CARA MELAKUKAN PENDUGAAN POTENSI SUMBERDAYA IKAN

Kelimpahan sumberdaya hayati di suatu perairan selalu berubah-ubah secara dinamis. Pada suatu kurun waktu tertentu, diperlukan adanya kegiatan pendugaan kelimpahan stok, guna menduga; maximum sustainable yield (MSY), dan upaya penangkapan optimum (f-optimum). Pendugaan stok dapat dilakukan antara lain dengan; Metode Swept Area, atau Metode Surplus Produksi. Hasil pendugaan ini digunakan untuk melakukan manajemen perairan yang baik dan terpadu.

1. Metode Surplus Produksi
Tujuan utama dari model ini adalah untuk menentukan Maximum Sustainable Yield (MSY) selama ini, metode surplus produksi diterapkan pada tingkat stok, bukan individu. Stok dianggap sebagai kumpulan besar dari biomasa. Pertumbuhan stok, dalam konteks surplus produksi, mengacu pada laju perubahan biomasa stok, dan bukan pada perubahan individu. keuntungan terbesar dari model surplus produksi adalah hanya membutuhkan serangkaian data penangkapan dan upaya penangkapannya.

Data ini dapat diperoleh dari beberapa perikanan komersial. Sparre (1989) menyebukan bahwa tinjauan sudah dilakukan oleh Ricker (1975), Caddy (1980), Gulland (1983) dan Pauly (1984).

Maximum Sustainable Yield (MSY) diduga dari data input berupa:

  1. f(i) = effort dari tahun ke-i. i = 1,2,3,4, … n.
  2. C(i) = catch (in weight) pada tahun i. i = 1,2, 3 … n.

C/f (CPUE) dari seluruh kegiatan perikanan selama tahun i dapat diturunkan dari C(i) dan f(i)yang bersesuaian, dengan cara:

C / f = C(i) / f(i)

dimana:
C(i)catch pada tahun i;
F(i)effort pada tahun i
.
Effort yang digunakan adalah effort yang berasal dari kapal standar pertahun. Oleh karena kapal terdiri atas berbagai jenis dan ukuran, maka effort dari masing-masing kategori ukuran kapal harus dikonversikan ke dalam satu unit standar sebelum dihitung sebagai effort total.

Trend CPUE memperlihatkan suatu trend penurunan, untuk setiap kenaikan effort. Hal ini berarti terdapat keadaan semakin kecilnya bagian per kapal dengan semakin banyaknya kapal. Keadaan ini didasarkan pada anggapan bahwa biomasa stok adalah terbatas yang dibagi untuk kapal yang melakukan kegiatan perikanan, terdapat dua model yang mengekspresikan CPUE, yaitu:

  1. Model Schaefer (1954) yang linier,
  2. Model Fox (1970) yang logaritmik.

Sparre (1989) berpendapat bahwa tidak dapat dibuktikan salah satu dari kedua model tersebut adalah lebih baik daripada model yang lain.

Persamaan Matematik Model Schaefer

Persamaan Matematik Model Fox

dimana
q = koefisien kemampuan tangkap
B = biomasa
a,c = intersep
b,d = slope atau gradient

Perbedaan antara kedua model (Sparre, 1989) :

  1. Pada model Schaefer : adanya tingkat effort yang memberikan nilai nihil bagi stok, pada f = – a/b.
  2. Pada model Fox : adanya beberapa populasi yang berhasil hidup, bagaimanapun tingginya tingkat eksploitasi atas stok.

Kedua model sebenarnya sama baiknya. Namun model Schaefer lebih sederhana karena menggunakan pendekatan linier, bahwa CPUE hanya tergantung pada f. Effort (f) dalam konteks ini didefinisikan sebagai satu unit standar alat penangkap ikan yang melakukan kegiatan penangkapan terhadap stok pada daerah yang tengah diobservasi.

Model matematika Schaefer didefinisikan sebagai:

  1. Slope b harus negatif apabila C/f menurun dengan meningkatnya f.
  2. Intersep a adalah nilai C/f yang didapat oleh kapal pertama segera setelah menangkap ikan stok yang pertama. Oleh karena itu, intersep harus (+).
  3. Dengan demikian, -a/b menjadi positif, dan C/f = 0 pada saat f = a/b.
  4. Tidak ada nilai C/f yang negatif, maka model hanya dapat diterapkan pada harga f =< -a/b.

2. Tingkat pengusahaan
Menurut Dwiponggo yang diacu dalam Widiawati (2000) pembagian tingkat pengusahaan sumberdaya perikanan tangkap dibagi menjadi empat tahapan, yaitu:

  1. Pengusahaan yang rendah dengan hasil tangkapan sebagian kecil dari potensinya;
  2. Pengusahaan sedang dengan hasil tangkapan merupakan sebagian yang nyata dari potensi dan penambahan upaya penangkapan (effort) masih memungkinkan;
  3. Pengusahaan tinggi dengan hasil tangkapan sudah mencapai besar potensinya dan penambahan upaya penangkapan (effort) tidak akan menambah hasil tangkapan;
  4. Pengusahaan yang berlebihan (over fishing) dengan terjadi pengurangan
    stok ikan karena penangkapan sehingga hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan (CPUE) akan jauh berkurang.

3. RAPFISH
Rapfish (Rapidly Appraissal for Fisheries) adalah teknik terbaru yang dikembangkan oleh University of British Columbia Canada, yang merupakan analisis untuk mengevaluasi keberlanjutan (sustainability) dari perikanan secara multidisipliner.

Rapfish didasarkan pada teknik ordinasi (menempatkan sesuatu pada urutan atribut yang terukur) dengan menggunakan Multi-Dimensional Scaling (MDS). Pemilihan MDS dalam analisis Rapfish, dilakukan mengingat metode multivariate analysis yang lain seperti factor analysis dan Multi-Attribute Utility Theory (MAUT) terbukti tidak menghasilkan hasil yang stabil. MDS itu sendiri pada dasarnya adalah teknik statistik yang mencoba melakukan transformasi multi dimensi ke dalam dimensi yang lebih rendah.

Dimensi dalam Rapfish menyangkut aspek keberlanjutan dari ekologi, ekonomi, teknologi, sosial dan etik. Setiap dimensi memiliki atribut atau indikator yang terkait dengan keberlanjutan (sustainability) sebagaimana yang diisyaratkan dalam FAO Code of Conduct for Responsible Fisheries.

Menurut Pitcher and Preikshot (2001) analisis Rapfish dimulai dengan mereview atribut dan mendefinisikan perikanan yang akan dianalisis (misalnya vessel-base, area-base, atau berdasarkan periode waktu), kemudian dilanjutkan dengan skoring, yang didasarkan pada ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Rapfish. Setelah itu dilakukan MDS untuk menentukan posisi relatif dari perikanan terhadap ordinasi baik (good) dan buruk (bad). Selanjutnya analisis Monte Carlo dan Leverage dilakukan untuk menentukan aspek ketidak-pastian dan anomali dari atribut yang dianalisis.

Menurut Hartono, et.al (2005) hasil dari kegiatan pengembangan metode RAPFISH untuk mengkaji indikator kinerja pembangunan sektor perikanan tangkap sebagaimana diuraikan di atas kemudian dirangkum dalam suatu bentuk pedoman penentuan indikator kinerja pembangunan subsektor perikanan tangkap. Penyusunan pedoman ini diolah dari hasil berbagai riset yang mengacu pada konsep sustainable development diantaranya metode RAPFISH. Penyusunan pedoman ini lebih bertujuan sebagai sarana sosialisasi metode analisis multivarites berbasis multidimensional scaling (MDS), terutama yang diaplikasikan dalam metode RAPFISH.

EKOSISTEM LAUT

Ekosistem air laut merupakan salah satu jenis ekosistem di Bumi yang dikenal juga dengan ekosistem bahari. Ekosistem air laut ini merupakan ekosistem yang berada di perairan laut. Ekosistem air laut ini terdiri atas beberapa ekosistem lainnya yakni ekosistem perairan dalam, ekosistem pantai pasir dangkal atau bitarol, dan ekosistem pasang surut. Ekosistem air laut ini didominasi oleh perairan asin yang sangat luas dan merupakan ekosistem yang menjadi tempat tinggal berbagai biota laut, mulai dari hewan ber sel satu, mamalia, invertebrata, hingga tanaman- tanaman laut seperti alga dan terumbu karang.

Ciri-ciri Ekosistem Air Laut

Ekosistem air laut mempunyai ciri khusus yang membedakannya dengan ekosistem lainnya. Ciri- ciri ekosistem laut ini secara umum adalah sebagai berikut:

  • Mempunyai variasi suhu, yakni perbedaan suhu antara bagian permukaan laut dengan bagian dalam atau kedalaman air laut.
  • Memiliki tingkat salinitas yang tinggi, yakni semakin mendekati garis khatulistiwa maka salinitas semakin tinggi.
  • Tidak terlalu dipengaruhi oleh keadaan iklim dan juga cuaca (baca: iklim di Indonesia).
  • Didominasi oleh NaCI hingga mencapai 75%.

Bagian-bagian Ekosistem Air Laut

Sebagai suatu Ekosistem, ekosistem laut ini terdiri atas beberapa bagian. Secara umum, bagian- bagian dari ekosistem air laut ini dilihat dari jarak dari pantai dan juga kedalamannya. Dilihat dari sudut tersebut, ekosistem air laut dibedakan menjadi zona litoral, zona neritik, dan juga zona oseanik.

1. Zona litoral

Zona litoral ini juga disebut sebagai zona pasang surut, yakni merupakan zona yang paling atas atau paing dangkal dari lautan. Zona litoral ini merupakan zona dari laut yang berbatasan langsung dengan daratan. zona litoral ini juga merupakan zona yang terendam ketika air laut mengalami pasang, dan akan terlihat seperti daratan ketika air laut surut. Di zona litoral ini, kita akan menemukan banyak hewan atau sekelompok hewan, diantaranya adalah bintang laut, udang, kepiting, bulu babi, hingga cacing laut.

2. Zona neritik

Zona yang kedua adalah zona neritik. Zona neritik ini disebut juga dengan ekosistem pantai pasir dangkal. Zona neritik ini merupakan bagian dari laut yang mempunyai tingkat kedalaman sekitar 200 meter, sehingga masih dapat ditembus oleh cahaya matahari hingga ke bagian dasar. zona neritik ini merupakan zona yang banyak dihuni oleh berbagai jenis tumbuhan ganggang lalu atau rerumputan laut dan juga berbagai jenis ikan. Do zona neritik ini kita akan menemukan suatu ekosistem lainnya yang lebih kecil, yakni ekosistem terumbu karang, ekosistem pantai batu, dan ekosistem pantai lumpur. Ketiga ekosistem tersebut disebut juga sebagai jenis- jenis dari ekosistem pantai pasir dangkal atau zona neritik ini.

