Landak laut atau Bulu babi

Landak laut atau disebut juga bulu babi (Echinoidea) merupakan hewan laut yang berbentuk bundar dan memiliki duri pada kulitnya yang dapat digerakkan. Binatang ini terbagi menjadi sekitar 950 spesies dan dapat ditemukan mulai dari daerah pasang surut sampai di kedalaman 5000m.

Bulu babi, yang dikenal dengan penamaan bahasa Inggris ‘Sea Urchin’, merupakan jenis makrobenthos dari kelas echinoidea yang mempunyai ukuran diameter mencapai 163 mm dan berat 200 gr.

Anatomi Bulu Babi

Tubuhnya umumnya berbentuk seperti bola dengan cangkang yang keras berkapur dan dipenuhi dengan duri-duri (Nontji 2005). Durinya amat panjang, lancip seperti jarum dan sangat rapuh. Duri-durinya terletak berderet dalam garis-garis membujur dan dapat digerak-gerakkan, panjangnya dapat mencapai ukuran 10 cm dan lebih.

Berdasarkan bentuk tubuhnya, kelas Echinodoidea dibagi dalam dua subkelas utama, yaitu bulu babi beraturan (regular sea urchin) dan bulu babi tidak beraturan (irregular sea urchin) (Hyman 1955 dalam Ratna 2002), dan hanya bulu babi beraturan saja yang memiliki nilai konsumsi (Lembaga Oseanologi Nasional 1973 dalam Ratna 2002). Tubuh bulu babi sendiri terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian oral, aboral, dan bagian diantara oral dan aboral (Lembaga Oseanologi Nasional 1973 dalam Ratna 2002). Pada bagian tengah sisi aboral terdapat sistem apikal dan pada bagian tengah sisi oral terdapat sistem peristomial. Lempeng-lempeng ambulakral dan interambulakral berada diantara sistem apikal dan sistem peristomial. Di tengah-tengah sistem apikal dan sistem peristomial termasuk lubang anus yang dikelilingi oleh sejumlah keping anal (periproct) termasuk diantaranya adalah keping-keping genital.

Salah satu diantara keping genital yang berukuran paling besar merupakan tempat bermuaranya sistem pembuluh air (waste vascular system). Sistem ini menjadi cirri khas Filum Echinodermata, berfungsi dalam pergerakan, makan, respirasi, dan ekskresi. Sedangkan pada sistem peristomial terdapat pada selaput kulit tempat menempelnya organ “lentera aristotle”, yakni semacam rahang yang berfungsi sebagai alat pemotong dan penghancur makanan. Organ ini juga mampu memotong cangkang teritip, molusca ataupun jenis bulu babi lainnya (Azis 1987 dalamRatna 2002). Di sekitar mulut bulu babi beraturan kecuali ordo Cidaroidea terdapat lima pasang insang yang kecil dan berdinding tipis (Hyman 1955 dan Barnes 1987 dalam Ratna 2002)

Fakta-fakta Bulu Babi

Fakta-fakta terkait dengan bulu babi atau landak laut antara lain :

  • Terdapat lebih dari 900 jenis landak laut yang ada di muka bumi ini.
  • Ukuran dari bulu babi ini sekitar 4 sampai dengan 5 inchi
  • Kulit bulu babi dibentuk dari bulu-bulu yang keras dan tumbuh pada bagian cangkang yang keras.
  • Mulut bulu babi atau landak laut terdapat pada bagian tengah yaitu diantara bagian tubuhnya atau tepatnya terdapat pada bagian bawahnya.
  • Jumlah gigi dari bulu babi ini sebanyak 5 buah.
  • Bagian cangkang dari bulu babi ini terdapat duri-duri yang berperan sebagai penggerak dari hewan tersebut.
  • Selain jadi penggerak, duri-duri tersebut juga berguna sebagai penjepit makanan dan dapat menjadi perlindungan diri pada saat bulu babi merasa terancam dari serangan predator.
  • Untuk beberapa jenis dari bulu babi duri-durinya mengandung racun.
  • Ternyata bulu babi juga dapat tinggal ditempat yang dangkal maupun dalam sampai dengan didasar laut dan diatas karang.
  • Bulu babi juga dapat hidup di muara yang mempunyai material berlumpur dimana mereka akan membenamkan dirinya untuk dapat hidup ditempat ini.
  • Namun kebanyakan mereka lebih memilih untuk hidup pada terumbu karang serta daerah yang sering mengalami gelombang pasang.
  • Bulu babi mempunyai gigi yang terbuat dari kalsium karbonat walaupun tidak dapat terlihat secara kasat mata.
  • Fungsi gigi dari hewan bulu babi ini adalah untuk mengunyah makanan termasuk juga batu.
  • Bulu babi adalah binatang omnivora dan makanan yang sangat disukai oleh bulu babi atau landak laut ini adalah ganggang, rumput laut, ikan yang sudah mati, kerang.
  • Predator dari bulu babi ini adalah siput, burung, dan kepiting.
  • Sebenarnya bulu babi lebih aktif dimalam hari dan lebih pasif pada siang hari,
  • Mereka mencari makan dengan cara berjalan menggunaakn bagian kecil seperti kaki yang terletak pada bagian bawah perutnya.
  • Bulu babi atau landak laut ini sangat mudah dijumpai pada seluruh perairan didunia namun akan sulit menemukannya pada bagian kutub.
  • Tidak semua bulu babi mempunyai duri yang tajam serta panjang untuk dijadikan sebagai pertahanan diri mereka. Ada juga beberapa bulu babi yang mempunyai duri yang tumpul dan pendek tetapi sangat memberikan dampak yang serius bagi yang terkenanya.
  • Bulu babi melakukan reproduksi dengan cara yang unik yaitu pada bulu babi jantan mereka akan melepaskan spermanya kedalam air. Sedangkan untuk bulu babi betina akan melepaskan telurnya pada sekitar sprema dan pada saat keduanya bersentuhan satu sama lain yang kemudian membentuk janin baru.
  • Bulu babi hidup di perairan dangkal dan memiliki terumbu karang. Bulu babi berjalan dengan kaki tabung dan rambutnya yang kaku dan kuat. Hewan ini aktif pada malam hari untuk mencari makan di sekitar karang. Bulu babi termasuk hewan omnivora. Selain makan alga yang menempel pada karang, bulu babi juga menyukai hewan-hewan kecil dan sisa-sisa hewan laut yang mati. Konon, banyaknya hewan bulu babi merupakan tanda rusaknya terumbu karang. Namun, bulu babi juga menjadi tanda bahwa tempat tersebut tidak tercemari logam berat.

