Kelimpahan sumberdaya
hayati di suatu perairan selalu berubah-ubah secara dinamis. Pada suatu kurun
waktu tertentu, diperlukan adanya kegiatan pendugaan kelimpahan stok, guna
menduga; maximum sustainable yield (MSY), dan upaya penangkapan optimum (f-optimum).
Pendugaan stok dapat dilakukan antara lain dengan; Metode Swept Area, atau
Metode Surplus Produksi. Hasil pendugaan ini digunakan untuk melakukan
manajemen perairan yang baik dan terpadu.
1.
Metode Surplus Produksi
Tujuan utama dari model ini adalah untuk menentukan Maximum Sustainable Yield
(MSY) selama ini, metode surplus produksi diterapkan pada tingkat stok, bukan individu.
Stok dianggap sebagai kumpulan besar dari biomasa. Pertumbuhan stok, dalam
konteks surplus produksi, mengacu pada laju perubahan biomasa stok, dan bukan
pada perubahan individu. keuntungan terbesar dari model surplus produksi adalah
hanya membutuhkan serangkaian data penangkapan dan upaya penangkapannya.
Data
ini dapat diperoleh dari beberapa perikanan komersial. Sparre (1989) menyebukan
bahwa tinjauan sudah dilakukan oleh Ricker (1975), Caddy (1980), Gulland (1983)
dan Pauly (1984).
Maximum Sustainable Yield (MSY) diduga dari data input berupa:
f(i) =
effort dari tahun ke-i. i = 1,2,3,4, … n.
C(i) =
catch (in weight) pada tahun i. i = 1,2, 3 … n.
C/f
(CPUE) dari seluruh kegiatan perikanan selama tahun i dapat diturunkan dari C(i) dan f(i)yang bersesuaian, dengan cara:
C / f = C(i) /
f(i)
dimana:
C(i) = catch pada tahun i;
F(i) = effort pada tahun i
.
Effort yang digunakan adalah effort yang berasal dari kapal standar pertahun.
Oleh karena kapal terdiri atas berbagai jenis dan ukuran, maka effort dari
masing-masing kategori ukuran kapal harus dikonversikan ke dalam satu unit
standar sebelum dihitung sebagai effort total.
Trend
CPUE memperlihatkan suatu trend penurunan, untuk setiap kenaikan effort. Hal
ini berarti terdapat keadaan semakin kecilnya bagian per kapal dengan semakin
banyaknya kapal. Keadaan ini didasarkan pada anggapan bahwa biomasa stok adalah
terbatas yang dibagi untuk kapal yang melakukan kegiatan perikanan, terdapat
dua model yang mengekspresikan CPUE, yaitu:
Model Schaefer (1954) yang
linier,
Model Fox (1970) yang
logaritmik.
Sparre
(1989) berpendapat bahwa tidak dapat dibuktikan salah satu dari kedua model
tersebut adalah lebih baik daripada model yang lain.
Persamaan Matematik Model Schaefer
Persamaan Matematik Model Fox
dimana
q = koefisien kemampuan tangkap
B = biomasa
a,c = intersep
b,d = slope atau gradient
Perbedaan
antara kedua model (Sparre, 1989) :
Pada model Schaefer : adanya
tingkat effort yang memberikan nilai nihil bagi stok, pada f = – a/b.
Pada model Fox : adanya
beberapa populasi yang berhasil hidup, bagaimanapun tingginya tingkat
eksploitasi atas stok.
Kedua
model sebenarnya sama baiknya. Namun model Schaefer lebih sederhana karena
menggunakan pendekatan linier, bahwa CPUE hanya tergantung pada f. Effort (f)
dalam konteks ini didefinisikan sebagai satu unit standar alat penangkap ikan
yang melakukan kegiatan penangkapan terhadap stok pada daerah yang tengah
diobservasi.
Model matematika Schaefer didefinisikan sebagai:
Slope b harus negatif apabila
C/f menurun dengan meningkatnya f.
Intersep a adalah nilai C/f
yang didapat oleh kapal pertama segera setelah menangkap ikan stok yang
pertama. Oleh karena itu, intersep harus (+).
Dengan demikian, -a/b menjadi
positif, dan C/f = 0 pada saat f = a/b.
Tidak ada nilai C/f yang
negatif, maka model hanya dapat diterapkan pada harga f =< -a/b.
2.
Tingkat pengusahaan
Menurut Dwiponggo yang diacu dalam Widiawati (2000) pembagian tingkat
pengusahaan sumberdaya perikanan tangkap dibagi menjadi empat tahapan, yaitu:
Pengusahaan yang rendah dengan
hasil tangkapan sebagian kecil dari potensinya;
Pengusahaan sedang dengan hasil
tangkapan merupakan sebagian yang nyata dari potensi dan penambahan upaya
penangkapan (effort) masih memungkinkan;
Pengusahaan tinggi dengan hasil
tangkapan sudah mencapai besar potensinya dan penambahan upaya penangkapan
(effort) tidak akan menambah hasil tangkapan;
Pengusahaan yang berlebihan
(over fishing) dengan terjadi pengurangan
stok ikan karena penangkapan sehingga hasil tangkapan per satuan upaya
penangkapan (CPUE) akan jauh berkurang.
3.
RAPFISH Rapfish (Rapidly Appraissal for Fisheries) adalah teknik
terbaru yang dikembangkan oleh University of British Columbia Canada, yang
merupakan analisis untuk mengevaluasi keberlanjutan (sustainability) dari
perikanan secara multidisipliner.
Rapfish
didasarkan pada teknik ordinasi (menempatkan sesuatu pada urutan atribut yang
terukur) dengan menggunakan Multi-Dimensional Scaling (MDS). Pemilihan MDS
dalam analisis Rapfish, dilakukan mengingat metode multivariate analysis yang
lain seperti factor analysis dan Multi-Attribute Utility Theory (MAUT) terbukti
tidak menghasilkan hasil yang stabil. MDS itu sendiri pada dasarnya adalah
teknik statistik yang mencoba melakukan transformasi multi dimensi ke dalam
dimensi yang lebih rendah.
Dimensi
dalam Rapfish menyangkut aspek keberlanjutan dari ekologi, ekonomi,
teknologi, sosial dan etik. Setiap dimensi memiliki atribut atau indikator yang
terkait dengan keberlanjutan (sustainability) sebagaimana yang diisyaratkan
dalam FAO Code of Conduct for Responsible Fisheries.
Menurut
Pitcher and Preikshot (2001) analisis Rapfish dimulai dengan mereview atribut
dan mendefinisikan perikanan yang akan dianalisis (misalnya vessel-base,
area-base, atau berdasarkan periode waktu), kemudian dilanjutkan dengan
skoring, yang didasarkan pada ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Rapfish.
Setelah itu dilakukan MDS untuk menentukan posisi relatif dari perikanan
terhadap ordinasi baik (good) dan buruk (bad). Selanjutnya analisis Monte Carlo
dan Leverage dilakukan untuk menentukan aspek ketidak-pastian dan anomali dari
atribut yang dianalisis.
Menurut
Hartono, et.al (2005) hasil dari kegiatan pengembangan metode RAPFISH untuk
mengkaji indikator kinerja pembangunan sektor perikanan tangkap sebagaimana
diuraikan di atas kemudian dirangkum dalam suatu bentuk pedoman penentuan
indikator kinerja pembangunan subsektor perikanan tangkap. Penyusunan pedoman
ini diolah dari hasil berbagai riset yang mengacu pada konsep sustainable
development diantaranya metode RAPFISH. Penyusunan pedoman ini lebih bertujuan
sebagai sarana sosialisasi metode analisis multivarites berbasis
multidimensional scaling (MDS), terutama yang diaplikasikan dalam metode
RAPFISH.
Ekosistem air
laut merupakan salah satu jenis ekosistem di Bumi yang dikenal juga dengan
ekosistem bahari. Ekosistem air laut ini merupakan ekosistem yang berada di
perairan laut. Ekosistem air laut ini terdiri atas beberapa ekosistem lainnya
yakni ekosistem perairan dalam, ekosistem pantai pasir dangkal atau bitarol,
dan ekosistem pasang surut. Ekosistem air laut ini didominasi oleh perairan
asin yang sangat luas dan merupakan ekosistem yang menjadi tempat tinggal
berbagai biota laut, mulai dari hewan ber sel satu, mamalia, invertebrata,
hingga tanaman- tanaman laut seperti alga dan terumbu karang.
Ciri-ciri Ekosistem Air Laut
Ekosistem air
laut mempunyai ciri khusus yang membedakannya dengan ekosistem lainnya. Ciri-
ciri ekosistem laut ini secara umum adalah sebagai berikut:
Mempunyai variasi
suhu, yakni perbedaan suhu antara bagian permukaan laut dengan bagian dalam
atau kedalaman air laut.
Memiliki tingkat
salinitas yang tinggi, yakni semakin mendekati garis khatulistiwa maka
salinitas semakin tinggi.
Tidak terlalu
dipengaruhi oleh keadaan iklim dan juga cuaca (baca: iklim di Indonesia).
Didominasi oleh NaCI
hingga mencapai 75%.
Bagian-bagian Ekosistem Air Laut
Sebagai suatu Ekosistem,
ekosistem laut ini terdiri atas beberapa bagian. Secara umum, bagian- bagian
dari ekosistem air laut ini dilihat dari jarak dari pantai dan juga
kedalamannya. Dilihat dari sudut tersebut, ekosistem air laut dibedakan menjadi
zona litoral, zona neritik, dan juga zona oseanik.
1. Zona litoral
Zona
litoral ini juga disebut sebagai zona pasang surut, yakni merupakan zona yang
paling atas atau paing dangkal dari lautan. Zona litoral ini merupakan zona
dari laut yang berbatasan langsung dengan daratan. zona litoral ini juga
merupakan zona yang terendam ketika air laut mengalami pasang, dan akan
terlihat seperti daratan ketika air laut surut. Di zona litoral ini, kita akan
menemukan banyak hewan atau sekelompok hewan, diantaranya adalah bintang
laut, udang, kepiting, bulu babi, hingga cacing laut.