3. Zona oseanik

Dari kedua zonae sebelumnya, yakni zona litoral dan zona neritik, zona oseanik merupakan zona yang paling dalam dari ekosistem air laut. Zona oseanik ini merupakan wilayah ekosistem air laut yang lepas, yang mana kedalamannya sangat dalam. Saking dalamnya, zona ini sampai terlihat gelap. Zona oseanik ini dibedakan menjadi dua macam, yakni zona batial dan juga zona abisal. Zona batial merupakan zona yang memiliki kedalaman sekitaran 200 hingga 2000 meter. Zona batial mempunyai keadaan yang remang- remang karena cahaya matahari yang masuk hanya sidkit sekali, sehingga tanpak remang- remang.

Di zona batial ini kita tidak bisa menemukan produsen karena hanya dihuni oleh nekton (sejenis organisme yang aktif berenang). Sementara zona abisal merupakan zona yang memiliki kedalaman yang lebih jauh lagi yakni lebih dari 2000 meter. Zona abisal ini merupakan zona yang sama sekali tidak dapat ditembus oleh cahaya matahari. Zona abisal ini dihuni oleh binatang- binatang predator, detrivitor atau pemakan sisa organisme, dan juga pengurai. Secara umum, air di zona oseanik ini tidak dapat bercampur dengan dengan air di permukaan air laut, hal ini karena keduanya memiliki perbedaan suhu. Batas dari kedua bagian ini dinamakan daerah termoklin.

RAJUNGAN

Rajungan adalah nama sekelompok kepiting dari beberapa marga anggota suku Portunidae. Jenis-jenis kepiting ini dapat berenang dan sepenuhnya hidup di laut.

Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Subfilum: Crustacea
Kelas: Malacostraca
Ordo: Decapoda
Infraordo: Brachyura
Superfamili: Portunoidea
Famili: Portunidae
Rafinesque, 1815 [1]

Beberapa jenis rajungan yang biasa didapati dan dijual di Indonesia antara lain :

  • Portunus pelagicus, rajungan biasa
  • Portunus sanguinolentus, rajungan bintang
  • Charybdis feriatus, rajungan karang
  • Podophthalmus vigil, rajungan angina

Karakteristik

Rajungan memiliki kulit luar (cangkang) keras. Lebarnya bisa mencapai 2x panjang. Pada ujung depan kulit luar terdapat 9 buah duri (anterolateral tooth), duri terakhir lebih besar dan panjang. Kaki belakang terakhir pipih dan bulat. Semua kaki berbulu, kecuali kaki pertama.

Habitat

Rajungan atau Swimming Crabs termasuk jenis organisme bentik dan semipelagik dengan tingkah laku yang sangat beragam. Makanan utamanya adalah Detritus dengan tingkah laku filter feeder.

Alat Tangkap

Jenis yang komersial di Indonesia termasuk Portunus pelagicus, P. sanguinolentus dan P. trituberculatus. Alat tangkap yang biasa dipakai adalah Bagan yang dilengkapi dengan umpan, jermal, Bubu dan jaring

SEA CUCUMBER

Ikan Teripang atau Sea Cucumber termasuk komoditas ekonomis penting belakangan ini karena prospeknya sebagai komoditas ekspor. Sebelum dijual hasil, teripang diproses melalui pemasakan, pengasapan dan pengeringan. Harga teripang kering mencapai ratusan ribu rupiah. Teripang umumnya ditangkap dengan menyelam menggunakan hookah kompresor. Pada awalnya, Teripang ditangkap oleh nelayan pada saat air surut (meting) dengan menggunakan sumpit atau diambil langsung dengan tangan. Sebagai jenis organisme yang sesil (menetap) dan meningkatnya permintaan ekspor, populasi Teripang cepat mengalami penurunan sehingga penangkapan dilakukan pada perairan yang lebih dalam.

Karakteristik ikan Teripang atau Sea Cucumber

  • Badan bulat panjang seperti tabung.
  • Seluruh tubuh ditutupi oleh duri-duri lunak (podia).
  • Tubuh ditutupi oleh selapis kulit yang agak tebal.
  • Pada ujungnya terdapat saluran untuk menghisap dan pembuangan (mouth dan anus). Teripang yang tertangkap di Indonesia berasal dari spesies yang beragam.

Habitat ikan Teripang atau Sea Cucumber

Teripang termasuk jenis dasar (demersal) dengan habitat utama pasir maupun terumbu karang. Individu yang masih muda umumnya berada pada perairan yang lebih dangkal (reef flat), setelah dewasa memilih perairan lebih dalam atau pada Terumbu Karang bagian luar (outer reef slope). Termasuk jenis organisme scavenger atau filter feeder, jenis makanannya adalah Detritus.

Karakteristik

Teripang memiliki badan bulat panjang seperti tabung. Seluruh tubuh ditutupi oleh duri-duri lunak (podia). Tubuh ditutupi oleh selapis kulit yang agak tebal. Pada ujungnya terdapat saluran untuk menghisap dan pembuangan (mouth dan anus). Teripang yang tertangkap di Indonesia berasal dari spesies yang beragam.

Habitat

Teripang termasuk jenis dasar (demersal) dengan habitat utama pasir maupun Terumbu Karang. Individu yang masih muda umumnya berada pada perairan yang lebih dangkal (reef flat), setelah dewasa memilih perairan lebih dalam atau pada Terumbu Karang bagian luar (outer reef slope). Termasuk jenis organisme scavenger atau filter feeder, jenis makanannya adalah Detritus.

Alat Tangkap

Teripang termasuk komoditas ekonomis penting belakangan ini karena prospeknya sebagai komoditas ekspor. Sebelum dijual hasil tangkapan diproses pemasakan, pengasapan dan pengeringan.  Harga teripang kering mencapai ratusan ribu rupiah. Teripang umumnya ditangkap dengan menyelam menggunakan hookah kompresor. Pada awalnya, Teripang ditangkap oleh nelayan pada saat air surut (meting) dengan menggunakan sumpit atau diambil langsung dengan tangan. Sebagai jenis organisme yang sesil (menetap) dan meningkatnya permintaan ekspor, populasi Teripang cepat mengalami penurunan sehingga penangkapan dilakukan pada perairan yang lebih dalam.

Teripang merupakan salah satu anggota hewan filum Echinodermata. Duri teripang merupakan butir-butir kapur mikroskopis yang terbenam dalam jaringan dinding tubuh (Hyman 1955; Lawrence 1987).

Klasifikasi Teripang


Teripang atau trepang atau timun laut adalah istilah yang diberikan untuk hewan invertebrata Holothuroidea yang dapat dimakan. Ia tersebar luas di lingkungan laut di seluruh dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Barat. Klasifikasi teripang adalah sebagai berikut :

Kingdom: Animalia
Filum: Echinodermata
Subfilum: Echinozoa
Kelas: Holothuroidea

Morfologi Teripang


Teripang umumnya memiliki tubuh lunak dan kasar karena adanya spikula pada dinding tubuh (Hyman 1955). Permukaan tubuh tidak bersilia dan diselimuti oleh lapisan kapur yang tebal tipisnya tergantung umur. Di sepanjang mulut ke anus terdapat lima deretan kaki tabung, terdiri dari tiga deretan kaki tabung dengan penghisap pada bagian perut (trivium) yang berperan dalam respirasi (Lawrence 1987). Di bawah lapisan kulit terdapat satu lapis otot melingkar dan lima lapis otot memanjang. Sesudah lapisan otot terdapat rongga tubuh yang berisi organ-organ tubuh seperti gonad dan usus (Storer et al. 1979).

Secara umum di dalam selaput dinding tubuh teripang terdapat selaput otot melingkar, lima pasang otot longitudinal, saluran pencernaan yang panjang dan melingkar, kerongkongan yang pendek, lambung terlihat membesar, usus halus panjang dan bermuara ke dalam kloaka dengan dinding bersifat muskular, kemudian kloaka bermuara keluar melalui anus yang terletak pada ujung yang lain (Pangabean 1987)

Warna teripang bervariasi tergantung jenisnya, mulai dari berwarna putih, hitam, coklat kehijauan, abu-abu, dan bahkan ada beberapa jenis yang mempunyai warna terang seperti merah muda, orange, ungu dan kadang-kadang bergaris-garis atau belang-belang (Ruppert dan Barnes 1994; Wibowo et al. 1997). Perbedaan warna ini terkadang digunakan dalam membedakan jenis teripang (Barnes 1987). Teripang pasir (Holothuria scabra), mempunyai punggung berwarna abu-abu atau kehitaman dengan bintik-bintik putih atau kuning.

Ukuran tubuh teripang bervariasi untuk setiap jenisnya. Misalnya, jenis Holothuria atra dapat mencapai panjang 60 cm dan berat 2 kg, jenis teripang pasir atau teripang putih (Holothuria scabra) panjangnya 25 – 35 cm dengan berat antara 0.25 – 0.35 kg (M’Boy 2014).

Sistem Pencernaan


Sistem pencernaan teripang berbentuk tabung memanjang terdiri dari tentakel, mulut, kerongkongan, tenggorokan, perut besar, usus halus, kloaka dan anus. Mulut dan anus teripang terletak pada ujung poros yang berlawanan, yaitu anus berada pada bagian anterior dan anus berada pada bagian posterior. Mulut teripang dikelilingi oleh 10 – 30 tentakel yang dapat dijulurkan dan ditarik kembali dengan cepat. Tentakel-tentakel ini merupakan modifikasi dari kaki tabung yang berfungsi untuk menangkap makanan (Storer et al. 1979; Lawrence 1987).

Teripang memiliki dua cara makan yaitu dengan menangkap plankton dengan tentakelnya dan dengan menelan pasir. Teripang merupakan komponen penting dalam rantai makanan (food chain) di terumbu karang dan ekosistem asosiasinya pada berbagai tingkat struktur pakan (trophic levels). Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder) (Darsono 2005).

Pada umumnya makanan teripang terdiri atas partikel-partikel organik yang banyak terdapat pada pasir dan lumpur. Makanan teripang terdiri atas detritus, rumput laut dan organisme-organisme kecil seperti diatom, protozoa, nematoda, alga, filamen, copepoda, ostracoda. Selain itu, ditemukan pula foraminifera, radiolarian, partikel-partikel pasir atau hancuran batu karang dan cangkang-cangkang hewan (M’Boy 2014).