·         Sistem Pencernaan Bulu Babi

  • Sistem pencernaan bulu babi berupa saluran panjang dan melingkar dalam cangkang. Saluran pencernaan dimulai dari mulut, terletak di daerah oral, kemudian kerongkongan yang memiliki saluran sifon dan bersilia.
  • Saluran sifon menghubungkan kerongkongan dengan usus. Saluran  pencernaan yang dikelilingi oleh lima rangka samping yang ada dalam cangkang (terkenal sebagai “lentera aristoteles”) adalah lambung yang di perluas oleh kantong-kantong dan berakhir di rektum. Anus terletak di daerah permukaan aboral, yaitu di pusat tubuh diantara lempeng kapur yang mengandung dua, empat, sampai lima lubang genital. Beberapa echinoidea memiliki mulut dan anus di bagian pinggir tubuhnya, tetapi ada pula yang mulutnya terletak di tengah.

·         Sistem Pernafasan Bulu Babi

  • Pernafasan Bulu Babi menggunakan paru- paru kulit atau dermal branchiae(papulae) yaitu penonjolan dinding rongga tubuh (selom) yang tipis. Tonjolan ini dilindungi silia dan pediselaria. Pada bagian inilah terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida. Ada pula beberapa jenis Echinodermata yang bernafas menggunakan kaki tabung. Sisa –sisa metabolism yang terjadi di dalam sel-sel tubuh akan diangkut oleh amobacyte (sel-sel ameboid) ke dermal branchie untuk selanjutnya dilepas keluar tubuh.

·         Manfaat Bulu Babi

  • Echinoidea berperan dalam rantai makanan dan menjaga keseimbangan ekosistem laut. Sampah-sampah organisme tak akan hilang begitu saja. Echinoidea berperan penting terhadap perputaran bahan organik di dasar laut. Oleh karena itu Bulu Babi, Ular Laut, Bintang Laut, dan hewan Echinodermata sering disebut dengan hewan pembersih laut dan pantai.
  • Telur bulu babi mengandung protein sehat yang tinggi bahkan mencapai angka 70%. Selain itu, telur bulu babi juga mengandung senyawa lain seperti zat besi, mineral juga asam amino. Sementara itu, di Negara lain, bulu babi telah menjadi salah satu komoditas laut yang cukup menjanjikan. Di Negara seperti Mediterania, New Zeland, dan Amerika Utara, bulu babi lazim dikonsumsi mentah bersama perasan jeruk lemon. Sementara itu di Jepang, bulu babi populer sebagai pelengkap kuliner sushi juga sashimi. Dengan komposisi senyawa yang dikandungnya, bulu babi cukup bergizi untuk di konsumsi.
  • Bulu babi juga terbukti mampu menyembuhkan beberapa jenis penyakit misalnya mereduksi kolesterol jahat dalam darah, menurunkan tekanan darah, memperbaiki sistem metobolisme, menambah vitalitas, dan masih banyak lagi lainnya.
  • Hampir semua bagian tubuh bulu babi memiliki manfaat. Sebut saja cangkangnya, bagian ini bisa diolah menjadi tepung yang digunakan sebagai pakan ternak. Tak hanya itu, bagian cangkang juga bisa dijadikan produk kerajinan berkualitas tinggi. Sementara itu bagian lain seperti usus juga sangat baik diolah menjadi pupuk organik.

IKAN TONGKOL

Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) аdаlаh sejenis ikan laut dаrі suku Scombridae. Sifat hidup Ikan Tongkol Tеrutаmа menjelajah dі perairan dangkal dekat pesisir dі kawasan Indo-Pasifik Barat. Dalam perdagangan internasional dikenal ѕеbаgаі kawakawa, little tuna, mackerel tuna, atau false albacore.

Ikan Tongkol merupakan ikan tangkapan nelayan уаng penting dі berbagai negara dі wilayah sebarannya. Tongkol como terbanyak ditangkap dі Filipina, Malaysia, dan Pakistan; ѕеmеntаrа dі India ikan іnі menduduki posisi уаng cukup penting. Walaupun sebenarnya bila di telisik lebih jauh Malaysia dan Filipina komoditas tongkol nya berasal dari lautan Indonesia.

Ikan ini memiliki panjang cagak maksimal (fork length) 100 cm dengan berat 13.6 kg. Ukuran panjang cagak rata-rata saat dewasa adalah 60 cm. Bentuk badannya melengkung di tengah dan meruncing pada sisi depan dan belakang. Pada bagian punggung terdapat 2 sirip yang memudahkan ikan ini dalam berenang di laut. Oleh sebab itu, ikan ini juga dikenal sebagai perenang tercepat di kelasnya. Terdapat juga sirip-sirip kecil (finlet) di bagian sirip punggung dan sirip dubur.

Bagian tubuh atas berwarna biru tua dan bagian tubuh bawah berwarna putih silver. Pada punggung terdapat 10-12 jari-jari sirip dan 10-13 jari-jari sirip halus. Pada bagian dubur terdapat 10-14 jari-jari sirip halus.

Ikan Tongkol, atau biasa disebut Eastern Little Tuna masuk kedalam suku Scombridae.

Karakteristik


Ikan tongkol mempunyai karakteristik badan bulat seperti cerutu dan padat. Terdapat 8 sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung kedua dan sirip dubur dan pada ekor terdapat satu keel diantara 2 keel pada setiap sisi tubuh. Punggung berwarna gelap dengan garis tidak teratur berwarna biru kehitaman. Sedangkan perut berwarna cerah. Jenis yang paling umum tertangkap di Indonesia adalah Euthynnus affinis.

Nama lokal: Tongkol Komo, mangkok, Ambu-Ambu, Tongkok Kurik, Sembak.

Habitat


Ikan tongkol termasuk ikan yang hidup pada perairan Laut epas namun dekat dengan garis pantai. Ikan-ikan muda sering masuk ke dalam teluk atau pelabuhan. Gerombolannya terbentuk bersama spesies lain, terdiri dari 100 sampai 5.000 ekor. Termasuk predator oportunistik dengan jenis makanan dari ikan kecil (Clupeidae dan Engraulidae), Cumi-cumi, Crustacea sampai Zooplankton.

Alat Tangkap


Ikan Tongkol biasa ditangkap dengan Huhate (Pole&Line). Untuk mempertahankan ikan tetap dalam gerombolan disekitar perahu, nelayan melemparkan ikan Teri hidup ke dalam air. Belakangan ini ikan Tongkol juga ditangkap dengan Pancing Tonda yang diisi dengan umpan Bulu. Seperti Ikan Cakalang, armada Tonda yang terkenal adalah Kedo-Kedo dan Bubu Cakalang. Ikan Tongkol bisa dijual dalam bentuk pindang dan ikan kaleng. Jenis ini termasuk komoditas ekonomis penting bagi nelayan skala kecil dan menengah. Ikan Tongkol bisa mencapai ukuran 100 cm, dan lebih sering tertangkap pada ukuran 40 – 60 cm.