2. Zona neritik
Zona
yang kedua adalah zona neritik. Zona neritik ini disebut juga dengan ekosistem
pantai pasir dangkal. Zona neritik ini merupakan bagian dari laut yang
mempunyai tingkat kedalaman sekitar 200 meter, sehingga masih dapat ditembus
oleh cahaya matahari hingga ke bagian dasar. zona neritik ini merupakan zona
yang banyak dihuni oleh berbagai jenis tumbuhan ganggang lalu atau rerumputan
laut dan juga berbagai jenis ikan. Do zona neritik ini kita akan menemukan
suatu ekosistem lainnya yang lebih kecil, yakni ekosistem terumbu karang,
ekosistem pantai batu, dan ekosistem pantai lumpur. Ketiga ekosistem tersebut
disebut juga sebagai jenis- jenis dari ekosistem pantai pasir dangkal atau zona
neritik ini.
3. Zona oseanik
Dari
kedua zonae sebelumnya, yakni zona litoral dan zona neritik, zona oseanik
merupakan zona yang paling dalam dari ekosistem air laut. Zona oseanik ini
merupakan wilayah ekosistem air laut yang lepas, yang mana kedalamannya sangat
dalam. Saking dalamnya, zona ini sampai terlihat gelap. Zona oseanik ini
dibedakan menjadi dua macam, yakni zona batial dan juga zona abisal. Zona
batial merupakan zona yang memiliki kedalaman sekitaran 200 hingga 2000 meter.
Zona batial mempunyai keadaan yang remang- remang karena cahaya matahari yang
masuk hanya sidkit sekali, sehingga tanpak remang- remang.
Di
zona batial ini kita tidak bisa menemukan produsen karena hanya dihuni oleh
nekton (sejenis organisme yang aktif berenang). Sementara zona abisal merupakan
zona yang memiliki kedalaman yang lebih jauh lagi yakni lebih dari 2000 meter.
Zona abisal ini merupakan zona yang sama sekali tidak dapat ditembus oleh cahaya
matahari. Zona abisal ini dihuni oleh binatang- binatang predator, detrivitor
atau pemakan sisa organisme, dan juga pengurai. Secara umum, air di zona
oseanik ini tidak dapat bercampur dengan dengan air di permukaan air laut, hal
ini karena keduanya memiliki perbedaan suhu. Batas dari kedua bagian ini
dinamakan daerah termoklin.
Rajungan adalah
nama sekelompok kepiting dari beberapa marga anggota suku Portunidae.
Jenis-jenis kepiting ini dapat berenang dan sepenuhnya hidup di laut.
Beberapa
jenis rajungan yang biasa didapati dan dijual di Indonesia antara lain :
Portunus pelagicus, rajungan
biasa
Portunus
sanguinolentus, rajungan bintang
Charybdis feriatus,
rajungan karang
Podophthalmus vigil,
rajungan angina
Karakteristik
Rajungan memiliki
kulit luar (cangkang) keras. Lebarnya bisa mencapai 2x panjang. Pada ujung depan
kulit luar terdapat 9 buah duri (anterolateral tooth), duri terakhir lebih
besar dan panjang. Kaki belakang terakhir pipih dan bulat. Semua kaki berbulu,
kecuali kaki pertama.
Habitat
Rajungan atau Swimming
Crabs termasuk jenis organisme bentik dan semipelagik dengan tingkah laku yang
sangat beragam. Makanan utamanya adalah Detritus dengan tingkah laku filter
feeder.
Alat Tangkap
Jenis yang komersial
di Indonesia termasuk Portunus pelagicus, P. sanguinolentus dan P.
trituberculatus. Alat tangkap yang biasa dipakai adalah Bagan yang dilengkapi
dengan umpan, jermal, Bubu dan jaring
Ikan Teripang atau Sea Cucumber termasuk komoditas
ekonomis penting belakangan ini karena prospeknya sebagai komoditas ekspor.
Sebelum dijual hasil, teripang diproses melalui pemasakan, pengasapan dan
pengeringan. Harga teripang kering mencapai ratusan ribu rupiah. Teripang
umumnya ditangkap dengan menyelam menggunakan hookah kompresor. Pada awalnya,
Teripang ditangkap oleh nelayan pada saat air surut (meting) dengan menggunakan
sumpit atau diambil langsung dengan tangan. Sebagai jenis organisme yang sesil
(menetap) dan meningkatnya permintaan ekspor, populasi Teripang cepat mengalami
penurunan sehingga penangkapan dilakukan pada perairan yang lebih dalam.
Karakteristik ikan Teripang atau Sea Cucumber
Badan bulat panjang
seperti tabung.
Seluruh tubuh ditutupi
oleh duri-duri lunak (podia).
Tubuh ditutupi oleh
selapis kulit yang agak tebal.
Pada ujungnya terdapat
saluran untuk menghisap dan pembuangan (mouth dan anus). Teripang yang
tertangkap di Indonesia berasal dari spesies yang beragam.
Habitat ikan Teripang atau Sea Cucumber
Teripang
termasuk jenis dasar (demersal) dengan habitat utama pasir maupun terumbu
karang. Individu yang masih muda umumnya berada pada perairan yang lebih
dangkal (reef flat), setelah dewasa memilih perairan lebih dalam atau
pada Terumbu Karang bagian luar (outer reef slope). Termasuk jenis
organisme scavenger atau filter feeder, jenis makanannya adalah Detritus.
Karakteristik
Teripang memiliki
badan bulat panjang seperti tabung. Seluruh tubuh ditutupi oleh duri-duri lunak
(podia). Tubuh ditutupi oleh selapis kulit yang agak tebal. Pada ujungnya
terdapat saluran untuk menghisap dan pembuangan (mouth dan anus). Teripang yang
tertangkap di Indonesia berasal dari spesies yang beragam.
Habitat
Teripang termasuk
jenis dasar (demersal) dengan habitat utama pasir maupun Terumbu Karang.
Individu yang masih muda umumnya berada pada perairan yang lebih dangkal (reef
flat), setelah dewasa memilih perairan lebih dalam atau pada Terumbu Karang
bagian luar (outer reef slope). Termasuk jenis organisme scavenger atau
filter feeder, jenis makanannya adalah Detritus.
Alat Tangkap
Teripang termasuk
komoditas ekonomis penting belakangan ini karena prospeknya sebagai komoditas
ekspor. Sebelum dijual hasil tangkapan diproses pemasakan, pengasapan dan
pengeringan. Harga teripang kering mencapai ratusan ribu rupiah.
Teripang umumnya ditangkap dengan menyelam menggunakan hookah kompresor. Pada
awalnya, Teripang ditangkap oleh nelayan pada saat air surut (meting) dengan
menggunakan sumpit atau diambil langsung dengan tangan. Sebagai jenis organisme
yang sesil (menetap) dan meningkatnya permintaan ekspor, populasi
Teripang cepat mengalami penurunan sehingga penangkapan dilakukan pada perairan
yang lebih dalam.
Teripang merupakan salah satu anggota hewan filum
Echinodermata. Duri teripang merupakan butir-butir kapur mikroskopis yang
terbenam dalam jaringan dinding tubuh (Hyman 1955; Lawrence 1987).
Klasifikasi Teripang
Teripang
atau trepang atau timun laut adalah istilah yang diberikan untuk hewan
invertebrata Holothuroidea yang dapat dimakan. Ia tersebar luas di lingkungan
laut di seluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama
di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat. Klasifikasi teripang adalah
sebagai berikut :
Kingdom:
Animalia
Filum:
Echinodermata
Subfilum:
Echinozoa
Kelas:
Holothuroidea
Morfologi Teripang
Teripang
umumnya memiliki tubuh lunak dan kasar karena adanya spikula pada dinding tubuh
(Hyman 1955). Permukaan tubuh tidak bersilia dan diselimuti oleh lapisan kapur
yang tebal tipisnya tergantung umur. Di sepanjang mulut ke anus terdapat lima
deretan kaki tabung, terdiri dari tiga deretan kaki tabung dengan penghisap
pada bagian perut (trivium) yang berperan dalam respirasi (Lawrence 1987). Di
bawah lapisan kulit terdapat satu lapis otot melingkar dan lima lapis otot
memanjang. Sesudah lapisan otot terdapat rongga tubuh yang berisi organ-organ
tubuh seperti gonad dan usus (Storer et al. 1979).
Secara
umum di dalam selaput dinding tubuh teripang terdapat selaput otot melingkar,
lima pasang otot longitudinal, saluran pencernaan yang panjang dan
melingkar, kerongkongan yang pendek, lambung terlihat membesar, usus halus
panjang dan bermuara ke dalam kloaka dengan dinding bersifat muskular, kemudian
kloaka bermuara keluar melalui anus yang terletak pada ujung yang lain
(Pangabean 1987)
Warna
teripang bervariasi tergantung jenisnya, mulai dari berwarna putih, hitam,
coklat kehijauan, abu-abu, dan bahkan ada beberapa jenis yang mempunyai warna
terang seperti merah muda, orange, ungu dan kadang-kadang bergaris-garis atau
belang-belang (Ruppert dan Barnes 1994; Wibowo et al. 1997). Perbedaan warna
ini terkadang digunakan dalam membedakan jenis teripang (Barnes 1987). Teripang
pasir (Holothuria scabra), mempunyai punggung berwarna abu-abu atau kehitaman
dengan bintik-bintik putih atau kuning.
Ukuran
tubuh teripang bervariasi untuk setiap jenisnya. Misalnya, jenis Holothuria
atra dapat mencapai panjang 60 cm dan berat 2 kg, jenis teripang pasir atau
teripang putih (Holothuria scabra) panjangnya 25 – 35 cm dengan berat antara
0.25 – 0.35 kg (M’Boy 2014).
Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan
teripang berbentuk tabung memanjang terdiri dari tentakel, mulut, kerongkongan,
tenggorokan, perut besar, usus halus, kloaka dan anus. Mulut dan anus teripang
terletak pada ujung poros yang berlawanan, yaitu anus berada pada bagian
anterior dan anus berada pada bagian posterior. Mulut teripang dikelilingi oleh
10 – 30 tentakel yang dapat dijulurkan dan ditarik kembali dengan cepat.
Tentakel-tentakel ini merupakan modifikasi dari kaki tabung yang berfungsi
untuk menangkap makanan (Storer et al. 1979; Lawrence 1987).
Teripang
memiliki dua cara makan yaitu dengan menangkap plankton dengan tentakelnya dan
dengan menelan pasir. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan
(food chain) di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai
tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai
pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder)
(Darsono 2005).