Parameter Fisika Kimia


Kelangsungan hidup teripang dipengaruhi oleh sifat kimia-fisika perairan. Perubahan kondisi suatu perairan dapat menimbulkan akibat yang merugikan terhadap populasi ataupun terhadap komunitas dari suatu organisme yang hidup didalamnya. Perubahan kondisi suatu perairan dapat terjadi karena pengaruh alamiah maupun karena aktifitas manusia.

  1. Suhu

Kisaran suhu perairan yang disukai oleh teripang adalah 20-25 derajat C (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1993). Pendapat lainnya menyebutkan bahwa suhu optimal untuk kehidupan teripang adalah pada suhu 26-31 derajat C (Bakus, 1973).

  • Salinitas

Pada umumnya teripang menyukai perairan yang bersih dan jernih dengan salinitas laut optimum sekitar 32-35% (James et al., 1988). Perubahan salinitas melebihi 3% dari kisaran optimumnya akan menyebabkan terjadinya pengelupasan kulit yang dalam kondisi ekstrim dapat menyebabkan kematian teripang. Teripang umumnya dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan salinitas sampai batas tertentu dengan adanya mekanisme osmoregulasi. Semakin tinggi salinitas semakin besar tekanan osmosisnya. Semakin besar perbedaan antara tekanan osmosis tubuh teripang dengan lingkungan maka semakin besar energi yang diperlukan untuk menyesuaikan diri.

  • Arus

Umumnya teripang dapat hidup dan berkembang dengan baik pada perairan yang tenang, namun perubahan kecepatan arus dapat ditolerir teripang dengan syarat nilai suhu dan salinitasnya relatif konstan (Cannon and Silver, 1986).

  • Kecerahan

Pada perairan alami kecerahan sangatlah erat hubungannya dengan proses fotosintesis. Kecerahan merupakan suatu fungsi dari intensitas cahaya, faktor yang dapat mempengaruhi kecerahan pada suatu perairan adalah kandungan lumpur, plankton, dan zat-zat terlarut lainnya. Untuk pertumbuhan optimal, teripang membutuhkan habitat dengan kecerahan perairan 50-150 cm (Sutaman, 2003). Kecerahan yang tinggi merupakan syarat untuk berlangsungnya fotosintesis fitoplankton yang baik.

  • Derajat keasaman (pH)

Derajat keasaman adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan menunjukkan suasana air tersebut apakah dapat bereaksi dengan asam atau basa. Tingkat kesuburan perairan berdasarkan pH yaitu tidak produktif: 5,5-6,5, produktif: 6,5-7,5, dan sangat produktif: 7,5-8,5 (Ngurah, 1983 dalam Bandjar dkk, 1988). Batas toleransi organisme perairan terhadap perairan bervariasi dan dipengaruhi banyak faktor antara lain suhu, oksigen terlarut, alkalinitas. Untuk Teripang, derajat keasaman yang disukai umumnya pada kisaran 6,5-8,5 (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2005).

  • Kandungan oksigen terlarut (DO)

Oksigen di perairan berasal dari difusi udara maupun dari proses fotosintesis oleh organisme seperti fitoplankton dan tumbuhan air. Oksigen dikonsumsi oleh tumbuhan dan hewan secara terus menerus selama aktifitas respirasi. Nilai oksigen terlarut (DO) yang optimum untuk pertumbuhan teripang minimal adalah 3 ppm (Sutaman, 1993). Pendapat lain mengatakan bahwa kandungan oksigen terlarut (DO) optimum untuk teripang yaitu pada kisaran 4-8 ppm (Martoyo dkk, 1994).

  • Substrat

Sedimen adalah materi atau mineral yang tenggelam dan mengendap di dasar perairan. Sedimen di dasar perairan merupakan substrat dimana terdapat kehidupan dasar. Tipe substrat dasar yang mempunyai penyebaran besar butir tertentu dapat merupakan suatu ekosistem bagi kehidupan organisme dasar. Substrat dasar perairan dapat dibedakan atas enam jenis yaitu: lumpur, pasir, liat, kerikil, batu dan liat berpasir. Biasanya teripang lebih senang dengan substrat pasir dengan patahan karang atau pasir berlumpur sebagai tempat mencari makan karena mengandung banyak detritus dan mampu menjadi tempat persembunyian dari berbagai predator.

KLASIFIKASI ALAT PENANGKAPAN IKAN

Klasifikasi alat penangkap ikan adalah cara mengelompokkan alat penangkap ikan sesuai dengan tujuan dan peruntukkan pengklasifikasiannya. Klasifikasi alat penangkap ikan telah ditentukan dan disetujui baik secara internasional (ISSCFG─FAO) maupun nasional (KAPI─Indonesia).

Alat penangkapan ikan adalah segala macam alat yang di pergunakan dalam proses penangkapan ikan termasuk kapal, alat tangkap dan alat bantu penangkapan. Pemerintah Indonesia, dalam rangka pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya ikan secara optimal dan berkelanjutan, menetapkan Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia No. KEP.06/MEN/2010.

Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia yang menurut jenisnya terdiri dari 10 (sepuluh) kelompok yaitu:

  1. jaring lingkar (surrounding nets);
  2. pukat tarik (seine nets);
  3. pukat hela (trawls);
  4. penggaruk (dredges);
  5. jaring angkat (lift nets);
  6. alat yang dijatuhkan (falling gears);
  7. jaring insang (gillnets and entangling nets);
  8. perangkap (traps);
  9. pancing (hooks and lines);
  10. alat penjepit dan melukai (grappling and wounding).

I. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING LINGKAR (SURROUNDING NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan jaring lingkar adalah kelompok alat penangkapan ikan berupa jaring berbentuk empat persegi panjang yang terdiri dari sayap, badan, dilengkapi pelampung, pemberat, tali ris atas, tali ris bawah dengan atau tanpa tali kerut/pengerut dan salah satu bagiannya berfungsi sebagai kantong yang pengoperasiannya melingkari gerombolan ikan pelagis. (SNI 7277.3:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan jaring lingkar (Surrounding Nets): 01.0.0

1. Jaring lingkar bertali kerut (With purse lines/Purse seine), PS, 01.1.0:

  • Pukat cincin dengan satu kapal (One boat operated purse seines), PS1,01.1.1:
    • Pukat cincin pelagis kecil dengan satu kapal, PS1-K, 01.1.1.1
    • Pukat cincin pelagis besar dengan satu kapal, PS1-B, 01.1.1.2


Gambar Pukat cincin dengan satu kapal (One boat operated purse seines)

  • Pukat cincin dengan dua kapal (Two boat operated purse seines), PS2,01.1.2:
    • Pukat cincin grup pelagis kecil, PS2-K, 01.1.2.1
    • Pukat cincin grup pelagis besar, PS2-B, 01.1.2.2


Gambar Pukat cincin dengan dua kapal (Two boat operated purse seines)

2. Jaring lingkar tanpa tali kerut (Without purse lines/Lampara): LA, 01.2.0


Gambar Jaring lingkar tanpa tali kerut (Without purse lines/Lampara)

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan jaring lingkar dilakukan dengan cara melingkari gerombolan ikan yang menjadi sasaran tangkap untuk menghadang arah renang ikan sehingga terkurung di dalam lingkaran jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan sampai dengan kolom perairan yang mempunyai kedalaman yang cukup (kedalaman jaring ≤ 0,75 kedalaman perairan), umumnya untuk menangkap ikan pelagis.


II. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT TARIK (SEINE NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan pukat tarik adalah kelompok alat penangkapan ikan berkantong (cod-end) tanpa alat pembuka mulut jaring, pengoperasiannya dengan cara melingkari gerombolan (schooling) ikan dan menariknya ke kapal yang sedang berhenti/berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui kedua bagian sayap dan tali selambar. (SNI 7277.6:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Pukat Tarik (Seine Nets), 02.0.0:

1. Pukat tarik pantai (Beach seines), SB, 02.1.0


Gambar Pukat tarik pantai

2. Pukat tarik berkapal (boat or vessel seines), SV, 02.2.0:

– Dogol (Danish seines), SDN, 02.2.1


Gambar Dogol (Danish seines)

– Scottish seines, SSC 02.2.2


Gambar Scottish seines

– Pair Seines, SPR, 02.2.3


Gambar Pair seines

– Payang, SV-PYG, 02.2.0.1


Gambar Payang

– Cantrang, SV-CTG, 02.2.0.2


Gambar Cantrang

– Lampara dasar: SV-LDS, 02.2.0.3


Gambar Lampara Dasar

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan pukat tarik dilakukan dengan cara melingkari gerombolan ikan pelagis atau ikan demersal dengan menggunakan kapal atau tanpa kapal. Pukat ditarik kearah kapal yang sedang berhenti atau berlabuh jangkar atau ke darat/pantai melalui tali selambar di kedua bagian sayapnya. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pukat tarik yang digunakan.

Pukat tarik pantai dioperasikan di daerah pantai untuk menangkap ikan pelagis dan demersal yang hidup di daerah pantai. Dogol dan lampara dasar dioperasikan pada dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal. Payang dioperasikan di kolom perairan umumnya menangkap ikan pelagis.


III. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PUKAT HELA (TRAWLS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) adalah kelompok alat penangkapan ikan terbuat dari jaring berkantong yang dilengkapi dengan atau tanpa alat pembuka mulut jaring dan pengoperasiannya dengan cara dihela di sisi atau di belakang kapal yang sedang melaju (SNI 7277.5:2008). Alat pembuka mulut jaring dapat terbuat dari bahan besi, kayu atau lainnya.

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan pukat hela, 03.0.0:

1. Pukat hela dasar (Bottom Trawls), TB, 03.1.0:

– Pukat hela dasar berpalang (Beam trawl), TBB, 03.1.1


Gambar Pukat hela dasar berpalang

– Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls), OTB, 03.1.2


Gambar Pukat hela dasar berpapan (Otter trawls)

– Pukat hela dasar dua kapal (pair trawls), PTB, 03.1.3


Gambar Pukat hela dasar dua kapal (pair trawls)

– Nephrops trawl (Nephrops trawl), TBN, 03.1.4


Gambar Nephrops trawl (Nephrops trawls)

– Pukat hela dasar udang  (Shrimp trawls), TBS, 03.1.5 Pukat udang, TBS-PU, 03.1.5.1

2. Pukat hela pertengahan (Midwater trawls), TM, 03.2.0:

– Pukat hela pertengahan berpapan (Otter trawls), OTM, 03.2.1 Pukat ikan, OTM-PI, 03.2.1.1


Gambar Pukat ikan udang

– Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair trawls), PTM, 03.2.2


Gambar Pukat hela pertengahan dua kapal (Pair trawls)

– Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls), TMS 03.2.3


Gambar Pukat hela pertengahan udang (Shrimp trawls)

3. Pukat hela kembar berpapan (Otter twin trawls), OTT, 03.3.0


Gambar Pukat hela kembar berpapan (Otter twin trawls)

4. Pukat dorong, TX-PD, 03.9.0.1


Gambar Pukat dorong

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan pukat hela (trawls) dilakukan dengan cara menghela pukat di sisi atau di belakang kapal yang sedang melaju. Pengoperasiannya dilakukan pada kolom maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal termasuk udang dan crustacea lainnya tergantung jenis pukat hela yang digunakan. Pukat hela dasar dioperasikan di dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan demersal, udang dan crustacea lainnya. Pukat hela pertengahan dioperasikan di kolom perairan, umumnya menangkap ikan pelagis.


