AKUSTIK DIBANDINGKAN DENGAN DENSITAS IKAN: KOMBINASI METODE AKTIF DAN PASIF

ABSTRAK


Akustik perikanan memiliki dua pembagian utama yaitu akustik aktif dan pasif. Berbagai penelitian akustik dengan metode aktif telah dilakukan untuk mengkaji hubungan antara akustik dengan densitas ikan, namun kombinasi metode aktif dengan pasif belum pernah dilakukan sekaligus pada kawanan ikan yang sama. Mengkombinasikan kedua metode ini diharapkan dapat menghasilkan informasi yang berhubungan dengan densitas ikan serta kecenderungannya baik dengan metode aktif maupun pasif. Penelitian ini dilakukan pada kawanan ikan nila (Oreochromis niloticus) dalam kondisi terkontrol berjumlah 50, 100, dan 150 individu ikan dengan kisaran panjang total 10-13cm. Akuisisi data akustik aktif dan pasif dilakukan secara stasioner selama 15 menit pada keramba jaring apung (KJA) ukuran 2 m×2 m×1.8 m menggunakan echosounder CruzPro PcFF-80 frekuensi 200 kHz (akustik aktif) dan hydrophone Dolphin EAR 100 (akustik pasif). Data akustik aktif diolah menggunakan program Matlab R2013b untuk menghasilkan nilai hambur balik volume (scattering volume, SV), sedangkan data akustik pasif diolah menggunakan program Wavelab untuk memperoleh nilai intensitas suara dalam domain frekuensi, selanjutnya keduanya dihubungkan dengan densitas ikan. Hasil pengukuran SV pada ikan berjumlah 50, 100 dan 150 individu secara berturut-turut adalah -45.898 dB, -45.887 dB dan -45.888 dB, dengan koefisien determinasi (R2) mencapai 0.6583. Terdapat penurunan rata-rata SV pada ikan berjumlah 150 individu yang diduga terjadi karena adanya efek shadowing, juga akibat ikan yang digunakan berukuran kecil. Intensitas suara tertinggi dan terendah ikan berjumlah 50 individu pada rentang frekuensi 0-22 kHz berturut-turut sebesar -28.306 dB dan -64.582 dB, pada ikan berjumlah 100 individu, sebesar -26.0793 dB dan -64.5296 dB, pada ikan berjumlah 150 individu sebesar -28.5246 dB dan -64.5679 dB.

https://drive.google.com/open?id=1QYJvBkMwq6U5pGRnyRQf1Qb12Ew38PBU

TINGKAT KERAMAH LINGKUNGAN ALAT TANGKAP GILL NET DI KECAMATAN NIPAH PANJANG, JAMBI

Abstrak

Abstrak



Kompetisi antar alat tangkap untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal, menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya over fishing. Oleh sebab itu, alat tangkap ramah lingkungan merupakan acuan dalam penggunaan teknologi dan alat tangkap ikan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat keramah lingkungan dari masing-masing alat tangkap nelayan gill net yang ada di Kelurahan Nipah Panjang 1 pada bulan Februari 2018, berdasarkan kriteria FAO (1995). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dengan responden nelayan yang telah melaut minimal 5 tahun dan kapal yang digunakan minimal berukuran 3 GT. Sampel diambil sebanyak 50% dari masing-masing populasi alat tangkap untuk dianalisis tingkat keramah lingkungannya. Hasil analisis tingkat keramah lingkungan alat tangkap nelayan gill net di Kelurahan Nipah Panjang 1 menunjukkan bahwa gill net kurau termasuk dalam kategori alat tangkap sangat ramah lingkungan dengan nilai sebesar 28. Sedangkan untuk alat tangkap gill net 7 inci, gill net millennium, dan gill net 4 inci termasuk dalam kriteria alat tangkap ramah lingkungan dengan nilai berturut-turut adalah 25.2, 23.8, dan 23.5.

https://drive.google.com/open?id=1-DK9g6bVfSKif_GojwqPZgi9liP87mwe

Ikan Hiu Thresher Shark (Alopias Macrourus)

Ikan Hiu Thresher Shark (Alopias Macrourus), dinamakan “sangat panjang”, karena ekor heterocercal atau sirip ekor ikan ini yang sepanjang total panjang tubuhnya. Hiu thresher adalah predator aktif. Ekornya digunakan sebagai senjata untuk menyetrum mangsanya. Hiu thresher memiliki kepala pendek dan hidung berbentuk kerucut. Mulut umumnya kecil, dan gigi berbagai ukuran dari kecil ke besar.hiu ini memiliki mata relatif kecil yang berada untuk maju kepala.