Pada
umumnya makanan teripang terdiri atas partikel-partikel organik yang banyak
terdapat pada pasir dan lumpur. Makanan teripang terdiri atas detritus, rumput
laut dan organisme-organisme kecil seperti diatom, protozoa, nematoda, alga,
filamen, copepoda, ostracoda. Selain itu, ditemukan pula foraminifera,
radiolarian, partikel-partikel pasir atau hancuran batu karang dan
cangkang-cangkang hewan (M’Boy 2014).
Parameter
Fisika Kimia
Kelangsungan hidup teripang dipengaruhi oleh
sifat kimia-fisika perairan. Perubahan kondisi suatu perairan dapat menimbulkan
akibat yang merugikan terhadap populasi ataupun terhadap komunitas dari suatu
organisme yang hidup didalamnya. Perubahan kondisi suatu perairan dapat terjadi
karena pengaruh alamiah maupun karena aktifitas manusia.
Suhu
Kisaran
suhu perairan yang disukai oleh teripang adalah 20-25 derajat C (Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1993). Pendapat lainnya menyebutkan
bahwa suhu optimal untuk kehidupan teripang adalah pada suhu 26-31 derajat C
(Bakus, 1973).
Salinitas
Pada
umumnya teripang menyukai perairan yang bersih dan jernih dengan salinitas laut
optimum sekitar 32-35% (James et al., 1988). Perubahan salinitas melebihi 3%
dari kisaran optimumnya akan menyebabkan terjadinya pengelupasan kulit yang
dalam kondisi ekstrim dapat menyebabkan kematian teripang. Teripang umumnya
dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan salinitas sampai batas tertentu
dengan adanya mekanisme osmoregulasi. Semakin tinggi salinitas semakin besar
tekanan osmosisnya. Semakin besar perbedaan antara tekanan osmosis tubuh
teripang dengan lingkungan maka semakin besar energi yang diperlukan untuk
menyesuaikan diri.
Arus
Umumnya
teripang dapat hidup dan berkembang dengan baik pada perairan yang tenang,
namun perubahan kecepatan arus dapat ditolerir teripang dengan syarat nilai
suhu dan salinitasnya relatif konstan (Cannon and Silver, 1986).
Kecerahan
Pada
perairan alami kecerahan sangatlah erat hubungannya dengan proses fotosintesis.
Kecerahan merupakan suatu fungsi dari intensitas cahaya, faktor yang dapat
mempengaruhi kecerahan pada suatu perairan adalah kandungan lumpur, plankton,
dan zat-zat terlarut lainnya. Untuk pertumbuhan optimal, teripang membutuhkan
habitat dengan kecerahan perairan 50-150 cm (Sutaman, 2003). Kecerahan yang
tinggi merupakan syarat untuk berlangsungnya fotosintesis fitoplankton yang
baik.
Derajat
keasaman (pH)
Derajat
keasaman adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan menunjukkan
suasana air tersebut apakah dapat bereaksi dengan asam atau basa. Tingkat
kesuburan perairan berdasarkan pH yaitu tidak produktif: 5,5-6,5, produktif:
6,5-7,5, dan sangat produktif: 7,5-8,5 (Ngurah, 1983 dalam Bandjar dkk, 1988).
Batas toleransi organisme perairan terhadap perairan bervariasi dan dipengaruhi
banyak faktor antara lain suhu, oksigen terlarut, alkalinitas. Untuk Teripang,
derajat keasaman yang disukai umumnya pada kisaran 6,5-8,5 (Departemen Kelautan
dan Perikanan, 2005).
Kandungan
oksigen terlarut (DO)
Oksigen
di perairan berasal dari difusi udara maupun dari proses fotosintesis oleh
organisme seperti fitoplankton dan tumbuhan air. Oksigen dikonsumsi oleh
tumbuhan dan hewan secara terus menerus selama aktifitas respirasi. Nilai
oksigen terlarut (DO) yang optimum untuk pertumbuhan teripang minimal adalah 3
ppm (Sutaman, 1993). Pendapat lain mengatakan bahwa kandungan oksigen terlarut
(DO) optimum untuk teripang yaitu pada kisaran 4-8 ppm (Martoyo dkk, 1994).
Substrat
Sedimen
adalah materi atau mineral yang tenggelam dan mengendap di dasar perairan.
Sedimen di dasar perairan merupakan substrat dimana terdapat kehidupan dasar.
Tipe substrat dasar yang mempunyai penyebaran besar butir tertentu dapat
merupakan suatu ekosistem bagi kehidupan organisme dasar. Substrat dasar
perairan dapat dibedakan atas enam jenis yaitu: lumpur, pasir, liat, kerikil,
batu dan liat berpasir. Biasanya teripang lebih senang dengan substrat pasir
dengan patahan karang atau pasir berlumpur sebagai tempat mencari makan karena
mengandung banyak detritus dan mampu menjadi tempat persembunyian dari berbagai
predator.
Klasifikasi
alat penangkap ikan adalah cara
mengelompokkan alat penangkap ikan sesuai dengan tujuan dan peruntukkan
pengklasifikasiannya. Klasifikasi alat penangkap ikan telah ditentukan dan
disetujui baik secara internasional (ISSCFG─FAO) maupun nasional
(KAPI─Indonesia).
Alat penangkapan ikan adalah segala macam alat yang di
pergunakan dalam proses penangkapan ikan termasuk kapal, alat tangkap dan alat
bantu penangkapan. Pemerintah Indonesia, dalam rangka pengelolaan dan
pemanfaatan sumberdaya ikan secara optimal dan berkelanjutan, menetapkan Alat
Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia No. KEP.06/MEN/2010.
Alat
Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia
yang menurut jenisnya terdiri dari 10 (sepuluh) kelompok yaitu:
jaring lingkar (surrounding
nets);
pukat tarik (seine nets);
pukat hela (trawls);
penggaruk (dredges);
jaring angkat (lift nets);
alat yang dijatuhkan (falling
gears);
jaring insang (gillnets and
entangling nets);
perangkap (traps);
pancing (hooks and lines);
alat penjepit dan melukai (grappling
and wounding).
I. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING LINGKAR (SURROUNDING
NETS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan jaring lingkar adalah kelompok alat penangkapan
ikan berupa jaring berbentuk empat persegi panjang yang terdiri dari sayap,
badan, dilengkapi pelampung, pemberat, tali ris atas, tali ris bawah dengan
atau tanpa tali kerut/pengerut dan salah satu bagiannya berfungsi sebagai
kantong yang pengoperasiannya melingkari gerombolan ikan pelagis. (SNI
7277.3:2008)
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan jaring lingkar (Surrounding Nets): 01.0.0
Pukat cincin dengan
satu kapal (One boat operated purse seines), PS1,01.1.1:
Pukat cincin pelagis kecil dengan satu kapal,
PS1-K, 01.1.1.1
Pukat cincin pelagis besar dengan satu kapal,
PS1-B, 01.1.1.2
Gambar Pukat cincin dengan satu kapal (One
boat operated purse seines)
Pukat cincin dengan
dua kapal (Two boat operated purse seines), PS2,01.1.2:
Pukat cincin grup pelagis kecil, PS2-K,
01.1.2.1
Pukat cincin grup pelagis besar, PS2-B,
01.1.2.2
Gambar Pukat cincin dengan dua kapal (Two
boat operated purse seines)
2. Jaring lingkar tanpa tali kerut (Without purse
lines/Lampara): LA, 01.2.0
Gambar Jaring lingkar tanpa tali kerut (Without
purse lines/Lampara)
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan jaring lingkar dilakukan dengan cara melingkari
gerombolan ikan yang menjadi sasaran tangkap untuk menghadang arah renang ikan
sehingga terkurung di dalam lingkaran jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada
permukaan sampai dengan kolom perairan yang mempunyai kedalaman yang cukup
(kedalaman jaring ≤ 0,75 kedalaman perairan), umumnya untuk menangkap ikan
pelagis.
II. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT TARIK (SEINE
NETS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan pukat tarik adalah kelompok alat penangkapan ikan
berkantong (cod-end) tanpa alat pembuka mulut jaring, pengoperasiannya
dengan cara melingkari gerombolan (schooling) ikan dan menariknya ke kapal yang
sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian
sayap dan tali selambar. (SNI 7277.6:2008)
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Pukat Tarik (Seine Nets), 02.0.0:
1. Pukat tarik pantai (Beach seines), SB, 02.1.0
Gambar Pukat tarik pantai
2. Pukat tarik berkapal (boat or vessel seines), SV, 02.2.0:
– Dogol (Danish seines), SDN, 02.2.1
Gambar Dogol (Danish seines)
– Scottish seines, SSC 02.2.2
Gambar Scottish seines
– Pair Seines, SPR, 02.2.3
Gambar Pair seines
– Payang, SV-PYG, 02.2.0.1
Gambar Payang
– Cantrang, SV-CTG, 02.2.0.2
Gambar Cantrang
– Lampara dasar: SV-LDS, 02.2.0.3
Gambar Lampara Dasar
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan pukat tarik dilakukan dengan cara melingkari gerombolan
ikan pelagis atau ikan demersal dengan menggunakan kapal atau tanpa kapal.
Pukat ditarik kearah kapal yang sedang berhenti atau berlabuh jangkar atau ke
darat/pantai melalui tali selambar di kedua bagian sayapnya. Pengoperasiannya
dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan umumnya untuk menangkap
ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pukat tarik yang digunakan.
Pukat
tarik pantai dioperasikan di daerah pantai untuk menangkap ikan pelagis dan
demersal yang hidup di daerah pantai. Dogol dan lampara dasar dioperasikan pada
dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal. Payang dioperasikan di kolom
perairan umumnya menangkap ikan pelagis.
III. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) adalah kelompok alat
penangkapan ikan terbuat dari jaring berkantong yang dilengkapi dengan atau
tanpa alat pembuka mulut jaring dan pengoperasiannya dengan cara dihela di sisi
atau di belakang kapal yang sedang melaju (SNI 7277.5:2008). Alat pembuka mulut
jaring dapat terbuat dari bahan besi, kayu atau lainnya.