IV. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PENGGARUK (DREDGES)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan Penggaruk (dredges) adalah kelompok alat penangkapan ikan berbingkai kayu atau besi yang bergerigi atau bergancu di bagian bawahnya, dilengkapi atau tanpa jaring/bahan lainnya, dioperasikan dengan cara menggaruk di dasar perairan dengan atau tanpa perahu untuk menangkap kekerangan dan biota menetap (SNI 7277.2:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Penggaruk (Dredges), 04.0.0:

1. Penggaruk berkapal (Boat dredges), DRB, 04.1.0


Gambar Penggaruk berkapal

2. Penggaruk tanpa kapal (Hand dredges), DRH, 04.2.0


Gambar Penggaruk tanpa kapal

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan penggaruk dilakukan dengan cara menarik ataupun menghela garuk dengan atau tanpa kapal. Pengoperasiannya dilakukan pada dasar perairan umumnya untuk menangkap kekerangan, teripang, dan biota menetap lainnya.


V. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING ANGKAT (LIFT NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan jaring angkat adalah kelompok alat penangkapan ikan terbuat dari bahan jaring berbentuk segi empat dilengkapi bingkai bambu atau bahan lainnya sebagai rangka, yang dioperasikan dengan cara dibenamkan pada kolom perairan saat setting dan diangkat ke permukaan saat hauling yang dilengkapi dengan atau tanpa lampu pengumpul ikan, untuk menangkap ikan pelagis (SNI 7277.9:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan jaring angkat (Lift nets), 05.0.0:

1. Anco (Portable lift nets), LNP, 05.1.0


Gambar Anco (Portable lift nets)

2. Jaring angkat berperahu (Boat-operated lift nets), LNB, 05.2.0:

– Bagan berperahu, LNB-BP, 05.2.0.1


Gambar Bagan berperahu

  • Bouke ami, LNB-BA, 05.2.0.2


Gambar Bouke ami

3. Bagan tancap (Shore-operated stationary lift nets), LNS, 05.3.0


Gambar Bagan tancap (Shore-operated stationary lift nets)

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan jaring angkat dilakukan dengan cara dibenamkan pada kolom perairan saat setting dan diangkat ke permukaan saat hauling. Pengoperasiannya dapat menggunakan alat bantu pengumpul ikan berupa lampu. Anco dan bagan tancap dioperasikan di daerah pantai sedangkan jaring angkat lainnya dioperasikan di perairan yang lebih jauh dari pantai.


VI. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN YANG DIJATUHKAN ATAU DITEBARKAN (FALLING GEAR)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terbuat dari jaring, besi, kayu, dan/atau bambu yang cara pengoperasiannya dijatuhkan/ditebarkan untuk mengurung ikan pada sasaran yang terlihat maupun tidak terlihat (SNI 7277.12:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan (Falling gear), 06.0.0:

1. Jala jatuh berkapal (Cast nets), FCN, 06.1.0


Gambar Jala jatuh berkapal (Cast nets)

2. Jala tebar (Falling gear not specified), FG, 06.9.0


Gambar Jala tebar (Falling gear not specified)

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan yang dijatuhkan atau ditebarkan dilakukan dengan cara menjatuhkan/menebarkan pada suatu perairan dimana target sasaran tangkapan berada. Pada jala jatuh berkapal pengoperasian dilanjutkan dengan menarik tali kerut pada bagian bawah jala, sedangkan pada jala tebar bagian bawah jala akan menguncup dengan sendirinya karena pengaruh pemberat rantai. Jala tebar dioperasikan di sekitar pantai yang dangkal untuk menangkap ikan-ikan kecil, sedangkan jala jatuh berkapal dioperasikan di perairan yang lebih jauh dari pantai dengan atau tanpa alat bantu penangkapan berupa lampu umumnya menangkap ikan pelagis bergerombol dan cumi-cumi.


VII. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING INSANG (GILLNETS AND ENTANGLING NETS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan jaring insang adalah kelompok jaring yang berbentuk empat persegi panjang dilengkapi dengan pelampung, pemberat, tali ris atas dan tali ris bawah atau tanpa tali ris bawah untuk menghadang ikan sehingga ikan tertangkap dengan cara terjerat dan/atau terpuntal dioperasikan di permukaan, pertengahan dan dasar secara menetap, hanyut dan melingkar dengan tujaun menangkap ikan pelagis dan demersal (SNI 7277.8:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Jaring Insang, (Gillnets and entangling nets), 07.0.0:

1. Jaring insang tetap (Set gillnets (anchored)), GNS, 07.1.0 Jaring Liong bun, GNS-LB, 07.1.0.1


Gambar Jaring liong bun

2. Jaring insang hanyut (Driftnets), GND, 07.2.0 Jaring gillnet oseanik, GND-OC, 07.2.0.1


Gambar Jaring gillnet oseanik

3. Jaring insang lingkar (Encircling gillnets), GNC, 07.3.0


Gambar Jaring Insang lingkar (Encircling gillnets)

4. Jaring insang berpancang (Fixed gillnets (on stakes)), GNI, 07.4.0


Gambar Jaring insang berpancang (Fixed gillnets (on stakes))

5. Jaring insang berlapis (Trammel nets), GTR, 07.5.0 Jaring klitik, GTR-JK, 07.5.0.1


Gambar Jaring insang berlapis (Trammel nets)

6. Combined gillnets-trammel nets, GTN, 07.6.0


Gambar Combined gillnets-trammel nets

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian jaring insang dilakukan dengan cara menghadang arah renang gerombolan ikan pelagis atau demersal yang menjadi sasaran tangkap sehingga terjerat pada jaring. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, pertengahan maupun pada dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis jaring insang. Jaring insang dioperasikan secara menetap, dihanyutkan, melingkar maupun terpancang pada permukaan, pertengahan maupun dasar perairan. Jaring insang ada yang satu lapis maupun berlapis. Jaring insang berlapis umumnya dioperasikan pada dasar perairan umumnya menangkap ikan demersal.


VIII. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PERANGKAP (TRAPS)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan perangkap adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terbuat dari jaring, dan/atau besi, kayu, bambu, berbentuk silinder, trapesium dan bentuk lainnya dioperasikan secara pasif pada dasar atau permukaan perairan, dilengkapi atau tanpa umpan (SNI 7277.10:2008).

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Perangkap (Traps), 08.0.0:

1. Stationary uncovered pound nets, FPN, 08.1.0
Set net , FPN-SN, 08.1.0.1


Gambar Set nets

2. Bubu (Pots), FPO, 08.2.0


Gambar Bubu (Pots)

3. Bubu bersayap (Fyke nets), FYK, 08.3.0


Gambar Bubu bersayap (Fyke nets)

4. Stow nets, FSN, 08.4.0:

– Pukat labuh (Long bag set net), FSN-PL, 08.4.0.1


Gambar Pukat labuh (Long bag set net)

– Togo, FSN-TG, 08.4.0.2


Gambar Togo

– Ambai, FSN-AB, 08.4.0.3


Gambar Ambai

– Jermal, FSN-JM, 08.4.0.4


Gambar Jermal

– Pengerih, FSN-PG, 08.4.0.5


Gambar Pengerih

5. Barriers, fences, weirs, FWR, 08.5.0 Sero, FWR-SR, 08.5.0.1


Gambar Sero

6. Perangkap Ikan Peloncat (Aerial traps), FWR, 08.6.0


Gambar Perangkap Ikan Peloncat (Aerial traps)

7. Muro ami, FIX-MA, 08.9.0.1


Gambar Muro ami

8. Seser, FIX-SS, 08.9.0.2


Gambar Seser

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan perangkap dilakukan secara pasif berdasarkan tingkah laku ikan, ditempatkan pada suatu perairan dengan atau tanpa umpan sehingga ikan terperangkap atau terjebak masuk dan tidak dapat keluar dari perangkap. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan maupun dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis perangkap. Bubu bersayap, togo, ambai, jermal, pengerih dan sero dioperasikan di daerah pantai untuk menangkap ikan yang beruaya dengan mamanfaatkan pasang surut perairan.

Set net dioperasikan di wilayah pantai secara menetap untuk menangkap ikan pelagis maupun demersal yang beruaya secara regular atau musiman. Pukat labuh dioperasikan di wilayah pantai dengan memanfaatkan arus perairan, umumnya untuk menangkap ikan ukuran kecil di daerah pasang surut. Bubu dioperasikan di dasar perairan umumnya untuk menangkap ikan demersal dan ikan karang. Alat penangkapan ikan peloncat dioperasikan pada permukaan air mengikuti tingkah laku ikan yang meloncat apabila merasa terhalang.


IX. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PANCING (HOOKS AND LINES)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan pancing adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terdiri dari tali dan mata pancing dan atau sejenisnya (SNI 7277.4:2008). Dilengkapi dengan umpan alami, umpan buatan atau tanpa umpan.

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Pancing (Hooks and Lines), 09.0.0:

1. Handlines and pole-lines/hand operated, LHP, 09.1.0:

– Pancing ulur, LHP-PU, 09.1.0.1


Gambar Pancing ulur

– Pancing berjoran, LHP-PJ, 09.1.0.2


Gambar Pancing berjoran

– Huhate, LHP-PH, 09.1.0.3


Gambar Huhate

– Squid angling , LHP-SA, 09.1.0.4


Gambar Squid angling

2. Handlines and pole-lines/mechanized, LHM, 09.2.0:

– Squid jigging; LHM-PC, 09.2.0.1


Gambar Squid jigging

– Huhate mekanis, LHM-HM, 09.2.0.2


Gambar Huhate mekanis

3. Rawai dasar (Set long lines), LLS, 09.3.0


Gambar Rawai dasar (Set long lines)

4. Rawai hanyut (Drifting long lines), LLD, 09.4.0:

– Rawai tuna, LLD-RT, 09.4.0.1


Gambar Rawai tuna

– Rawai cucut, LLD-RC, 09.4.0.2


Gambar Rawai cucut

5. Tonda (Trolling lines), LTL, 09.6.0


Gambar Tonda (Trolling lines)

6. Pancing layang-layang, LX-LY, 09.9.0.1


Gambar Pancing layang-layang

Tata cara pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan pancing dilakukan dengan cara menurunkan tali dan mata pancing dan atau sejenisnya, menggunakan atau tanpa joran yang dilengkapi dengan umpan alami, umpan buatan atau tanpa umpan. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan, umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis pancing.