Spesies di Indonesia


1. Auxis rochei rochei (Risso, 1810) Bullet Tuna

Komersial tinggi, ukuran umum < 50cm;

Alat Tangkap : Seines, Gill Net, Perangkap, Trawls dan Liftnets;

Habitat: di Perairan Pantai dan mengelilingi pulau;

Makanan: ikan-ikan kecil, Anchovies, Crustaceans (Kepiting dan Stomatopod Larvae) dan Cumi-cumi;

Lokasi : ditemukan di Selatan Barat Sumatera, Jawa, Bali dan Laut Timur Indonesia.

2. Auxis thazard thazard (Lacepède, 1800) Frigate Tuna, Balaki

Komersial tinggi, ukuran umum 60 cm;

Alat tangkap : Seines, Gill Net, Perangkap, Trawls dan Liftnets;

Habitat : Epipelagic di perairan Neritic dan perairan Laut;

Makanan: ikan-ikan kecil dan Cumi- cumi, Planktonic Crustaceans (Megalops), dan Stomatopod Larvae;

Lokasi : ditemukan di Selatan Barat Sumatera, Jawa, Bali dan Laut Timur Indonesia.

3. Euthynnus affinis (Cantor, 1849) Kawakawa, Tongkol, Tongkol komo

Komersial tinggi, ukuran umum 60cm;

Alat tangkap : Hooks&Lines, Seines, Gill Net, Perangkap dan Trawls;

Habitat : di perairan terbuka berbatasan dengan garis pantai;

Makanan: memangsa ikan-ikan kecil, Clupeoids dan Atherinids, dan juga Cumi-cumi, Crustaceans dan Zooplankton;

Lokasi : ditemukan di Utara Sumatera, Selatan Barat Sumatera, Mentawai, Selat Jawa, Selatan Jawa dan Laut Timur Indonesia.

4. Sarda orientalis (Temminck & Schlegel, 1844) Striped bonito Minor

Komersial, ukuran umum 50 cm;

Alat tangkap : Seines, Gill Net dan Perangkap;

Habitat : jenis ikan Pantai, bergerombol dengan ikan Tuna kecil;

Makanan : Clupeoids, ikan, Cumi-cumi dan Decapod Crustaceans;

Lokasi : ditemukan di Laut Selatan Barat Sumatera sampai selat Bali.

6 Manfaat arus lautan bagi ikan

Saya yakin yang mengakses artikel ini pasti sudah mengetahui tentang arus lautan. Seperti yang dikita ketahui, arus merupakan pergerakan massa air dari satu tempat ke tempat yang lain. Massa air yang bergerak memiliki peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup organisme laut di antaranya ikan. 

Arus lautan dunia

Dengan mempelajari arus lautan, kita bisa turut mengetahui tingkah laku ikan pada suatu perairan. 




Berikut ini beberapa manfaat arus untuk  ikan.  

  1. Arus berperan untuk mengangkut telur dan juvenil ikan dari daerah spawning ground ke nursery ground dan dari nursery ground ke feeding ground.
  2. Migrasi ikan dewasa bisa terpengaruh oleh arus yang bertindak sebagai alat orientasi dan sebagai pembantu rute migrasi. 
  3. Tingkah laku harian bisa terpengaruh oleh arus (terutama oleh arus pasang)
  4. Arus terutama pada perbatasanya, bisa mempengaruhi penyebaran ikan dewasa baik secara langsung lewat pengaruhnya terhadap mereka atau secara tidak langsung lewat pengelompokan makanan ikan atau membawanya ke perbatasan lingkungan (misalnya perbatasan suhu)
  5. Arus bisa mempengaruhi kandungan lingkungan alam dan akan menentukan secara tidak langsung batas-batas penyebaran geografis. 
  6. Menyediakan keseimbangan nutrien. Setiap makhluk hidup, memerlukan nutriien untuk bertahan hidup, demikian juga ikan, nutrien diperlukan dalam rantai makanan  ikan.  Nutrisi dalam laut berasal dari daratan dan dari hasil penguraian yang terjadi di dalam laut itu sendiri. Kabanyakan nutrien menumpuk di dasar perairan. Dengan adanya arus, nutrien dapat terangkat ke kolom perairan dan tersebar dari satu perairan ke perairan lainnya. 

Pengaruh Oksigen Terhadap Ikan di Laut

Pengaruh oksigen bagi ikan dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Proses respirasi yang terjadi dalam tubuh ikan umumnya terjadi ketika ikan menyerap oksigen terlarut dan menghasilkan Karbondioksida ke dalam air. Tempat pergantian gas pada ikan biasanya terjadi di insang, namun pada beberapa ikan, pergantian ini dapat juga terjadi melalui kulit. 
  • Secara umum, laju konsumsi oksigen pada ikan menunjukan intensitas metabolismenya. Laju ini dipengaruhi oleh ukuran ikan dan sifat air seperti suhu dan kadar karbon dioksida. Menurut Brown (1987) peningkatan suhu 1° C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%. Hal ini dikarenakan, kenaikan suhu akan meningkatkan laju metabolisme, sehingga kebutuhan oksigen pun ikut meningkat. Jika dalam kondisi tersebut, darah tidak mengandung cukup oksigen, hewan akan mengalami hipoksia atau bahkan asfiksia (Isnaeni, 2006).
  • Menurunnya kadar oksigen pada perairan, akan mengakibatkan berkurangnya laju metabolisme. Dengan demikian dapat membatasi aktivitas ikan seperti perkembangan, pertumbuhan hingga pergerakan ikan.
  • Kadar Oksigen dalam laut bervariasi tergantung suhu dan kedalaman. Variasi oksigen di permukaan cukup kecil. Di kedalaman termoklin hingga lapisan dalam, biasanya kandungan oksigen tergolong lebih rendah. 

Untuk lebih jelasnya, perhaikan diagram di atas ya…
Meskipun oksigen sangat dibutuhkan bagi kelangsungan ikan. Tapi ada juga loh, ikan yang mampu hidup dengan kadar oksigen rendah, bahkan dalam keadaan tanpa oksigen. Ikan yang mampu hidup dengan kandungan oksigen terbatas umumnya ditemukan pada dasar perairan yang dalam.
Beberapa Spesies yang mampu hidup pada kondisi minim oksigen diantarany adalah Cherublemma emmelas dan Cephalurus cephalus. Ikan ini ditemukan pada kedalaman antara 600-900 meter pada ekspedisi di Teluk California yang dipimpin oleh Monterey Bay Aquarium Research Institute (MBARI). Hingga saat ini para peneliti belum bisa menjelaskan dengan pasti, bagaimana kedua jenis ikan tersebut dapat hidup dalam kondisi ekstrim. Hipotesis yang mungkin adalah ukuran insang ikan yang diperbesar yang memungkinkan kedua jenis ikan ini menyerap oksigen sebanyak-banyaknya.hmmmm… kira-kira, ada yang tertarik untuk meneliti jenis ikan seperti ini? mengingat di perairan Indonesia kan juga ada palung yang dalam. Pasti banyak ikan-ikan yang mampu hidup di kondisi ekstrim. 