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan pukat hela, 03.0.0:
1. Pukat hela dasar (Bottom Trawls), TB, 03.1.0:
– Pukat hela dasar berpalang (Beam trawl), TBB, 03.1.1
Gambar Pukat hela dasar berpalang
– Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls), OTB, 03.1.2
Gambar Pukat hela dasar berpapan (Otter
trawls)
– Pukat hela dasar dua kapal (pair trawls), PTB, 03.1.3
Gambar Pukat hela dasar dua kapal (pair
trawls)
– Nephrops trawl (Nephrops trawl), TBN, 03.1.4
Gambar Nephrops trawl (Nephrops trawls)
– Pukat hela dasar udang (Shrimp trawls), TBS, 03.1.5 Pukat udang,
TBS-PU, 03.1.5.1
2. Pukat hela pertengahan (Midwater trawls), TM, 03.2.0:
– Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair trawls), PTM, 03.2.2
Gambar Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair
trawls)
– Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls), TMS 03.2.3
Gambar Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls)
3. Pukat hela kembar berpapan (Otter twin trawls), OTT, 03.3.0
Gambar Pukat hela kembar berpapan (Otter
twin trawls)
4. Pukat dorong, TX-PD, 03.9.0.1
Gambar Pukat dorong
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dilakukan dengan cara menghela pukat
di sisi atau di belakang kapal yang sedang melaju. Pengoperasiannya dilakukan
pada kolom maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun
ikan demersal termasuk udang dan crustacea lainnya tergantung jenis pukat hela
yang digunakan. Pukat hela dasar dioperasikan di dasar perairan, umumnya untuk
menangkap ikan demersal, udang dan crustacea lainnya. Pukat hela pertengahan
dioperasikan di kolom perairan, umumnya menangkap ikan pelagis.
IV. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PENGGARUK (DREDGES)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan Penggaruk (dredges) adalah kelompok alat
penangkapan ikan berbingkai kayu atau besi yang bergerigi atau bergancu di
bagian bawahnya, dilengkapi atau tanpa jaring/bahan lainnya, dioperasikan
dengan cara menggaruk di dasar perairan dengan atau tanpa perahu untuk
menangkap kekerangan dan biota menetap (SNI 7277.2:2008).
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Penggaruk (Dredges), 04.0.0:
1. Penggaruk berkapal (Boat dredges), DRB, 04.1.0
Gambar Penggaruk berkapal
2. Penggaruk tanpa kapal (Hand dredges), DRH, 04.2.0
Gambar Penggaruk tanpa kapal
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan penggaruk dilakukan dengan cara menarik ataupun menghela
garuk dengan atau tanpa kapal. Pengoperasiannya dilakukan pada dasar perairan
umumnya untuk menangkap kekerangan, teripang, dan biota menetap lainnya.
V. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING ANGKAT (LIFT
NETS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan jaring angkat adalah kelompok alat penangkapan ikan
terbuat dari bahan jaring berbentuk segi empat dilengkapi bingkai bambu atau
bahan lainnya sebagai rangka, yang dioperasikan dengan cara dibenamkan pada
kolom perairan saat setting dan diangkat ke permukaan saat hauling yang
dilengkapi dengan atau tanpa lampu pengumpul ikan, untuk menangkap ikan pelagis
(SNI 7277.9:2008).
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan jaring angkat (Lift nets), 05.0.0:
Gambar Bagan tancap (Shore-operated
stationary lift nets)
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan jaring angkat dilakukan dengan cara dibenamkan pada kolom
perairan saat setting dan diangkat ke permukaan saat hauling. Pengoperasiannya
dapat menggunakan alat bantu pengumpul ikan berupa lampu. Anco dan bagan tancap
dioperasikan di daerah pantai sedangkan jaring angkat lainnya dioperasikan di
perairan yang lebih jauh dari pantai.
VI. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN YANG DIJATUHKAN ATAU
DITEBARKAN (FALLING GEAR)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan adalah kelompok
alat penangkapan ikan yang terbuat dari jaring, besi, kayu, dan/atau bambu yang
cara pengoperasiannya dijatuhkan/ditebarkan untuk mengurung ikan pada sasaran
yang terlihat maupun tidak terlihat (SNI 7277.12:2008).
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan (Falling gear), 06.0.0:
1. Jala jatuh berkapal (Cast nets), FCN, 06.1.0
Gambar Jala jatuh berkapal (Cast nets)
2. Jala tebar (Falling gear not specified), FG, 06.9.0
Gambar Jala tebar (Falling gear not
specified)
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan dilakukan dengan cara
menjatuhkan/menebarkan pada suatu perairan dimana target sasaran tangkapan
berada. Pada jala jatuh berkapal pengoperasian dilanjutkan dengan menarik tali
kerut pada bagian bawah jala, sedangkan pada jala tebar bagian bawah jala akan
menguncup dengan sendirinya karena pengaruh pemberat rantai. Jala tebar
dioperasikan di sekitar pantai yang dangkal untuk menangkap ikan-ikan kecil,
sedangkan jala jatuh berkapal dioperasikan di perairan yang lebih jauh dari
pantai dengan atau tanpa alat bantu penangkapan berupa lampu umumnya menangkap
ikan pelagis bergerombol dan cumi-cumi.
VII. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING INSANG
(GILLNETS AND ENTANGLING NETS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan jaring insang adalah kelompok jaring yang berbentuk
empat persegi panjang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan
tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah untuk menghadang ikan sehingga ikan
tertangkap dengan cara terjerat dan/atau terpuntal dioperasikan di permukaan,
pertengahan dan dasar secara menetap, hanyut dan melingkar dengan tujaun
menangkap ikan pelagis dan demersal (SNI 7277.8:2008)
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Jaring Insang, (Gillnets and entangling nets), 07.0.0:
Pengoperasian
jaring insang dilakukan dengan cara menghadang arah renang gerombolan ikan
pelagis atau demersal yang menjadi sasaran tangkap sehingga terjerat pada
jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, pertengahan maupun pada
dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal
tergantung jenis jaring insang. Jaring insang dioperasikan secara menetap,
dihanyutkan, melingkar maupun terpancang pada permukaan, pertengahan maupun
dasar perairan. Jaring insang ada yang satu lapis maupun berlapis. Jaring
insang berlapis umumnya dioperasikan pada dasar perairan umumnya menangkap ikan
demersal.
VIII. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PERANGKAP (TRAPS)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan perangkap adalah kelompok alat penangkapan ikan
yang terbuat dari jaring, dan/atau besi, kayu, bambu, berbentuk silinder,
trapesium dan bentuk lainnya dioperasikan secara pasif pada dasar atau
permukaan perairan, dilengkapi atau tanpa umpan (SNI 7277.10:2008).
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Perangkap (Traps), 08.0.0:
1. Stationary uncovered pound nets, FPN, 08.1.0 Set net , FPN-SN, 08.1.0.1
GambarSet nets
2. Bubu (Pots), FPO, 08.2.0
Gambar Bubu (Pots)
3. Bubu bersayap (Fyke nets), FYK, 08.3.0
Gambar Bubu bersayap (Fyke nets)
4. Stow nets, FSN, 08.4.0:
– Pukat labuh (Long bag set net), FSN-PL, 08.4.0.1
6. Perangkap Ikan Peloncat (Aerial traps), FWR, 08.6.0
Gambar Perangkap Ikan Peloncat (Aerial traps)
7. Muro ami, FIX-MA, 08.9.0.1
Gambar Muro ami
8. Seser, FIX-SS, 08.9.0.2
Gambar Seser
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan perangkap dilakukan secara pasif berdasarkan tingkah laku
ikan, ditempatkan pada suatu perairan dengan atau tanpa umpan sehingga ikan
terperangkap atau terjebak masuk dan tidak dapat keluar dari perangkap.
Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan maupun dasar perairan umumnya
menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis perangkap. Bubu
bersayap, togo, ambai, jermal, pengerih dan sero dioperasikan di daerah pantai
untuk menangkap ikan yang beruaya dengan mamanfaatkan pasang surut perairan.
Set
net dioperasikan di wilayah pantai secara menetap untuk menangkap ikan pelagis
maupun demersal yang beruaya secara regular atau musiman. Pukat labuh
dioperasikan di wilayah pantai dengan memanfaatkan arus perairan, umumnya untuk
menangkap ikan ukuran kecil di daerah pasang surut. Bubu dioperasikan di dasar
perairan umumnya untuk menangkap ikan demersal dan ikan karang. Alat
penangkapan ikan peloncat dioperasikan pada permukaan air mengikuti tingkah
laku ikan yang meloncat apabila merasa terhalang.
IX. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PANCING (HOOKS AND
LINES)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan pancing adalah kelompok alat penangkapan ikan yang
terdiri dari tali dan mata pancing dan atau sejenisnya (SNI 7277.4:2008).
Dilengkapi dengan umpan alami, umpan buatan atau tanpa umpan.
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Pancing (Hooks and Lines), 09.0.0:
1. Handlines and pole-lines/hand operated, LHP, 09.1.0:
– Pancing ulur, LHP-PU, 09.1.0.1
Gambar Pancing ulur
– Pancing berjoran, LHP-PJ, 09.1.0.2
Gambar Pancing berjoran
– Huhate, LHP-PH, 09.1.0.3
Gambar Huhate
– Squid angling , LHP-SA, 09.1.0.4
Gambar Squid angling
2. Handlines and pole-lines/mechanized, LHM, 09.2.0:
– Squid jigging; LHM-PC, 09.2.0.1
Gambar Squid jigging
– Huhate mekanis, LHM-HM, 09.2.0.2
Gambar Huhate mekanis
3. Rawai dasar (Set long lines), LLS, 09.3.0
Gambar Rawai dasar (Set long lines)
4. Rawai hanyut (Drifting long lines), LLD, 09.4.0:
– Rawai tuna, LLD-RT, 09.4.0.1
Gambar Rawai tuna
– Rawai cucut, LLD-RC, 09.4.0.2
Gambar Rawai cucut
5. Tonda (Trolling lines), LTL, 09.6.0
Gambar Tonda (Trolling lines)
6. Pancing layang-layang, LX-LY, 09.9.0.1
Gambar Pancing layang-layang
Tata cara pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan pancing dilakukan dengan cara menurunkan tali dan mata
pancing dan atau sejenisnya, menggunakan atau tanpa joran yang dilengkapi
dengan umpan alami, umpan buatan atau tanpa umpan. Pengoperasiannya dilakukan
pada permukaan, kolom maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan
pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pancing.
Huhate
dioperasikan di permukaan perairan umumnya menangkap gerombolan ikan pelagis
perenang cepat (tongkol dan cakalang). Tonda dan pancing layang-layang
dioperasikan di permukaan perairan dengan cara ditarik secara horizontal dengan
menggunakan kapal umumnya menangkap ikan pelagis.