Huhate dioperasikan di permukaan perairan umumnya menangkap gerombolan ikan pelagis perenang cepat (tongkol dan cakalang). Tonda dan pancing layang-layang dioperasikan di permukaan perairan dengan cara ditarik secara horizontal dengan menggunakan kapal umumnya menangkap ikan pelagis.

Squid jigging dioperasikan pada kolom perairan umumnya untuk menangkap cumi-cumi. Rawai hanyut (termasuk rawai tuna dan rawai cucut) dioperasikan di kolom perairan sampai dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis dan demersal. Pancing ulur, pancing berjoran dan rawai dasar dioperasikan di kolom perairan sampai dasar perairan umumnya menangkap ikan pelagis dan demersal.


X. KELOMPOK JENIS ALAT PENANGKAPAN IKAN PENJEPIT DAN MELUKAI (GRAPPLING AND WOUNDING)


Kelompok jenis alat penangkapan ikan penjepit dan melukai adalah kelompok alat penangkapan ikan yang terbuat dari batang kayu, besi atau bahan lainnya yang mempunyai satu atau lebih bagian runcing/tajam, yang pengoperasiannya dengan cara mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan/atau membunuh sasaran tangkap (SNI 7277.11:2008)

Jenis, sebutan, singkatan, pengkodean dan gambar

Jenis alat penangkapan ikan Penjepit dan Melukai (Grappling and Wounding), 10.0.0:

1. Tombak (Harpoons), HAR, 10.1.0


Gambar Tombak (Harpoons)

2. Ladung, HAR-LD, 10.0.0.1


Gambar Ladung

3. Panah, HAR-PN, 10.0.0.2


Gambar Panah

Tata Cara Pengoperasian

Pengoperasian alat penangkapan ikan penjepit dan melukai dilakukan dengan cara mencengkeram, mengait/menjepit, melukai dan/atau membunuh sasaran tangkap. Pengoperasiannya dilakukan pada permukaan, kolom maupun dasar perairan umumnya untuk menangkap ikan pelagis maupun ikan demersal tergantung jenis alatnya. Ladung dioperasikan di daerah pantai untuk menombak ikan-ikan pantai. Tombak dioperasikan di daerah pantai untuk menombak ikan-ikan pantai, dapat pula dioperasiakan di laut lepas (harpoon) umumnya menangkap mamalia besar. Panah dioperasikan pada wilayah berkarang umumnya untuk menangkap ikan yang hidup di karang.

TERUMBU KARANG

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia.

Terumbu karang dibedakan antara binatang karang (reef coral) sebagai individu organisme atau komponen komunitas dengan terumbu karang (coral reef) sebagai suatu ekosistem, termasuk didalamnya organisme-organisme karang. individu karang yang disebut polip merupakan binatang sederhana berbentuk tabung dengan mulut berada diatas yang juga berfungsi sebagai anus. Di sekitar mulut terdapat tentakel yang berfungsi sebagai penangkap makanan. Jaringan tubuh karang terdiri dari ektoderm, mesoglea, dan endoderm. Ektoderm merupakan jaringan terluar yang mempunyai cilia, kantung lendir (mucus) dan sejumlah nematokis (nematocyst). Mesoglea adalah jaringan yang terletak antara ektoderm dan endoderm, bentuknya seperti agar-agar (jelly). Endoderm merupakan jaringan yang paling dalam dan sebagian besar berisi zooxanthellae (Nybakken, 1992; Suharsono, 1996).

Gambar Anatomi Polip Karang (Nybakken, 1992)

Karang mempunyai sistem syaraf, jaringan otot dan reproduksi yang telah berkembang dan berfungsi secara baik.

  • Jaringan syaraf tersebar baik di ektoderma maupun di endoderma serta mesoglea yang dikoordinasi oleh sel junction yaitu sel khusus yang bertanggung jawab memberikan respon baik terhadap mekanis maupun kimiawi serta cahaya (Suharsono, 1996).
  • Jaringan otot terdapat diantara jaringan mesoglea yang bertanggung jawab atas gerakan polip untuk mengembang atau mengkerut sebagai respon perintah jaringan syaraf (Suharsono, 1996).
  • Jaringan mesentrial filamen berfungsi sebagai otot pencerna yang berisi sel mucus yang berisi enzim untuk mencerna makanan. Lapisan luar dari jaringan mesentri filamen dilengkapi sel cilia yang halus (Suharsono, 1996).

Berdasarkan perkembangannya, karang dibagi menjadi dua kelompok yaitu hermatypic coraldan ahermatypic coral.

1. Hermatypic coral adalah binatang karang yang dapat membentuk bangunan karang dari kalsium karbonat. Binatang karang ini bersimbiosis dengan sejenis alga (zooxanthellae) yang hidup di jaringan (endoderm) polip karang dan melakukan fotosintesis. Hasil samping dari aktivitas fotosintesis tersebut adalah endapan kapur, kalsium karbonat yang struktur dan bentuk bangunannya khas. Ciri ini yang digunakan untuk menentukan spesies binatang karang (Supriharyono, 2000).

Gambar Hermatypic coral

2. Ahermatypic coral adalah binatang karang yang tidak dapat membentuk bangunan karang.

Gambar Ahermatypic coral

Suatu jenis karang dari genus yang sama dapat mempunyai bentuk pertumbuhan (life form) yang berbeda pada suatu lokasi pertumbuhan. Bentuk- bentuk pertumbuhan karang dipengaruhi oleh beberapa faktor alam, terutama oleh intensitas cahaya dan tekanan gelombang.

Beberapa bentuk pertumbuhan karang antara lain:

1. Bentuk bercabang (branching), yang memiliki cabang lebih panjang dari pada diameternya. Banyak terdapat di sepanjang tepi terumbu dan bagian atas lereng, terutama yang terlindung atau setengah terbuka, memberikan tempat perlindungan bagi ikan dan invertebrata tertentu.

Gambar Terumbu Karang Bentuk bercabang

2. Bentuk padat (massive), yang berbentuk seperti bola dengan ukuran bervariasi, permukaannya halus dan padat. Biasanya ditemukan di sepanjang tepi terumbu karang dan bagian atas lereng terumbu dewasa yang belum terganggu atau rusak. Tinggi dan lebarnya dapat mencapai beberapa meter, memberikan perlindungan yang sangat baik serta berperan sebagai daerah pencarian makan (feeding ground) bagi ikan dan hewan lain.

Gambar Terumbu Karang Bentuk Padat

3. Bentuk kerak (encrusting), yang tumbuh menyerupai dasar terumbu dengan permukaan yang kasar dan keras serta berlubang kecil-kecil. Banyak terdapat pada lokasi yang terbuka dan berbatu-batu, terutama mendominasi sepanjang tepi lereng terumbu.

Gambar Terumbu Karang Bentuk Kerak

4. Bentuk meja (tabulate), yang menyerupai meja dengan permukaan yang lebar dan datar. Karang ini ditopang dengan batang yang berpusat atau bertumpu pada satu sisi membentuk sudut atau datar.

Gambar Terumbu Karang Bentuk Meja

5. Bentuk daun (foliaceous), yang tumbuh dalam bentuk lembaran-lembaran yang menonjol pada dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan atau melingkar. Terutama terdapat pada lereng terumbu dan daerah-daerah yang terlindung, memberikan perlindungan bagi ikan dan hewan lain.

Gambar Terumbu Karang Bentuk Daun

6. Bentuk jamur (mushroom), yang berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki banyak tonjolan seperti punggung bukit beralur dari tepi hingga pusat mulut.

Gambar Terumbu Karang Bentuk Jamur

Ekologi Terumbu Karang

Terumbu karang tersebar pada laut dangkal, di laut tropis hingga subtropis yaitu di antara lintang 35 LU sampai 32 LS mengelilingi bumi. Pertumbuhan karang pembentuk terumbu tergantung pada kondisi lingkungannya yang selalu berubah. Faktor-faktor fisik dan kimiawi yang dapat mempengaruhi pertumbuhan karang antara lain cahaya matahari, suhu, salinitas, arus dan sedimentasi. Faktor biologis yang berperan berupa predator atau pemangsa (Supriharyono, 2000).

Cahaya memegang peranan penting sebagai sumber energi bagi kelangsungan proses fotosintesis. Cahaya dibutuhkan zooxanthellae untuk berfotosintesis dalam jaringan karang. Tanpa cahaya yang cukup laju fotosintesis akan berkurang dan bersaman dengan itu kemampuan karang untuk menghasilkan kalsium karbonat dan membentuk terumbu akan berkurang pula (Nybakken, 1998).

Menurut Supriharyono (2000), suhu yang baik untuk pertumbuhan karang berkisar antara 25 derajat C sampai 29 derajat C. Batas minimum suhu berkisar antara 16 derajat sampai 17 derajat C dan batas maksimum sekitar 36 derajat C.

Perkembangan terumbu yang paling optimal terjadi pada perairan yang suhu rata- rata tahunannya 23 derajat C sampai 25 derajat C. (Nybakken 1992)

Salinitas merupakan faktor pembatas kehidupan binatang karang karena binatang karang pembentuk terumbu (hermatypic coral) adalah organisme laut sejati. Daya tahan setiap jenis karang berbeda-beda tergantung kondisi perairan laut setempat. Binatang karang dapat hidup pada kisaran salinitas 17,5-52,5 ‰ (Supriharyono, 2000).

Terumbu karang hidup subur pada kisaran salinitas 34 sampai 36‰ (Supriharyono, 2000).

Sedimentasi mengakibatkan pertumbuhan karang terganggu karena menurunnya ketersediaan cahaya, abrasi dan meningkatnya pengeluaran energi selama penolakan terhadap sedimen. Gangguan penetrasi cahaya akibat kekeruhan yang tinggi yaitu terbatasnya fotosintesis zooxanthellae dan secara tidak langsung membatasi pertumbuhan karang. Energi yang digunakan untuk pertumbuhan dan reproduksi berkurang karena dipindahkan untuk aktivitas-aktivitas penolakan terhadap sedimen sehingga polip karang tidak dapat menangkap plankton secara efektif (Connel dan Hawker 1992).