Klasifikasi Thersher Shark

  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Chordata
  • Class: Chondrichthyes
  • Sub Class: Elasmobranchii
  • Ordo: Lamniformes
  • Super Ordo: Selachimorpha
  • Family: Alopiidae
  • Genus: Alopias
  • Species: A. Macrourus

Morfologi Hiu Thresher

  • Thresher shark memiliki sirip ekor (caudal fin) yang sangat panjang, panjang sirip ekor tersebut bisa mencapai dari panjang total keseluruhan Thresher shark
  • Gigi hiu relatif kecil, dengan bentuk melengkung dan sisi yang mulus
  • Mempunyai sirip punggung yang tegak menjulang ke atas
  • Bentuk tubuh seperti topedo yang memungkinkan untuk berenang dengan cepat
  • Sirip ekor berbentuk seperti hutup “V” terkadang seperti berbentuk “bulan sabit”
  • Memiliki sirip anal
  • Pada bagian kepala berbentuk seperti moncong
  • Memiliki sepasang sirip dada yang panjang dan serupa sabit besar
  • Umunya berawarna abu-abu, hitam dan ungu pada bagian atas tubuh dan berwarna putih pada bagian bawah tubuh

Landak laut atau Bulu babi

Landak laut atau disebut juga bulu babi (Echinoidea) merupakan hewan laut yang berbentuk bundar dan memiliki duri pada kulitnya yang dapat digerakkan. Binatang ini terbagi menjadi sekitar 950 spesies dan dapat ditemukan mulai dari daerah pasang surut sampai di kedalaman 5000m.

Bulu babi, yang dikenal dengan penamaan bahasa Inggris ‘Sea Urchin’, merupakan jenis makrobenthos dari kelas echinoidea yang mempunyai ukuran diameter mencapai 163 mm dan berat 200 gr.

Anatomi Bulu Babi

Tubuhnya umumnya berbentuk seperti bola dengan cangkang yang keras berkapur dan dipenuhi dengan duri-duri (Nontji 2005). Durinya amat panjang, lancip seperti jarum dan sangat rapuh. Duri-durinya terletak berderet dalam garis-garis membujur dan dapat digerak-gerakkan, panjangnya dapat mencapai ukuran 10 cm dan lebih.

Berdasarkan bentuk tubuhnya, kelas Echinodoidea dibagi dalam dua subkelas utama, yaitu bulu babi beraturan (regular sea urchin) dan bulu babi tidak beraturan (irregular sea urchin) (Hyman 1955 dalam Ratna 2002), dan hanya bulu babi beraturan saja yang memiliki nilai konsumsi (Lembaga Oseanologi Nasional 1973 dalam Ratna 2002). Tubuh bulu babi sendiri terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian oral, aboral, dan bagian diantara oral dan aboral (Lembaga Oseanologi Nasional 1973 dalam Ratna 2002). Pada bagian tengah sisi aboral terdapat sistem apikal dan pada bagian tengah sisi oral terdapat sistem peristomial. Lempeng-lempeng ambulakral dan interambulakral berada diantara sistem apikal dan sistem peristomial. Di tengah-tengah sistem apikal dan sistem peristomial termasuk lubang anus yang dikelilingi oleh sejumlah keping anal (periproct) termasuk diantaranya adalah keping-keping genital.