Squid
jigging dioperasikan pada kolom perairan umumnya untuk menangkap cumi-cumi.
Rawai hanyut (termasuk rawai tuna dan rawai cucut) dioperasikan di kolom
perairan sampai dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis dan demersal.
Pancing ulur, pancing berjoran dan rawai dasar dioperasikan di kolom perairan
sampai dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis dan demersal.
X. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PENJEPIT DAN MELUKAI
(GRAPPLING AND WOUNDING)
Kelompok
jenis alat penangkapan ikan penjepit dan melukai adalah kelompok alat
penangkapan ikan yang terbuat dari batang kayu, besi atau bahan lainnya yang
mempunyai satu atau lebih bagian runcing/tajam, yang pengoperasiannya dengan
cara mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan/atau membunuh sasaran tangkap
(SNI 7277.11:2008)
Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar
Jenis
alat penangkapan ikan Penjepit dan Melukai (Grappling and Wounding), 10.0.0:
1. Tombak (Harpoons), HAR, 10.1.0
Gambar Tombak (Harpoons)
2. Ladung, HAR-LD, 10.0.0.1
Gambar Ladung
3. Panah, HAR-PN, 10.0.0.2
Gambar Panah
Tata Cara Pengoperasian
Pengoperasian
alat penangkapan ikan penjepit dan melukai dilakukan dengan cara mencengkeram,
mengait/menjepit, melukai dan/atau membunuh sasaran tangkap. Pengoperasiannya
dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan umumnya untuk menangkap
ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis alatnya. Ladung dioperasikan
di daerah pantai untuk menombak ikan-ikan pantai. Tombak dioperasikan di daerah
pantai untuk menombak ikan-ikan pantai, dapat pula dioperasiakan di laut lepas
(harpoon) umumnya menangkap mamalia besar. Panah dioperasikan pada wilayah
berkarang umumnya untuk menangkap ikan yang hidup di karang.
Terumbu
karang adalah
sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang
disebut zooxanthellae. Terumbu karang
termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki
tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia.
Terumbu karang dibedakan antara binatang karang (reef
coral) sebagai individu organisme atau komponen komunitas dengan terumbu karang
(coral reef) sebagai suatu ekosistem, termasuk didalamnya
organisme-organisme karang. individu karang yang disebut polip merupakan
binatang sederhana berbentuk tabung dengan mulut berada diatas yang juga
berfungsi sebagai anus. Di sekitar mulut terdapat tentakel yang berfungsi
sebagai penangkap makanan. Jaringan tubuh karang terdiri dari ektoderm,
mesoglea, dan endoderm. Ektoderm merupakan jaringan terluar yang mempunyai
cilia, kantung lendir (mucus) dan sejumlah nematokis (nematocyst). Mesoglea
adalah jaringan yang terletak antara ektoderm dan endoderm, bentuknya seperti
agar-agar (jelly). Endoderm merupakan jaringan yang paling dalam dan sebagian
besar berisi zooxanthellae (Nybakken, 1992; Suharsono, 1996).
Gambar Anatomi Polip Karang (Nybakken, 1992)
Karang
mempunyai sistem syaraf, jaringan otot dan reproduksi yang telah berkembang dan
berfungsi secara baik.
Jaringan
syaraf tersebar baik di
ektoderma maupun di endoderma serta mesoglea yang dikoordinasi oleh sel
junction yaitu sel khusus yang bertanggung jawab memberikan respon baik
terhadap mekanis maupun kimiawi serta cahaya (Suharsono, 1996).
Jaringan
otot terdapat
diantara jaringan mesoglea yang bertanggung jawab atas gerakan polip untuk
mengembang atau mengkerut sebagai respon perintah jaringan syaraf (Suharsono,
1996).
Jaringan
mesentrial filamen berfungsi
sebagai otot pencerna yang berisi sel mucus yang berisi enzim untuk
mencerna makanan. Lapisan luar dari jaringan mesentri filamen dilengkapi sel
cilia yang halus (Suharsono, 1996).
Berdasarkan
perkembangannya, karang dibagi menjadi dua kelompok yaitu hermatypic
coraldan ahermatypic coral.
1. Hermatypic coral adalah binatang karang yang dapat
membentuk bangunan karang dari kalsium karbonat. Binatang karang ini
bersimbiosis dengan sejenis alga (zooxanthellae) yang hidup di jaringan
(endoderm) polip karang dan melakukan fotosintesis. Hasil samping dari
aktivitas fotosintesis tersebut adalah endapan kapur, kalsium karbonat yang
struktur dan bentuk bangunannya khas. Ciri ini yang digunakan untuk menentukan
spesies binatang karang (Supriharyono, 2000).
Gambar Hermatypic coral
2. Ahermatypic coral adalah binatang karang yang tidak dapat
membentuk bangunan karang.
Gambar Ahermatypic coral
Suatu
jenis karang dari genus yang sama dapat mempunyai bentuk pertumbuhan (life
form) yang berbeda pada suatu lokasi pertumbuhan. Bentuk- bentuk
pertumbuhan karang dipengaruhi oleh beberapa faktor alam, terutama oleh
intensitas cahaya dan tekanan gelombang.
Beberapa
bentuk pertumbuhan karang antara lain:
1. Bentuk bercabang (branching), yang memiliki cabang lebih panjang
dari pada diameternya. Banyak terdapat di sepanjang tepi terumbu dan bagian
atas lereng, terutama yang terlindung atau setengah terbuka, memberikan tempat
perlindungan bagi ikan dan invertebrata tertentu.
Gambar Terumbu Karang Bentuk bercabang
2. Bentuk padat (massive), yang berbentuk seperti bola dengan ukuran bervariasi, permukaannya halus dan padat. Biasanya ditemukan di sepanjang tepi terumbu karang dan bagian atas lereng terumbu dewasa yang belum terganggu atau rusak. Tinggi dan lebarnya dapat mencapai beberapa meter, memberikan perlindungan yang sangat baik serta berperan sebagai daerah pencarian makan (feeding ground) bagi ikan dan hewan lain.
Gambar Terumbu Karang Bentuk Padat
3. Bentuk kerak (encrusting), yang tumbuh menyerupai dasar terumbu dengan permukaan yang kasar dan keras serta berlubang kecil-kecil. Banyak terdapat pada lokasi yang terbuka dan berbatu-batu, terutama mendominasi sepanjang tepi lereng terumbu.
Gambar Terumbu Karang Bentuk Kerak
4. Bentuk meja (tabulate), yang menyerupai meja dengan permukaan yang lebar dan datar. Karang ini ditopang dengan batang yang berpusat atau bertumpu pada satu sisi membentuk sudut atau datar.
Gambar Terumbu Karang Bentuk Meja
5. Bentuk daun (foliaceous), yang tumbuh dalam bentuk lembaran-lembaran yang menonjol pada dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan atau melingkar. Terutama terdapat pada lereng terumbu dan daerah-daerah yang terlindung, memberikan perlindungan bagi ikan dan hewan lain.
Gambar Terumbu Karang Bentuk Daun
6. Bentuk jamur (mushroom), yang berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki banyak tonjolan seperti punggung bukit beralur dari tepi hingga pusat mulut.
Gambar Terumbu Karang Bentuk Jamur
Ekologi Terumbu Karang
Terumbu karang
tersebar pada laut dangkal, di laut tropis hingga subtropis yaitu di antara
lintang 35 LU sampai 32 LS mengelilingi bumi. Pertumbuhan karang pembentuk
terumbu tergantung pada kondisi lingkungannya yang selalu berubah.
Faktor-faktor fisik dan kimiawi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan karang
antara lain cahaya matahari, suhu, salinitas, arus dan sedimentasi. Faktor
biologis yang berperan berupa predator atau pemangsa (Supriharyono, 2000).
Cahaya
memegang peranan penting sebagai sumber energi bagi kelangsungan proses
fotosintesis. Cahaya dibutuhkan zooxanthellae untuk berfotosintesis dalam
jaringan karang. Tanpa cahaya yang cukup laju fotosintesis akan berkurang dan
bersaman dengan itu kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat dan
membentuk terumbu akan berkurang pula (Nybakken, 1998).
Menurut
Supriharyono (2000), suhu yang baik untuk pertumbuhan karang berkisar antara 25
derajat C sampai 29 derajat C. Batas minimum suhu berkisar antara 16 derajat
sampai 17 derajat C dan batas maksimum sekitar 36 derajat C.
Perkembangan terumbu yang paling optimal terjadi pada perairan
yang suhu rata- rata tahunannya 23 derajat C sampai 25 derajat C. (Nybakken 1992)
Salinitas
merupakan faktor pembatas kehidupan binatang karang karena binatang karang
pembentuk terumbu (hermatypic coral) adalah organisme laut sejati. Daya
tahan setiap jenis karang berbeda-beda tergantung kondisi perairan laut
setempat. Binatang karang dapat hidup pada kisaran salinitas 17,5-52,5 ‰
(Supriharyono, 2000).
Terumbu karang hidup subur pada kisaran salinitas 34 sampai 36‰ (Supriharyono, 2000).
Sedimentasi
mengakibatkan pertumbuhan karang terganggu karena menurunnya ketersediaan
cahaya, abrasi dan meningkatnya pengeluaran energi selama penolakan terhadap
sedimen. Gangguan penetrasi cahaya akibat kekeruhan yang tinggi yaitu
terbatasnya fotosintesis zooxanthellae dan secara tidak langsung membatasi
pertumbuhan karang. Energi yang digunakan untuk pertumbuhan dan reproduksi
berkurang karena dipindahkan untuk aktivitas-aktivitas penolakan terhadap
sedimen sehingga polip karang tidak dapat menangkap plankton secara efektif
(Connel dan Hawker 1992).
Arus
dibutuhkan untuk mendatangkan makanan berupa plankton, disamping itu arus dapat
membersihkan karang dari sedimen yang menutupi karang. Pertumbuhan karang pada
daerah berarus lebih baik dibandingkan dengan perairan yang tenang (Nontji,
1987).
Kompleksnya
tipe habitat yang ada di terumbu karang berhubungan dengan ketersediaan relung
makanan dan ruang sebagai sumberdaya bagi karang dan hewan penghuni. Tiap-tiap
tipe habitat mempunyai karakteristik sendiri untuk menunjang distribusi dan
kelimpahan biota karang. terumbu karang tidak hanya terdiri dari binatang
karang saja, tetapi juga daerah berpasir, berbagai teluk dan celah, daerah
alga, dan juga perairan yang dangkal dan dalam, serta zona-zona yang berbeda
(Nybakken, 1992).
