ini 8 Program Studi Ilmu Kelautan Terbaik di Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari belasan ribu pulau. Bahkan 2/3 wilayah Indonesia termasuk kategori perairan. Karakteristik geografis ini pula yang menjadikan Indonesia itu kaya akan potensi bahari. Sayangnya, sumber daya manusia untuk mengolahnya tampaknya belum cukup optimal.

Oleh sebab itu, mendalami keilmuan di bidang ini merupakan pilihan yang tak kalah menarik, nih. Ilmu Kelautan atau Oseanologi tersebut berasal dari kata ‘oceanos’ yang berarti laut dan ‘logos’ yang berarti ilmu. Singkatnya, Oseanologi mempelajari berbagai aspek tentang ‘laut’ lengkap dengan kajian fisika, kimia, biologi dan geologinya termasuk biota dan sumber dayanya, bahkan hukum-hukum yang berlaku terkait laut.

Nah, bagi kamu yang tertarik dengan bidang tersebut, ini deretan perguruan tinggi negeri dengan program studi Ilmu Kelautan yang telah mengantongi akreditasi A dari BAN-PT.

1. Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat

Institut Pertanian Bogor yang bernaung di bawah Kopertis IV ini meraih akreditasi A untuk program studi Ilmu dan Teknologi Kelautan dengan nomor SK yaitu 237/SK/BAN-PT/Ak-XVI/S/XI/2013 dan berlaku sejak 2013 hingga 22 November 2018.

Program studi Ilmu dan Teknologi Kelautan yang merupakan bagian dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di universitas ini telah terakreditasi secara internasional, lho. Program studi ini menawarkan keunggulan berupa ilmu dan teknologi kelautan dalam melakukan kajian sifat-sifat dan proses fisika, kimiawi di laut, interaksi fisika dan kimiawi dengan organisme di laut.

Dan juga model numerik untuk mensimulasi dinamika pergerakan air laut dan prediksi sebaran limbah maupun material lainnya, model prediksi eksplorasi sumberdaya dan lingkungan laut, model peningkatan kualitas habitat, IPTEK akustik dan instrumentasi, SIG (sistim Informasi Geografi) kelautan, desain instrumen untuk eksplorasi sumberdaya dan lingkungan laut, dan menyediakan jasa konsultasi.

2. Universitas Padjadjaran, Jawa Barat

Universitas Padjajaran yang bernaung di bawah Kopertis IV ini meraih akreditasi A untuk program studi Ilmu Kelautan dengan nomor SK yaitu 2368/SK/BAN-PT/Akred/S/X/2016 dan berlaku sejak 2016 hingga 20 Oktober 2021.

Program studi ini bernaung di bawah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dengan penekanan pada bidang kajian Bioteknologi Kelautan yaitu penerapan teknologi pada organisme laut untuk menghasilkan produk yang bermanfaat.

Lulusan dari Ilmu Kelautan di Universitas Padjajaran diharapkan memiliki kemampuan dalam melakukan kegiatan menyusun rencana, desain, model pemanfaatan potensi sumber daya hayati laut dengan menerapkan pemahaman dan prinsip-prinsip konservasi sumber daya dan lingkungan laut.

3. Universitas Jenderal Soedirman, Jawa Tengah

Universitas Jenderal Soedirman yang bernaung di bawah Kopertis VI ini meraih akreditasi A untuk program studi Ilmu Kelautan dengan nomor SK yaitu 5125/SK/BAN-PT/Akred/S/XII/2017 dan berlaku sejak 2017 hingga 17 Desember 2022.

Bernaung di bawah Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, program studi ini memiliki visi menjadi program studi yang bereputasi internasional untuk mengembangkan dan menerapkan ilmu dan teknologi kelautan dalam eksplorasi, eksploitas dan konservasi sumberdaya laut berkelanjutan yang berbasis kearifan.

Sedangkan misinya adalah menyelenggarakan proses pembelajaran yang dinamis sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknlogi kelautan, melaksanakan penelitian dan kajian di bidang ilmu dan teknologi kelautan dalam bidang eksplorasi, eksploitasi dan konservasi sumberdaya laut berkelanjutan yang berbasis kearifan lokal, dan melakukan diseminasi dan menerapkan hasil riset melalui publikasi, pengabdian masyarakat dan pengkayaan bahan ajar

4. Universitas Diponegoro, Jawa Tengah

Universitas Diponegoro yang bernaung di bawah Kopertis VI ini meraih akreditasi A untuk program studi Ilmu Kelautan dengan nomor SK yaitu 0409/SK/BAN-PT/Akred/S/V/2016 dan berlaku sejak 2016 hingga 20 Mei 2021.