Salah satu diantara keping genital yang berukuran paling besar merupakan tempat bermuaranya sistem pembuluh air (waste vascular system). Sistem ini menjadi cirri khas Filum Echinodermata, berfungsi dalam pergerakan, makan, respirasi, dan ekskresi. Sedangkan pada sistem peristomial terdapat pada selaput kulit tempat menempelnya organ “lentera aristotle”, yakni semacam rahang yang berfungsi sebagai alat pemotong dan penghancur makanan. Organ ini juga mampu memotong cangkang teritip, molusca ataupun jenis bulu babi lainnya (Azis 1987 dalamRatna 2002). Di sekitar mulut bulu babi beraturan kecuali ordo Cidaroidea terdapat lima pasang insang yang kecil dan berdinding tipis (Hyman 1955 dan Barnes 1987 dalam Ratna 2002)

Fakta-fakta Bulu Babi

Fakta-fakta terkait dengan bulu babi atau landak laut antara lain :

  • Terdapat lebih dari 900 jenis landak laut yang ada di muka bumi ini.
  • Ukuran dari bulu babi ini sekitar 4 sampai dengan 5 inchi
  • Kulit bulu babi dibentuk dari bulu-bulu yang keras dan tumbuh pada bagian cangkang yang keras.
  • Mulut bulu babi atau landak laut terdapat pada bagian tengah yaitu diantara bagian tubuhnya atau tepatnya terdapat pada bagian bawahnya.
  • Jumlah gigi dari bulu babi ini sebanyak 5 buah.
  • Bagian cangkang dari bulu babi ini terdapat duri-duri yang berperan sebagai penggerak dari hewan tersebut.
  • Selain jadi penggerak, duri-duri tersebut juga berguna sebagai penjepit makanan dan dapat menjadi perlindungan diri pada saat bulu babi merasa terancam dari serangan predator.
  • Untuk beberapa jenis dari bulu babi duri-durinya mengandung racun.
  • Ternyata bulu babi juga dapat tinggal ditempat yang dangkal maupun dalam sampai dengan didasar laut dan diatas karang.
  • Bulu babi juga dapat hidup di muara yang mempunyai material berlumpur dimana mereka akan membenamkan dirinya untuk dapat hidup ditempat ini.
  • Namun kebanyakan mereka lebih memilih untuk hidup pada terumbu karang serta daerah yang sering mengalami gelombang pasang.
  • Bulu babi mempunyai gigi yang terbuat dari kalsium karbonat walaupun tidak dapat terlihat secara kasat mata.
  • Fungsi gigi dari hewan bulu babi ini adalah untuk mengunyah makanan termasuk juga batu.
  • Bulu babi adalah binatang omnivora dan makanan yang sangat disukai oleh bulu babi atau landak laut ini adalah ganggang, rumput laut, ikan yang sudah mati, kerang.
  • Predator dari bulu babi ini adalah siput, burung, dan kepiting.
  • Sebenarnya bulu babi lebih aktif dimalam hari dan lebih pasif pada siang hari,
  • Mereka mencari makan dengan cara berjalan menggunaakn bagian kecil seperti kaki yang terletak pada bagian bawah perutnya.
  • Bulu babi atau landak laut ini sangat mudah dijumpai pada seluruh perairan didunia namun akan sulit menemukannya pada bagian kutub.
  • Tidak semua bulu babi mempunyai duri yang tajam serta panjang untuk dijadikan sebagai pertahanan diri mereka. Ada juga beberapa bulu babi yang mempunyai duri yang tumpul dan pendek tetapi sangat memberikan dampak yang serius bagi yang terkenanya.
  • Bulu babi melakukan reproduksi dengan cara yang unik yaitu pada bulu babi jantan mereka akan melepaskan spermanya kedalam air. Sedangkan untuk bulu babi betina akan melepaskan telurnya pada sekitar sprema dan pada saat keduanya bersentuhan satu sama lain yang kemudian membentuk janin baru.
  • Bulu babi hidup di perairan dangkal dan memiliki terumbu karang. Bulu babi berjalan dengan kaki tabung dan rambutnya yang kaku dan kuat. Hewan ini aktif pada malam hari untuk mencari makan di sekitar karang. Bulu babi termasuk hewan omnivora. Selain makan alga yang menempel pada karang, bulu babi juga menyukai hewan-hewan kecil dan sisa-sisa hewan laut yang mati. Konon, banyaknya hewan bulu babi merupakan tanda rusaknya terumbu karang. Namun, bulu babi juga menjadi tanda bahwa tempat tersebut tidak tercemari logam berat.