Penggolongan
komponen morfologis dan dasar penyusun ekosistem terumbu karang dan kode
yang digunakan menurut Bradbury dan Young (1981) dalam Dartnall dan Jones
(1986). Daftar penggolongan komponen morfologis dasar penyusun terumbu karang
dan pengkodeannya adalah sebagai berikut :
Karang Batu
Dead Coral (Karang
mati), kode : DC
Dead Coral Algae
(Karang dengan penutupan alga), kode : DCA
Acropora branching,
kode : ACB
Acropora encrusting,
kode : ACE
Acropora submassive,
kode : ACS
Acropora tabulate,
kode : ACT
Non Acropora
branching, kode : CB
Non Acropora
encrusting, kode : CE
Non Acropora foliose,
kode : CF
Non Acropora massive,
kode : CM
Non Acropora sub
massive, kode : CS
Non Acropora mushroom,
kode : CMR
Non Acropora
millepora, kode : CME
Non Acropora
heliopora, kode : CHL
Fauna Lain
Soft coral, kode : SC
Sponges, kode : SP
Zoanthids, kode : ZO
Lain-lain (Acidian,
Anemones, Gorgonians, Kimah), kode : OT
Topografi Laut
Produktivitas perikanan tangkap sebagian besar masih ditentukan oleh topografi
aut, termasuk interaksinya dengan arus laut dan tingkat pencahayaan sinar
matahari pada kedalaman tertentu. Topografi laut dibentuk dengan berbagai jenis
pantai, delta sungai, landasan benua, terumbu karang dan ciri khas laut dalam
seperti palung dan punggung laut
Arus Laut
Arus laut adalah pergerakan air laut yang terarah dan kontinu. Arus laut adalah
aliran air yang bergerak karena gaya yang bekerja pada air seperti rotasi bumi,
angin, perbedaan temperatur, perbedaan kadar garam dan gravitasi bulan.
Biomassa
Di lautan, rantai makanan umumnya mengikuti pola:
Fitoplankton → zooplankton → zooplankton predator → hewan penyaring → ikan
predator
Fitoplankton adalah produsen utama dalam rantai makanan yang mengubah karbon
menjadi biomassa dengan bantuan sinar matahari.
Perairan dekat pantai
Estuari, adalah badan
air dekat di mana satu atau lebih sungai terhubung dengan laut melalui estuari
Laguna, adalah badan
air asin atau air payau yang relatif dangkal, terpisah dari laut yang dalam
oleh karakteristik geologi seperti gosong pasir, terumbu karang dan sebagainya
Zona pasang surut,
adalah bagian dari laut yang terpapar udara ketika air surut dan tenggelam
ketika pasang tinggi
Zona litoral, adalah
bagian dari laut yang terdekat dengan garis pantai
Zona neritik, adalah
bagian dari laut yang melebar dari zona litoral ke landasan benua
Terumbu karang
Terumbu karang adalah struktur aragonite yang diproduksi oleh
organisme hidup, berada di perairan tropis dangkal dengan sedikit nutrisi di
dalam air.
Ikan
Karang atau Ikan terumbu karang adalah iklan
yang tinggal di dalam atau berdekatan dengan terumbu karang. Terumbu karang
membentuk ekosistem kompleks dengan keragaman hayati. Dari beberapa diantaranya, ikan-ikan
tersebut berwarna dan dapat dilihat. Ratusan spesies dapat ada di tempat kecil
dari sebuah karang sehat, beberapa diantaranya bersembunyi atau bahkan
berkamuflase. Ikan karang mengembangkan beberapa spesialisasi adaptasi untuk
bertahan hidup di karang.
Ikan karang adalah ikan yang hidup dari masa juvenil
hingga dewasa di terumbu karang. Menurut Nybakken (1992), ikan karang merupakan
organisme yang jumlahnya terbanyak dan juga merupakan organisme besar yang
mencolok yang dapat ditemui di terumbu karang. Hutomo (1986) menyatakan bahwa
keragaman komposisi taksa komunitas ikan karang dari suatu terumbu karang ke
terumbu karang lainnya sangat besar, tetapi komunitas ikan karang mempunyai
kesamaan bentuk sehingga memungkinkan hasil suatu penelitian mempunyai tingkat
generalisasi yang luas bagi sistem sirkum tropis.
Dalam ekosistem terumbu karang secara nyata komunitas ikan karang dapat dibagi
dalam dua kelompok yaitu kelompok ikan yang kadang-kadang terdapat pada terumbu
karang dan ikan yang tergantung pada terumbu karang sebagai tempat mencari
makan, tempat hidup atau kedua-duanya (Sopandi, 2000). Untuk mempertahankan
kelestariannya, ikan karang bereproduksi secara generatif melalui proses
pemijahan.
Berdasarkan
kebiasaannya, dalam ekosistem terumbu karang,
terdapat empat kelompok ikan yang melakukan pemijahan, yaitu:
Kelompok ikan pemijah yang
bermigrasi (migratory spawners), contohnya: Serranidae, Scaridae,
dan Labridae.
Kelompok ikan yang tinggal dan
memijah berpasangan (pair spawnwers), contohnya: Chaetodontidae,
Pomacanthidae, Scorpaenidae.
Kelompok ikan yang membuat
sarang untuk menjaga telurnya (nest builders), contohnya:
Pomacentridae, Balistidae, Gobiidae.
Kelompok ikan yang melindungi
telur-telurnya di dalam mulut (brooders), contohnya: Apogonidae.
Berdasarkan
makanannya, ikan karang diklasifikasikan dalam 6 kelompok, yaitu: kelompok ikan
pemakan segala (omnivores), kelompok ikan pemakan detritus (detritivores),
kelompok ikan pemakan tumbuhan (herbivores), kelompok ikan pemakan
zooplankton (zooplanktivores), kelompok ikan pemakan moluska (molluscivores)
dan kelompok ikan karnivora (carnivores) (Wootton, 1992).
Pengelompokan Ikan Karang
English et all. (1997)
mengelompokkan jenis ikan karang ke dalam tiga kelompok utama, yaitu:
Ikan-ikan
target, yaitu ikan ekonomis
penting dan biasa ditangkap untuk konsumsi. Biasanya kelompok ikan-ikan target
menjadikan terumbu karang sebagai tempat pemijahan dan sarang/daerah asuhan.
Ikan-ikan target diwakili oleh famili Serranidae (ikan kerapu), Lutjanidae
(ikan kakap), Lethrinidae (ikan lencam), Nemipteridae (ikan kurisi),
Caesionidae (ikan ekor kuning), Siganidae (ikan baronang), Haemulidae (ikan bibir
tebal), Scaridae (ikan kakak tua) dan Acanthuridae (ikan pakol);
Ikan-ikan
indikator, yaitu jenis ikan
karang yang khas mendiami daerah terumbu karang dan menjadi indikator
kesuburan ekosistem daerah tersebut.
Ikan-ikan indikator diwakili oleh famili Chaetodontidae (ikan kepe-kepe);
Ikan-ikan
major, merupakan jenis ikan
berukuran kecil, umumnya 5 sampai 25 cm, dengan karakteristik pewarnaan yang
beragam sehingga dikenal sebagai ikan hias. Kelompok ikan-ikan major umumnya
ditemukan melimpah, baik dalam jumlah individu maupun jenisnya, serta cenderung
bersifat teritorial. Kelompok ikan-ikan major sepanjang hidupnya berada di
terumbu karang, diwakili oleh famili Pomacentridae (ikan betok laut),
Apogonidae (ikan serinding), Labridae (ikan sapu-sapu), dan Blenniidae (ikan
peniru).
Lowe
and McConel (1987) mengelompokkan komunitas ikan karang ke dalam dua kelompok
yaitu :
Kelompok ikan yang terkadang
terdapat pada terumbu karang seperti ikan dari famili Scombridae dan
Myctophidae
Kelompok ikan yang tergantung
pada terumbu karang sebagai tempat mencari makan, tempat hidup atau
kedua-duanya.
Berdasarkan
penyebaran hariannya, ikan-ikan karang dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu
ikan yang aktif pada siang hari (diurnal) dan ikan yang aktif pada malam hari
(nokturnal). Menurut Lowe dan McConel (1987) sebagian besar ikan karang
bersifat diurnal serta ikan yang bersifat nokturnal biasanya merupakan ikan
karnivora.
Menurut
Randall et all. (1990), ikan-ikan diurnal umumnya ikan herbivora yang berwarna
cerah yang pada malam hari bersembunyi di celah-celah batu atau gua-gua kecil
dekat permukaan karang serta ada yang membenamkan diri dalam pasir.
Beberapa
deskripsi famili ikan karang menurut Randall et all. (1990) yaitu:
Acanthuridae: dikenal sebagai surgeonfish, memakan alga dasar dan
memiliki saluran pencernaan yang panjang; makanan utamanya adalah
zooplankton atau detritus. Surgeonfishes mampu memotong ikan-ikan lain
dengan duri tajam yang berada pada sirip ekornya.
Balistidae: golongan triggerfish, karnivora yang hidup soliter
pada siang hari, memakan berbagai jenis invertebrata termasuk moluska yang
bercangkang keras dan echinodermata; beberapa jenis juga memakan alga atau
zooplankton.
Blennidae: biasanya hidup pada lubang-lubang kecil di terumbu,
sebagian besar spesies penggali dasar yang memakan campuran alga dan invertebrata;
sebagian pemakan plankton, dan sebagian spesialis makan pada kulit atau
sirip dari ikan-ikan besar, dengan meniru sebagai pembersih.
Caesonidae: dikenal sebagai ekor kuning, pada siang hari sering
ditemukan pada gerombolan yang sedang makan zooplankton pada pertengahan
perairan diatas terumbu, sepanjang hamparan tubir dan puncak dalam gobah.
Meskipun merupakan perenang aktif, mereka sering diam untuk menangkap
zooplankton dan biasanya berlindung di terumbu pada malam hari.
Centriscidae: berenang dalam posisi tegak lurus dengan moncong
kebawah; memakan zooplankton yang kecil.
Chaetodontidae: disebut juga ikan butterfly, umumnya memiliki warna
yang cemerlang, memakan tentakel atau polip karang, invertebrata kecil,
telur-telur ikan lainnya, dan alga berfilamen, beberapa spesies juga
pemakan plankton.