Struktur Sedimen di Laut Dangkal

Struktur sedimen merupakan pola yang terbentuk dari materi-materi yang terdeposit. Pola ini akan memberikan pandangan yang spesifik di lingkungan dimana proses deposit materi tersebut terjadi sepanjang waktu. Di wilayah laut dangkal seperti perairan Indonesia, struktur sedimen biasanya berasosiasi dengan aliran atau arus. 

Struktur sedimen umumnya dibedakan menjadi beberapa golongan yaitu :

Struktur anorganik Struktur anorganik terutama pelapisan, contoh : graded beding (struktur materi ukuran kasar dibawah daripada ukuran lebih halus), cross beding (susunan materi yang tersusun miring dengan sudut selebar 35), ripples (Struktur sedimen dengan membetuk tumpukan pasir/lanau yang bergelombang atau ber-riak), dan biotubation (struktur sedimen yang tersusun atas sisa-sisa biologis yang terakumulasi). Pelapisan berkaitan erat dengan proses bagaimana lapisan-lapisan sedimen (sediment layers) saling menumpuk satu sama lain sepanjang waktu.  Struktur sedimen dengan pelapisan-pelapisan ripples, oscillating ripples, cross bedding, graded beds, mudcrack, dan flute sangat mungkin terjadi dan banyak ditemui di wilayah perairan dangkal  Indonesia yang memiliki kondisi angin, lautan, dan iklim yang khas. 

Struktur biogenik  Struktur biogenik yang terbentuk dari sisa-sisa organisme laut. Ada tiga megafosil pembentuk sedimen dengan struktur ini yaitu:  Coral dan calcareous algae yang  membentuk coral reef limestone, Moluska yang membentuk coquina limestone, dan Bryozoa yang membentuk bryozoan limestone. Wilayah perairan  Indonesia yang kaya akan jenis biota-biota laut ini akan membuat struktur sedimen biogenik.

Struktur deformasi  Struktur deformasi terdiri dari convolute bedding, ball and pillow dan diapirik. Struktur deformasi yang umum dikenal adalah soft sediment structure (SSD) yang terbentuk pada saat deposisi atau beberapa waktu setelahnya. Terjadi pada tahapan pertama dari konsolidasi sedimen yang terjadi karena sedimen harus bersifat seperti cair (liquid-like) agar proses deformasi terjadi.

Struktur sedimen autigenis  Struktur sedimen autigenis yang terbentuk di dalam sedimen dan pada dasar lautan, yaitu melalui proses presipitasi mineral dari air laut karena reaksi fisik-kimiawi-biologi. Sedimen  ini  dapat berasal dari aktivitas hidrotermal atau biogenis. Terdapat lima jenis sedimen dengan struktur ini yaitu: sedimen kaya logam dan besi oksida, Manganese nodule, Phosphorite, Zeolite, dan Barite. Struktur-struktur sedimen yang telah dijelaskan di atas sangat umum terjadi di wilayah perairan Indonesia. Jenis sedimen dapat berupa pasir, lumpur, sedimen silica, gambut, dan materi-materi organik.

SUHU AIR LAUT

Suhu dan salinitas merupakan parameter oseanografi yang penting dalam sirkulasi untuk mempelajari asal usul massa air. Kedua parameter ini serta tekanan menentukan densitas antara dua tempat akan menghasilkan  perbedaan tekanan yang kemudian memicu aliran massa air dari tempat yang bertekkanan tinggi ke tempat bertekanan rendah. Di samping itu, dengan menggabungkan suhu dan salinitas dalam suatu diagram (dikenal sebagai diagram T-S) kita dapat melacak asal usul massa air tersebut.
Contoh diagram TS dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Berdasarkan sebaran suhu secara vertikal, perairan terbagi atas tiga lapisan yaitu (Steward, 2006):

Ø  Lapisan homogen (surface layer)  pada permukaan perairan

Ø  Lapisan diskotinuitas atau biasa disebut lapisan termoklin (thermocline layer)  di tengah

Ø  Lapisan dingin/lapisan dalam (deep layer) dibagian bawah

Suhu air laut dipengaruhi oleh cuaca, kedalaman air, gelombang, waktu pengukuran, pergerakan konveksi, letak ketinggian dari muka laut (altitude), upwelling, musim, konvergensi, divergensi, dan kegiatan manusia di sekitar perairan tersebut serta besarnya intensitas cahaya yang diterima perairan. Suhu suatu perairan dipengaruhi oleh radiasi matahari; posisi sinar matahari; letak geografis; musim; kondisi awan; serta proses interaksi antara air dan udara, seperti aliran panas (heat), penguapan, dan hembusan angin.

King (1963) menyatakan bahwa perubahan suhu terhadap kedalaman bergantung pada empat faktor, yaitu variasi jumlah panas yang diserap, efek konduksi panas, perpindahan massa air oleh arus, dan pergerakan vertikal dari air. Variasi dari keempat faktor ini menyebabkan sulit untuk menyeragamkan perubahan suhu tahunan terhadap kedalaman

Menurut Nontji (2005), adanya radiasi matahari yang tinggi pada siang hari, menyebabkan lapisan permukaan perairan memiliki suhu dengan massa air hangat, sedangkan berdasarkan pada kedalaman suhu akan semakin menurun dan akan mengalami penurunan yang sangat cepat pada kisaran kedalaman antara 50-300 meter. Suhu berdasarkan kedalaman akan semakin berkurang  disebabkan karena intensitas cahaya matahari. Massa air permukaan hangat yang disebabkan oleh adanya pemanasan yang terjadi secara terus-menerus sepanjang tahun. Pemanasan tersebut mengakibatkan terbentuknya stratifikasi di dalam kolom perairan yang disebabkan oleh adanya gradien suhu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu permukaan laut adalah  presipitasi (akibat curah hujan yang menyebabkan turunnya suhu permukaan laut), evaporasi (akibat aliran bahang dari udara menyebabkan naiknya suhu permukaan), kecepatan angin, intensitas cahaya matahari, dan faktor-faktor fisika yang terjadi di dalam kolom perairan.