·         Sistem Pencernaan Bulu Babi

  • Sistem pencernaan bulu babi berupa saluran panjang dan melingkar dalam cangkang. Saluran pencernaan dimulai dari mulut, terletak di daerah oral, kemudian kerongkongan yang memiliki saluran sifon dan bersilia.
  • Saluran sifon menghubungkan kerongkongan dengan usus. Saluran  pencernaan yang dikelilingi oleh lima rangka samping yang ada dalam cangkang (terkenal sebagai “lentera aristoteles”) adalah lambung yang di perluas oleh kantong-kantong dan berakhir di rektum. Anus terletak di daerah permukaan aboral, yaitu di pusat tubuh diantara lempeng kapur yang mengandung dua, empat, sampai lima lubang genital. Beberapa echinoidea memiliki mulut dan anus di bagian pinggir tubuhnya, tetapi ada pula yang mulutnya terletak di tengah.

·         Sistem Pernafasan Bulu Babi

  • Pernafasan Bulu Babi menggunakan paru- paru kulit atau dermal branchiae(papulae) yaitu penonjolan dinding rongga tubuh (selom) yang tipis. Tonjolan ini dilindungi silia dan pediselaria. Pada bagian inilah terjadi pertukaran oksigen dan karbondioksida. Ada pula beberapa jenis Echinodermata yang bernafas menggunakan kaki tabung. Sisa –sisa metabolism yang terjadi di dalam sel-sel tubuh akan diangkut oleh amobacyte (sel-sel ameboid) ke dermal branchie untuk selanjutnya dilepas keluar tubuh.

·         Manfaat Bulu Babi

  • Echinoidea berperan dalam rantai makanan dan menjaga keseimbangan ekosistem laut. Sampah-sampah organisme tak akan hilang begitu saja. Echinoidea berperan penting terhadap perputaran bahan organik di dasar laut. Oleh karena itu Bulu Babi, Ular Laut, Bintang Laut, dan hewan Echinodermata sering disebut dengan hewan pembersih laut dan pantai.
  • Telur bulu babi mengandung protein sehat yang tinggi bahkan mencapai angka 70%. Selain itu, telur bulu babi juga mengandung senyawa lain seperti zat besi, mineral juga asam amino. Sementara itu, di Negara lain, bulu babi telah menjadi salah satu komoditas laut yang cukup menjanjikan. Di Negara seperti Mediterania, New Zeland, dan Amerika Utara, bulu babi lazim dikonsumsi mentah bersama perasan jeruk lemon. Sementara itu di Jepang, bulu babi populer sebagai pelengkap kuliner sushi juga sashimi. Dengan komposisi senyawa yang dikandungnya, bulu babi cukup bergizi untuk di konsumsi.
  • Bulu babi juga terbukti mampu menyembuhkan beberapa jenis penyakit misalnya mereduksi kolesterol jahat dalam darah, menurunkan tekanan darah, memperbaiki sistem metobolisme, menambah vitalitas, dan masih banyak lagi lainnya.
  • Hampir semua bagian tubuh bulu babi memiliki manfaat. Sebut saja cangkangnya, bagian ini bisa diolah menjadi tepung yang digunakan sebagai pakan ternak. Tak hanya itu, bagian cangkang juga bisa dijadikan produk kerajinan berkualitas tinggi. Sementara itu bagian lain seperti usus juga sangat baik diolah menjadi pupuk organik.

IKAN TONGKOL

Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) аdаlаh sejenis ikan laut dаrі suku Scombridae. Sifat hidup Ikan Tongkol Tеrutаmа menjelajah dі perairan dangkal dekat pesisir dі kawasan Indo-Pasifik Barat. Dalam perdagangan internasional dikenal ѕеbаgаі kawakawa, little tuna, mackerel tuna, atau false albacore.

Ikan Tongkol merupakan ikan tangkapan nelayan уаng penting dі berbagai negara dі wilayah sebarannya. Tongkol como terbanyak ditangkap dі Filipina, Malaysia, dan Pakistan; ѕеmеntаrа dі India ikan іnі menduduki posisi уаng cukup penting. Walaupun sebenarnya bila di telisik lebih jauh Malaysia dan Filipina komoditas tongkol nya berasal dari lautan Indonesia.

Ikan ini memiliki panjang cagak maksimal (fork length) 100 cm dengan berat 13.6 kg. Ukuran panjang cagak rata-rata saat dewasa adalah 60 cm. Bentuk badannya melengkung di tengah dan meruncing pada sisi depan dan belakang. Pada bagian punggung terdapat 2 sirip yang memudahkan ikan ini dalam berenang di laut. Oleh sebab itu, ikan ini juga dikenal sebagai perenang tercepat di kelasnya. Terdapat juga sirip-sirip kecil (finlet) di bagian sirip punggung dan sirip dubur.