Arus dibutuhkan untuk mendatangkan makanan berupa plankton, disamping itu arus dapat membersihkan karang dari sedimen yang menutupi karang. Pertumbuhan karang pada daerah berarus lebih baik dibandingkan dengan perairan yang tenang (Nontji, 1987).

Kompleksnya tipe habitat yang ada di terumbu karang berhubungan dengan ketersediaan relung makanan dan ruang sebagai sumberdaya bagi karang dan hewan penghuni. Tiap-tiap tipe habitat mempunyai karakteristik sendiri untuk menunjang distribusi dan kelimpahan biota karang. terumbu karang tidak hanya terdiri dari binatang karang saja, tetapi juga daerah berpasir, berbagai teluk dan celah, daerah alga, dan juga perairan yang dangkal dan dalam, serta zona-zona yang berbeda (Nybakken, 1992).

Penggolongan komponen morfologis dan dasar penyusun ekosistem terumbu karang dan kode yang digunakan menurut Bradbury dan Young (1981) dalam Dartnall dan Jones (1986). Daftar penggolongan komponen morfologis dasar penyusun terumbu karang dan pengkodeannya adalah sebagai berikut :

Karang Batu

  • Dead Coral (Karang mati), kode : DC
  • Dead Coral Algae (Karang dengan penutupan alga), kode : DCA
  • Acropora branching, kode : ACB
  • Acropora encrusting, kode : ACE
  • Acropora submassive, kode : ACS
  • Acropora tabulate, kode : ACT
  • Non Acropora branching, kode : CB
  • Non Acropora encrusting, kode : CE
  • Non Acropora foliose, kode : CF
  • Non Acropora massive, kode : CM
  • Non Acropora sub massive, kode : CS
  • Non Acropora mushroom, kode : CMR
  • Non Acropora millepora, kode : CME
  • Non Acropora heliopora, kode : CHL

Fauna Lain

  • Soft coral, kode : SC
  • Sponges, kode : SP
  • Zoanthids, kode : ZO
  • Lain-lain (Acidian, Anemones, Gorgonians, Kimah), kode : OT

Algae

  • Algae assemblage, kode : AA
  • Corraline algae, kode : CA
  • Halimeda, kode : HA
  • Turf algae, kode : TA

Abiotik

  • Sands (pasir), kode : S
  • Rubble (pecahan karang), kode : R
  • Silt (lumpur), kode : SI
  • Water (air), kode : WA

FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI TANGKAPAN IKAN LAUT

Topografi Laut
Produktivitas perikanan tangkap sebagian besar masih ditentukan oleh topografi aut, termasuk interaksinya dengan arus laut dan tingkat pencahayaan sinar matahari pada kedalaman tertentu. Topografi laut dibentuk dengan berbagai jenis pantai, delta sungai, landasan benua, terumbu karang dan ciri khas laut dalam seperti palung dan punggung laut

Arus Laut
Arus laut adalah pergerakan air laut yang terarah dan kontinu. Arus laut adalah aliran air yang bergerak karena gaya yang bekerja pada air seperti rotasi bumi, angin, perbedaan temperatur, perbedaan kadar garam dan gravitasi bulan.

Biomassa
Di lautan, rantai makanan umumnya mengikuti pola:
Fitoplankton → zooplankton → zooplankton predator → hewan penyaring → ikan predator
Fitoplankton adalah produsen utama dalam rantai makanan yang mengubah karbon menjadi biomassa dengan bantuan sinar matahari.

Perairan dekat pantai

  • Estuari, adalah badan air dekat di mana satu atau lebih sungai terhubung dengan laut melalui estuari
  • Laguna, adalah badan air asin atau air payau yang relatif dangkal, terpisah dari laut yang dalam oleh karakteristik geologi seperti gosong pasir, terumbu karang dan sebagainya
  • Zona pasang surut, adalah bagian dari laut yang terpapar udara ketika air surut dan tenggelam ketika pasang tinggi
  • Zona litoral, adalah bagian dari laut yang terdekat dengan garis pantai
  • Zona neritik, adalah bagian dari laut yang melebar dari zona litoral ke landasan benua

Terumbu karang
Terumbu karang adalah struktur aragonite yang diproduksi oleh organisme hidup, berada di perairan tropis dangkal dengan sedikit nutrisi di dalam air.

IKAN KARANG/TERUMBU KARANG

Ikan Karang atau Ikan terumbu karang adalah iklan yang tinggal di dalam atau berdekatan dengan terumbu karang. Terumbu karang membentuk ekosistem kompleks dengan keragaman hayati. Dari beberapa diantaranya, ikan-ikan tersebut berwarna dan dapat dilihat. Ratusan spesies dapat ada di tempat kecil dari sebuah karang sehat, beberapa diantaranya bersembunyi atau bahkan berkamuflase. Ikan karang mengembangkan beberapa spesialisasi adaptasi untuk bertahan hidup di karang.

Ikan karang adalah ikan yang hidup dari masa juvenil hingga dewasa di terumbu karang. Menurut Nybakken (1992), ikan karang merupakan organisme yang jumlahnya terbanyak dan juga merupakan organisme besar yang mencolok yang dapat ditemui di terumbu karang. Hutomo (1986) menyatakan bahwa keragaman komposisi taksa komunitas ikan karang dari suatu terumbu karang ke terumbu karang lainnya sangat besar, tetapi komunitas ikan karang mempunyai kesamaan bentuk sehingga memungkinkan hasil suatu penelitian mempunyai tingkat generalisasi yang luas bagi sistem sirkum tropis.

Dalam ekosistem terumbu karang secara nyata komunitas ikan karang dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu kelompok ikan yang kadang-kadang terdapat pada terumbu karang dan ikan yang tergantung pada terumbu karang sebagai tempat mencari makan, tempat hidup atau kedua-duanya (Sopandi, 2000). Untuk mempertahankan kelestariannya, ikan karang bereproduksi secara generatif melalui proses pemijahan.

Berdasarkan kebiasaannya, dalam ekosistem terumbu karang, terdapat empat kelompok ikan yang melakukan pemijahan, yaitu:

  1. Kelompok ikan pemijah yang bermigrasi (migratory spawners), contohnya: Serranidae, Scaridae, dan Labridae.
  2. Kelompok ikan yang tinggal dan memijah berpasangan (pair spawnwers), contohnya: Chaetodontidae, Pomacanthidae, Scorpaenidae.
  3. Kelompok ikan yang membuat sarang untuk menjaga telurnya (nest builders), contohnya: Pomacentridae, Balistidae, Gobiidae.
  4. Kelompok ikan yang melindungi telur-telurnya di dalam mulut (brooders), contohnya: Apogonidae.

Berdasarkan makanannya, ikan karang diklasifikasikan dalam 6 kelompok, yaitu: kelompok ikan pemakan segala (omnivores), kelompok ikan pemakan detritus (detritivores), kelompok ikan pemakan tumbuhan (herbivores), kelompok ikan pemakan zooplankton (zooplanktivores), kelompok ikan pemakan moluska (molluscivores) dan kelompok ikan karnivora (carnivores) (Wootton, 1992).

Pengelompokan Ikan Karang

English et all. (1997) mengelompokkan jenis ikan karang ke dalam tiga kelompok utama, yaitu:

  • Ikan-ikan target, yaitu ikan ekonomis penting dan biasa ditangkap untuk konsumsi. Biasanya kelompok ikan-ikan target menjadikan terumbu karang sebagai tempat pemijahan dan sarang/daerah asuhan. Ikan-ikan target diwakili oleh famili Serranidae (ikan kerapu), Lutjanidae (ikan kakap), Lethrinidae (ikan lencam), Nemipteridae (ikan kurisi), Caesionidae (ikan ekor kuning), Siganidae (ikan baronang), Haemulidae (ikan bibir tebal), Scaridae (ikan kakak tua) dan Acanthuridae (ikan pakol);
  • Ikan-ikan indikator, yaitu jenis ikan karang yang khas mendiami daerah terumbu karang dan menjadi indikator kesuburan ekosistem daerah tersebut. Ikan-ikan indikator diwakili oleh famili Chaetodontidae (ikan kepe-kepe);
  • Ikan-ikan major, merupakan jenis ikan berukuran kecil, umumnya 5 sampai 25 cm, dengan karakteristik pewarnaan yang beragam sehingga dikenal sebagai ikan hias. Kelompok ikan-ikan major umumnya ditemukan melimpah, baik dalam jumlah individu maupun jenisnya, serta cenderung bersifat teritorial. Kelompok ikan-ikan major sepanjang hidupnya berada di terumbu karang, diwakili oleh famili Pomacentridae (ikan betok laut), Apogonidae (ikan serinding), Labridae (ikan sapu-sapu), dan Blenniidae (ikan peniru).

Lowe and McConel (1987) mengelompokkan komunitas ikan karang ke dalam dua kelompok yaitu :

  1. Kelompok ikan yang terkadang terdapat pada terumbu karang seperti ikan dari famili Scombridae dan Myctophidae
  2. Kelompok ikan yang tergantung pada terumbu karang sebagai tempat mencari makan, tempat hidup atau kedua-duanya.

Berdasarkan penyebaran hariannya, ikan-ikan karang dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu ikan yang aktif pada siang hari (diurnal) dan ikan yang aktif pada malam hari (nokturnal). Menurut Lowe dan McConel (1987) sebagian besar ikan karang bersifat diurnal serta ikan yang bersifat nokturnal biasanya merupakan ikan karnivora.

Menurut Randall et all. (1990), ikan-ikan diurnal umumnya ikan herbivora yang berwarna cerah yang pada malam hari bersembunyi di celah-celah batu atau gua-gua kecil dekat permukaan karang serta ada yang membenamkan diri dalam pasir.