Sebaran suhu secara vertikal di perairan Indonesia dapat dibedakan menjadi tiga lapisan yakni, lapisan hangat di bagian permukaan dimana pada lapisan ini gradien suhu berubah secara perlahan, lapisan termoklin di tengah dimana suhu gradien suhu berubah  secara cepat terhadap kedalaman, dan lapisan dingin di bagian bawah lapisan termoklin dimana suhu air laut konstan sebesar 4°C (Nontji, 1987). Suhu permukaan laut di Indonesia umumnya berkisar antara 28 – 31 ºC yang merupakan ciri perairan tropis. Variasi suhu tahunan rata-rata cenderung kurang dari 2 ºC. Soegiarto  dan Birowo  (1975), mengemukakan bahwa  suhu  permukaan  di  perairan Indonesia berkisar antara 28-30º C dan di daerah upwelling suhunya dapat turun mencapai 25 oC dan secara horisontal suhu permukaan laut di perairan Indonesia  memiliki  variasi  tahunan  yang  rendah,  namun  variasi  tersebut masih menunjukkan  perubahan  musiman.  Perubahan  ini  dipengaruhi  oleh  posisi matahari dan pengaruh massa air di daerah lintang tinggi. 

CARA MELAKUKAN PENDUGAAN POTENSI SUMBERDAYA IKAN

Kelimpahan sumberdaya hayati di suatu perairan selalu berubah-ubah secara dinamis. Pada suatu kurun waktu tertentu, diperlukan adanya kegiatan pendugaan kelimpahan stok, guna menduga; maximum sustainable yield (MSY), dan upaya penangkapan optimum (f-optimum). Pendugaan stok dapat dilakukan antara lain dengan; Metode Swept Area, atau Metode Surplus Produksi. Hasil pendugaan ini digunakan untuk melakukan manajemen perairan yang baik dan terpadu.

1. Metode Surplus Produksi
Tujuan utama dari model ini adalah untuk menentukan Maximum Sustainable Yield (MSY) selama ini, metode surplus produksi diterapkan pada tingkat stok, bukan individu. Stok dianggap sebagai kumpulan besar dari biomasa. Pertumbuhan stok, dalam konteks surplus produksi, mengacu pada laju perubahan biomasa stok, dan bukan pada perubahan individu. keuntungan terbesar dari model surplus produksi adalah hanya membutuhkan serangkaian data penangkapan dan upaya penangkapannya.

Data ini dapat diperoleh dari beberapa perikanan komersial. Sparre (1989) menyebukan bahwa tinjauan sudah dilakukan oleh Ricker (1975), Caddy (1980), Gulland (1983) dan Pauly (1984).

Maximum Sustainable Yield (MSY) diduga dari data input berupa:

  1. f(i) = effort dari tahun ke-i. i = 1,2,3,4, … n.
  2. C(i) = catch (in weight) pada tahun i. i = 1,2, 3 … n.

C/f (CPUE) dari seluruh kegiatan perikanan selama tahun i dapat diturunkan dari C(i) dan f(i)yang bersesuaian, dengan cara:

C / f = C(i) / f(i)

dimana:
C(i)catch pada tahun i;
F(i)effort pada tahun i
.
Effort yang digunakan adalah effort yang berasal dari kapal standar pertahun. Oleh karena kapal terdiri atas berbagai jenis dan ukuran, maka effort dari masing-masing kategori ukuran kapal harus dikonversikan ke dalam satu unit standar sebelum dihitung sebagai effort total.

Trend CPUE memperlihatkan suatu trend penurunan, untuk setiap kenaikan effort. Hal ini berarti terdapat keadaan semakin kecilnya bagian per kapal dengan semakin banyaknya kapal. Keadaan ini didasarkan pada anggapan bahwa biomasa stok adalah terbatas yang dibagi untuk kapal yang melakukan kegiatan perikanan, terdapat dua model yang mengekspresikan CPUE, yaitu:

  1. Model Schaefer (1954) yang linier,
  2. Model Fox (1970) yang logaritmik.

Sparre (1989) berpendapat bahwa tidak dapat dibuktikan salah satu dari kedua model tersebut adalah lebih baik daripada model yang lain.

Persamaan Matematik Model Schaefer

Persamaan Matematik Model Fox

dimana
q = koefisien kemampuan tangkap
B = biomasa
a,c = intersep
b,d = slope atau gradient

Perbedaan antara kedua model (Sparre, 1989) :

  1. Pada model Schaefer : adanya tingkat effort yang memberikan nilai nihil bagi stok, pada f = – a/b.
  2. Pada model Fox : adanya beberapa populasi yang berhasil hidup, bagaimanapun tingginya tingkat eksploitasi atas stok.

Kedua model sebenarnya sama baiknya. Namun model Schaefer lebih sederhana karena menggunakan pendekatan linier, bahwa CPUE hanya tergantung pada f. Effort (f) dalam konteks ini didefinisikan sebagai satu unit standar alat penangkap ikan yang melakukan kegiatan penangkapan terhadap stok pada daerah yang tengah diobservasi.

Model matematika Schaefer didefinisikan sebagai:

  1. Slope b harus negatif apabila C/f menurun dengan meningkatnya f.
  2. Intersep a adalah nilai C/f yang didapat oleh kapal pertama segera setelah menangkap ikan stok yang pertama. Oleh karena itu, intersep harus (+).
  3. Dengan demikian, -a/b menjadi positif, dan C/f = 0 pada saat f = a/b.
  4. Tidak ada nilai C/f yang negatif, maka model hanya dapat diterapkan pada harga f =< -a/b.

2. Tingkat pengusahaan
Menurut Dwiponggo yang diacu dalam Widiawati (2000) pembagian tingkat pengusahaan sumberdaya perikanan tangkap dibagi menjadi empat tahapan, yaitu:

  1. Pengusahaan yang rendah dengan hasil tangkapan sebagian kecil dari potensinya;
  2. Pengusahaan sedang dengan hasil tangkapan merupakan sebagian yang nyata dari potensi dan penambahan upaya penangkapan (effort) masih memungkinkan;
  3. Pengusahaan tinggi dengan hasil tangkapan sudah mencapai besar potensinya dan penambahan upaya penangkapan (effort) tidak akan menambah hasil tangkapan;
  4. Pengusahaan yang berlebihan (over fishing) dengan terjadi pengurangan
    stok ikan karena penangkapan sehingga hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan (CPUE) akan jauh berkurang.

3. RAPFISH
Rapfish (Rapidly Appraissal for Fisheries) adalah teknik terbaru yang dikembangkan oleh University of British Columbia Canada, yang merupakan analisis untuk mengevaluasi keberlanjutan (sustainability) dari perikanan secara multidisipliner.