Bagian tubuh atas berwarna biru tua dan bagian tubuh bawah berwarna putih silver. Pada punggung terdapat 10-12 jari-jari sirip dan 10-13 jari-jari sirip halus. Pada bagian dubur terdapat 10-14 jari-jari sirip halus.

Ikan Tongkol, atau biasa disebut Eastern Little Tuna masuk kedalam suku Scombridae.

Karakteristik


Ikan tongkol mempunyai karakteristik badan bulat seperti cerutu dan padat. Terdapat 8 sirip tambahan (finlet) di belakang sirip punggung kedua dan sirip dubur dan pada ekor terdapat satu keel diantara 2 keel pada setiap sisi tubuh. Punggung berwarna gelap dengan garis tidak teratur berwarna biru kehitaman. Sedangkan perut berwarna cerah. Jenis yang paling umum tertangkap di Indonesia adalah Euthynnus affinis.

Nama lokal: Tongkol Komo, mangkok, Ambu-Ambu, Tongkok Kurik, Sembak.

Habitat


Ikan tongkol termasuk ikan yang hidup pada perairan Laut epas namun dekat dengan garis pantai. Ikan-ikan muda sering masuk ke dalam teluk atau pelabuhan. Gerombolannya terbentuk bersama spesies lain, terdiri dari 100 sampai 5.000 ekor. Termasuk predator oportunistik dengan jenis makanan dari ikan kecil (Clupeidae dan Engraulidae), Cumi-cumi, Crustacea sampai Zooplankton.

Alat Tangkap


Ikan Tongkol biasa ditangkap dengan Huhate (Pole&Line). Untuk mempertahankan ikan tetap dalam gerombolan disekitar perahu, nelayan melemparkan ikan Teri hidup ke dalam air. Belakangan ini ikan Tongkol juga ditangkap dengan Pancing Tonda yang diisi dengan umpan Bulu. Seperti Ikan Cakalang, armada Tonda yang terkenal adalah Kedo-Kedo dan Bubu Cakalang. Ikan Tongkol bisa dijual dalam bentuk pindang dan ikan kaleng. Jenis ini termasuk komoditas ekonomis penting bagi nelayan skala kecil dan menengah. Ikan Tongkol bisa mencapai ukuran 100 cm, dan lebih sering tertangkap pada ukuran 40 – 60 cm.

Spesies di Indonesia


1. Auxis rochei rochei (Risso, 1810) Bullet Tuna

Komersial tinggi, ukuran umum < 50cm;

Alat Tangkap : Seines, Gill Net, Perangkap, Trawls dan Liftnets;

Habitat: di Perairan Pantai dan mengelilingi pulau;

Makanan: ikan-ikan kecil, Anchovies, Crustaceans (Kepiting dan Stomatopod Larvae) dan Cumi-cumi;

Lokasi : ditemukan di Selatan Barat Sumatera, Jawa, Bali dan Laut Timur Indonesia.

2. Auxis thazard thazard (Lacepède, 1800) Frigate Tuna, Balaki

Komersial tinggi, ukuran umum 60 cm;

Alat tangkap : Seines, Gill Net, Perangkap, Trawls dan Liftnets;

Habitat : Epipelagic di perairan Neritic dan perairan Laut;

Makanan: ikan-ikan kecil dan Cumi- cumi, Planktonic Crustaceans (Megalops), dan Stomatopod Larvae;

Lokasi : ditemukan di Selatan Barat Sumatera, Jawa, Bali dan Laut Timur Indonesia.

3. Euthynnus affinis (Cantor, 1849) Kawakawa, Tongkol, Tongkol komo

Komersial tinggi, ukuran umum 60cm;

Alat tangkap : Hooks&Lines, Seines, Gill Net, Perangkap dan Trawls;

Habitat : di perairan terbuka berbatasan dengan garis pantai;

Makanan: memangsa ikan-ikan kecil, Clupeoids dan Atherinids, dan juga Cumi-cumi, Crustaceans dan Zooplankton;

Lokasi : ditemukan di Utara Sumatera, Selatan Barat Sumatera, Mentawai, Selat Jawa, Selatan Jawa dan Laut Timur Indonesia.