Beberapa deskripsi famili ikan karang menurut Randall et all. (1990) yaitu:

  1. Acanthuridae: dikenal sebagai surgeonfish, memakan alga dasar dan memiliki saluran pencernaan yang panjang; makanan utamanya adalah zooplankton atau detritus. Surgeonfishes mampu memotong ikan-ikan lain dengan duri tajam yang berada pada sirip ekornya.
  2. Balistidae: golongan triggerfish, karnivora yang hidup soliter pada siang hari, memakan berbagai jenis invertebrata termasuk moluska yang bercangkang keras dan echinodermata; beberapa jenis juga memakan alga atau zooplankton.
  3. Blennidae: biasanya hidup pada lubang-lubang kecil di terumbu, sebagian besar spesies penggali dasar yang memakan campuran alga dan invertebrata; sebagian pemakan plankton, dan sebagian spesialis makan pada kulit atau sirip dari ikan-ikan besar, dengan meniru sebagai pembersih.
  4. Caesonidae: dikenal sebagai ekor kuning, pada siang hari sering ditemukan pada gerombolan yang sedang makan zooplankton pada pertengahan perairan diatas terumbu, sepanjang hamparan tubir dan puncak dalam gobah. Meskipun merupakan perenang aktif, mereka sering diam untuk menangkap zooplankton dan biasanya berlindung di terumbu pada malam hari.
  5. Centriscidae: berenang dalam posisi tegak lurus dengan moncong kebawah; memakan zooplankton yang kecil.
  6. Chaetodontidae: disebut juga ikan butterfly, umumnya memiliki warna yang cemerlang, memakan tentakel atau polip karang, invertebrata kecil, telur-telur ikan lainnya, dan alga berfilamen, beberapa spesies juga pemakan plankton.
  7. Ephippidae: bentuk tubuh yang pipih, gepeng, mulutnya kecil, umumnya omnivora, memakan alga dan invertebrata kecil.
  8. Gobiidae: umumnya terdapat di perairan dangkal dan disekitar terumbu karang. Kebanyakan karnivora penggali dasar yang memakan invertebrata dasar yang kecil, sebagian juga merupakan pemakan plankton. Beberapa spesies memiliki hubungan simbiosis dengan invertebrata lain (misalnya : udang) dan sebagian dikenal memindahkan ectoparasit dari ikan-ikan lain.
  9. Labridae: dikenal dengan wrasses, merupakan ikan ekonomis penting, memiliki bentuk, ukuran dan warna yang sangat berbeda. Kebanyakan spesies penggali pasir, karnivora bagi invertebrata dasar; sebagian juga merupakan pemakan plankton dan beberapa spesies kecil memindahkan ectoparasit dari ikan-ikan lain yang lebih besar.
  10. Mullidae: dikenal dengan goatfish, memiliki sepasang sungut di dagunya, yang mengandung organ sensor kimia dan digunakan untuk memeriksa keberadaan invertebrata dasar atau ikan-ikan kecil pada pasir atau lubang di terumbu, banyak yang memiliki warna yang cemerlang.
  11. Nemipteridae: dikenal sebagai threadfin breams atau whiptail breams, ikan karnivora yang umumnya memakan ikan dasar kecil, sotong-sotongan, udang- udangan atau cacing; beberapa spesies adalah pemakan plankton
  12. Pomacentridae: dikenal dengan damselfishes, memiliki bermacam warna yang berbeda secara individu dan lokal bagi spesies yang sama. Beberapa spesies merupakan ikan herbivora, omnivora atau pemakan plankton. Damselfish meletakkan telur-telurnya di dasar yang dijaga oleh ikan jantan. Termasuk didalam kelompok ini ikan-ikan anemon (Amphiprioninae) yang hidup berasosiasi dengan anemon laut.
  13. Scaridae: dikenal sebagai parrotfish, herbivora, biasanya mendapatkan alga dari substrat karang yang mati. Mengunyah batu karang beserta alga serta membentuk pasir karang, hal ini membuat parrotfish menjadi salah satu produsen pasir penting dalam ekosistem  terumbu karang. Scaridae merupakan ikan ekonomis penting.
  14. Serranidae: dikenal dengan sea bass, kerapu, predator penggali dasar, ikan komersial, memakan udang-udangan dan ikan. Subfamilinya adalah Anthiinae, Epinephelinae dan Serranidae.
  15. Sygnathidae: dikenal sebagai kuda laut atau pipefish. Beberapa memiliki warna yang indah. Umumnya terbatas di perairan dangkal. Memakan invertebrata dengan menghisap pada moncong pipanya. Jantannya memiliki kantong eram sebagai tempat penyimpanan telur dan diinkubasikan.
  16. Zanclidae: memiliki bentuk seperti Acanthuridae dengan mulut yang tabular tanpa duri di bagian ekor. Memakan spons juga invertebrata dasar.
    Menurut Sale (1991), kelompok ikan karang yang berasosiasi paling erat dengan lingkungan terumbu karang menjadi tiga golongan utama yaitu :
    1. Labroid: Labridae (wrasses), Scaridae (parrot fish), dan Pomacentridae (damselfishes)
    1. Acanthuroid: Achanturidae (surgeonfishes), siganidae (rabbitfishes), dan Zanclidae (Moorish idols)
    1. Chaetodontoid: Chaetodontidae (butterflyfishes) dan Pomachantidae (angelfishes).

Ekologi Ikan Karang

Tiap kelompok ikan masing-masing mempunyai habitat yang berbeda, tetapi banyak spesies yang terdapat pada lebih dari satu habitat. Umumnya tiap spesies mempunyai kesukaan (preferensi) terhadap habitat tertentu (Aktani, 1990).

Wooton (1992) menyatakan bahwa ikan hanya dapat bertahan hidup dalam kisaran kondisi lingkungan tertentu. Kondisi lingkungan tersebut secara umum meliputi suhu, kandungan oksigen, salinitas, dan pergerakan air. Suhu mengendalikan reaksi-reaksi kimiawi yang berlangsung di perairan. Suhu juga berpengaruh terhadap aktivitas reproduksi, pertumbuhan, dan aktivitas makan. Oksigen yang disuplai melalui proses respirasi akan membatasi laju metabolisme aerobik.

Dalam suatu ekosistem terumbu karang terdapat kelimpahan, keanekaragaman ikan-ikan terumbu yang menyusun suatu kegiatan pemangsaan, persaingan dan interaksi. Wootton (1992) juga menyatakan bahwa keterbatasan sumberdaya makanan, tempat tinggal, dan tempat berlindung mengakibatkan terjadinya mekanisme evolusi. Mekanisme evolusi mengurangi persaingan antar spesies, spesies dengan kebutuhan makanan yang sama tidak akan bersaing karena memiliki tempat yang berbeda ini disebut dengan seleksi habitat, kemudian seleksi sumberdaya contohnya ikan karnivora yang menunjukkan pembagian makanan, dan juga pembagian waktu yaitu aktifitas makan pada malam hari atau siang hari.

Menurut Syakur (2000), beberapa karnivora bersifat diurnal, aktivitas makannya berlangsung pada siang hari dan beristirahat pada malam hari, kelompok yang lain adalah kelompok nokturnal, aktivitas makannya berlangsung pada malam hari.
Keanekaragaman warna ikan-ikan karang berfungsi sebagai kamuflase, pemberitahuan, dan jebakan. Latar belakang substrat karang dapat dijadikan kamuflase bagi ikan-ikan karang untuk menghindar dari pemangsanya dan sebagai jebakan untuk mencari mangsa.

Warna ikan-ikan karang yang cerah mengisyaratkan bahwa ikan tersebut beracun (Nybakken, 1988).

Interaksi mutualistik antar spesies mempengaruhi distribusi dan kelimpahan ikan karang. interaksi ini dapat terlihat dari beberapa ikan karang yang berfungsi sebagai pembersih, contohnya Labroides dimidiatus, memakan ektoparasit yang terdapat di permukaan tubuh dan insang ikan-ikan lain. Interaksi mutualistik yang lain terjadi antara ikan dan invertebrata contohnya, Amphiprion spp yang berasosiasi dengan anemon laut. Ikan memperoleh perlindungan dari pemangsanya karena adanya nematocyst yang terdapat pada tentakel anemon (Wotton, 1992).

Hampir seluruh ikan-ikan karang melalui fase pelagic di awal daur hidupnya. Setelah satu bulan atau lebih juvenil-juvenil mencapai ukuran tertentu, juvenil-juvenil akan tinggal di daerah terumbu karang. Apabila ruang di terumbu karang terbatas, maka kematian dan migrasi ikan-ikan karang akan memberikan peluang hidup bagi juvenil. Kapan dan dimana ruang tersebut akan tersedia tidak dapat diperkirakan. Konsekuensi dari mekanisme tersebut adalah perubahan komposisi spesies dan kelimpahan relatif pada waktu tertentu karena recruitment (Wotton, 1992).

Fisiografis dasar perairan adalah faktor utama yang menentukan distribusi dan kelimpahan ikan-ikan karang. Keberadaan ikan-ikan karang sangat dipengaruhi oleh kesehatan terumbu karang, biasanya ditunjukkan oleh persentase tutupan karang hidup (life coverage) (Aktani, 1990). Distribusi ruang (spatial distribution) berbagai spesies, bervariasi menurut kondisi alami dasar perairan (Aktani, 1990).

ALAT PENANGKAPAN IKAN RAMAH LINGKUNGAN

Di Indonesia khususnya dibidang perikanan tangkap banyak sekali jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan, namun banyak sekali alat tangkap yang bersifat merusak atau destruktif seperti payang dan trawl yang menangkap ikan didasar perairan dengan menyapu dasar sehingga terumbu karang yang berada didasar perairan akan rusak.

Oleh karenanya perlu alat tangkap ramah lingkungan yang selain selektif juga efektif dan bisa mempertahankan sumberdaya ikan agar habitatnya tidak rusak. Jenis-jenis alat tangkap ramah lingkungan tersebut diantaranya seperti pancing, dan alat pengumpul ikan seperti keramba apung yang menggunakan lampu dan umpan alami.

Departemen Kelautan dan Perikanan (2006), dengan mengacu pada FAO pada tahun 1995, mengeluarkan suatu tata cara bagi kegiatan penangkapan ikan yang bertanggung jawab (CCRF). CCRF menetapkan ada sembilan kriteria yang digunakan pada teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan, yaitu :

1. Alat tangkap harus memiliki selektivitas yang tinggi

Pengertian selektivitas yang tinggi adalah alat tangkap tersebut diupayakan hanya dapat menangkap ikan/organisme lain yang menjadi sasaran penangkapan saja, dimana ada dua macam selektivitas yang menjadi sub kriteria, yaitu selektivitas ukuran dan selektivitas jenis. Pada sub kriteria ini terdiri dari (yang paling rendah hingga yang paling tinggi):

  • Alat menangkap lebih dari tiga spesies dengan ukuran yang berbeda jauh;
  • Alat menangkap paling banyak tiga spesies dengan ukuran berbeda jauh;
  • Alat menangkap kurang dari tiga spesies dengan ukuran yang kurang lebih sama; dan
  • Alat menangkap satu spesies saja dengan ukuran yang kurang lebih sama.