Ephippidae: bentuk tubuh yang pipih, gepeng, mulutnya kecil,
umumnya omnivora, memakan alga dan invertebrata kecil.
Gobiidae: umumnya terdapat di perairan dangkal dan disekitar
terumbu karang. Kebanyakan karnivora penggali dasar yang memakan
invertebrata dasar yang kecil, sebagian juga merupakan pemakan plankton.
Beberapa spesies memiliki hubungan simbiosis dengan invertebrata lain
(misalnya : udang) dan sebagian dikenal memindahkan ectoparasit dari
ikan-ikan lain.
Labridae: dikenal dengan wrasses, merupakan ikan ekonomis
penting, memiliki bentuk, ukuran dan warna yang sangat berbeda. Kebanyakan
spesies penggali pasir, karnivora bagi invertebrata dasar; sebagian juga
merupakan pemakan plankton dan beberapa spesies kecil memindahkan
ectoparasit dari ikan-ikan lain yang lebih besar.
Mullidae: dikenal dengan goatfish, memiliki sepasang sungut di
dagunya, yang mengandung organ sensor kimia dan digunakan untuk memeriksa
keberadaan invertebrata dasar atau ikan-ikan kecil pada pasir atau lubang
di terumbu, banyak yang memiliki warna yang cemerlang.
Nemipteridae: dikenal sebagai threadfin breams atau whiptail
breams, ikan karnivora yang umumnya memakan ikan dasar kecil,
sotong-sotongan, udang- udangan atau cacing; beberapa spesies adalah
pemakan plankton
Pomacentridae: dikenal dengan damselfishes, memiliki bermacam warna
yang berbeda secara individu dan lokal bagi spesies yang sama. Beberapa
spesies merupakan ikan herbivora, omnivora atau pemakan plankton.
Damselfish meletakkan telur-telurnya di dasar yang dijaga oleh ikan
jantan. Termasuk didalam kelompok ini ikan-ikan anemon (Amphiprioninae)
yang hidup berasosiasi dengan anemon laut.
Scaridae: dikenal sebagai parrotfish, herbivora, biasanya
mendapatkan alga dari substrat karang yang mati. Mengunyah batu karang
beserta alga serta membentuk pasir karang, hal ini membuat parrotfish
menjadi salah satu produsen pasir penting dalam ekosistem terumbu
karang. Scaridae merupakan ikan ekonomis penting.
Serranidae: dikenal dengan sea bass, kerapu, predator penggali
dasar, ikan komersial, memakan udang-udangan dan ikan. Subfamilinya adalah
Anthiinae, Epinephelinae dan Serranidae.
Sygnathidae: dikenal sebagai kuda laut atau pipefish. Beberapa
memiliki warna yang indah. Umumnya terbatas di perairan dangkal. Memakan
invertebrata dengan menghisap pada moncong pipanya. Jantannya memiliki
kantong eram sebagai tempat penyimpanan telur dan diinkubasikan.
Zanclidae: memiliki bentuk seperti Acanthuridae dengan mulut yang
tabular tanpa duri di bagian ekor. Memakan spons juga invertebrata dasar.
Menurut Sale (1991), kelompok ikan karang yang berasosiasi paling erat
dengan lingkungan terumbu karang menjadi tiga golongan utama yaitu :
Labroid: Labridae (wrasses), Scaridae (parrot fish), dan Pomacentridae
(damselfishes)
Acanthuroid: Achanturidae (surgeonfishes), siganidae (rabbitfishes), dan
Zanclidae (Moorish idols)
Chaetodontoid: Chaetodontidae (butterflyfishes) dan
Pomachantidae (angelfishes).
Ekologi Ikan Karang
Tiap kelompok ikan
masing-masing mempunyai habitat yang berbeda, tetapi banyak spesies yang
terdapat pada lebih dari satu habitat. Umumnya tiap spesies mempunyai kesukaan
(preferensi) terhadap habitat tertentu (Aktani, 1990).
Wooton
(1992) menyatakan bahwa ikan hanya dapat bertahan hidup dalam kisaran kondisi
lingkungan tertentu. Kondisi lingkungan tersebut secara umum meliputi suhu,
kandungan oksigen, salinitas, dan pergerakan air. Suhu mengendalikan
reaksi-reaksi kimiawi yang berlangsung di perairan. Suhu juga berpengaruh
terhadap aktivitas reproduksi, pertumbuhan, dan aktivitas makan. Oksigen yang
disuplai melalui proses respirasi akan membatasi laju metabolisme aerobik.
Dalam
suatu ekosistem terumbu karang terdapat kelimpahan, keanekaragaman
ikan-ikan terumbu yang menyusun suatu kegiatan pemangsaan, persaingan dan
interaksi. Wootton (1992) juga menyatakan bahwa keterbatasan sumberdaya
makanan, tempat tinggal, dan tempat berlindung mengakibatkan terjadinya
mekanisme evolusi. Mekanisme evolusi mengurangi persaingan antar spesies,
spesies dengan kebutuhan makanan yang sama tidak akan bersaing karena memiliki
tempat yang berbeda ini disebut dengan seleksi habitat, kemudian seleksi
sumberdaya contohnya ikan karnivora yang menunjukkan pembagian makanan, dan
juga pembagian waktu yaitu aktifitas makan pada malam hari atau siang hari.
Menurut
Syakur (2000), beberapa karnivora bersifat diurnal, aktivitas makannya
berlangsung pada siang hari dan beristirahat pada malam hari, kelompok yang
lain adalah kelompok nokturnal, aktivitas makannya berlangsung pada malam hari.
Keanekaragaman warna ikan-ikan karang berfungsi sebagai kamuflase,
pemberitahuan, dan jebakan. Latar belakang substrat karang dapat dijadikan
kamuflase bagi ikan-ikan karang untuk menghindar dari pemangsanya dan sebagai
jebakan untuk mencari mangsa.
Warna ikan-ikan karang yang cerah mengisyaratkan bahwa ikan
tersebut beracun (Nybakken, 1988).
Interaksi
mutualistik antar spesies mempengaruhi distribusi dan kelimpahan ikan karang.
interaksi ini dapat terlihat dari beberapa ikan karang yang berfungsi sebagai
pembersih, contohnya Labroides dimidiatus, memakan ektoparasit yang terdapat di
permukaan tubuh dan insang ikan-ikan lain. Interaksi mutualistik yang lain
terjadi antara ikan dan invertebrata contohnya, Amphiprion spp yang berasosiasi
dengan anemon laut. Ikan memperoleh perlindungan dari pemangsanya karena
adanya nematocyst yang terdapat pada tentakel anemon (Wotton, 1992).
Hampir
seluruh ikan-ikan karang melalui fase pelagic di awal daur hidupnya. Setelah
satu bulan atau lebih juvenil-juvenil mencapai ukuran tertentu, juvenil-juvenil
akan tinggal di daerah terumbu karang. Apabila ruang di terumbu karang
terbatas, maka kematian dan migrasi ikan-ikan karang akan memberikan peluang
hidup bagi juvenil. Kapan dan dimana ruang tersebut akan tersedia tidak dapat
diperkirakan. Konsekuensi dari mekanisme tersebut adalah perubahan komposisi
spesies dan kelimpahan relatif pada waktu tertentu karena recruitment (Wotton,
1992).
Fisiografis
dasar perairan adalah faktor utama yang menentukan distribusi dan kelimpahan
ikan-ikan karang. Keberadaan ikan-ikan karang sangat dipengaruhi oleh kesehatan
terumbu karang, biasanya ditunjukkan oleh persentase tutupan karang hidup (life
coverage) (Aktani, 1990). Distribusi ruang (spatial distribution)
berbagai spesies, bervariasi menurut kondisi alami dasar perairan (Aktani,
1990).
Di Indonesia khususnya
dibidang perikanan tangkap banyak sekali jenis alat tangkap yang digunakan oleh
nelayan, namun banyak sekali alat tangkap yang bersifat merusak atau destruktif
seperti payang dan trawl yang menangkap ikan didasar perairan dengan menyapu
dasar sehingga terumbu karang yang berada didasar perairan akan rusak.
Oleh karenanya perlu
alat tangkap ramah lingkungan yang selain selektif juga efektif dan bisa
mempertahankan sumberdaya ikan agar habitatnya tidak rusak. Jenis-jenis alat
tangkap ramah lingkungan tersebut diantaranya seperti pancing, dan alat
pengumpul ikan seperti keramba apung yang menggunakan lampu dan umpan alami.
Departemen Kelautan dan Perikanan (2006), dengan mengacu pada FAO pada
tahun 1995, mengeluarkan suatu tata cara bagi kegiatan penangkapan ikan yang
bertanggung jawab (CCRF). CCRF menetapkan ada sembilan kriteria yang digunakan
pada teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan, yaitu :
1. Alat tangkap harus memiliki selektivitas
yang tinggi
Pengertian
selektivitas yang tinggi adalah alat tangkap tersebut diupayakan hanya dapat
menangkap ikan/organisme lain yang menjadi sasaran penangkapan saja, dimana ada
dua macam selektivitas yang menjadi sub kriteria, yaitu selektivitas ukuran dan
selektivitas jenis. Pada sub kriteria ini terdiri dari (yang paling rendah
hingga yang paling tinggi):
Alat menangkap lebih
dari tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh;
Alat menangkap paling
banyak tiga spesies dengan ukuran berbeda jauh;
Alat menangkap kurang
dari tiga spesies dengan ukuran yang kurang lebih sama; dan
Alat menangkap satu
spesies saja dengan ukuran yang kurang lebih sama.
2. Alat tangkap yang digunakan tidak merusak
habitat, tempat tinggal dan berkembang biak ikan dan organisme lainnya
Kriteria kedua yang
diberikan oleh lembaga pangan dan pertanian dunia (FAO) PBB ini artinya bahwa
alat tangkap ikan yang digunakan tidak merusak lingkungan (destructive
fishing) akan tetapi harus tergolong pada constructive fishing.
Dampak
penangkapan ikan yang merusak lingkungan terdiri dari kerusakan sumberdaya
ikan, habitat ikan, dan dasar perairannya. Pembobotan yang digunakan dalam
kriteria ini yang ditetapkan berdasarkan luas dan tingkat kerusakan yang
ditimbulkan alat penangkapan.