4. Sarda orientalis (Temminck & Schlegel, 1844) Striped bonito Minor

Komersial, ukuran umum 50 cm;

Alat tangkap : Seines, Gill Net dan Perangkap;

Habitat : jenis ikan Pantai, bergerombol dengan ikan Tuna kecil;

Makanan : Clupeoids, ikan, Cumi-cumi dan Decapod Crustaceans;

Lokasi : ditemukan di Laut Selatan Barat Sumatera sampai selat Bali.

6 Manfaat arus lautan bagi ikan

Saya yakin yang mengakses artikel ini pasti sudah mengetahui tentang arus lautan. Seperti yang dikita ketahui, arus merupakan pergerakan massa air dari satu tempat ke tempat yang lain. Massa air yang bergerak memiliki peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup organisme laut di antaranya ikan. 

Arus lautan dunia

Dengan mempelajari arus lautan, kita bisa turut mengetahui tingkah laku ikan pada suatu perairan. 




Berikut ini beberapa manfaat arus untuk  ikan.  

  1. Arus berperan untuk mengangkut telur dan juvenil ikan dari daerah spawning ground ke nursery ground dan dari nursery ground ke feeding ground.
  2. Migrasi ikan dewasa bisa terpengaruh oleh arus yang bertindak sebagai alat orientasi dan sebagai pembantu rute migrasi. 
  3. Tingkah laku harian bisa terpengaruh oleh arus (terutama oleh arus pasang)
  4. Arus terutama pada perbatasanya, bisa mempengaruhi penyebaran ikan dewasa baik secara langsung lewat pengaruhnya terhadap mereka atau secara tidak langsung lewat pengelompokan makanan ikan atau membawanya ke perbatasan lingkungan (misalnya perbatasan suhu)
  5. Arus bisa mempengaruhi kandungan lingkungan alam dan akan menentukan secara tidak langsung batas-batas penyebaran geografis. 
  6. Menyediakan keseimbangan nutrien. Setiap makhluk hidup, memerlukan nutriien untuk bertahan hidup, demikian juga ikan, nutrien diperlukan dalam rantai makanan  ikan.  Nutrisi dalam laut berasal dari daratan dan dari hasil penguraian yang terjadi di dalam laut itu sendiri. Kabanyakan nutrien menumpuk di dasar perairan. Dengan adanya arus, nutrien dapat terangkat ke kolom perairan dan tersebar dari satu perairan ke perairan lainnya. 

Pengaruh Oksigen Terhadap Ikan di Laut

Pengaruh oksigen bagi ikan dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Proses respirasi yang terjadi dalam tubuh ikan umumnya terjadi ketika ikan menyerap oksigen terlarut dan menghasilkan Karbondioksida ke dalam air. Tempat pergantian gas pada ikan biasanya terjadi di insang, namun pada beberapa ikan, pergantian ini dapat juga terjadi melalui kulit. 
  • Secara umum, laju konsumsi oksigen pada ikan menunjukan intensitas metabolismenya. Laju ini dipengaruhi oleh ukuran ikan dan sifat air seperti suhu dan kadar karbon dioksida. Menurut Brown (1987) peningkatan suhu 1° C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10%. Hal ini dikarenakan, kenaikan suhu akan meningkatkan laju metabolisme, sehingga kebutuhan oksigen pun ikut meningkat. Jika dalam kondisi tersebut, darah tidak mengandung cukup oksigen, hewan akan mengalami hipoksia atau bahkan asfiksia (Isnaeni, 2006).
  • Menurunnya kadar oksigen pada perairan, akan mengakibatkan berkurangnya laju metabolisme. Dengan demikian dapat membatasi aktivitas ikan seperti perkembangan, pertumbuhan hingga pergerakan ikan.
  • Kadar Oksigen dalam laut bervariasi tergantung suhu dan kedalaman. Variasi oksigen di permukaan cukup kecil. Di kedalaman termoklin hingga lapisan dalam, biasanya kandungan oksigen tergolong lebih rendah. 