2. Alat tangkap yang digunakan tidak merusak habitat, tempat tinggal dan berkembang biak ikan dan organisme lainnya

Kriteria kedua yang diberikan oleh lembaga pangan dan pertanian dunia (FAO) PBB ini artinya bahwa alat tangkap ikan yang digunakan tidak merusak lingkungan (destructive fishing) akan tetapi harus tergolong pada constructive fishing.

Dampak penangkapan ikan yang merusak lingkungan terdiri dari kerusakan sumberdaya ikan, habitat ikan, dan dasar perairannya. Pembobotan yang digunakan dalam kriteria ini yang ditetapkan berdasarkan luas dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan alat penangkapan.

Adapun skoring dan pembobotan pada kriteria tersebut adalah sebagai berikut (dari rendah hingga yang tinggi):

  • Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang luas;
  • Menyebabkan kerusakan habitat pada wilayah yang sempit;
  • Menyebabkan sebagaian habiat pada wilayah yang sempit; dan
  • Aman bagi habitat (tidak merusak habitat).

3. Tidak membahayakan nelayan (penangkap ikan)

Keselamatan manusia menjadi syarat penangkapan ikan, hal ini karena bagaimanapun manusia merupakan bagian yang penting bagi keberlangsungan perikanan yang produktif.

Pembobotan resiko diterapkan berdasarkan pada tingkat bahaya dan dampak yang mungkin dialami oleh nelayan (dari rendah – tinggi):

  • Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat kematian pada nelayan;
  • Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat cacat menetap (permanen) pada nelayan;
  • Alat tangkap dan cara penggunaannya dapat berakibat gangguan kesehatan yang sifatnya sementara; dan
  • Alat tangkap aman bagi nelayan.

4. Menghasilkan ikan yang bermutu baik

Jumlah ikan yang banyak tidak banyak berarti bila ikan-ikan tersebut dalam kondisi buruk. Dalam menentukan tingkat kualitas ikan digunakan kondisi hasil tangkapan secara morfologis (bentuknya).

Pembobotan (dari rendah hingga tinggi) adalah sebagai berikut:

  • Ikan mati dan busuk;
  • Ikan mati, segar, dan cacat fisik;
  • Ikan mati dan segar; dan
  • Ikan hidup

5. Produk tidak membahayakan kesehatan konsumen

Ikan yang ditangkap dengan peledakan bom pupuk kimia atau racun sianida kemungkinan tercemar oleh racun. Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan tingkat bahaya yang mungkin dialami konsumen yang harus menjadi pertimbangan adalah (dari rendah hingga tinggi):

  • Berpeluang besar menyebabkan kematian konsumen;
  • Berpeluang menyebabkan gangguan kesehatan konsumen;
  • Berpeluang sangat kecil bagi gangguan kesehatan konsumen; dan
  • Aman bagi konsumen

6. Hasil tangkapan yang terbuang minimum

Alat tangkap yang tidak selektif dapat menangkap ikan/organisme yang bukan sasaran penangkapan (non-target). Dengan alat yang tidak selektif, hasil tangkapan yang terbuang akan meningkat, karena banyaknya jenis non-target yang turut tertangkap. Hasil tangkapan nontarget, ada yang bisa dimanfaatkan dan ada yang tidak.

Pembobotan kriteria ini ditetapkan berdasarkan pada hal berikut (dari rendah hingga tinggi):

Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis (spesies) yang tidak laku dijual di pasar;
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) terdiri dari beberapa jenis dan ada yang laku dijual di pasar;
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan laku dijual di pasar; dan
Hasil tangkapan sampingan (by-catch) kurang dari tiga jenis dan berharga tinggi di pasar;.

7. Alat tangkap yang digunakan harus memberikan dampak minimum terhadap keanekaan sumberdaya hayati (biodiversity)

Persyaratan alat tangkap ikan yang ramah lingkungan adalah meminimalisasi dampak terhadap keanekaragaman sumberdaya hayati periaran sebagai akibat penangkapannya.

Adapun pembobotan kriteria ini ditetapkan dari rendah hingga tinggi :

  • Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian semua mahluk hidup dan merusak habitat;
  • Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies dan merusak habitat;
  • Alat tangkap dan operasinya menyebabkan kematian beberapa spesies tetapi tidak merusak habitat; dan
  • Aman bagi keanekaan sumberdaya hayati.

8. Tidak menangkap jenis yang dilindungi undang-undang atau terancam punah

Tingkat bahaya alat tangkap terhadap spesies yang dilindungi undang-undang ditetapkan berdasarkan kenyataan bahwa:

  • Ikan yang dilindungi sering tertangkap alat;
  • Ikan yang dilindungi beberapa kali tertangkap alat;
  • Ikan yang dilindungi .pernah. tertangkap; dan
  • Ikan yang dilindungi tidak pernah tertangkap

9. Diterima secara sosial

Penerimaan masyarakat terhadap suatu alat tangkap, akan sangat tergantung pada kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di suatu tempat. Suatu alat diterima secara sosial oleh masyarakat bila:

  1. biaya investasi murah,
  2. menguntungkan secara ekonomi,
  3. tidak bertentangan dengan budaya setempat,
  4. tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.

Pembobotan criteria ditetapkan dengan menilai kenyataan di lapangan bahwa (dari yang rendah hingga yang tinggi):

  • Alat tangkap memenuhi satu dari empat butir persyaratan di atas;
  • Alat tangkap memenuhi dua dari empat butir persyaratan di atas;
  • Alat tangkap memenuhi tiga dari empat butir persyaratan di atas; dan
  • Alat tangkap memenuhi semua persyaratan di atas.

Bila ke sembilan kriteria ini dilaksanakan secara konsisten oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan perikanan, dapat dikatakan ikan dan produk perikanan akan tersedia secara berkelanjutan. Hal yang penting diingat adalah bahwa generasi saat ini memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa kita tidak mengurangi ketersediaan ikan bagi generasi yang akan datang dengan pemanfaatan sumberdaya ikan yang ceroboh dan berlebihan.

Perilaku yang bertanggungjawab ini akan memberikan sumbangan yang penting bagi ketahanan pangan, dan peluang pendapatan yang berkelanjutan.

Adapun pengembangan perikanan yang berkelanjutan bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya alat tangkap ikan yang digunakan terhadap kelestarian sumberdaya ikan yang ada. Menurut Monintja (2000), kriteria alat tangkap berkelanjutan mempunyai enam kriteria yang digunakan yaitu :

  1. menerapkan teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan ;
  2. jumlah hasil tangkapan tidak melebihi jumlah tangkapan yang diperbolehkan (TAC) ;
  3. produk mempunyai pasar yang baik ;
  4. investasi yang digunakan rendah ;
  5. penggunaan bahan bakar rendah ; dan
  6. secara hukum alat tangkap tersebut legal.

Hasil Tangkapan per Satuan Upaya

Produktivitas atau laju tangkap merupakan salah indikasi kecenderungan dan kenaikan usaha perikanan. Laju tangkap merupakan perbandingan anatara hasil tangkapan yang didaratkan (landings) dan upaya penangkapan sebuah kapal pada suatu fishing base tertentu.

Nilai hasil tangkapan per satuan upaya penangkapan disebut juga dengan CPUE (Catch per Unit Effort). Upaya penangkapan dapat berupa hari operasi atau bulan operasi, banyaknya trip penangkapan atau jumlah armada yang melakukan operasi penangkapan. Dalam penelitian ini upaya penangkapan yang digunakan adalah jumlah unit penangkapan bukan trip penangkapan.

Dikarenakan setiap alat tangkap tidak hanya menangkap satu jenis ikan saja, apalagi ikan-ikan pelagis dapat ditangkap dengan beberapa jenis alat tangkap. Oleh karena itu, harus dilakukan standarisasi alat tangkap dengan menentukan Indeks kuasa penangkapan ikan (FPI = Fishing Power Indeks).

Standarisasi alat tangkap tersebut akan menentukan upaya penangkapan untuk menangkap spesies tertentu dengan alat tangkapa standar tertentu pula.

IKAN MOLA MOLA

Mola-mola atau yang lebih populer dengan nama “Sun Fish” (Ikan Matahari) adalah ikan langka tropis dan subtropis yang menjadi perburuan bagi Diver/Penyelam dan fotografer Under Water diseluruh dunia. Ikan Mola-mola dewasa dapat mencapai panjang 1 meter dengan berat 1-2 ton. Uniknya, ikan Mola-mola hampir tidak memiliki sirip ekor, namun memiliki clavus, yang merupakan sambungan sirip pungung dan sirip perut. Beruntungnya Indonesia menjadi salah satu tempat persinggahan, Mola-mola dapat dijumpai sepanjang bulan Juli-September di Lembongan, Bali.

Berikut ini fakta unik dari ikan mola-mola atau ikan matahari:

1. Ikan ini hobi berjemur

Bahwa ikan mola-mola mempunyai hobi yang unik yaitu berjemur ke permukaan laut, itulah sebabnya ia dijuluki dengan nama Sunfish. Ia sangat sering memunculkan dirinya untuk berjemur di pantai Penida, Bali.

2. Bentuk tubuhnya aneh

Pada umumnya semua jenis ikan selalu mempunyai sirip ekor. Berbeda dengan mola-mola ia nyaris gak punya sirip ekor. Dan biasanya sirip (sayap) ikan lain terletak di samping kira dan kanan, sedangkan mola mola siripnya berada vertikal diatas dan dibawah (punggung dan perut) yang disebut calvus.
Akibat bentuk siripnya yang aneh ditambah tubuhnya yang bulat dan gemuk membuat Ikan mola mola sangat lambat untuk berenang dan untuk melawan arus ombak pun ia tidak bisa, memilih pasrah mengikuti arus air yang membawanya.

3. Sunfish, Ikan mola mola yang terancam punah

Karena keadaan bentuk tubuhnya yang aneh, membuat ikan mola mola terancam punah, ia sering menjadi korban kecelakaan dalam lalu lintas perairan laut seperti tersangkut di baling-baling kapal perahu dan sering menjadi korban tabrakan dari kapal-kapal besar yang sedang melaju ke arahnya. Begitu lamban gerakannya membuat ia tak dapat menghindar dari kecepatan kapal tersebut. Selain itu sampah-sampah laut juga menjadi salah satu penyebab kematiannya. Ia sering tersedak akibat menelan sampah plastik yang disangkanya adalah ubur-ubur. Belum lagi ia terdampar di tepi pantai akibat terseret ombak dan mati sendiri akibat dehidrasi. Tapi penyebab kematiannya paling tinggi adalah akibat perburuan illegal seperti yang dilakukan oleh para nelayan jahat di jepang. Mereka memang sengaja ditangkap untuk dijual dagingnya ke restoran.