Rapfish didasarkan pada teknik ordinasi (menempatkan sesuatu pada urutan atribut yang terukur) dengan menggunakan Multi-Dimensional Scaling (MDS). Pemilihan MDS dalam analisis Rapfish, dilakukan mengingat metode multivariate analysis yang lain seperti factor analysis dan Multi-Attribute Utility Theory (MAUT) terbukti tidak menghasilkan hasil yang stabil. MDS itu sendiri pada dasarnya adalah teknik statistik yang mencoba melakukan transformasi multi dimensi ke dalam dimensi yang lebih rendah.

Dimensi dalam Rapfish menyangkut aspek keberlanjutan dari ekologi, ekonomi, teknologi, sosial dan etik. Setiap dimensi memiliki atribut atau indikator yang terkait dengan keberlanjutan (sustainability) sebagaimana yang diisyaratkan dalam FAO Code of Conduct for Responsible Fisheries.

Menurut Pitcher and Preikshot (2001) analisis Rapfish dimulai dengan mereview atribut dan mendefinisikan perikanan yang akan dianalisis (misalnya vessel-base, area-base, atau berdasarkan periode waktu), kemudian dilanjutkan dengan skoring, yang didasarkan pada ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Rapfish. Setelah itu dilakukan MDS untuk menentukan posisi relatif dari perikanan terhadap ordinasi baik (good) dan buruk (bad). Selanjutnya analisis Monte Carlo dan Leverage dilakukan untuk menentukan aspek ketidak-pastian dan anomali dari atribut yang dianalisis.

Menurut Hartono, et.al (2005) hasil dari kegiatan pengembangan metode RAPFISH untuk mengkaji indikator kinerja pembangunan sektor perikanan tangkap sebagaimana diuraikan di atas kemudian dirangkum dalam suatu bentuk pedoman penentuan indikator kinerja pembangunan subsektor perikanan tangkap. Penyusunan pedoman ini diolah dari hasil berbagai riset yang mengacu pada konsep sustainable development diantaranya metode RAPFISH. Penyusunan pedoman ini lebih bertujuan sebagai sarana sosialisasi metode analisis multivarites berbasis multidimensional scaling (MDS), terutama yang diaplikasikan dalam metode RAPFISH.

EKOSISTEM LAUT

Ekosistem air laut merupakan salah satu jenis ekosistem di Bumi yang dikenal juga dengan ekosistem bahari. Ekosistem air laut ini merupakan ekosistem yang berada di perairan laut. Ekosistem air laut ini terdiri atas beberapa ekosistem lainnya yakni ekosistem perairan dalam, ekosistem pantai pasir dangkal atau bitarol, dan ekosistem pasang surut. Ekosistem air laut ini didominasi oleh perairan asin yang sangat luas dan merupakan ekosistem yang menjadi tempat tinggal berbagai biota laut, mulai dari hewan ber sel satu, mamalia, invertebrata, hingga tanaman- tanaman laut seperti alga dan terumbu karang.

Ciri-ciri Ekosistem Air Laut

Ekosistem air laut mempunyai ciri khusus yang membedakannya dengan ekosistem lainnya. Ciri- ciri ekosistem laut ini secara umum adalah sebagai berikut:

  • Mempunyai variasi suhu, yakni perbedaan suhu antara bagian permukaan laut dengan bagian dalam atau kedalaman air laut.
  • Memiliki tingkat salinitas yang tinggi, yakni semakin mendekati garis khatulistiwa maka salinitas semakin tinggi.
  • Tidak terlalu dipengaruhi oleh keadaan iklim dan juga cuaca (baca: iklim di Indonesia).
  • Didominasi oleh NaCI hingga mencapai 75%.

Bagian-bagian Ekosistem Air Laut

Sebagai suatu Ekosistem, ekosistem laut ini terdiri atas beberapa bagian. Secara umum, bagian- bagian dari ekosistem air laut ini dilihat dari jarak dari pantai dan juga kedalamannya. Dilihat dari sudut tersebut, ekosistem air laut dibedakan menjadi zona litoral, zona neritik, dan juga zona oseanik.

1. Zona litoral

Zona litoral ini juga disebut sebagai zona pasang surut, yakni merupakan zona yang paling atas atau paing dangkal dari lautan. Zona litoral ini merupakan zona dari laut yang berbatasan langsung dengan daratan. zona litoral ini juga merupakan zona yang terendam ketika air laut mengalami pasang, dan akan terlihat seperti daratan ketika air laut surut. Di zona litoral ini, kita akan menemukan banyak hewan atau sekelompok hewan, diantaranya adalah bintang laut, udang, kepiting, bulu babi, hingga cacing laut.

2. Zona neritik

Zona yang kedua adalah zona neritik. Zona neritik ini disebut juga dengan ekosistem pantai pasir dangkal. Zona neritik ini merupakan bagian dari laut yang mempunyai tingkat kedalaman sekitar 200 meter, sehingga masih dapat ditembus oleh cahaya matahari hingga ke bagian dasar. zona neritik ini merupakan zona yang banyak dihuni oleh berbagai jenis tumbuhan ganggang lalu atau rerumputan laut dan juga berbagai jenis ikan. Do zona neritik ini kita akan menemukan suatu ekosistem lainnya yang lebih kecil, yakni ekosistem terumbu karang, ekosistem pantai batu, dan ekosistem pantai lumpur. Ketiga ekosistem tersebut disebut juga sebagai jenis- jenis dari ekosistem pantai pasir dangkal atau zona neritik ini.

3. Zona oseanik

Dari kedua zonae sebelumnya, yakni zona litoral dan zona neritik, zona oseanik merupakan zona yang paling dalam dari ekosistem air laut. Zona oseanik ini merupakan wilayah ekosistem air laut yang lepas, yang mana kedalamannya sangat dalam. Saking dalamnya, zona ini sampai terlihat gelap. Zona oseanik ini dibedakan menjadi dua macam, yakni zona batial dan juga zona abisal. Zona batial merupakan zona yang memiliki kedalaman sekitaran 200 hingga 2000 meter. Zona batial mempunyai keadaan yang remang- remang karena cahaya matahari yang masuk hanya sidkit sekali, sehingga tanpak remang- remang.

Di zona batial ini kita tidak bisa menemukan produsen karena hanya dihuni oleh nekton (sejenis organisme yang aktif berenang). Sementara zona abisal merupakan zona yang memiliki kedalaman yang lebih jauh lagi yakni lebih dari 2000 meter. Zona abisal ini merupakan zona yang sama sekali tidak dapat ditembus oleh cahaya matahari. Zona abisal ini dihuni oleh binatang- binatang predator, detrivitor atau pemakan sisa organisme, dan juga pengurai. Secara umum, air di zona oseanik ini tidak dapat bercampur dengan dengan air di permukaan air laut, hal ini karena keduanya memiliki perbedaan suhu. Batas dari kedua bagian ini dinamakan daerah termoklin.