Untuk lebih jelasnya, perhaikan diagram di atas ya…
Meskipun oksigen sangat dibutuhkan bagi kelangsungan ikan. Tapi ada juga loh, ikan yang mampu hidup dengan kadar oksigen rendah, bahkan dalam keadaan tanpa oksigen. Ikan yang mampu hidup dengan kandungan oksigen terbatas umumnya ditemukan pada dasar perairan yang dalam.
Beberapa Spesies yang mampu hidup pada kondisi minim oksigen diantarany adalah Cherublemma emmelas dan Cephalurus cephalus. Ikan ini ditemukan pada kedalaman antara 600-900 meter pada ekspedisi di Teluk California yang dipimpin oleh Monterey Bay Aquarium Research Institute (MBARI). Hingga saat ini para peneliti belum bisa menjelaskan dengan pasti, bagaimana kedua jenis ikan tersebut dapat hidup dalam kondisi ekstrim. Hipotesis yang mungkin adalah ukuran insang ikan yang diperbesar yang memungkinkan kedua jenis ikan ini menyerap oksigen sebanyak-banyaknya.hmmmm… kira-kira, ada yang tertarik untuk meneliti jenis ikan seperti ini? mengingat di perairan Indonesia kan juga ada palung yang dalam. Pasti banyak ikan-ikan yang mampu hidup di kondisi ekstrim. 

Struktur Sedimen di Laut Dangkal

Struktur sedimen merupakan pola yang terbentuk dari materi-materi yang terdeposit. Pola ini akan memberikan pandangan yang spesifik di lingkungan dimana proses deposit materi tersebut terjadi sepanjang waktu. Di wilayah laut dangkal seperti perairan Indonesia, struktur sedimen biasanya berasosiasi dengan aliran atau arus. 

Struktur sedimen umumnya dibedakan menjadi beberapa golongan yaitu :

Struktur anorganik Struktur anorganik terutama pelapisan, contoh : graded beding (struktur materi ukuran kasar dibawah daripada ukuran lebih halus), cross beding (susunan materi yang tersusun miring dengan sudut selebar 35), ripples (Struktur sedimen dengan membetuk tumpukan pasir/lanau yang bergelombang atau ber-riak), dan biotubation (struktur sedimen yang tersusun atas sisa-sisa biologis yang terakumulasi). Pelapisan berkaitan erat dengan proses bagaimana lapisan-lapisan sedimen (sediment layers) saling menumpuk satu sama lain sepanjang waktu.  Struktur sedimen dengan pelapisan-pelapisan ripples, oscillating ripples, cross bedding, graded beds, mudcrack, dan flute sangat mungkin terjadi dan banyak ditemui di wilayah perairan dangkal  Indonesia yang memiliki kondisi angin, lautan, dan iklim yang khas. 

Struktur biogenik  Struktur biogenik yang terbentuk dari sisa-sisa organisme laut. Ada tiga megafosil pembentuk sedimen dengan struktur ini yaitu:  Coral dan calcareous algae yang  membentuk coral reef limestone, Moluska yang membentuk coquina limestone, dan Bryozoa yang membentuk bryozoan limestone. Wilayah perairan  Indonesia yang kaya akan jenis biota-biota laut ini akan membuat struktur sedimen biogenik.

Struktur deformasi  Struktur deformasi terdiri dari convolute bedding, ball and pillow dan diapirik. Struktur deformasi yang umum dikenal adalah soft sediment structure (SSD) yang terbentuk pada saat deposisi atau beberapa waktu setelahnya. Terjadi pada tahapan pertama dari konsolidasi sedimen yang terjadi karena sedimen harus bersifat seperti cair (liquid-like) agar proses deformasi terjadi.

Struktur sedimen autigenis  Struktur sedimen autigenis yang terbentuk di dalam sedimen dan pada dasar lautan, yaitu melalui proses presipitasi mineral dari air laut karena reaksi fisik-kimiawi-biologi. Sedimen  ini  dapat berasal dari aktivitas hidrotermal atau biogenis. Terdapat lima jenis sedimen dengan struktur ini yaitu: sedimen kaya logam dan besi oksida, Manganese nodule, Phosphorite, Zeolite, dan Barite. Struktur-struktur sedimen yang telah dijelaskan di atas sangat umum terjadi di wilayah perairan Indonesia. Jenis sedimen dapat berupa pasir, lumpur, sedimen silica, gambut, dan materi-materi organik.