Adapun
skoring dan pembobotan pada kriteria tersebut adalah sebagai berikut (dari
rendah hingga yang tinggi):
Menyebabkan kerusakan
habitat pada wilayah yang luas;
Menyebabkan kerusakan
habitat pada wilayah yang sempit;
Menyebabkan sebagaian
habiat pada wilayah yang sempit; dan
Aman bagi habitat
(tidak merusak habitat).
3. Tidak membahayakan nelayan (penangkap ikan)
Keselamatan manusia
menjadi syarat penangkapan ikan, hal ini karena bagaimanapun manusia merupakan
bagian yang penting bagi keberlangsungan perikanan yang produktif.
Pembobotan
resiko diterapkan berdasarkan pada tingkat bahaya dan dampak yang mungkin
dialami oleh nelayan (dari rendah – tinggi):
Alat tangkap dan cara
penggunaannya dapat berakibat kematian pada nelayan;
Alat tangkap dan cara
penggunaannya dapat berakibat cacat menetap (permanen) pada nelayan;
Alat tangkap dan cara
penggunaannya dapat berakibat gangguan kesehatan yang sifatnya sementara; dan
Alat tangkap aman bagi
nelayan.
4. Menghasilkan ikan yang bermutu baik
Jumlah ikan yang
banyak tidak banyak berarti bila ikan-ikan tersebut dalam kondisi buruk. Dalam
menentukan tingkat kualitas ikan digunakan kondisi hasil tangkapan secara
morfologis (bentuknya).
Pembobotan
(dari rendah hingga tinggi) adalah sebagai berikut:
Ikan mati dan busuk;
Ikan mati, segar, dan
cacat fisik;
Ikan mati dan segar;
dan
Ikan hidup
5. Produk tidak membahayakan kesehatan
konsumen
Ikan yang ditangkap
dengan peledakan bom pupuk kimia atau racun sianida kemungkinan tercemar oleh
racun. Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan tingkat bahaya yang
mungkin dialami konsumen yang harus menjadi pertimbangan adalah (dari rendah
hingga tinggi):
Berpeluang besar
menyebabkan kematian konsumen;
Berpeluang menyebabkan
gangguan kesehatan konsumen;
Berpeluang sangat
kecil bagi gangguan kesehatan konsumen; dan
Aman bagi konsumen
6. Hasil tangkapan yang terbuang minimum
Alat tangkap yang
tidak selektif dapat menangkap ikan/organisme yang bukan sasaran penangkapan
(non-target). Dengan alat yang tidak selektif, hasil tangkapan yang terbuang
akan meningkat, karena banyaknya jenis non-target yang turut tertangkap. Hasil
tangkapan nontarget, ada yang bisa dimanfaatkan dan ada yang tidak.
Pembobotan
kriteria ini ditetapkan berdasarkan pada hal berikut (dari rendah hingga
tinggi):
Hasil
tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis (spesies) yang tidak
laku dijual di pasar;
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis dan ada yang
laku dijual di pasar;
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan laku dijual
di pasar; dan
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan berharga tinggi
di pasar;.
7. Alat tangkap yang digunakan harus
memberikan dampak minimum terhadap keanekaan sumberdaya hayati (biodiversity)
Persyaratan alat
tangkap ikan yang ramah lingkungan adalah meminimalisasi dampak terhadap
keanekaragaman sumberdaya hayati periaran sebagai akibat penangkapannya.
Adapun
pembobotan kriteria ini ditetapkan dari rendah hingga tinggi :
Alat tangkap dan
operasinya menyebabkan kematian semua mahluk hidup dan merusak habitat;
Alat tangkap dan
operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies dan merusak habitat;
Alat tangkap dan
operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies tetapi tidak merusak habitat;
dan
Aman bagi keanekaan
sumberdaya hayati.
8. Tidak menangkap jenis yang dilindungi
undang-undang atau terancam punah
Tingkat bahaya alat
tangkap terhadap spesies yang dilindungi undang-undang ditetapkan berdasarkan
kenyataan bahwa:
Ikan yang dilindungi
sering tertangkap alat;
Ikan yang dilindungi
beberapa kali tertangkap alat;
Ikan yang dilindungi
.pernah. tertangkap; dan
Ikan yang dilindungi
tidak pernah tertangkap
9. Diterima secara sosial
Penerimaan masyarakat
terhadap suatu alat tangkap, akan sangat tergantung pada kondisi sosial,
ekonomi, dan budaya di suatu tempat. Suatu alat diterima secara sosial oleh
masyarakat bila:
biaya investasi murah,
menguntungkan secara ekonomi,
tidak bertentangan dengan
budaya setempat,
tidak bertentangan dengan peraturan
yang ada.
Pembobotan
criteria ditetapkan dengan menilai kenyataan di lapangan bahwa (dari yang
rendah hingga yang tinggi):
Alat tangkap memenuhi
satu dari empat butir persyaratan di atas;
Alat tangkap memenuhi
dua dari empat butir persyaratan di atas;
Alat tangkap memenuhi
tiga dari empat butir persyaratan di atas; dan
Alat tangkap memenuhi
semua persyaratan di atas.
Bila
ke sembilan kriteria ini dilaksanakan secara konsisten oleh semua pihak yang
terlibat dalam kegiatan perikanan, dapat dikatakan ikan dan produk perikanan
akan tersedia secara berkelanjutan. Hal yang penting diingat adalah bahwa
generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kita
tidak mengurangi ketersediaan ikan bagi generasi yang akan datang dengan
pemanfaatan sumberdaya ikan yang ceroboh dan berlebihan.
Perilaku yang bertanggungjawab ini akan memberikan sumbangan
yang penting bagi ketahanan pangan, dan peluang pendapatan yang berkelanjutan.
Adapun
pengembangan perikanan yang berkelanjutan bertujuan untuk mengetahui tingkat
bahaya alat tangkap ikan yang digunakan terhadap kelestarian sumberdaya ikan
yang ada. Menurut Monintja (2000), kriteria alat tangkap berkelanjutan
mempunyai enam kriteria yang digunakan yaitu :
menerapkan teknologi
penangkapan ikan ramah lingkungan ;
jumlah hasil tangkapan tidak
melebihi jumlah tangkapan yang diperbolehkan (TAC) ;
produk mempunyai pasar
yang baik ;
investasi yang digunakan rendah
;
penggunaan bahan bakar rendah ;
dan
secara hukum alat tangkap
tersebut legal.
Hasil Tangkapan per Satuan Upaya
Produktivitas atau
laju tangkap merupakan salah indikasi kecenderungan dan kenaikan usaha
perikanan. Laju tangkap merupakan perbandingan anatara hasil tangkapan yang
didaratkan (landings) dan upaya penangkapan sebuah kapal pada suatu fishing
base tertentu.
Nilai
hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan disebut juga dengan CPUE (Catch
per Unit Effort). Upaya penangkapan dapat berupa hari operasi atau bulan
operasi, banyaknya trip penangkapan atau jumlah armada yang melakukan operasi
penangkapan. Dalam penelitian ini upaya penangkapan yang digunakan adalah
jumlah unit penangkapan bukan trip penangkapan.
Dikarenakan
setiap alat tangkap tidak hanya menangkap satu jenis ikan saja, apalagi
ikan-ikan pelagis dapat ditangkap dengan beberapa jenis alat tangkap. Oleh
karena itu, harus dilakukan standarisasi alat tangkap dengan menentukan Indeks
kuasa penangkapan ikan (FPI = Fishing Power Indeks).
Standarisasi alat tangkap tersebut akan menentukan upaya penangkapan untuk menangkap spesies tertentu dengan alat tangkapa standar tertentu pula.
Mola-mola atau yang lebih populer dengan nama “Sun Fish” (Ikan Matahari)
adalah ikan langka tropis dan subtropis yang menjadi perburuan bagi
Diver/Penyelam dan fotografer Under Water diseluruh dunia. Ikan Mola-mola
dewasa dapat mencapai panjang 1 meter dengan berat 1-2 ton. Uniknya, ikan
Mola-mola hampir tidak memiliki sirip ekor, namun memiliki clavus, yang
merupakan sambungan sirip pungung dan sirip perut. Beruntungnya Indonesia
menjadi salah satu tempat persinggahan, Mola-mola dapat dijumpai sepanjang
bulan Juli-September di Lembongan, Bali.
Berikut
ini fakta unik dari ikan mola-mola atau ikan matahari:
1. Ikan ini hobi berjemur
Bahwa ikan mola-mola mempunyai hobi yang unik
yaitu berjemur ke permukaan laut, itulah sebabnya ia dijuluki dengan nama
Sunfish. Ia sangat sering memunculkan dirinya untuk berjemur di pantai Penida,
Bali.
2. Bentuk tubuhnya aneh
Pada umumnya semua jenis ikan selalu mempunyai
sirip ekor. Berbeda dengan mola-mola ia nyaris gak punya sirip ekor. Dan
biasanya sirip (sayap) ikan lain terletak di samping kira dan kanan, sedangkan
mola mola siripnya berada vertikal diatas dan dibawah (punggung dan perut) yang
disebut calvus.
Akibat bentuk siripnya yang aneh ditambah tubuhnya yang bulat dan gemuk membuat
Ikan mola mola sangat lambat untuk berenang dan untuk melawan arus ombak pun ia
tidak bisa, memilih pasrah mengikuti arus air yang membawanya.
3. Sunfish, Ikan mola mola yang
terancam punah
Karena keadaan bentuk tubuhnya yang aneh,
membuat ikan mola mola terancam punah, ia sering menjadi korban kecelakaan
dalam lalu lintas perairan laut seperti tersangkut di baling-baling kapal
perahu dan sering menjadi korban tabrakan dari kapal-kapal besar yang sedang
melaju ke arahnya. Begitu lamban gerakannya membuat ia tak dapat menghindar
dari kecepatan kapal tersebut. Selain itu sampah-sampah laut juga menjadi salah
satu penyebab kematiannya. Ia sering tersedak akibat menelan sampah plastik
yang disangkanya adalah ubur-ubur. Belum lagi ia terdampar di tepi pantai
akibat terseret ombak dan mati sendiri akibat dehidrasi. Tapi penyebab
kematiannya paling tinggi adalah akibat perburuan illegal seperti yang
dilakukan oleh para nelayan jahat di jepang. Mereka memang sengaja ditangkap
untuk dijual dagingnya ke restoran.