RAJUNGAN

Rajungan adalah nama sekelompok kepiting dari beberapa marga anggota suku Portunidae. Jenis-jenis kepiting ini dapat berenang dan sepenuhnya hidup di laut.

Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Subfilum: Crustacea
Kelas: Malacostraca
Ordo: Decapoda
Infraordo: Brachyura
Superfamili: Portunoidea
Famili: Portunidae
Rafinesque, 1815 [1]

Beberapa jenis rajungan yang biasa didapati dan dijual di Indonesia antara lain :

  • Portunus pelagicus, rajungan biasa
  • Portunus sanguinolentus, rajungan bintang
  • Charybdis feriatus, rajungan karang
  • Podophthalmus vigil, rajungan angina

Karakteristik

Rajungan memiliki kulit luar (cangkang) keras. Lebarnya bisa mencapai 2x panjang. Pada ujung depan kulit luar terdapat 9 buah duri (anterolateral tooth), duri terakhir lebih besar dan panjang. Kaki belakang terakhir pipih dan bulat. Semua kaki berbulu, kecuali kaki pertama.

Habitat

Rajungan atau Swimming Crabs termasuk jenis organisme bentik dan semipelagik dengan tingkah laku yang sangat beragam. Makanan utamanya adalah Detritus dengan tingkah laku filter feeder.

Alat Tangkap

Jenis yang komersial di Indonesia termasuk Portunus pelagicus, P. sanguinolentus dan P. trituberculatus. Alat tangkap yang biasa dipakai adalah Bagan yang dilengkapi dengan umpan, jermal, Bubu dan jaring

SEA CUCUMBER

Ikan Teripang atau Sea Cucumber termasuk komoditas ekonomis penting belakangan ini karena prospeknya sebagai komoditas ekspor. Sebelum dijual hasil, teripang diproses melalui pemasakan, pengasapan dan pengeringan. Harga teripang kering mencapai ratusan ribu rupiah. Teripang umumnya ditangkap dengan menyelam menggunakan hookah kompresor. Pada awalnya, Teripang ditangkap oleh nelayan pada saat air surut (meting) dengan menggunakan sumpit atau diambil langsung dengan tangan. Sebagai jenis organisme yang sesil (menetap) dan meningkatnya permintaan ekspor, populasi Teripang cepat mengalami penurunan sehingga penangkapan dilakukan pada perairan yang lebih dalam.

Karakteristik ikan Teripang atau Sea Cucumber

  • Badan bulat panjang seperti tabung.
  • Seluruh tubuh ditutupi oleh duri-duri lunak (podia).
  • Tubuh ditutupi oleh selapis kulit yang agak tebal.
  • Pada ujungnya terdapat saluran untuk menghisap dan pembuangan (mouth dan anus). Teripang yang tertangkap di Indonesia berasal dari spesies yang beragam.

Habitat ikan Teripang atau Sea Cucumber

Teripang termasuk jenis dasar (demersal) dengan habitat utama pasir maupun terumbu karang. Individu yang masih muda umumnya berada pada perairan yang lebih dangkal (reef flat), setelah dewasa memilih perairan lebih dalam atau pada Terumbu Karang bagian luar (outer reef slope). Termasuk jenis organisme scavenger atau filter feeder, jenis makanannya adalah Detritus.

Karakteristik

Teripang memiliki badan bulat panjang seperti tabung. Seluruh tubuh ditutupi oleh duri-duri lunak (podia). Tubuh ditutupi oleh selapis kulit yang agak tebal. Pada ujungnya terdapat saluran untuk menghisap dan pembuangan (mouth dan anus). Teripang yang tertangkap di Indonesia berasal dari spesies yang beragam.

Habitat

Teripang termasuk jenis dasar (demersal) dengan habitat utama pasir maupun Terumbu Karang. Individu yang masih muda umumnya berada pada perairan yang lebih dangkal (reef flat), setelah dewasa memilih perairan lebih dalam atau pada Terumbu Karang bagian luar (outer reef slope). Termasuk jenis organisme scavenger atau filter feeder, jenis makanannya adalah Detritus.

Alat Tangkap

Teripang termasuk komoditas ekonomis penting belakangan ini karena prospeknya sebagai komoditas ekspor. Sebelum dijual hasil tangkapan diproses pemasakan, pengasapan dan pengeringan.  Harga teripang kering mencapai ratusan ribu rupiah. Teripang umumnya ditangkap dengan menyelam menggunakan hookah kompresor. Pada awalnya, Teripang ditangkap oleh nelayan pada saat air surut (meting) dengan menggunakan sumpit atau diambil langsung dengan tangan. Sebagai jenis organisme yang sesil (menetap) dan meningkatnya permintaan ekspor, populasi Teripang cepat mengalami penurunan sehingga penangkapan dilakukan pada perairan yang lebih dalam.

Teripang merupakan salah satu anggota hewan filum Echinodermata. Duri teripang merupakan butir-butir kapur mikroskopis yang terbenam dalam jaringan dinding tubuh (Hyman 1955; Lawrence 1987).

Klasifikasi Teripang


Teripang atau trepang atau timun laut adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata Holothuroidea yang dapat dimakan. Ia tersebar luas di lingkungan laut di seluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat. Klasifikasi teripang adalah sebagai berikut :

Kingdom: Animalia
Filum: Echinodermata
Subfilum: Echinozoa
Kelas: Holothuroidea

Morfologi Teripang


Teripang umumnya memiliki tubuh lunak dan kasar karena adanya spikula pada dinding tubuh (Hyman 1955). Permukaan tubuh tidak bersilia dan diselimuti oleh lapisan kapur yang tebal tipisnya tergantung umur. Di sepanjang mulut ke anus terdapat lima deretan kaki tabung, terdiri dari tiga deretan kaki tabung dengan penghisap pada bagian perut (trivium) yang berperan dalam respirasi (Lawrence 1987). Di bawah lapisan kulit terdapat satu lapis otot melingkar dan lima lapis otot memanjang. Sesudah lapisan otot terdapat rongga tubuh yang berisi organ-organ tubuh seperti gonad dan usus (Storer et al. 1979).