SUHU AIR LAUT

Suhu dan salinitas merupakan parameter oseanografi yang penting dalam sirkulasi untuk mempelajari asal usul massa air. Kedua parameter ini serta tekanan menentukan densitas antara dua tempat akan menghasilkan  perbedaan tekanan yang kemudian memicu aliran massa air dari tempat yang bertekkanan tinggi ke tempat bertekanan rendah. Di samping itu, dengan menggabungkan suhu dan salinitas dalam suatu diagram (dikenal sebagai diagram T-S) kita dapat melacak asal usul massa air tersebut.
Contoh diagram TS dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Berdasarkan sebaran suhu secara vertikal, perairan terbagi atas tiga lapisan yaitu (Steward, 2006):

Ø  Lapisan homogen (surface layer)  pada permukaan perairan

Ø  Lapisan diskotinuitas atau biasa disebut lapisan termoklin (thermocline layer)  di tengah

Ø  Lapisan dingin/lapisan dalam (deep layer) dibagian bawah

Suhu air laut dipengaruhi oleh cuaca, kedalaman air, gelombang, waktu pengukuran, pergerakan konveksi, letak ketinggian dari muka laut (altitude), upwelling, musim, konvergensi, divergensi, dan kegiatan manusia di sekitar perairan tersebut serta besarnya intensitas cahaya yang diterima perairan. Suhu suatu perairan dipengaruhi oleh radiasi matahari; posisi sinar matahari; letak geografis; musim; kondisi awan; serta proses interaksi antara air dan udara, seperti aliran panas (heat), penguapan, dan hembusan angin.

King (1963) menyatakan bahwa perubahan suhu terhadap kedalaman bergantung pada empat faktor, yaitu variasi jumlah panas yang diserap, efek konduksi panas, perpindahan massa air oleh arus, dan pergerakan vertikal dari air. Variasi dari keempat faktor ini menyebabkan sulit untuk menyeragamkan perubahan suhu tahunan terhadap kedalaman

Menurut Nontji (2005), adanya radiasi matahari yang tinggi pada siang hari, menyebabkan lapisan permukaan perairan memiliki suhu dengan massa air hangat, sedangkan berdasarkan pada kedalaman suhu akan semakin menurun dan akan mengalami penurunan yang sangat cepat pada kisaran kedalaman antara 50-300 meter. Suhu berdasarkan kedalaman akan semakin berkurang  disebabkan karena intensitas cahaya matahari. Massa air permukaan hangat yang disebabkan oleh adanya pemanasan yang terjadi secara terus-menerus sepanjang tahun. Pemanasan tersebut mengakibatkan terbentuknya stratifikasi di dalam kolom perairan yang disebabkan oleh adanya gradien suhu.

Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu permukaan laut adalah  presipitasi (akibat curah hujan yang menyebabkan turunnya suhu permukaan laut), evaporasi (akibat aliran bahang dari udara menyebabkan naiknya suhu permukaan), kecepatan angin, intensitas cahaya matahari, dan faktor-faktor fisika yang terjadi di dalam kolom perairan.

Sebaran suhu secara vertikal di perairan Indonesia dapat dibedakan menjadi tiga lapisan yakni, lapisan hangat di bagian permukaan dimana pada lapisan ini gradien suhu berubah secara perlahan, lapisan termoklin di tengah dimana suhu gradien suhu berubah  secara cepat terhadap kedalaman, dan lapisan dingin di bagian bawah lapisan termoklin dimana suhu air laut konstan sebesar 4°C (Nontji, 1987). Suhu permukaan laut di Indonesia umumnya berkisar antara 28 – 31 ºC yang merupakan ciri perairan tropis. Variasi suhu tahunan rata-rata cenderung kurang dari 2 ºC. Soegiarto  dan Birowo  (1975), mengemukakan bahwa  suhu  permukaan  di  perairan Indonesia berkisar antara 28-30º C dan di daerah upwelling suhunya dapat turun mencapai 25 oC dan secara horisontal suhu permukaan laut di perairan Indonesia  memiliki  variasi  tahunan  yang  rendah,  namun  variasi  tersebut masih menunjukkan  perubahan  musiman.  Perubahan  ini  dipengaruhi  oleh  posisi matahari dan pengaruh massa air di daerah lintang tinggi.