Ilmu Kelautan merupakan salah satu program studi di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Program studi ini memiliki visi  untuk menjadi unggul dalam bidang konservasi dan bioteknologi kelautan di Indonesia. Lulusan dari Ilmu Kelautan ini diharapkan mengemban kompetensi COMPLETE (Communicator, Professional, Leader, Entrepreneur, Thinker, Educator) yang mampu melakukan unjuk kerja dengan menggunakan konsep, teori dan metode bidang Ilmu Kelautan khususnya konservasi biodiversitas kelautan dan bioteknologi kelautan.

5. Universitas Trunojoyo Madura di Provinsi Jawa Timur

Universitas Trunojoyo Madura yang bernaung di bawah Kopertis VII ini meraih akreditasi A untuk program studi Ilmu Kelautan dengan nomor SK yaitu 1925/SK/BAN-PT/Akred/S/VI/2017 dan berlaku sejak 2017 hingga 13 Juni 2022.

Nah, program studi Ilmu Kelautan di universitas ini terletak dalam Fakultas Pertanian, lho. Program studi tersebut memiliki visi untuk berstandar nasional dalam mengembangkan sumberdaya Madura berbasis potensi sumber daya pesisir dan laut, utamanya bidang garam, biologi laut, dan oseanografi.

Sedangkan salah satu misinya adalah mengembangan potensi sumberdaya pesisir dan laut, utamanya bidang garam, biologi laut, dan oseanografi serta melaksanakan kegiatan penelitian di bidang tersebut untuk menghasilkanpublikasi ilmiahdi tingkat nasional dan international.

6. Universitas Hasanuddin, Sulawesi Selatan

Universitas Hasanuddin yang bernaung di bawah Kopertis IX ini meraih akreditasi A untuk program studi Ilmu Kelautan dengan nomor SK yaitu 447/SK/BAN-PT/Akred/S/XI/2014 dan berlaku sejak 2014 hingga 14 November 2019.

Program studi yang merupakan bagian dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan ini berkonsentrasi pada bidang Eksplorasi Sumber Daya Hayati Laut dan Konservasi Sumber Daya Hayati Laut. Visi program studi tersebut adalah menjadi pusat rujukan dalam pengembangan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut. 

Sedangkan salah satu misinya yaitu mengembangkan kemitraan/kerjasama dengan instuisi kelautan dan perikanan serta menghasilkan penelitian unggulan yang berorientasi pada kebutuhan pengembangan dan pembangunan kelautan dan perikanan (orientasi kebutuhan nasional dan bereputasi internasional), serta memberikan pendampingan dan advokasi kepada masyarakat dan dunia usaha di bidang kelautan dan perikanan.

7. Universitas Riau, Riau

Universitas Riau yang bernaung di bawah Kopertis X ini meraih akreditasi A untuk program studi Ilmu Kelautan dengan nomor SK yaitu 237/SK/BAN-PT/Ak-XVI/S/XI/2013 dan berlaku sejak 2013 hingga 22 November 2018.

Program studi ini terdapat di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan dengan visinya yaitu menjadi pusat keunggulan dan pengembangan Ilmu Kelautan dengan konsentrasi pada penanganan kualitas perairan laut di Indonesia. Sedangkan salah satu tujuan dari didirikannya program studi tersebut adalah melaksanakan penelitian dan inovasi teknologi di bidang ilmu kelautan guna pemanfaatan sumberdaya laut Indonesia secara optimal berdasarkan aspek kelestarian dan berkelanjutan.

8. Universitas Pattimura di Provinsi Maluku

Universitas Pattimura yang bernaung di bawah Kopertis XII ini meraih akreditasi A untuk program studi Ilmu Kelautan dengan nomor SK yaitu 0286/SK/BAN-PT/Akred/S/I/2017 dan berlaku sejak 2017 hingga 10 Januari 2022.

Cikal bakal didirikannya program studi Ilmu Kelautan di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan ini adalah dalam rangka menyelenggarakan pendidikan tinggi yang kelak menghasilkan lulusan sarjana yang menguasai ilmu dan teknologi kelautan untuk memahami karakter, fenomena dan proses fisika, kimia, biologi dan geologi laut untuk eksplorasi sumber daya dan lingkungan laut.

Sumber : https://www.idntimes.com/life/education/rahmadila-eka-putri/8-program-studi-ilmu-kelautan-terbaik-di-indonesia-c1c2/full?utm_source=lineND&utm_medium=lineND&utm_campaign=lineND