Secara umum di dalam selaput dinding tubuh teripang terdapat selaput otot melingkar, lima pasang otot longitudinal, saluran pencernaan yang panjang dan melingkar, kerongkongan yang pendek, lambung terlihat membesar, usus halus panjang dan bermuara ke dalam kloaka dengan dinding bersifat muskular, kemudian kloaka bermuara keluar melalui anus yang terletak pada ujung yang lain (Pangabean 1987)

Warna teripang bervariasi tergantung jenisnya, mulai dari berwarna putih, hitam, coklat kehijauan, abu-abu, dan bahkan ada beberapa jenis yang mempunyai warna terang seperti merah muda, orange, ungu dan kadang-kadang bergaris-garis atau belang-belang (Ruppert dan Barnes 1994; Wibowo et al. 1997). Perbedaan warna ini terkadang digunakan dalam membedakan jenis teripang (Barnes 1987). Teripang pasir (Holothuria scabra), mempunyai punggung berwarna abu-abu atau kehitaman dengan bintik-bintik putih atau kuning.

Ukuran tubuh teripang bervariasi untuk setiap jenisnya. Misalnya, jenis Holothuria atra dapat mencapai panjang 60 cm dan berat 2 kg, jenis teripang pasir atau teripang putih (Holothuria scabra) panjangnya 25 – 35 cm dengan berat antara 0.25 – 0.35 kg (M’Boy 2014).

Sistem Pencernaan


Sistem pencernaan teripang berbentuk tabung memanjang terdiri dari tentakel, mulut, kerongkongan, tenggorokan, perut besar, usus halus, kloaka dan anus. Mulut dan anus teripang terletak pada ujung poros yang berlawanan, yaitu anus berada pada bagian anterior dan anus berada pada bagian posterior. Mulut teripang dikelilingi oleh 10 – 30 tentakel yang dapat dijulurkan dan ditarik kembali dengan cepat. Tentakel-tentakel ini merupakan modifikasi dari kaki tabung yang berfungsi untuk menangkap makanan (Storer et al. 1979; Lawrence 1987).

Teripang memiliki dua cara makan yaitu dengan menangkap plankton dengan tentakelnya dan dengan menelan pasir. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan (food chain) di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder) (Darsono 2005).

Pada umumnya makanan teripang terdiri atas partikel-partikel organik yang banyak terdapat pada pasir dan lumpur. Makanan teripang terdiri atas detritus, rumput laut dan organisme-organisme kecil seperti diatom, protozoa, nematoda, alga, filamen, copepoda, ostracoda. Selain itu, ditemukan pula foraminifera, radiolarian, partikel-partikel pasir atau hancuran batu karang dan cangkang-cangkang hewan (M’Boy 2014).

Parameter Fisika Kimia


Kelangsungan hidup teripang dipengaruhi oleh sifat kimia-fisika perairan. Perubahan kondisi suatu perairan dapat menimbulkan akibat yang merugikan terhadap populasi ataupun terhadap komunitas dari suatu organisme yang hidup didalamnya. Perubahan kondisi suatu perairan dapat terjadi karena pengaruh alamiah maupun karena aktifitas manusia.

  1. Suhu

Kisaran suhu perairan yang disukai oleh teripang adalah 20-25 derajat C (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1993). Pendapat lainnya menyebutkan bahwa suhu optimal untuk kehidupan teripang adalah pada suhu 26-31 derajat C (Bakus, 1973).

  • Salinitas

Pada umumnya teripang menyukai perairan yang bersih dan jernih dengan salinitas laut optimum sekitar 32-35% (James et al., 1988). Perubahan salinitas melebihi 3% dari kisaran optimumnya akan menyebabkan terjadinya pengelupasan kulit yang dalam kondisi ekstrim dapat menyebabkan kematian teripang. Teripang umumnya dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan salinitas sampai batas tertentu dengan adanya mekanisme osmoregulasi. Semakin tinggi salinitas semakin besar tekanan osmosisnya. Semakin besar perbedaan antara tekanan osmosis tubuh teripang dengan lingkungan maka semakin besar energi yang diperlukan untuk menyesuaikan diri.

  • Arus

Umumnya teripang dapat hidup dan berkembang dengan baik pada perairan yang tenang, namun perubahan kecepatan arus dapat ditolerir teripang dengan syarat nilai suhu dan salinitasnya relatif konstan (Cannon and Silver, 1986).

  • Kecerahan

Pada perairan alami kecerahan sangatlah erat hubungannya dengan proses fotosintesis. Kecerahan merupakan suatu fungsi dari intensitas cahaya, faktor yang dapat mempengaruhi kecerahan pada suatu perairan adalah kandungan lumpur, plankton, dan zat-zat terlarut lainnya. Untuk pertumbuhan optimal, teripang membutuhkan habitat dengan kecerahan perairan 50-150 cm (Sutaman, 2003). Kecerahan yang tinggi merupakan syarat untuk berlangsungnya fotosintesis fitoplankton yang baik.

  • Derajat keasaman (pH)

Derajat keasaman adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan menunjukkan suasana air tersebut apakah dapat bereaksi dengan asam atau basa. Tingkat kesuburan perairan berdasarkan pH yaitu tidak produktif: 5,5-6,5, produktif: 6,5-7,5, dan sangat produktif: 7,5-8,5 (Ngurah, 1983 dalam Bandjar dkk, 1988). Batas toleransi organisme perairan terhadap perairan bervariasi dan dipengaruhi banyak faktor antara lain suhu, oksigen terlarut, alkalinitas. Untuk Teripang, derajat keasaman yang disukai umumnya pada kisaran 6,5-8,5 (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2005).

  • Kandungan oksigen terlarut (DO)

Oksigen di perairan berasal dari difusi udara maupun dari proses fotosintesis oleh organisme seperti fitoplankton dan tumbuhan air. Oksigen dikonsumsi oleh tumbuhan dan hewan secara terus menerus selama aktifitas respirasi. Nilai oksigen terlarut (DO) yang optimum untuk pertumbuhan teripang minimal adalah 3 ppm (Sutaman, 1993). Pendapat lain mengatakan bahwa kandungan oksigen terlarut (DO) optimum untuk teripang yaitu pada kisaran 4-8 ppm (Martoyo dkk, 1994).

  • Substrat

Sedimen adalah materi atau mineral yang tenggelam dan mengendap di dasar perairan. Sedimen di dasar perairan merupakan substrat dimana terdapat kehidupan dasar. Tipe substrat dasar yang mempunyai penyebaran besar butir tertentu dapat merupakan suatu ekosistem bagi kehidupan organisme dasar. Substrat dasar perairan dapat dibedakan atas enam jenis yaitu: lumpur, pasir, liat, kerikil, batu dan liat berpasir. Biasanya teripang lebih senang dengan substrat pasir dengan patahan karang atau pasir berlumpur sebagai tempat mencari makan karena mengandung banyak detritus dan mampu menjadi tempat persembunyian dari berbagai predator.